
Matahari kembali ke peraduannya saat sebuah mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas. Seorang pria berpakaian hitam yang ada di depan pintu gerbang segera membuka pintu besi yang menjulang tinggi itu, mempersilakan kendaraan pribadi milik tuannya untuk masuk. Dia bersama dua orang lainnya menunduk 15 derajat saat kendaraan roda empat itu melewati mereka.
Seorang pelayan membukakan pintu. Ken dan Aira keluar dari bagian belakang mobil hitam edisi terbatas itu. Jangan tanya berapa harganya, karena nominal uang tak lagi masalah jika pewaris keluarga Yamazaki ini menginginkan sesuatu.
"Selamat datang kembali, Tuan, Nyonya," sapa seorang wanita paruh baya. Dialah yang bergegas mendekat dan membukakan pintu saat mobil tuan dan puannya sampai di halaman.
Ken mengangguk sekali, sedangkan Aira tersenyum simpul di sampingnya. Pasangan suami istri itu segera masuk ke dalam rumah, bersiap menemui buah hati mereka yang begitu menggemaskan.
"Bersihkan badanmu dulu!" tegas Aira, menghadang Sang Suami di depan pintu kamar anak-anak. "Ayo."
Aira menarik tangan Ken menjauh, menuju kamar pribadi mereka di sebelahnya.
"Kita baru saja mengunjungi rumah sakit. Ada begitu banyak kuman berbahaya yang mungkin tertinggal di tangan dan bajumu. Akan lebih baik jika kamu mandi sekalian. Akan aku siapkan air hangat. Tunggu di sini!" Aira masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air, meninggalkan suaminya yang masih terpaku di depan pintu.
Pria 28 tahun itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia gemas melihat Aira yang sekarang begitu protektif padanya dan buah hati mereka. Padahal sakitnya ini bukan sesuatu yang serius, begitu pikirnya.
Di dalam kamar mandi, Aira melepas outwear hitam yang dipakainya dan meletakan pakaian itu ke dalam keranjang cucian. Detik berikutnya, ia segera melepas kain segi empat yang menutupi kepalanya sejak meninggalkan rumah ini siang tadi.
"Ken, airnya sudah siap." Teriakan Aira menggema di ruangan kedap suara itu. Ia bergegas mencuci tangannya di bawah air mengalir yang memancar dengan sensor otomatis.
Grep
Ken memeluk Aira dari belakang. Tangannya melingkari pinggang ramping istrinya. Wanita itu tengah sibuk memijat wajahnya yang penuh busa facial foam.
"Kita mandi bersama?" bisik Ken, sengaja menggoda istrinya yang kini memejamkan matanya di depan cermin, takut ada busa yang masuk ke kelopak matanya.
"Dasar mesum!" Aira mendorong tubuh Ken dengan sikunya. Ia menundukkan badan di depan washtafel, meraup air sebanyak mungkin dengan dua telapak tangannya yang ditangkupkan jadi satu.
Swush
Swush
Air dingin nan menyegarkan itu berhasil membersihkan busa di wajah Aira, membuatnya terlihat lebih bercahaya dari sebelumnya. Itu rutinitas yang wajib ia lakukan setelah wajahnya terpapar udara luar.
"Cepat mandi sebelum airnya dingin. Aku sudah tambahkan aromaterapi lavender seperti keinginanmu." Aira mendorong suaminya masuk ke dalam ruangan yang lebih dalam. Ia segera menutup pintu kaca transparan yang menjadi pembatas antara bath tube dengan bagian muka kamar mandi tempatnya berada ini.
"Kenapa hanya aku yang mandi? Kamu juga membawa banyak kuman dan virus berbahaya, sama sepertiku." Ken merajuk seperti anak kecil. Sejujurnya dia hanya ingin Aira menemaninya lebih lama lagi. Ia membuka pintu bening itu masih dengan pakaian lengkapnya, belum ada satu pun yang terlepas. Ia sengaja ingin menguji kesabaran istrinya.
"Aish, banyak omong sekali bayi besarku. Cepat mandi sana!" Aira kembali mendorong lengan Ken untuk masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.
__ADS_1
"Aku sakit. Kamu harusnya memandikanku." Ken melongokkan kepalanya di sela-sela pintu yang terbuka sepertiganya. Ia masih saja merengek, membuat Aira semakin jengah dan memutar bola matanya.
"Sudahlah. Kamu mandi saja sendiri. Sepertinya Akari sudah menangis. Tidak ada waktu lagi!"
Aira keluar dari kamar mandi, meninggalkan Ken seorang diri.
"Kenapa kamu boleh cuci tangan dan membasuh wajah saja, sedangkan aku harus mandi? Bukankah itu tidak adil?" Ken mengekori Aira yang sibuk memilih pakaian rumah dari dalam lemari.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini? Cepat mandi!" Aira memelototkan matanya pada Ken yang kini justru duduk di atas ranjang. Sifat kekanak-kanakannya muncul lagi. Benar-benar menyebalkan!
Pria itu menatap Aira, menunjukkan puppy eyes andalannya untuk membujuk wanita ini. Dia masih ingin bermanja-manja dengan istrinya.
"Dokter Hugo memintamu untuk mengurusku, bukan mengabaikanku seperti ini." Ken menggunakan pesan dokter senior yang telah memeriksanya untuk sebagai senjata pamungkas. Ia tahu Aira tidak akan memedulikannya jika berhadapan dengan ketiga anak mereka.
"Kamu?!" Aira mengepalkan tangannya, antara kesal, marah, dan gemas pada ayah dari anak-anaknya ini. Sosoknya yang terkenal sebagai seorang iblis di dunia bisnis sungguh tak cocok untuk tampilannya saat ini. Dia lebih mirip seekor anak kucing yang kelaparan, meminta ikan asin pada tuannya.
"Baiklah kalau begitu cuci tangan dan basuh wajahmu. Aku akan siapkan baju ganti untukmu!" Aira tak ingin memaksa suaminya lagi atau dia harus turun tangan untuk memandikannya. Ia membimbing Ken ke arah washtafel, bahkan membasuh tangannya dan memberikan botol facial wash milik pria itu ke dalam genggaman tangannya.
"Anak pintar, cuci tangan dan wajahmu ya. Aku akan siapkan baju ganti untukmu. Apa kamu mengerti?" Aira mengeratkan rahangnya, berucap dengan menahan gondok di dalam hatinya. Ken benar-benar menguji kesabarannya.
"Kenapa harus cuci tangan?" tanya Ken dengan wajah polosnya. Dia benar-benar bersikap seperti anak kecil tanpa dosa.
Plakk
Sementara itu, suara tangisan Akari terdengar jelas dari kamar sebelah. Aira harus bergegas. Tidak biasanya putra sulungnya itu menangis keras seperti ini. Di antara ketiga buah hatinya, Akari yang paling jarang menangis.
"Cuci tangan tidak hanya harus dilakukan sebelum makan atau setelah menggunakan toilet. Itu perlu dilakukan sebelum menyentuh bayi. Pada bulan-bulan pertama kehidupan mereka, bayi sangat rentan terkena penyakit infeksi yang salah satu media penularannya adalah tangan. Atas dasar ini, setiap orang yang ingin menyentuh bayi, baik itu untuk menyusui, mengganti popok, atau hal lainnya, sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu." Aira menjelaskan dengan geraman di giginya. Ia membasuh tangannya di washtafel dan mengoleskan busa cuci muka di wajah suaminya. Hal itu tentu saja membuat Ken tersenyum. Dia benar-benar memenangkan perhatian Aira dari ketiga anaknya. Tidak sia-sia dia berakting beberapa menit terakhir.
BUGH!
"Kamu sengaja melakukannya 'kan?" Aira meninju dada suaminya. "Urus dirimu sendiri. Menyebalkan!" ketus Aira sambil membasuh tangannya. Ia pergi meninggalkan Ken yang sibuk mencuci wajahnya.
"Pakai sendiri bajumu. Aku tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu!" cetus Aira dengan nada jengkel. Ken selalu saja berhasil mencari kesempatan dalam kesempitan. Jelas-jelas Aira tak punya banyak waktu dan harus segera menemui putranya, tapi Ken justru memainkan trik liciknya lagi. Benar-benar tak habis pikir pada otak suaminya itu.
Ken keluar dari kamar mandi dan segera meraih kaus hitam lengan pendek yang Aira berikan. Pakaian itu menjadi favoritnya dan kini menutupi bagian atas tubuhnya yang cukup atletis.
Aira sendiri memakai piyama lengan pendek, senada dengan celana panjang yang menutupi kakinya sampai mata kaki. Ia mengikat rambutnya ke atas dan segera melangkah menuju kamar sebelah setelah menyimpan pakaian kotor miliknya dan Ken ke dalam keranjang. Ken mengikuti Aira dalam diam.
"Ugh, putra kesayangan ibu. Kenapa menangis, Nak? Apa kamu lapar?" tanya Aira pada bayi merahnya yang begitu lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Ken mendekat ke dua orang anaknya yang ada di dalam box. Tampak Si Bungsu Azami tengah tertidur dengan tubuh tengkurap menghadap ke bawah, sedangkan kakaknya, Ayame ada di sisi lainnya.
Ken memainkan jemarinya di perut anaknya, berharap bayi lucu itu membuka matanya.
Plakk
Aira menampik tangan Ken, "Jangan membangunkannya. Biarkan dia tidur!"
Ken tersenyum. Ia menarik tangan Aira dan membuat jarak mereka semakin dekat.
"Benar juga. Kita akan punya waktu lebih banyak saat anak-anak tidur lelap. Apa kamu sudah tidak sabar, Sayang?" Lagi-lagi Ken menggoda istrinya.
"Lupakan saja. Dasar genit!" Aira melepaskan diri dari cengkeraman Ken. Dia berjalan menjauh, berniat menyusui putra bungsunya ini.
Grep
"Aku genit pada istriku sendiri. Apa itu salah?" Ken kembali memeluk istrinya dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" Aira berusaha mendorong suaminya, namun gagal. Pria itu justru semakin mempererat kuncian tangannya di depan perut Aira.
Cup
"Aku lapar," ucap Ken sambil mencium tengkuk istrinya, membuat bulu kuduk Aira meremang.
Dukk
"DASAR MESUM!" Aira menginjak kaki suaminya, membuat pria itu melepaskan pelukannya.
"Berhenti bermain-main atau kamu tidur sendiri malam ini!" Ancaman Aira membuat langkah Ken terhenti. Tadinya ia masih ingin memeluk istrinya, atau setidaknya mengganggu buah hatinya yang kini tengah menikmati makan malamnya lebih awal.
Imajinasinya untuk bermanja-manja dengan Sang Istri kandas seketika. Ancaman itu sungguhan. Jika Ken tetap bersikeras mengganggunya, pasti Aira tidak segan-segan mengusirnya dari tempat tidur. Benar-benar mengerikan!
...****************...
Comel kali si Abang kalo merajuk 😂😂
Single mah bisanya senyum-senyum doang 😆😆
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy