
Mentari terbit di ufuk timur. Ken dan Aira duduk berdua di taman menikmati keindahan bunga sakura yang bermekaran. Keduanya melewatkan sarapan pagi demi bisa menghabiskan waktu bersama, sebelum Ken berangkat ke kantor untuk bekerja.
Tadinya mereka sempat bercanda, tapi kemudian ekspresi wajah Aira berubah ketika Ken mengatakan bahwa ibunya diajari memanah saat usianya baru menginjak dua tahun. Hal itu tentu saja membuat Aira terhenyak, menyadari kemungkinan bahwa kakek Yamazaki bisa saja memperlakukan Aya dengan cara asuh yang sama. Itulah yang Aira takutkan selama ini.
"Ai-chan, kenapa saat itu kamu begitu inginnya berpisah denganku?" Suara Ken terdengar sedikit bergetar. Ia berusaha meredam emosinya yang bergejolak.
Aira terdiam saat mendengar pertanyaan yang Ken ajukan. Dari mata hitam pekatnya, ada sorot sedih dan kecewa di sana. Hal itu membuat hati Aira semakin teriris. Ia sudah jatuh cinta pada pria yakuza ini, bahkan memiliki tiga buah hati sekarang. Itu artinya ia sudah terikat seutuhnya dengan Ken. Tak mungkin untuk lepas lagi.
Tik
Sebulir air mata jatuh membasahi pipinya, membuat Aira segera menolehkan wajah dan menghapus air tanpa warna itu dengan gerakan sembarang. Ia tidak ingin Ken melihatnya menangis.
"Apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah mengizinkanmu pergi saat itu?" tanya Ken, menarik dagu Aira untuk menghadap wajahnya. Ia melihat kelopak mata istrinya sedikit basah. Sudah seharusnya ia memberi tahu Aira tentang jati dirinya yang sebenarnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Sudahlah." Aira menyingkirkan jemari Ken dari wajahnya dan kemudian beranjak berdiri. Ia berjalan membelakangi Ken, berniat memungut kelopak bunga sakura yang ada di tanah. Hal itu ia lakukan untuk menghindari tatapan Ken yang menuntut jawaban darinya. Ia berjongkok dan mengambil satu kelopak berbentuk bulat yang indah.
Ia tidak ingin membahas masalah ini, mengondisikan hatinya agar tak kembali merasakan pedihnya kenangan pahit yang terjadi pada masa lalu mereka.
"I'm a wolf," ucap Ken tajam dan dalam. Ia akan tetap mengungkapkan identitasnya.
(Aku seekor serigala)
Deg!
Jantung Aira terasa terhenti satu detakan. Hatinya sesak oleh luapan emosi yang ia rasakan. Tangannya mengepal dan berdiri detik itu juga. Tidakkah Ken tahu bahwa penyataannya itu akan membuat Aira makin sedih dan khawatir?
Pria itu mengatakan bahwa ia sama seperti seekor serigala? Siapa yang tidak tahu keganasan hewan liar itu? Serigala adalah hewan buas yang sangat sulit untuk dijinakkan, ganas, menyeramkan, bahkan bisa mencabik-cabik tubuh mangsanya.
Aira dengan kondisi fisik yang belum stabil setelah ia pingsan kemarin, tidak ingin mendengar sesuatu yang membuatnya semakin banyak berpikir. Ia ingin mendengar sesuatu yang membahagiakan, bukan justru sebaliknya.
Grep
Ken mendekat dan memeluk tubuh ramping istrinya. Satu tangannya mendekap perut, sementara tangan yang lainnya mengelus pipi chubbynya. Ken memaksa Aira menoleh ke arah wajahnya.
Cup
Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Aira selama beberapa detik. Ken mencium istrinya itu dengan mata terpejam.
"Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman. Tapi kamu harus tahu siapa aku, suamimu ini," lirih Ken tepat di telinga istrinya.
"Aku tidak ingin mendengarnya," ucap Aira dengan suara bergetar. Kali ini Aira yang memejamkan matanya, membuat sebulir air mata luruh di pipi. Ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Pasti ada rahasia yang akan suaminya ungkapkan.
Ken membalik tubuh istrinya, memeluknya dengan erat. Ia tahu tidak seharusnya membuat wanita ini bersedih seperti sekarang, apalagi besok tepat perayaan anniversary mereka.
Ken membelai punggung Aira, membiarkan isak tangis wanita itu teredam oleh dada bidangnya. Ia tak peduli pada kemejanya yang basah oleh air mata. Pria ini tahu betapa rapuhnya hati seorang wanita, dan sudah menjadi tugasnya untuk menenangkannya. Aira pasti lelah, baik secara fisik maupun emosional.
"Maafkan aku," ucap Aira saat tangisnya mulai reda membuat Ken tersenyum. Ia mengusap bekas air mata istrinya.
__ADS_1
"Sudah lega?" tanya pria lesung pipi pada wanita yang sudah melahirkan ketiga anaknya. Tangis yang Aira keluarkan adalah air mata emosional yang akan diproduksi saat seseorang merasa sedih, terharu, ataupun bahagia. Setidaknya menangis akan melegakan perasaan, mengurangi stres, dan meningkatkan mood menjadi lebih baik.
Aira mengangguk. Ia kembali ke tempat duduk bersama suaminya.
"Apa yang ingin kamu katakan tadi? Kamu menganggap dirimu sendiri seperti seekor serigala?" tanya Aira, menatap mata sipit suaminya.
"Umm. Itulah yang selalu kakek gaungkan sejak aku kecil. Beliau berkata, "Jika ingin kuat dan ditakuti, belajarlah kepada singa. Namun jika ingin menjadi pemimpin yang diikuti, belajarlah kepada serigala". Itu penggalan sebuah kisah dan filosofi kuno yang dipercaya muncul di Tiongkok pada zaman kuno," ucap Ken memulai pernyataannya.
"Kenapa serigala? Kenapa bukan hewan lain? Harimau, singa, citah, atau apapun itu."
"Ada filosofinya. Serigala adalah hewan yang memegang teguh prinsip hierarki dan kepemimpinan. Hewan-hewan yang kamu sebutkan, mereka bisa dijinakkan. Tapi berbeda dengan serigala. Dia adalah hewan buas yang hampir tidak bisa dijinakkan, meski bisa sekalipun, itu sangat sulit. Itu sebabnya seekor serigala tidak pernah ada dalam pertunjukkan sirkus atau semacamnya."
"Kenapa?" tanya Aira penasaran.
"Tidak ada manusia atau hewan lain yang bisa mengontrol mereka sepenuhnya, sebab serigala hanya akan mematuhi pack leader-nya."
"Pack leader?" kening Aira berkerut. Istilah ini terdengar asing di telinganya, ia baru pernah mendengarnya.
"Ya. Kakek menggambarkan seorang pemimpin haruslah seperti seekor serigala yang menjadi pack leader dalam kawanannya. Di alam liar, pack leader harus tenang dan tegas untuk mengatur kelompoknya. Dia harus tetap memberlakukan aturan dengan rasional, tidak boleh memperlihatkan energi emosional atau gugup."
"Lalu apa hubungannya denganmu yang selalu ingin menahanku waktu itu? Bukankah kamu tidak menyukaiku? Kenapa tidak mau berpisah denganku?" Aira menuntut jawab.
Ken tersenyum atas pertanyaan bertubi-tubi yang istrinya lontarkan.
"Because I am a wolf. Alpha wolf," jawab Ken penuh percaya diri.
(Karena aku seekor serigala)
Lagi-lagi Ken tersenyum. "Serigala adalah hewan monogami, yakni setia hanya pada satu pasangan hingga akhir hayatnya. Itu yang terjadi pada kakek. Beliau tidak menikah lagi. Istrinya hanya satu, yaitu nenekku yang meninggal dua puluh tahun yang lalu. Kakek alpha wolf itu. Serigala alfa (pemimpin) akan diikuti dan dijadikan contoh atau panutan bagi serigala-serigala lainnya."
"Dan aku adalah hasil doktrin yang kakek tanamkan sejak kecil. Aku mengikuti segala yang beliau lakukan. Itu sebabnya aku mempertahankanmu bagaimanapun caranya. Hanya maut yang boleh memisahkan kita." Ken menempelkan keningnya pada Aira.
"Jangan terlalu dekat!" Aira kembali mendorong kepala suaminya. Ia berbalik saat melihat Ken memamerkan smirk andalannya. "Apa bagusnya serigala? Buas, liar, kejam," ketus Aira. Ia gugup dan berusaha mencari pembenaran atas asumsinya sendiri yang tidak suka dengan serigala.
"Serigala adalah hewan yang cerdas. Mereka akan mengawasi, mengintimidasi, membuat mangsa kelelahan, dan akhirnya membunuh mangsanya. Semua hal tersebut butuh kecerdasan ekstra dalam dunia hewan, ditambah dengan stamina dan juga kemampuan sosial mereka dalam mengaplikasikan taktik berburu di lapangan. Penglihatan dan penciuman mereka juga sangat baik, membuat kawanan serigala sangat ditakuti oleh mangsa-mangsanya. Itu yang kakek harapkan dariku," jelas Ken panjang lebar.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, kami memegang teguh prinsip hierarki dan kepemimpinan. Ketegasan hierarki adalah aturan yang wajib dipatuhi bersama. Dalam hal ini, kakek mengharapkan bahwa aku akan menonjolkan kepemimpinan dari atas ke bawah. Kamu sudah lihat sendiri betapa menonjolnya suamimu ini," goda Ken.
"Sudahlah. Aku lapar. Mendengar penjelasan darimu, seperti mendengarkan pidato saja. Membosankan!" Aira berdiri, bersiap kembali ke kediaman utama dimana anak-anaknya berada.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"
Srett
Ken menarik bagian bawah gaun yang dipakai oleh Aira, membuat wanita itu limbung seketika, hampir terjatuh. Pria berkulit putih itu segera menangkap pinggang istrinya, mendudukkannya di atas pangkuan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aira saat jalinan tangan Ken terasa semakin erat di pinggangnya.
"Cium aku dulu, baru kamu boleh pergi." Ken memajukan wajahnya, berharap wanita ini mau mengecupnya.
__ADS_1
"Menyebalkan! Selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan. Dasar serigala liar!" ketusnya menahan kesal di dalam dada.
"Benar, aku memang serigala liar. Dan kamu adalah mangsanya, kelinci kecil yang menggemaskan. Apa yang bisa kamu lakukan, huh?"
"Baiklah-baiklah. Aku mengaku kalah padamu, Tuan Serigala." Aira pura-pura mengalah pada suaminya. Ia tersenyum jahil setelah mendapat ide cemerlang untuk lepas dari dominasi suaminya.
"Anak pintar," puji Ken, tanpa tahu siasat yang istrinya simpan di dalam kepala.
"Tutup matamu!" perintah Aira.
"Kenapa harus menutup mata?" tolak pria lesung pipi ini.
"Ayolah," pinta Aira sambil mencubit pipi suaminya.
"Baiklah." Ken mulai memejamkan matanya.
"Jangan membuka matamu sebelum aku memintanya."
"Umm," gumam Ken.
"Kamu siap?" tanya Aira.
"Umm."
Srett
Aira menarik dasi yang melingkar di leher suaminya, membuat Ken terkejut detik itu juga. Ia membulatkan mata saat merasa lehernya tercekik. Rengkuhannya yang ada di pinggang Aira otimatis terlepas, membuat wanita berwajah bulat itu berhasil berdiri. Dengan cepat ia berlari meninggalkan Ken.
Aira berhenti berlari, ia berbalik menatap Ken yang masih terduduk di kursinya.
"Maaf, Sayang. Aku memang mengaku kalah, tapi aku tidak mengatakan bahwa aku bersedia menciummu," ucap Aira dengan suara yang sedikit lantang. Setidaknya mereka berjarak lima atau enam meter sekarang.
"Kamu?!" geram Ken menahan emosi.
"Hahaha, gomen ne," tukas Aira sambil melambaikan tangannya dari kejauhan. Ia melangkah mundur sambil tetap menampilkan senyum kemenangannya.
"Ai-chan. Awas belakangmu!" teriak Ken, namun sudah terlambat.
Dukk
Aira berbalik tepat saat Ken berucap. Ia menabrak sesuatu di depannya, membuatnya jatuh terduduk di tanah. Wanita itu menengadahkan kepala dan mendapati seorang pria berdiri menjulang di depannya.
"Ma... maaf," ucapnya terbata. Ia membulatkan matanya saat mengenali sosok di hadapannya.
...****************...
Siapa nih? Kok bisa sampe bikin Aira jatuh? Duuh, yang penting bukan jatuh cinta yaa. Bisa-bisa abang Yanto meradang lagi nih 😄😄
Btw, kok Aira sekarang jadi suka jahil yaa? Pasti abang Yanto nih yang ngajarin 😂😂
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy