
WARNING 21+
Adegan di bawah ini mengarah pada adegan dewasa. Bijaklah dalam memilih bacaan. Semua yang tercantum diĀ novel ini adalah fiktif belaka dan hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Bukan untuk ditiru!
* * *
Kaori baru saja selesai berkemas, siap pulang ke Jepang. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mengadopsiĀ anak, menjadi orang tua asuh untuk malaikat kecil yang kurang beruntung atau mereka yang diabaikan oleh keluarganya sendiri. Namun, Shun belum menyetujui ide itu. Dia tidak ingin perhatian Kaori terbagi.
"Sebelum kita mengangkat anak, apa salahnya kita coba membuatnya?"
Shun mengikis jaraknya dengan Kaori, membuat wajah dokter cantik itu tersipu malu.
"Ap... apa yang kamu lakukan?" Kaori tergagap. Detak jantungnya berderap cepat, senada dengan hela napas yang terasa semakin berat.
"Apa lagi? Bukankah kamu ingin memiliki bayi? Jadi, ayo kita membuatnya!" Shun berbisik di telinga Kaori, sesekali menciumnya dengan gerakan seduktif. Pria penggoda ini sengaja melakukannya, memancing hasrat yang dimiliki oleh istrinya.
"Apa kamu siap?" Shun menatap manik mata coklat kehitaman di depannya. Dia mencium wangi tubuh istrinya, membuat hasratnya semakin membara.
"Shun... " Kaori berusaha menahan dada suaminya itu. "Kita bisa terlambat. Pener... bangan... nyaahh..."
Kaori tak bisa melanjutkan kata-katanya. Bibir pria itu sudah mulai menjelajah, dimulai dari cuping telinganya yang cukup sensitif. Jangan lupakan kedua tangan dengan sepuluh jari yang ikut bekerja. Mereka mulai mengelus punggung Kaori, berusaha meraba seluruh permukaan kulit yang masih terhalang blouse sutra warna kelabu.
"Shun..." Kaori mulai memejamkan matanya. Dia tidak bisa menolak perlakuan dari pria yang telah mengikat janji dengannya di atas altar suci. Pria ini selalu saja berhasil memporakporandakan pertahanannya, membuatnya mabuk kepayang tanpa meneguk setetes alkohol sekalipun.
"Nikmatilah, Sayang."
Shun tak segan-segan lagi. Satu tangannya mulai menyusup, berkelana di punggung mulus istrinya. Tangannya yang lain mulai bergerak turun, menggapai titik sensitif yang lainnya.
"Jangan sekarang. Kita akan terlambat!" Kaori berusaha menetralkan getaran yang mulai dia rasakan. Ini tidak benar. Jika Shun berhasil menerobos pertahanan Kaori, maka bisa dipastikan bahwa mereka akan tertinggal pesawat. Permainan mereka tidak akan berhenti sebelum Shun mendapatkan pelepasan berkali-kali. Kaori tahu itu.
"Shun?!" Kaori masih berusaha menahan laju hasratnya sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya dengan erat, berharap kesadarannya masih tersisa untuk menolak kenikmatan ini.
Namun, tidak demikian halnya dengan Shun Oguri. Pria itu tidak peduli. Bibir pria ini justru semakin gencar bekerja, mencium, mencecap, menggigit di mana saja. Kedua tangannya mengelus, mencengkeram, dan sesekali mencubit area yang bisa dijangkaunya. Hal itu membuat ribuan kupu-kupu bermunculan di sekitar mereka.
"Shun. Hen... mmmh, hentikan!" Kaori memaksakan diri, melawan suaminya dengan sisa kekuatan yang ada.
__ADS_1
Mendengar desahan sensasional itu, membuat Shun semakin bersemangat. Jari-jarinya mulai berani meraba inti Kaori di bawah sana, membuat wanita ini membelalakkan matanya.
Kaori tidak bisa menahan ledakan dari dalam dirinya. Dia mendapat kepuasan pertamanya sebelum Shun bekerja keras. Hal itu membuat cengkeraman tangannya di kemeja pria itu semakin erat.
"Cu... cukupp!"
Sebuah smirk muncul di bibir pria berkulit putih ini. Dia berada di atas awan, berhasil menggoda istrinya. Bahkan tanpa ucapan verbal pun, wanita ini sudah terangsang.
Shun semakin intens menyerang inti tubuh istrinya. Dia melakukan itu dengan senang hati, terlebih lagi saat melihat wanita di bawahnya yang kini memejamkan mata, merasa keenakan dengan sentuhan jemari tangannya.
"Apa kamu berusaha membodohiku?" Shun mulai melucuti kancing baju istrinya. Tak lupa dia menyentuhkan jemarinya di area sensitif yang Kaori miliki, sesekali sengaja menekannya dari luar pakaian.
Kaori menggeleng. Dia tidak tahan lagi dengan godaan suaminya. Dia ingin lebih dan lebih lagi.
"Lihatlah. Meski kamu menolakku, tapi tubuhmu mengatakan yang sebaliknya."
Keenam kancing blouse Kaori terbuka seluruhnya, membuat salah satu aset berharganya terlihat. Meski tertutup kain dengan busa tebal, nyatanya Shun sudah pernah melihatnya beberapa kali. Hal itu membuat imajinasi liarnya bergelora.
Cup
"Aku akan membuatmu menyebut namaku tanpa henti." Shun menciumi area tertutup itu dengan penuh nafsu. Seluruh tubuh Kaori menjadi candu untuknya, terutama daging kenyal yang tengah dia nikmati sekarang.
"Jangan begini." Kaori menyilangkan tangannya di depan badan saat Shun menjauhkan diri. Pria ini melepas pakaiannya sendiri, sebelum kembali menikmati santap siang spesial favoritnya ini.
"Singkirkan tanganmu, Sayang." Shun mengangkat kedua tangan Kaori, memindahkannya ke sisi badan. Tak lupa, dia menahannya di sana agar tak mengganggu kenikmatan yang siap dia lanjutkan.
Kaori melentingkan tubuhnya saat merasakan gelombang luar biasa itu kembali datang. Dia kembali mendapat kepuasan sebelum beranjak ke permainan inti.
"Kamu suka?" bisikan itu terdengar begitu mesra di telinga Kaori, membuat tangannya mencengkeram seprai erat-erat.
Shun tak tinggal diam. Dia memanfaatkan hasrat istrinya yang tengah memuncak dengan lebih sering menggigit area sensitifnya, membuat wanita itu menggelinjang.
"Shuunn," lenguhan itu membuat senyum pria ini semakin mengembang. Dia mengangkat badannya, membiarkan tubuh istrinya tertangkap netra elang miliknya.
"Jangan menyiksaku lagi." Kaori merasa putus asa saat gelombang ketiganya siap memuncak namun Shun justru menjauhinya. Pria itu menatap istrinya dengan senyum iblis.
__ADS_1
"Bukankah sudah ku katakan, aku akan membuatmu menyebut namaku tanpa henti?"
Kaori mengatur napasnya yang memburu, membuat dadanya yang naik turun dengan cepat sedikit tenang.
"Semakin kamu menginginkannya, semakin aku akan menyiksamu. Panggil namaku sebanyak mungkin, maka aku akan memuaskanmu."
"Shun..." Kaori tak ingin tersiksa lebih lama lagi. Dia berinisiatif lebih dulu, meraih tubuh suaminya dan mulai memanjakan pria itu. "Jangan berpikir hanya kamu yang bisa mempermainkanku!"
Benar saja. Kaori menggunakan pengalamannya, memberikan servis terbaik untuk suaminya.
"Kaori-chan," panggil Shun. Dia berusaha menahan hasrat untuk tak menerkam wanita yang tengah memanjakan inti tubuhnya. Wanita ini terlihat berpengalaman, tak merasa jijik sama sekali akan kelakuannya sendiri.
"Dari mana kamu tahu hal ini bisa memanjakanku?" Shun memejamkan matanya, menikmati gelombang yang mulai bermuara ke organ vitalnya.
Kaori tak menjawab. Dia masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"Kaori-chaaannn...."
Kini Shun yang dibuat kewalahan. Dia hampir saja meraih puncak kenikmatan saat Kaori menjauhkan diri.
"Itu hukuman untukmu!"
Dengan langkah cepat, Kaori segera meninggalkan Shun yang masih frustrasi. Dia berhasil membalas perlakuan tanggung suaminya.
"KAORI-CHAN!!!" geram Shun dengan wajah merah padam. Dia tidak menyangka akan mendapat pembalasan dari Kaori. Hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk, justru tidak mendapat pelampiasan sama sekali. Wanita pemilik hatinya tak lagi terlihat, berganti dengan suara gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi.
Shun menjambak rambutnya sendiri. Untuk pertama kalinya dia menyesal karena telah mempermainkan istrinya. Dia ingin marah, tapi tidak tahu bagaimana harus melampiaskannya. Semua ini karena kebodohannya yang sengaja ingin menggoda Kaori. Bukannya merasakan kenikmatan luar biasa, justru akhirnya dia yang harus merasa kecewa. Senjata makan tuan.
* * *
Whoooaaa Si Abang ganteng sii pake acara ngerjain Kaori. Kena sendiri kan getahnya.
Btw, adegan di atas cuma boleh ditiru oleh emak-emak pada suaminya, atau bapak-bapak ke istrinya. Sama sekali nggak boleh ditiru buat kalian yang masih single. Sabar, sampai ada kekasih halalnya yaa. Sabaaaarrrr...
See you next chapter. Big thanks buat apresiasi kalian selama ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa,
__ADS_1
Hanazawa Easzy