
Ken pura-pura marah dan terdiam seribu bahasa. Ia merajuk demi bisa bermanja-manja dengan istrinya. Namun sayang, Aira tampaknya sengaja menjauh dari suaminya ini.
Ctakk
Aira meletakkan satu mangkuk penuh berisi buah-buahan yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian. Ada strawberry, kiwi, persik dan buah blueberry. Tak lupa ia menambahkan madu dan perasan lemon ke atas makanan berbeda warna itu.
"Buka mulutmu," ucap Aira sembari menyuapkan sepotong buah persik pada suaminya. Baginya, menyenangkan suami bisa dilakukan dengan menyiapkan makanan kesukaannya.
Ken bergeming. Ia tak membuka mulutnya sama sekali membuat Aira mengerutkan keningnya lagi.
"Mau aku siapkan buah yang lain?" tanya Aira saat Ken enggan memakan buah yang mirip dengan buah apel ini.
Ya, sekilas buah persik terlihat sama seperti apel, namun warna daging buahnya cenderung lebih kuning. Selain itu, perbedaan lainnya adalah buah persik beraroma harum dan memiliki satu biji yang keras. Dalam budaya Cina, buah persik sering digunakan untuk keperluan dalam kegiatan doa.
Grep
Ken menangkap jemari istrinya yang mulai menjauh dari mulutnya. Ia menuntun buah itu masuk ke dalam indera pengecapnya. Moodnya sedikit membaik setelah mengunyah buah yang memiliki rasa unik dan menyegarkan ini.
"Kamu tau? Ibu bilang buah persik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, seperti menjaga daya tahan tubuh hingga mencegah penuaan dini." Aira mendekatkan diri ke arah Ken, membuat lutut mereka saling menempel.
Srett
Ken menarik pinggang ramping istrinya, mengikis jarak diantara mereka. Pria itu kembali menunjukkan sikap posesifnya membuat Aira tersenyum.
Aira menyuapkan sepotong buah kiwi di depan mulut Ken, namun pria itu menggeleng. Ia tidak suka buah dengan rasa masam itu.
"Buah ini bagus untukmu!" paksa Aira. Ken masih dengan jurus andalannya, diam seribu bahasa. Ia menutup mulutnya rapat-rapat sambil menggelengkan kepala. Benar-benar childish.
*childish : sifat kekanak-kanakan, tidak dewasa dan cenderung konyol.
"Aku ada satu pertanyaan untukmu. Jika kamu tidak bisa menjawabnya, kamu harus memakan buah ini. Jika kamu berhasil menjawabnya, maka aku yang akan memakannya." Aira menampilkan wajah sumringahnya. Ia benar-benar terlihat antusias kali ini.
'Apa-apaan wanita ini?' batin Ken dengan kening berkerut. Ia terkejut dengan sikap istrinya ini yang selalu berhasil menguasai keadaan dengan cepat, bahkan seringkali membuatnya tak berdaya. Jika orang-orang menjulukinya sebagai seorang monster, mungkin Aira adalah monsternya monster.
"Apa nama latin buah kesukaanmu?"
'Hah? Apa-apaan ini? Aku bahkan belum menyetujuinya!' ketus Ken dalam hati. Ia membulatnya matanya, sungguh tidak menyangka pertanyaan yang barusan didengarnya ini.
"Kamu hanya punya waktu tiga detik untuk berpikir. Tiga. Dua. Satu. Waktu habis. Buka mulutmu!" titah Aira.
__ADS_1
Lagi-lagi mata Ken membola saat buah asam itu masuk ke mulutnya. Aira menekan kedua sisi pipinya, memaksa mulutnya terbuka detik itu juga.
Glek
Ken terpaksa menelan buah itu karena Aira membekap mulutnya. Ken benar-benar tidak bisa melawan istrinya jika sudah seperti ini.
"Bukankah ini buah favoritmu? Bahkan namanya saja tidak tahu!" ketus Aira. "Nama latin buah persik adalah Prunus persica. Katanya buah ini diperkirakan berasal dari Tiongkok lebih dari delapan ribu tahun yang lalu."
"Sebelumnya aku pikir buah persik sama dengan buah kesemek, ternyata berbeda. Buah berbiji ini memiliki kulit yang tipis dan berbulu halus, daging buahnya berwarna jingga kekuningan." Aira bernarasi sambil memperhatikan potongan buah di depannya.
Hap
Ken mengambil buah yang siap masuk ke mulut Aira. "Ibu membelikannya untukku!" ketus Ken. Persis seperti anak kecil yang berebut makanan.
"Iya iya. Aku tidak akan memakannya lagi. Semuanya untukmu!" Aira kembali menyuapi suaminya dengan buah yang kaya akan vitamin C, E, dan K itu. Selain vitamin, nutrisi lain yang terkandung di dalam buah mungil itu adalah kalori, lemak, karbohidrat, serat, protein dan kalium. Tak hanya itu, buah ini juga memiliki kadar gula yang rendah sehingga baik untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Bahkan beberapa studi ilmiah mengatakan bahwa buah ini bisa mengatasi dan mencegah berbagai penyakit kronis. Kandungan antioksidan di dalam buah persik berfungsi untuk menangkal paparan radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti hipertensi dan penyakit jantung. Selain itu, kandungan kalium dan serat dalam buah persik juga berperan menurunkan risiko terjadinya obesitas dan diabetes.
"Pantas saja matamu begitu memesona. Ternyata kamu suka buah ini." Aira berusaha memuji Ken, demi membuat perasaannya semakin membaik.
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Ken sarkas.
"Umm." Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kandungan beta karoten, alfa karoten, dan beta crytoxanthin yang terkandung dalam buah persik berperan dalam pembentukan vitamin A. Oleh sebab itu, buah ini baik untuk menjaga kesehatan mata." Aira mengerlingkan sebelah matanya.
"Buah ini akan meningkatkan daya tahan tubuhmu, mempercepat perbaikan sel dan proses penyembuhan luka. Selain itu, buah ini kaya serat, sehingga dapat membantu melancarkan pencernaanmu. Bakteri baik di dalam usus besar akan mengubah serat menjadi asam lemak yang bermanfaat untuk mengurangi peradangan pada usus. Jadi kamu tidak akan kesulitan buang air besar," bisiknya di dekat telinga Ken.
Puftt. Hampir saja Ken tertawa mendengar bisikan istrinya itu, tapi ia buru-buru menetralkan wajahnya lagi.
Ken tahu bahwa buah ini bermanfaat sebagai penyembuh kulit yang terluka karena kandungan protein di dalamnya. Tapi baru kali ini ia mendengar fungsi lainnya, yakni untuk melancarkan pencernaan.
'Yang benar saja! Hahaha....' Batinnya kembali tertawa.
Aira kembali berceloteh, menanyakan beberapa pertanyaan aneh yang membuat Ken tak bisa menjawabnya. Mau tak mau, ia harus menuruti kemauan istrinya itu, memakan buah kiwi di depannya.
"Sudah kenyang?" tanya Aira saat mendengar Ken bersendawa. Tak terasa, buah di dalam mangkuk itu telah habis. Ken memakan semuanya dengan lahap, membuat perutnya terasa penuh.
"Aku kekenyangan," jawab Ken dengan perasaan tak nyaman. Perutnya terasa begah, seolah tak ada tempat untuk udara di dalam sana. Moodnya sudah kembali membaik. Candaan Aira membuatnya melupakan emosinya. Bahkan ia melupakan keinginannya untuk bermanja-manja dengan wanita satu ini.
"Perutmu belum buncit, tapi sudah mengeluh. Bagaimana denganku yang merasa begah selama berbulan-bulan?"
Ckitt
__ADS_1
Aira mencubit perut suaminya, membuat pria itu meringis kesakitan. Perutnya belum membaik, tapi justru harus mendapat serangan andalan Aira ini.
Puk puk
"Kemarilah," Aira menepuk pahanya, meminta Ken berbaring di pangkuannya.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Ken menuruti perintah istrinya begitu saja. Ia menatap wajah bulat itu dari bawah. Pipi istrinya terlihat sedikit tirus dengan mata yang menghitam, tanda-tanda kurang istirahat.
"Apa kamu lelah?" tanya Ken intens. Ia mengelus pipi Aira dengan jemari tangan kirinya. Tangan kanannya yang terluka tergeletak lurus di sisi badan. Meski tak merasa kesakitan, namun luka itu membuat pergerakannya sedikit terbatas.
"Aku bahagia." Aira tersenyum, menangkap jemari suaminya. "Selama kamu dan anak-anak baik-baik saja, maka aku tidak merasa lelah sama sekali."
Ken terharu mendengar jawaban Aira. Ia menggenggam tangan Aira, membawanya mendekat ke arah wajahnya.
Cup
"Terima kasih," ucap Ken setelah mencium punggung tangan istrinya yang tertutup perban. Ya, wanita ini terluka saat kemarin bertarung bersamanya.
"Maaf karena membuatmu terluka." Ken menatap tangan Aira lekat-lekat. Memperhatikan balutan luka diagonal yang menutupi sebagian besar punggung tangan istrinya.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Bagaimana denganmu? Sudah merasa baikan?" tanya Aira sembari menatap luka di puncak lengan suaminya.
"Luka ini tidak akan membunuhku. Aku tidak akan mati dengan mudah!" sombongnya sambil memejamkan mata.
Aira tersenyum mendapati sikap pongah suaminya yang kembali membanggakan dirinya sendiri itu. Artinya, sisi yakuzanya sudah kembali, menggantikan mode baby yang terpasang sebelumnya.
"Ah, apa yang terjadi dengan orang-orang itu?" tanya Aira penasaran.
Ken terkesiap, segera beranjak dan duduk sambil menatap Aira lekat-lekat.
"Hukuman apa yang pantas untuk mereka?"
Aira menaikkan sebelah alisnya, mencoba menimang-nimang hukuman apa yang akan tuan Harada dan nyonya Hanako dapatkan.
"Bagaimana kalau... " Aira membisikkan idenya pada Ken, membuat pria itu membulatkan matanya.
...****************...
Utututuuu... Apa yaa idenya emak tiga anak ini? Ada yang bisa nebak? Author kasih pict abang Yanto deh kalo kalian bisa nebak pemikiran Ai-chan 💃
Author tunggu yaa 😉
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy 😎