
Ken sampai di kantor saat jam di tangannya menunjukkan pukul 08.15 pagi. Terlambat 15 menit dari jadwal kedatangan wakil direktur itu seharusnya. Dan meeting dengan para investor dijadwalkan berlangsung dalam lima menit lagi. Itu artinya Ken tidak punya waktu lagi untuk membaca draft laporan keuangan quarter pertama tahun ini.
Meskipun Ken sudah memeriksanya kemarin, biasanya dia akan menyempatkan waktu untuk membacanya lagi tepat sebelum rapat dimulai. Namun agaknya kali ini Ken harus mengabaikan hal itu, semua karena sarapan plus-plus yang menghabiskan banyak waktunya pagi ini.
Ting
Denting lift terdengar nyaring, bersamaan dengan terbukanya pintu besi mengilat itu. Ken, Kosuke dan beberapa pegawai lain yang berada di bawah kepemimpinan pria 28 tahun itu, melenggang ke ruang rapat di ujung koridor.
Semua orang menunduk hormat saat Ken memasuki ruangan dengan warna hitam dan abu mendominasi. Warna yang identik dengan sosok Ken, yakni tegas, misterius dan tak terduga.
Ya, pria itu terkenal sebagai seorang monster di dunia bisnis. Ia tak akan segan-segan menyingkirkan batu yang menghalangi jalannya. Jika ia tidak berlaku kejam pada lawan bisnisnya, maka dia yang akan diinjak-injak.
Semua orang duduk kembali di kursinya saat Ken mempersilakan dengan isyarat tangannya. Ia menatap semua orang di hadapannya dengan tatapan tajam.
Rapat kali ini dimulai dengan penyampaian laporan dari divisi pemasaran. Mereka menyampaikan adanya peningkatan penjualan untuk produk-produk retail. Seorang wanita 35 tahun tampak berdiri, menyampaikan laporannya dengan lantang.
"Pada quarter awal ini, pemasaran kami mengalami kenaikan pesat di bidang retail store, yakni berfokus pada penjualan barang dan atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga, bukan untuk keperluan bisnis." Wanita itu mulai memaparkan pencapaian yang dilakukan oleh orang-orangnya.
"Kelemahan kami sebelumnya adalah karena memasang harga mati seperti di supermarket dan department store. Untuk menyiasatinya, kami memberlakukan diskon hingga 30%. Nyatanya hal itu menarik banyak konsumen baru dan mendongkrak penghasilan yang cukup signifikan."
Ken mengamati laporan yang ada di hadapannya, ia melihat kenaikan yang cukup tinggi, sama seperti yang dilaporkan oleh wanita yang menjabat sebagai manager pemasaran itu.
"Selain hal yang saya sebutkan sebelumnya, kami juga menawarkan jasa-jasa khusus seperti pembelian kredit, jasa pengiriman gratis, dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli, dengan ketentuan tambahan tentunya."
Beberapa investor yang hadir disana tampak menganggukkan kepalanya, merasa puas karena investasi yang mereka tanamkan di perusahaan ini nampaknya membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan.
__ADS_1
"Saat ini, kami berfokus pada sistem rented goods services, dimana para konsumen menyewa dan memakai produk-produk kami, dalam hal ini dikhususkan pada penyewaan mobil dan apartemen. Para konsumen menyewa dua produk itu dengan tarif tertentu dan bisa memakainya dalam jangka waktu yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Mereka bisa memakainya selama jangka waktu perjanjian, namun kepemilikan tetap berada di pihak Miracle Corporation."
"Kelemahan kami di awal tahun ini adalah pada jenis non goods service yakni jasa personal yang memiliki sifat intangible (tidak berbentuk produk fisik) seperti tutor, pemandu wisata dan ahli kecantikan. Hal ini berkaitan dengan rumor produk palsu Miracle Cosmetics yang beredar di masyarakat. Kepercayaan mereka menurun, membuat beberapa member memilih beralih pada jasa dari perusahaan lain."
Wanita dengan setelan pakaian berwarna merah hati itu menyudahi laporannya setelah menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan bidang spesialisasinya. Ia menundukkan badan 90° sebelum kembali ke tempat duduknya di sisi kanan Ken.
Laporan berlanjut oleh divisi yang lainnya. Para investor yang hampir semuanya berusia di atas lima puluh tahunan tampak puas dengan penyampaian para karyawan Miracle itu. Mereka bisa menerimanya dengan lapang dada, kecuali satu orang. Seorang pria mengangkat tangannya, ingin menyampaikan pendapatnya.
"Wakil Direktur Yamazaki Kenzo, bisakah Anda menjelaskan apa yang terjadi pada Miracle Cosmetics? Bukankah Anda yang bertanggung jawab pada perusahaan kecil itu? Diantara semua cabang usaha yang ada, kenapa Miracle Cosmetics mengalami penurunan pendapatan? Bahkan sampai beredar rumor adanya produk palsu. Apa Anda terlalu sibuk mengurus istri Anda sampai melupakan pekerjaan di perusahaan?" tanya pria itu sambil memandang remeh pada Ken.
Pertanyaan itu membuat Ken mengepalkan tanganya. Ia tersinggung karena pria berpakaian putih itu menyinggung keberadaan istrinya dalam pertemuan formal ini. Sebelumnya, tidak ada satu pun orang yang berani melakukannya.
"Maaf, Tuan. Silakan perkenalkan diri Anda terlebih dahulu," pinta Kosuke menyela.
Ken mengangkat sebelah alisnya, merasa tidak asing dengan nama itu. Ia seperti pernah mendengarnya.
"Dia putra sulung tuan Hayato Harada dan nyonya Suzuki yang datang tempo hari," bisik Kosuke pada atasannya.
Ken menganggukkan kepalanya. Ia menangkap informasi yang Kosuke sampaikan dengan jelas. Ken ingat pernah bertemu dengan pria tiga puluh tahun ini beberapa kali. Dia lulusan sebuah universitas ternama di Inggris dan baru kembali ke Jepang beberapa tahun terakhir. Sepak terjangnya cukup diakui, terlebih lagi dengan status ayahnya yang menjabat posisi yang cukup penting di pemerintahan.
"Selamat datang, Tuan Harada Yuki. Sebuah kehormatan untuk saya bisa bertatap muka dengan Anda." Ken bermanis mulut dengan pria muda satu ini. Nampaknya tidak akan mudah menanganinya, tidak seperti para investor lain yang lebih berumur. Mereka lebih cepat puas dan tidak akan menuntut macam-macam asalkan uang mereka menghasilkan uang-uang yang lainnya.
Kosuke menatap pria yang terlihat ambisius itu, tatap matanya yang tajam dan membunuh hampir sama seperti atasannya, Yamazaki Kenzo. Ia harus lebih mewaspadainya dibandingkan investor yang lain.
__ADS_1
Desas desus mulai terdengar. Beberapa orang mulai terpengaruh atas provokasi yang Yuki sampaikan. Hal itu membuatnya menyunggingkan senyum lebar di wajahnya.
"Jadi, Tuan Yamazaki Kenzo yang terhormat, bisakah Anda menjawab pertanyaan saya?"
Ken menatap pria yang berjarak dua meter darinya dengan senyum lebar terukir di wajah tampannya, membuat kedua lesung pipinya terlihat. Ia tahu ada saatnya seseorang akan menuntutnya atas masalah yang terjadi dua pekan yang lalu itu. Dan ternyata yang orang itu adalah putra nyonya Suzuki sendiri, hal itu cukup mengejutkan.
"Apa Anda sungguh ingin mendengar penjelasan saya tentang produk palsu Miracle itu? Apa Anda sudah mendapat informasi sebenarnya dari nyonya Harada, ibu Anda sendiri?" pancing Ken.
"Apa maksud Anda?" Yuki mengerutkan keningnya dalam-dalam, tidak tahu kemana arah pembicaraan Ken.
"Kosuke, bawa semua datanya kemari!" titah Ken penuh percaya diri membuat bisik-bisik diantara para investor yang lain semakain ramai. Mereka takut akan terjadi perang diantara dua pemuda beda usia ini. Pebisnis muda memang lebih berbahaya, mereka semua menyadari itu.
"Tuan Harada Yuki, bersiaplah mendengar pertanggungjawaban dariku, Yamazaki Kenzo, Wakil Direktur Miracle Corporation sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di Miracle Cosmetics." Ken menunjukkan smirk andalannya, membuat orang-orang disana bergidik ngeri. Ken siap melahap habis pria muda ini.
Pria bernama Yuki Harada itu sungguh tidak tahu seberapa brutalnya seorang Yamazaki Kenzo saat sudah mengeluarkan ekspresi seperti itu. Berbahaya!!
...****************...
Yuhuuuu.... Akhirnya bang Yuki bisa Author masukkin juga ke cerita ini. Nama aslinya Yuki Yamada, tapi disini author ubah jadi Yuki Hayato yaa, anaknya nyonya Suzuki itu yang wajahnya iritasi karena sembarangan pake produk buat wajah. Salah si ibuk sendiri, eh ini anaknya bikin masalah juga 😎
Kira-kira apa yang akan terjadi yaa? Ada baku hantam ngga nih? Eheheheee... Dah lama kan yaa ngga gelud, haha 😆😆
Sampai jumpa di lain waktu, jangan lupa like n komen yaa biar author makin semangat lanjutinnya. Jaa, 🤗
Hanazawa Easzy
__ADS_1