
Shun menghentikan langkahnya di depan lift, bersiap menuju minimarket di lantai bawah. Kaori memintanya membeli beberapa kaleng minuman ringan, buah segar, dan juga yogurt.
Ting
Denting lift terdengar nyaring, bersamaan dengan terbukanya pintu besi mengilat yang ada di depan Shun. Seorang pria dengan buket bunga lili dan mawar putih keluar dari sana sambil membaca note alamat tempat tujuannya. Shun tidak memikirkan hal lain, fokusnya hanya satu, segera pergi dan membeli barang-barang pesanan istrinya. Itu saja.
Pintu besi kembali tertutup satu detik setelah Shun masuk ke dalam. Angka di atas pintu lift mulai berganti, menunjukan nominal yang makin kecil.
Deg!
Shun merasa hatinya tidak tenang. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba teringat denga Kaori. Mungkinkah sesuatu terjadi padanya?
"Sial! Aku melewatkan sesuatu. Bunga itu!" Sekilas Shun mengingat makna bunga itu : Kematian.
Sepersekian detik kemudian, Shun menekan tombol lift dengan tergesa. Dia ingin kotak besi ini segera berhenti dan mengeluarkannya dari sana. Dibandingkan makanan permintaan Kaori tadi, nyawa wanita itu lebih penting.
"Kaori-chan, jangan lakukan apapun!" bisiknya sambil berlari. Langkah kakinya yang panjang mulai mendaki tangga darurat satu per satu. Shun keluar dari dalam lift lima detik lalu dan langsung melesat menuju tempat tinggalnya dan Kaori.
Di saat yang sama, Kaori membawa buket bunga serba putih itu masuk ke dalam rumah.
"Bunga? Siapa yang memesannya?" lirih Kaori, mengamati rangkaian tumbuhan yang aman sentosa di tangannya. Dia mengamati kertas kecil yang terselip di sana. Ada deretan huruf yang berhasil menyita perhatiannya.
'Semoga ibu selalu berbahagia. Dari kesayanganmu di surga.'
"Eh? Ini?!"
Tangan dan tubuh Kaori bergetar hebat. Luka masa lalunya kembali diungkap, membuatnya ketakutan seketika. Bayang-bayang saat tuan Harada mengusirnya, kembali terlintas di kepala.
"AARGGHHH!" teriak Kaori sebelum membuang rangkaian bunga lili dan bunga mawar putih itu ke lantai.
Dia syok, terkejut bukan kepalang melihat caption yang tertulis di kertas mungil berwarna merah itu. Ingatannya kembali pada peristiwa bertahun-tahun lalu dimana tuan Harada mengusirnya.
FLASHBACK
"PERGI!!" Suara lantang seorang pria lima puluhan tahun terdengar menggema. Wajahnya yang putih kini berubah merah padam. Dia begitu membenci menantunya, Kaori Yamada.
"Suamiku, tenanglah." Nyonya Suzuki mencoba menenangkan suaminya yang naik pitam.
Di sisi lain, Kaori yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa memegangi lengan Yuki erat-erat. Keduanya baru pulang dari rumah sakit. Kondisi Kaori baru sedikit membaik setelah keguguran dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Tubuhnya masih lemah, tapi memaksakan diri untuk pulang karena tidak ingin membuat ayah dan ibu mertuanya khawatir.
"Yuki-kun, menjauh dari wanita itu sekarang juga!" Meski tak lagi berteriak seperti sebelumnya, tapi emosi Harada tetap terlihat begitu kentara. Dia menunjuk tepat ke arah Kaori dengan kebencian yang mendalam.
"Apa maksud ayah?" Yuki mengerutkan keningnya, heran dengan permintaan Sang Ayah yang terdengar aneh. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Kaori.
"Silakan pilih, istrimu atau kami, ayah dan ibumu!" Hayato Harada tetap bersikeras dengan keinginannya untuk memisahkan putra sulungnya dari wanita yang baru saja kehilangan calon buah hatinya ini.
Yuki maju satu langkah. Dia menatap ayahnya dengan tajam.
"Kenapa aku harus memilih? Dia istriku dan kalian orang tuaku. Aku tidak akan pergi dari kalian, juga tidak akan berpisah dengan istriku." Masih terlihat tenang, Yuki mencoba berargumen.
Harada semakin tidak suka karena Yuki membantah perintahnya. Selama ini, dia tidak pernah membelot, selalu menuruti perintahnya.
"Kalian berdua!" Tuan Harada menatap dua orang penjaga yang berdiri di samping pintu. Mereka selalu siap siaga di sekitar politisi senior ini. Terlebih saat lawatannya ke luar negeri seperti sekarang. "Seret wanita ini keluar!"
Kaori semakin ketakutan. Dia tidak tahu apa kesalahan yang sudah dia lakukan sampai membuat ayah mertuanya murka seperti ini. Hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya. Bagaimana bisa jadi seperti ini?
"Suamiku, jangan lakukan itu. Kita bicarakan baik-baik." Nyonya Suzuki memegangi lengan suaminya dengan kedua tangan, berharap kemurkaan pria ini teredam dan menarik kembali ucapannya.
Tapi, jauh panggang dari api. Keinginan Hayato Harada tidak bisa diganggu gugat. Dengan sifatnya dan otoriter, pria ini tidak mengizinkan siapapun menggugat perintahnya.
Grep
Dua orang berpakaian hitam berdiri di samping Kaori dan mencengkeram masing-masing lengan wanita itu dengan erat.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan istriku!!" Suara Yuki mulai meninggi, dia menarik Kaori menjauh dari dua orang itu dan pasang badan setelahnya.
Kaori bersembunyi di balik punggung Yuki. AirĀ mata mulai menganak sungai di pipinya. Perasaannya masih sensitif. Dia kehilangan bayinya, juga kemampuan untuk mengandung lagi. Pikirannya menyesali banyak hal, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
"Tuan, silakan menyingkir!" Seorang tukang pukul bersuara, menginginkan agar Yuki tidak menghalangi tugas mereka untuk mengamankan Kaori seperti perintah tuannya.
__ADS_1
"Berani menyentuh istriku? Akan aku patahkan tanganmu!" Yuki menatap dua orang di depannya dengan pandangan mematikan.
"Anakku," panggil Harada lantang membuat Yuki dan Kaori menolehkan wajah ke arah sumber suara. "Untuk apa mempertahankan wanita yang tidak bisa memberikanmu keturunan, huh?"
Deg!
Baik Yuki maupun Kaori terperanjat. Mereka akhirnya tahu duduk permasalahan yang sudah membuat seorang Hayato Harada murka. Dia marah setelah kehilangan calon cucunya.
"Apa maksudmu?" Kali ini nyonya Suzuki yang bersuara. Dia tidak tahu sama sekali apa yang suaminya katakan.
"Tanyakan sendiri pada menantu kesayanganmu itu!" sarkas pria yang kini duduk dengan angkuhnya.
Nyonya Suzuki semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Pertama, dia dan suaminya sedang berbincang tentang pertemuan bisnis yang barusaja pria ini lakukan. Tiba-tiba dia marah saat Yuki dan Kaori kembali. Dia bahkan mengusir menantunya, memintanya berpisah dengan Yuki. Dan sekarang, melarang Yuki mempertahankan istrinya. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?
Tubuh Kaori dan Yuki sama-sama menegang, terpaku di tempatnya berdiri. Mereka berdua sengaja menutupi fakta bahwa Kaori baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Yang nyonya Suzuki tahu, menantunya mengalami kecelakaan dan harus kehilangan calon buah hatinya. Itu saja.
"Yuki-kun, katakan pada ibu apa yang kalian bicarakan," pinta wanita yang kini mendekat ke arah anak dan menantunya. Dia ingin mendengar langsung dari putranya. Anak kesayangannya ini tidak mungkin berbohong padanya.
Hening.
Lengang.
Baik Yuki maupun Kaori tetap bungkam. Keduanya menutup mulut rapat-rapat, tidak ingin memberitahu fakta mengejutkan itu. Nyonya Suzuki memiliki riwayat penyakit jantung kronis. Jika dia mendengar kabar menyedihkan satu ini, bisa dipastikan dia akan kolaps. Dan itu berbahaya bagi keselamatan nyawanya.
Melihat Yuki enggan mengatakan apapun, Suzuki beralih pada menantunya.
"Kaa-chan, katakan pada ibu, ya?" Lengan yang tampak mulai keriput itu meraih lengan Kaori, memintanya berbicara.
Kaori menggeleng cepat. Dia beralih ke sisi lain tubuh Yuki untuk menyembunyikan diri. Hal itu membuat nyonya Suzuki heran. Rasa penasarannya semakin tinggi. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kenapa? Tidak berani mengatakannya?" sindir tuan Harada, mendapati pasangan muda mudi ini tetap bungkam meski beberapa menit telah berlalu.
"Kaa-chan? Yuki-kun?" Suara nyonya Suzuki semakin lirih. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan dadanya. Napasnya mulai terasa berat. Dia meraih tangan Yuki, menggenggamnya dengan erat.
"Maafkan kami, Bu." Hanya tiga kata itu yang terucap dari mulut Yuki. Dia tidak tega jika harus jujur tentang keadaan Kaori sekarang. Wanita itu tidak mungkin lagi mengandung darah dagingnya. Padahal ibunya yang paling menginginkan cucu dari menantu kesayangannya ini. Dia mengirimkan banyak tonik atau minuman kesehatan langsung dari Jepang, berharap menantu dan cucunya tetap sehat.
Dan kebetulan Hayato Harada ada acara kenegaraan, jadi Suzuki ikut menjenguk anak dan menantunya. Siapa sangka, Kaori justru mengalami kecelakaan saat itu juga.
"Istriku," panggil Hayato Harada pada wanitanya. "Menantu kesayanganmu itu tidak mungkin hamil lagi untuk selamanya. Rahimnya sudah diangkat!"
Deg!
Jantung nyonya Suzuki seolah berhenti berdetak satu waktu. Dadanya terasa sesak dan mulai kesulitan bernapas, Cengkeraman tangannya di lengan Yuki semakin erat.
"Apa maksudnya itu?" Nyonya Suzuki menatap Yuki dan Kaori bergantian. Wanita itu tidak percaya dengan apa yang suaminya ucapkan. Bagiamana mungkin hal itu bisa terjadi?
"Dia tidak menyayangi anaknya sendiri. Untuk apa mempertahankannya di sini? Jangankan anaknya, calon cucu kita, pada tubuhnya sendiri saja dia tega!" Suara Hayato Harada masih terdengar, mengatakan semua opininya yang terdengar menyakitkan di telinga Kaori.
"Apa itu benar?" Suzuki menatap Kaori dalam-dalam. "Kamu tidak akan bisa mengandung lagi?"
Mau tak mau, Kaori mengangguk. Dia tidak bisa menutupi fakta menyedihkan ini lagi. Ayah mertuanya sudah mengatakan semuanya dengan gamblang, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
"Ka-kamu?!"
Nyonya Suzuki memegangi dadanya. Dia merasakan detak organ vital satu ini semakin cepat. Napasnya berat, dengan kepala yang mulai berputar.
Brukk
Nyonya Suzuki kehilangan kesadarannya. Untung saja Yuki segera menangkap tubuh ibunya sebelum terjerembab ke lantai.
"Bu... Ibu!" panggil Yuki, mengamati wajah ibunya yang seketika terlihat pucat pasi. Keringat dingin segera membanjiri wajahnya, menandakan bahwa kinerja jantungnya tak lagi bekerja dengan baik.
Kaori terhenyak di tempatnya berdiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini.
Yuki segera membopong tubuh ibunya, siap membawanya ke rumah sakit. Wanita ini harus segera mendapatkan pertolongan pertama untuk menyelamatkan nyawanya. Dia bahkan lupa masih ada Kaori di belakang sana dengan ayah dan dua bodyguard menyeramkan itu.
"Kamu, menjauhlah dari putraku!" ucap pria yang kini berdiri satu meter dari Kaori.
Tuan Harada menunjuk dua pengawalnya untuk bergerak, menyingkirkan wanita ini dari kediaman putranya.
Kaori coba memberontak. Dia tidak ingin pergi meninggalkan Yuki. Dia baru saja kehilangan buah hatinya dan tidak ingin kehilangan orang yang paling dicintainya.
__ADS_1
Dua orang pria dengan tubuh tegap itu segera membawa Kaori keluar melewati pintu. Mereka menyeret tubuh ramping wanita ini ke dalam mobil dan membawanya menuju bandara. Dengan penuh perasaan tidak rela, Kaori diterbangkan ke Jepang dan tidak pernah diizinkan bertemu dengan Yuki maupun ibu mertuanya.
FLASHBACK END
Shun sampai di anak tangga teratas saat mendengar suara Kaori menjerit. Dengan napas tersengal, dia memaksakan diri untuk tetap berlari.
"Kaori-chan," panggil Shun begitu membuka pintu.
Kedua pasang bola mata Shun menangkap sosok Sang Istri yang saat ini berjongkok sambil menutup telinganya dengan tangan. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata yang terpejam, menunjukkan bahwa dia begitu ketakutan.
"Kaori-chan, daijoubu?"
Kaori tidak menjawab. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Shun di dekatnya. Bayang-bayang kejadian bertahun-tahun yang lalu membuat kewarasannya tersita. Lukanya kembali terkoyak setelah mengingat pengusiran saat itu, juga buah hatinya yang tidak bisa ia jaga.
Shun menyapu pandang ke sekitar dan menemukan buket bunga itu tergeletak tidak jauh dari istrinya. Firasatnya benar, tapi terlambat beberapa detik. Jika saja dia mencegat tukangĀ bunga itu, Kaori tidak akan ketakutan seperti sekarang.
Tanpa aba-aba, Shun mengangkat tubuh ramping Kaori kemudian membaringkannya di atas ranjang.
"Kaori-chan, tenanglah. Ada aku di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi." Shun ikut naik ke atas ranjang, mendekap tubuh Kaori untuk meredam ketakutan yang menyelimutinya.
Perlahan wanita 30 tahun ini membuka matanya. Dia segera memeluk Shun dan menyembunyikan wajah di dada bidang pria kesayangannya. Dia ingin melupakan peristiwa kelam itu dan tidak lagi memikirkannya.
Shun yang belum tahu apa yang terjadi dengan istrinya, tidak bisa melakukan apa-apa. Dia membelai punggung Kaori, berharap wanita ini segera tenang dan bisa menceritakan semua padanya.
Hening. Hanya deru halus pendingin udara di kejauhan yang terdengar.
Tubuh Kaori perlahan rileks, membuat Shun merasa tenang. Wanita ini tidak lagi ketakutan seperti sebelumnya.
"Kaori-chan," panggil Shun lembut.
Kaori mendengar panggilan itu, tapi tidak ingin menjawabnya. Aroma parfum yang Shun pakai membuatnya tenang. Terlebih lagi, kantuk yang datang menderanya membuat wanita ini ingin segera terlelap.
Tak mendapat jawaban, Shun mengalah. Tangannya mengelus punggung Kaori, membuat wanita ini semakin tenang dalam dekapannya.
"Tidurlah. Ada aku di sini."
Cup
Shun mendaratkan kecupan mesra di puncak kepala wanitanya.
Perlahan namun pasti, Kaori mulai masuk ke alam bawah sadarnya dan melupakan kesedihan yang sebelumnya menghantuinya. Dia mendapatkan kedamaian dalam dekapan Sang Suami.
Shun melonggarkan dekapannya, menilik wajah istrinya yang tampak damai. Wanita itu akhirnya tertidur setelah tiga puluh menit berada dalam rengkuhan kedua tangannya.
"Apa yang membuatmu sampai seperti ini, Sweety? Siapa yang sudah membuat masalah denganmu?" Shun mengelus pipi Kaori, memainkan jemarinya di sana.
Lengang. Kaori tidak menjawab ataupun merespon pertanyaan ini. Nyawanya tidak lagi berada di sini, tengah tersimpan di dalam genggaman Tuhan sampai ia bangun nanti.
Shun menarik diri setelah mengecup kening istrinya. Dia harus mencari tahu apa yang membuat Kaori ketakutan hebat seperti tadi.
Dengan langkah panjang, Shun keluar dari kamar. Netra elangnya yang tajam kembali menjelajah ruang tamu, mencari penyebab Kaori jadi aneh seperti tadi. Wanita itu biasanya selalu tenang, tidak panik menghadapi situasi apapun. Tapi tadi, dia terlihat begitu rapuh.
"Ini?" Shun memungut buket bunga yang ada di atas lantai dan mengamati susunannya. Tidak ada yang aneh sama sekali, hanya beberapa tangakai bunga mawar putih dan bunga lili dengan warna yang sama, dijadikan satu.
"Apa masudnya?" Kening Shun berkerut dalam. Dia tahu makna bunga putih ini. Selain ketulusan cinta, juga bisa melambangkan perasaan duka cita yang mendalam.
Shun membawa bunga itu keluar, membuangnya ke dalam tong sampah. Dia kembali masuk ke dalam rumah dan mendapati sesuatu yang ganjil. Secarik kertas kecil warna merah tergeletak di lantai. Tadi dia tidak melihatnya.
Tanpa keraguan sama sekali, Shun yakin kertas itulah yang sudah membuat Kaori ketakutan. Dia segera membaca tulisan yang ada di sana :Ā 'Semoga ibu selalu berbahagia. Dari kesayanganmu di surga.'
Seketika kedua netranya membola. Dia tahu siapa yang sudah membuat masalah dengannya. Tangannya meremas kertas itu, membuatnya tenggelam dalam telapak tangan yang menggenggam.
"Ingin bermain-main denganku, heh?" Manik matanya menggelap, menunjukkan puncak emosi yang tak bisa dia tahan lagi. "Aku akan membuatmu merasakan lebih baik mati daripada hidup seperti di neraka!"
* * *
Dududuuuhh, abang Shun marah sama siapa nih? Anna atau Yuki?
Yuk nantikan bab berikutnya. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian, dan tap tanda jempol di bawah yaa. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1