Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Sarapan Pagi


__ADS_3

"Bisakah kamu menghubungi tuan Kobayashi untukku? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Dan itu memerlukan bantuan dari ayahmu." Aira menatap pengasuh bayinya dengan pandangan penuh harap.


"Tentu saja, Nyonya," jawab Sakura. Ia segera mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menghubungi pria yang sangat ia hormati sepanjang hidupnya.


"Ada apa, Nak?" tanya suara di seberang saat panggilan telepon itu telah terhubung.


"Apa Ayah ada waktu?" tanya Sakura hati-hati. Ia tahu, sebagai kepala pelayan di kediaman keluarga Yamazaki, ayahnya menghabiskan waktunya untuk mengurus semua keperluan keluarga itu. Bahkan seringkali ia hanya memiliki waktu tiga atau empat jam yang benar-benar tenang. Sisanya, hampir dua puluh jam dalam sehari, ia dedikasikan hidupnya pada klan yakuza terbesar di Jepang ini.


"Apa ada masalah di kediaman Tuan Muda?" tanya pria itu khawatir. Dialah yang harus bertanggung jawab jika ada masalah dengan para pengawal ataupun asisten rumah tangga di sana, karena dialah yang memilih mereka semua. Mencari kandidat terbaik di antara semua calon yang ada, mencegah agar jangan sampai ada celah untuk siapapun mencelakai para pewaris keluarga Yamazaki ini.


"Tidak. Semuanya baik-baik saja. Tapi, ada sesuatu yang ingin Nyonya bicarakan dengan ayah."


"Nyonya? Maksudmu Nyony Muda? Istri Tuan Muda?" Tuan Kobayashi memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Ya," jawab Sakura singkat.


"Berikan ponselmu padanya," pinta pria itu pada anaknya.


Sakura memberikan ponselnya pada Aira yang kini duduk bersandar di kepala ranjang.


"Selamat pagi, Kobayashi-san," ucap Aira memulai percakapan.


"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"


Aira tersenyum mendengar nada bicara pria ini yang begitu sopan dan lembut. Pantas saja kakek begitu menyukainya, selain karena ia melakukan semua pekerjaan dengan sempurna, beliau juga bisa membuat orang tersanjung hanya dengan suara yang dimilikinya. Ya, suara yang renyah, ramah, tapi juga lembut. Belum lagi nada bicaranya yang menunjukkan rasa hormat yang luar biasa, membuat siapa saja justru semakin menghargainya.


"Apa kakek ada?"


"Tuan Besar ada di ruangan pribadinya. Beliau masih konsentrasi menyelesaikan kaligrafi seperti biasanya. Apa Anda ingin berbicara dengannya saat ini?"


"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu kakek. Maaf karena harus merepotkanmu lagi kali ini, Kobayashi-san," ucap Aira sedikit tidak enak hati.


"Tidak masalah, Nyonya. Saya ada di sini, siap mendengarkan permintaan Anda. Ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin tinggal di rumah kakek selama dua minggu ke depan. Apa itu mungkin? Tolong tanyakan pada kakek."


Tuan Kobayashi sedikit tertegun di tempatnya. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk sampai membuat Aira ingin tinggal di pegunungan.


"Akan saya sampaikan. Tapi, Nyonya, bolehkah saya bertanya?" tanya pria itu sopan.


"Ya?"


"Apa ada masalah dengan rumah itu? Apa para pekerja di sana tidak bekerja dengan baik? Atau Anda tidak nyaman tinggal di sana?"


Aira tersenyum kecut di tempat duduknya. Pria ini sangat jeli, dia pasti menangkap adanya ketidakberesan dari keinginan Aira.


"Tidak ada. Aku hanya ingin suasana yang lebih damai. Sebelum ibu kembali ke Indonesia, aku ingin menikmati waktu lebih banyak dengannya. Dan tinggal di pegunungan agaknya lebih menyenangkan daripada tertahan di sangkar emas ini," celoteh Aira berkelakar.


"Oh seperti itu. Baiklah, saya akan segera menyampaikannya pada Tuan Besar. Apa ada pesan dari Anda untuknya?"


Aira berpikir sejenak. "Tidak. Sepertinya tidak ada," jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Kapan saya harus menjemput Anda?" tanya pria itu setelah beberapa detik berlalu dalam diam.


"Siang ini. Boleh kah?"


"Baiklah. Izinkan saya mengakhiri percakapan ini. Masih ada banyak hal yang harus saya urus."


"Ah, iya. Maaf."


"Selamat pagi, Nyonya." Tuan Kobayashi mengucapkan salam sebelum mengakhiri panggilannya.


"Pagi. Terima kasih banyak, Kobayashi-san." Aira tampak lega sekarang. Ia bisa menghindari Ken sementara waktu sampai masa nifasnya berakhir.


"Sama-sama, Nyonya."


Aira mengembalikan benda pipih nan tipis itu pada pemiliknya. "Terima kasih, Sakura-chan. Bisakah kamu mengemasi barang anak-anak?"


"Akan saya laksanakan."


"Baiklah. Aku percayakan padamu."


Sakura segera keluar dari ruangan pribadi Aira dan bersiap melaksanakan perintah puannya. Ia mengajak Mao, rekannya, untuk bersiap.


Aira memutuskan untuk mandi. Ia merasa tubuhnya lelah dan tidak nyaman. Mandi air hangat sepertinya akan membuat tubuhnya lebih relaks. Ia memutuskan untuk berendam beberapa menit sebelum membilas tubuhnya dengan air yang terpancar dari shower.


Sementara itu, Ken tampak berlari menaiki tangga dengan tergesa. Ia ingin segera meminta maaf pada istrinya karena sempat membuatnya ketakutan sebelumnya. Setelah penjelasan ibu tadi, ia bisa lebih bersabar lagi. Pada periode ini, organ reproduksi yang berubah selama kehamilan, misalnya rahim, perlahan-lahan akan kembali ke ukuran semula sebelum kehamilan. Inilah momen penting bagi Aira untuk memulihkan diri, jadi dia tidak akan memaksakan diri selama masih bisa memeluk dan mencium istrinya.


Krekk


"Ai-chan," panggil Ken saat membuka pintu, tapi tak mendapati istrinya di sana. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Aira tengah membersihkan diri di sana.


Jemari Ken asik bergulir atas bawah di atas ponsel layar sentuh miliknya. Ia menganggukkan kepalanya sesekali. Netranya terfokus pada artikel yang membahas adanya beberapa gangguan kesehatan yang terjadi jika suami istri berhubungan saat nifas belum berakhir. Potensi terjadinya gangguan kesehatan semakin besar bila sang Istri tidak menjaga kebersihan daerah kewanitaannya dengan baik.


Salah satu gangguan yang paling mungkin terjadi pada wanita adalah adanya infeksi. Perdarahan yang terjadi pada wanita nifas adalah sebagi bentuk luruhnya sisa-sisa jaringan yang terjadi saat kehamilan. Keluarnya darah dan gumpalan jaringan ini terjadi pada semua wanita setelah melahirkan, baik itu dengan proses normal maupun melalui operasi caesar.


Namun, hal ini bisa menjadi pemicu terjadinya infeksi di organ intim wanita karena kuman berkembang dengan cepat di sana. Terlebih lagi jika wanita jarang mengganti pembalut yang dipakainya.


Gerakan jari Ken terhenti. Ia mengamati tulisan di depannya dan membacanya lagi. Ia tidak tahu betapa rumitnya menjadi seorang wanita. Setelah proses kehamikan yang panjang selama sembilan bulan, nyatanya ada begitu banyak hal yang terjadi selanjutnya, termasuk masa nifas ini. Ken baru menyadari betapa ia sudah menyusahkan wanita kesayangannya.


Ken merasa begitu bodoh. Ia bahkan hampir saja memaksakan kehendaknya pada Aira. Padahal wanitanya itu menanggung begitu banyak beban. Selain harus mengurus ketiga putra putrinya, nyatanya ia masih harus menjaga kebersihan dirinya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.


Selain perdarahan, hubungan intim yang dilakukan pada masa nifas juga berpotensi menyebabkan robekan jahitan, terutama jahitan pada persalinan normal. Karena luka belum pulih sempurna, gesekan ringan saja berpotensi menyebabkan gangguan penyembuhan hingga robekan.


Napas Ken kembali tercekat. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sewaktu dokter Tsukushi menjahit organ reproduksi istrinya. Meski saat itu Aira tengah pingsan, nyatanya dia pasti merasakan sakit setelahnya. Pantas saja dia tidak diizinkan untuk bangun dari tempat tidurnya selama seminggu penuh. Selain karena luka jahitan itu, luka bekas operasi caesar di perutnya juga harus dijaga dengan baik. Jika tidak, maka akan terjadi perdarahan seperti yang terjadi hari itu, saat Aira memaksa berjalan untuk melindungi Mone dari kemarahan kakek.


"Maaf, Sayang," lirih Ken. Kesibukan Aira mengurus bayi, rasa lelah dan kekurangan istirahat membuat istrinya demam beberapa hari yang lalu. Ken jadi merasa bersalah pada wanita kesayangannya ini. Ia bertekad akan menunggu sampai rahim dan jahitan persalinan pulih sempurna. Ken akan memastikan Aira dalam kondisi optimal sebelum menuntut haknya.


Sekarang ia memahami betul pentingnya menunda hubungan pada masa nifas. Seperti yang ibu katakan, itu semua demi kebaikan Aira.


"Ken?" panggil Aira saat keluar dari kamar mandi. Sebuah dress panjang sampai mata kaki melekat di tubuhnya. Ia terdiam di ambang pintu, ragu untuk mendekat ke arah suaminya, takut Ken marah padanya.


"Sayang, maafkan aku." Ken bergerak cepat memeluk istrinya. Ia merasa bersalah pada wanita kesayangannya ini. "Hontou ni gomenasai."

__ADS_1


(Aku sungguh-sungguh minta maaf)


"Ada apa?" tanya Aira setelah mengurai pelukan suaminya.


"Maaf karena membuatmu ketakutan sebelumnya. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji," ucap Ken sungguh-sungguh sambil menempelkan keningnya, menatap manik mata coklat di depannya dalam-dalam.


Aira terharu. Hatinya menghangat mendengar permintaan maaf yang diucapkan oleh suaminya. Ia tahu, sulit bagi seorang pria untuk mengucapkan kata-kata itu. Ego mereka cukup tinggi, enggan merendahkan diri dan mengakui kesalahannya. Tapi Ken berbeda, ia adalah pria yang bertanggung jawab. Ia akan meminta maaf jika memang ia yang bersalah. Tapi di sisi lain, ia juga tak akan segan menghukum seseorang jika orang lain yang bersalah padanya.


"Aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi. Sampai lukamu sembuh, aku tidak akan memintanya lagi. Tapi tolong izinkan aku untuk mencium dan memelukmu. Hanya itu saja, tidak lebih," ucapnya penuh harap.


Aira tersenyum mendengar permintaan suaminya. Ia sadar betapa lembutnya suaminya ini. Tidak layak baginya untuk menolak permintaan remeh yang dimintanya.


Cup


"You can do it." Aira mengecup bibir suaminya sekilas. Ia bahkan mengalungkan tangannya di leher Ken yang sedikit menunduk.


(Kamu bisa melakukannya)


Mata Ken membola. Ia tidak menyangka Aira akan bergerak lebih dulu. Pipinya merona mendapat serangan kilat dari istrinya.


"Hanya peluk dan cium 'kan?" tanya Aira memastikan.


"Umm," jawab Ken singkat sambil menganggukkan kepalanya.


"Biarkan aku yang melakukannya," bisik Aira di telinga Ken. Ia mendorong Ken untuk duduk di tepi ranjang.


Blush


Wajah putih Ken merona, jantungnya berpacu dengan cepat sekarang. Ia lagi-lagi terkejut dengan sikap Aira yang cukup agresif kali ini.


"Kamu bisa melakukan apapun pada tubuhku, kecuali pusar hingga lutut," bisik Aira lagi dengan nada yang lebih lirih namun terkesan menggoda. Ya, tentu saja ia boleh menggoda suaminya. Itu bahkan disarankan untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan mereka berdua.


Glek


Ken menelan salivanya dengan paksa. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya saat tiba-tiba Aira duduk di pangkuannya. Wanita ini bergerak lebih dulu, tidak seperti biasanya.


"Jangan salahkan aku jika kamu harus mandi lagi dan terlambat pergi ke kantor." Aira tersenyum penuh arti pada suaminya, membuat geleyar aneh segera menyergap pria 28 tahun itu.


"Ai-chan," ucap Ken dengan suara serak, menahan gejolak di dalam dadanya.


"Nikmati sarapanmu, Sayang." Aira mulai menciumi wajah suaminya, berawal dari sudut bibir, pipi, mata, alis, naik hingga ke keningnya dan mulai turun ke hidung dan berakhir di bibir tipisnya. Aira mengecup semua bagian wajah suaminya, tak terlewat satu inchi pun.


Hal itu berhasil membuat napas Ken tertahan. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Aira, tak bisa menahan lonjakan libido yang naik seketika. Sepertinya ia akan benar-benar terlambat datang ke kantor hari ini.


...****************...


Hwaaaaa.... Pikiran author travelling kemana-mana 😂😂😂😂 Ada yang sama? 😅


Suami mana suami? Duuuhhhh 😥


Jangan lupa like, komen n vote yaa 😄😉

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawa Easzy 🤗


__ADS_2