
Personal Assistant adalah mereka yang dipercaya oleh direktur atau atasan untuk mengurus pekerjaan maupun urusan pribadi mereka, baik untuk urusan administrasi, mengatur jadwal, menyiapkan segala kebutuhan pekerjaan, bahkan sampai urusan pribadinya sekalipun.
Dan itulah tanggung jawab yang kini ada di pundak Kosuke Murasawa dan istrinya, Minami. Mereka mengabdikan seluruh waktunya untuk tuan mereka, Yamazaki Kenzo.
"Kemana lagi setelah ini?" tanya Minami sembari melihat daftar tempat yang harus mereka kunjungi. Masih ada tiga klinik kecantikan yang belum mereka datangi.
"Kita akan mengambil hasil uji laboratorium produk-produk yang dipakai oleh nyonya Suzuki." Kosuke membawa mobil hitam itu melaju dengan cepat, menuju lab khusus milik Miracle Cosmetics.
"Bagaimana dengan tiga tempat ini? Kita belum memeriksa apakah dokter itu pernah datang ke sana atau tidak." Minami menunjukkan kertas di tangannya.
"Tuan mengatakan untuk menghentikannya. Dia meminta kita berkumpul di rumahnya petang ini juga. Tidak ada waktu lagi. Kita harus kembali secepatnya," terang Kosuke sembari menatap arloji di pergelangan tangannya. Hanya tersisa dua jam sebelum matahari tenggelam, itu artinya mereka harus bergerak cepat.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kosuke saat kendaaraan mereka terpaksa terhenti oleh lampu lalu lintas yang menyala merah.
"Ya," jawab wanita itu singkat.
"Masih mual?" tanya Kosuke khawatir. Ia melirik perut istrinya yang masih rata, belum ada tanda-tanda membuncit karena masih trimester pertama.
"Tidak sama sekali. Aku baik-baik saja," Minami mengusap wajah suaminya yang terlihat lelah.
Cup
"Aku akan mengantarmu pulang setelah ini." Kosuke menangkap jemari istrinya dan menciumnya sekilas, sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Pulang? Kenapa aku harus pulang?" Minami tampak tidak setuju dengan pendapat suaminya.
"Nyonya Aira memintamu untuk libur, seharusnya kamu tidak datang sama sekali. Bagaimanapun juga, kamu harus banyak istirahat," ucap Kosuke.
"Hey, aku tidak selemah itu!" kesal Minami.
"Sayang, tolong dengarkan aku. Menurutlah sampai kondisi kesehatanmu benar-benar baik."
"Aku bosan di rumah. Lebih menyenangkan bisa kesana kemari seperti sekarang. Lagipula, ada begitu banyak hal yang harus kamu lakukan, kamu yakin bisa sendiri?"
Kosuke terdiam. Apa yang dikatakan oleh Minami benar adanya. Dia tidak akan bisa mendapatkan data-data yang Ken minta jika ia melakukannya seorang diri.
"Jadi, biarkan aku membantumu. Nyonya tidak akan menyalahkanmu. Percayalah." Minami menepuk puncak lengan suaminya, berharap kekhawatiran calon ayah dari anak-anaknya ini segera musnah.
__ADS_1
CIITT
Kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah gedung lima lantai berwarna putih. Miracle Laboratory.
"Kita sampai. Ayo masuk," ajak Kosuke yang dijawab anggukan oleh istrinya. Sepasang suami istri itu segera masuk dan menuju salah satu ruangan dimana Yoshiro dan Shun berada.
"Kalian datang lebih cepat," ucap Yoshiro saat mendapati dua orang tamunya masuk ke ruangan khusus penelitian ini. Ia masih sibuk menggoyang-goyangkan tabung reaksi di tangannya dan kembali fokus pada mikroskop di depannya, mengamati reaksi kimia untuk menguji kandungan kosmetik seperti yang Ken minta.
"Bagaimana hasilnya, Ebisawa-san?" tanya Kosuke, mengambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Tunggu sebentar. Ada hal-hal yang harus aku pastikan lagi." Yoshiro kembali menempelkan matanya, mendekat ke arah lensa okuler yang ada di bagian atas mikroskop.
*Lensa okuler adalah bagian atas mikroskop yang berguna sebagai lensa awal untuk melihat objek. Selain itu, bagian ini juga untuk memperbesar bayangan dari lensa objektif di bawahnya.
"Kalian bisa menemui Shun di ruangan sebelah. Aku akan kesana segera." Yoshiro mengatakannya tanpa menatap mereka, masih sibuk dengan urusannya sendiri.
"Baiklah." Kosuke dan Minami menurut, keluar dari ruangan itu dan mencari ruangan dimana Shun berada.
Tok tok tok
Kosuke mengetuk pintu di depannya, ia bisa melihat Shun dan beberapa staf lain di dalam sana dari bagian tengah pintu yang transparan. Mereka tampak sibuk di posisinya masing-masing.
Kosuke dan Minami masuk ke ruangan berwarna putih itu. Keduanya duduk di kursi yang memang disediakan untuk tamu.
"Semua produk itu palsu." Shun menyerahkan satu bendel kertas berisi laporan pengujian yang ia dan Yoshiro lakukan sejak siang ini. Disana tertera berbagai istilah yang membuat Kosuke mengerutkan keningnya.
"Secara umum, ada banyak komponen uji yang dilakukan untuk mengecek kosmetik dan obat-obatan itu berbahaya atau tidak, antara lain : Color (Rhodamine B & Metanil yellow), Hydroquinone, Corticosteroids (Hydrocortisone-acetic, Dexamethasone, Betamethasone), Preservatives (1.2-Phenoxyethanol, Methyl – Ethyl – Propyl – butyl Paraben), Antalgine/Methampyron, Acetosal (Aspirin), Dextromethorphan HBr, Papaverine HCl, Phenylpropanolamine HCl, sildenafil citrate, Opium, Morphine, dan masih banyak lagi yang lainnya." Shun ikut duduk di sana, berseberangan dengan kedua tamunya, terhalang meja rendah berwarna putih.
"Saya tidak mengerti istilah itu sama sekali. Bisakah Anda jelaskan dengan bahasa lain?" tanya Kosuke yang mulai merasa pusing dengan istilah-istilah asing yang baru saja didengarnya. Ada begitu banyak hal yang harus ia lakukan hari ini dan itu sudah cukup membuat perhatiannya terpecah.
Shun tersenyum mendengar penuturan tangan kanan Ken ini. Ia menatap Minami yang duduk di samping Kosuke. Sepertinya ia harus membuat sedikit hiburan untuk tamunya ini.
"Minami-chan, tubuhmu terlihat semakin berisi dengan wajah yang semakin memesona. Kamu bertambah cantik, sepertinya bayimu perempuan. Berapa usia kandunganmu sekarang?" Shun berucap sembari menatap perut Minami yang tertutup kemeja putih di balik blazer hijau lumutnya.
"Eh? Ah, enam belas minggu," jawab Minami sedikit tergagap. Ia tidak menyangka Shun akan menanyakan hal yang cukup pribadi ini. Tatapannya yang tajam namun menggoda membuat Minami salah tingkah. Belum lagi kata-kata pujian yang ia sampaikan, membuat wajah Minami sedikit merona. Ia wanita normal yang akan merasa sedikit tersanjung saat ada yang memujinya.
"Apa maksud Anda?" Kosuke tersulut emosi, ia menarik tangan istrinya dengan cepat, memaksanya berdiri dan menutupinya dari pandangan Shun. Hal yang sama seperti yang pernah Ken lakukan dulu, menyembunyikan istrinya dari tatapan Shun yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
Shun terkekeh. "Kalian sama saja. Budak cinta wanita," cibirnya sembari berdiri, menjauh dari pasutri itu.
"Ap... apa yang Anda bicarakan?" Kosuke semakin tidak mengerti dengan tingkah pria di depannya ini.
"Minami-chan, bawa suamimu kembali. Aku dan Yoshiro akan menjelaskannya sendiri pada Ken nanti," usir Shun dengan halus. Ia melepas jas putih yang sedari tadi melekat di tubuhnya.
"Baik. Kami permisi," pamit Minami sambil menundukkan sedikit kepalanya. Ia harus segera membawa suaminya pergi dari sini. Dengan tabiat Shun yang suka menggoda wanita, ia mungkin akan menggodanya lagi. Dan hal itu pasti akan membuat Kosuke semakin geram.
Shun tersenyum, geli dengan pemikirannya sendiri yang berusaha menggoda Minami beberapa detik yang lalu. Masih teringat jelas dalam memorinya, bagaimana ia menggoda Aira dan membuat Ken naik pitam. Juniornya itu bahkan hampir membunuhnya setelah ia nekat melakukan serangan tak terduga pada wanita berjilbab itu.
"Dimana mereka?" tanya Yoshiro saat tidak mendapati Kosuke maupun Minami di manapun. Ia menghampiri Shun di ruang istirahat.
"Pria yang jatuh cinta itu menjijikkan ya," sarkas Shun, mengabaikan pertanyaan sahabatnya. Ia melepas kemejanya dan segera menggantinya dengan pakaian kasual, sebuah kaus hitam lengan pendek yang menonjolkan lekukan otot di tubuhnya.
Yoshiro mengerutkan keningnya, mencoba menerka apa yang terjadi sebelumnya.
"Kamu menggoda Minami?" tebak Yoshiro.
...****************...
Matahari tenggelam sempurna saat sebuah mobil sampai di depan kediaman Ken. Dua orang turun dari kendaraan berwarna hitam itu dan masuk ke dalam rumah mewah ini dengan langkah cepat. Mereka tidak peduli pada pandangan dua orang asisten rumah tangga yang sedang sibuk di dapur.
"Dimana Ken?" tanya seorang pria dengan kacamata bulat yang bertengger di atas hidungnya.
"Tuan ada di ruang kerjanya. Di sebelah sana," tunjuk salah satu dari mereka, merujuk pada pintu hitam yang ada di belakang tangga.
Dua orang pria itu segera menuju ke arah yang ditunjuk dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Disana ada Ken, Aira, Minami, dan Kosuke. Mereka berempat duduk saling berhadapan di sekeliling meja bulat yang ada di tengah ruangan ini.
"Senior, akhirnya kalian datang," ucap Aira menatap kedua tamunya, Yoshiro dan Shun.
Kosuke segera mengalihkan pandangannya, enggan bersitatap dengan pria yang sudah menggoda istrinya. Shun tersenyum geli melihat gelagat yang ditunjukkan oleh tangan kanan Ken ini. Ia berhasil merusak mood baik pria itu dan menimbulkan kecemburuan di dalam hatinya.
"Maaf, ada sedikit kendala di jalan." Yoshiro segera mengambil posisi di sebelah Ken. Sedangkan Shun dengan santai duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, persis di sebelah Kosuke.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ken to the point.
...****************...
__ADS_1
See you next episode,
Hanazawa Easzy