
Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi saat Aira keluar dari kamar mandi. Ia mendekat ke arah suaminya dan memercikkan beberapa tetes air ke wajahnya. Ken mengerjapkan matanya saat dirasa ada percikan air yang menerpanya. Ia membuka matanya sekilas dan mendapati Aira yang sedang berdiri di samping ranjang tempat tidur mereka.
"Daddy ... " panggil Aira pada Ken. Ia sengaja memanggil dengan sebutan itu, mewakili panggilan anak-anak mereka.
*Daddy : ayah
"Hmm," gumam Ken.
"Tidur nyenyak, Sayang?" tanya Aira sambil mencium pipi Ken, "Ayo bangun," ajak wanita hamil itu pada pria pemilik hatinya.
"Sebentar lagi," Ken berucap sambil memejamkan matanya lagi. Ia enggan untuk bangun. Tubuhnya masih ingin berdiam di atas tempat tidur empuk itu.
"Hey ... Hey ...," Aira menusuk-nusuk pipi putih Ken dengan jarinya, namun tak ada respon. Aira menghembuskan napas pasrah. Ia berjalan menjauhi Ken menuju kursi kotak yang tersimpan di bawah meja riasnya.
Di sana tampak beberapa produk perawatan wajah seperti susu pembersih dan pelembab wajah. Aira memang bukan pesolek yang gemar bermain make up, jadi tidak banyak kosmetik yang ada di sana. Terlebih lagi, ia dalam kondisi mengandung saat ini. Dia tidak boleh sembarangan memakai kosmetik, takut mengganggu perkembangan janin di dalam perutnya.
"Engghh," Ken merentangkan tangannya ke atas guna meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah tertidur beberapa jam.
"Jam berapa sekarang?" Ken melirik benda bulat yang menempel di dinding. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang dan menatap punggung istrinya.
Aira duduk menghadap cermin dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Ia tersenyum pada pantulan wajah Ken yang tertangkap matanya.
"Siapa yang kelelahan sekarang?" sindir Aira. Kemarin Ken menolaknya karena takut istrinya itu akan kelelahan, nyatanya Aira bangun lebih dulu dengan tubuh yang segar. Sedangkan Ken? Pria itu tampak kacau dengan wajah pucat.
"Aku tidak makan semalam." Ucap Ken sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Aira menatap punggung suaminya sampai menghilang dibalik pintu. Ia merasa bersalah karena tidak menawari Ken makan semalam. Ia tertidur sebelum Ken pulang, dan setelah bangun, mereka terlalu fokus membahas lingkaran masalah yang berkaitan dengan Yu dan Ji Yong.
Wanita hamil itu mengikat rambutnya yang masih agak basah dan segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan. Ia akan membuatkan tamagoyaki (telur gulung) kesukaan suaminya dan beberapa makanan cepat saji yang bisa mengenyangkan perut.
Empat puluh menit berlalu. Aira masih berkutat di dapur saat tiba-tiba sebuah tangan melingkari dadanya.
"Ohayou," ucap Ken sembari meletakkan dagu di atas bahu istrinya.
*Ohayou : selamat pagi
"Ohayou," balas Aira. Tangannya dengan sigap memindahkan potongan tamagoyaki ke atas piring saji, "Ayo makan."
"Morning Kiss," pinta Ken pada Aira. Ia memeluk istrinya semakin erat menandakan bahwa ia tidak akan melepaskan diri jika permintaannya belum dipenuhi.
*morning kiss : ciuman selamat pagi
"Mesum!" Aira menoel hidung suaminya dengan jari telunjuk sambil tersenyum.
"Aku hanya berlaku mesum pada istriku. Lagipula, kamu juga menyukainya kan?" Ken menyodorkan pipinya untuk Aira cium.
"Baiklah," Aira hanya bisa mengalah pada suaminya sebelum pria itu mengeluarkan tanduknya atau mungkin meminta hal lain yang lebih aneh lagi.
Cup
Kecupan Aira mendarat tepat di bibir Ken yang tiba-tiba menolehkan wajahnya.
"Kamu?!" mata Aira membulat seketika. Suaminya itu selalu berhasil membuatnya terkejut.
"Terima kasih untuk kecupannya," ucap Ken dengan senyum tertahan. Ia melepaskan dekapannya dan beranjak pergi untuk menyembunyikan raut wajahnya yang kesenangan karena berhasil mengerjai istrinya.
__ADS_1
Ken mengambil nampan berisi dua mangkuk nasi putih dan sepiring tumis daging asap asam manis buatan Aira. Makanan itu masih mengepulkan asap, menandakan baru saja dimasak beberapa menit sebelumnya. Di belakangnya, Aira mengikuti sambil membawa sepiring makanan olahan telur yang sekarang juga menjadi makanan kesukaannya.
Keduanya makan bersama dalam diam. Sesekali Ken menyuapi Aira dan sebaliknya. Mereka menikmati makan pagi ini dengan hati senang.
...****************...
Matahari naik sepenggalah saat Ken dan Aira keluar dari dalam apartemen. Mereka menaiki lift menuju lantai paling bawah dimana Kosuke sudah menunggu mereka.
Ting
Lift terbuka otomatis menampilkan Ken yang menggandeng lengan istrinya.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa Kosuke setelah sampai di depan kedua atasannya.
"Hmm," gumam Ken tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sibuk memperhatikan layar sentuh di tangannya.
Mobil putih itu melaju meninggalkan salah satu gedung pencakar langit yang ada di Tokyo. Mereka bergerak ke selatan, mengantarkan Aira ke pusat yoga untuk ibu hamil.
Drrtt drrtt
Ponsel Kosuke yang ada di atas dashboard mobil bergetar, menandakan ada telepon yang masuk.
Klik
Seketika sambungan ponsel itu terhubung pada earpiece yang menempel di telinga Kosuke.
"Baik. Amankan semuanya yang tersisa," ucap Kosuke berbicara dengan seseorang yang menghubunginya, "Kami masih dalam perjalanan."
Kosuke menghembuskan nafas berat setelah mengakhiri panggilan dua arah itu.
"Ada apa?" tanya Ken datar.
"Ada masalah apa?" tanya Aira ingin tahu.
Hening
Baik Ken maupun Kosuke tidak langsung menjawab. Ken memang tidak mengizinkan Aira tahu masalah ini, atau wanita itu pasti akan ikut bertindak.
"Ken?" Aira menantikan jawaban dari suaminya.
"Bukan apa-apa," jawab Ken sembari mengelus puncak kepala Aira yang duduk di sampingnya.
"Minami? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Aira pada asisten pribadinya yang duduk di sebelah Kosuke yang sedang mengemudi.
"Maafkan saya, Nona." Minami menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak bisa menjawab pertanyaan puannya. Tapi ia juga tidak boleh melanggar perintah Ken.
"Baiklah. Hentikan mobilnya!" ucap Aira ketus.
"Eh?" Kosuke dan Minami saling pandang, menunggu perintah Ken yang masih diam.
"Kosuke, hentikan mobilnya sekarang!" perintah Aira lagi.
"Tuan?"
Kosuke bimbang, meminta keputusan tuan mudanya. Ia tidak mungkin menuruti perintah Aira. Kemungkinan wanita hamil itu marah dan akan turun begitu saja jika mobil ini ia hentikan.
__ADS_1
"Berhenti di depan." Ucap Ken.
"Tapi, Tuan ... "
"Lakukan saja."
Ciitt
Mobil keluaran Honda itu benar-benar berhenti di tepi jalan.
Bugh
Aira memukul lengan Ken, "Menyebalkan!!"
Ken diam saja mendapat pukulan dari istrinya. Itu tidak akan membuatnya terluka. Lagipula mungkin lebih baik jika Aira tidak ikut campur dalam masalah ini.
BAAMM
Aira membanting pintu mobil dengan keras dan kini berjalan menuju halte. Ia duduk sambil memegangi perutnya yang semakin besar. Minami segera turun dan stand by di sampingnya.
"Maaf, Tuan. Mungkin nona bisa memecahkan masalah ini. Dia pernah mempelajarinya di akademi," usul Kosuke pada tuannya.
Ken terdiam cukup lama sambil memandang Aira yang tengah mengelus perutnya. Sesekali ia menyeka wajahnya dengan tisu. Bulir keringat mulai membasahi pelipisnya. Udara mulai menghangat membuat tubuhnya semakin berkeringat. Terlebih lagi, ada tiga nyawa lain dalam perutnya yang membuat tubuhnya bekerja lebih keras.
Ken keluar dan menemui istrinya yang masih berdiam di tempatnya duduk. Ia bersimpuh di depan Aira dan memberikan sebotol minuman dingin untuk istrinya.
"Gomen ne," ucap Ken tulus.
(Maaf)
"Pergilah. Aku tidak ingin mengganggumu lagi," ucap Aira.
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya takut kamu akan lupa waktu jika ikut campur masalah perusahaan. Ini sedikit rumit." Ken berucap sembari menggenggam jemari istrinya.
Aira terpaksa menarik bibirnya, pura-pura baik-baik saja. Padahal dalam hati ia kecewa dan marah karena Ken tidak jujur padanya.
"Pergilah," pinta Aira, kini dengan suara yang lebih bersahabat.
"Seseorang menyerang sistem keamanan Miracle," ungkap Ken pada akhirnya.
"Sejak kapan?" tanya Aira khawatir.
"Semalam. Itu sebabnya aku pulang larut."
"Biarkan aku mencobanya," pinta Aira.
Ken sudah menduganya. Ia hanya bisa mengangguk menyetujui usulan istrinya.
"Bagaimana dengan kelas yoga-nya?" tanya Ken.
"Itu gampang. Ayo, jariku tidak sabar ingin menari di atas keyboard." Ucap Aira antusias.
Ken tersenyum melihat perubahan emosi istrinya yang begitu cepat. Kemarahannya seketika hilang dan kini berganti semangat begitu jiwa hackers menguasai.
...****************...
__ADS_1
See you next part,
Hanazawa Easzy ❤