Gangster Boy

Gangster Boy
Diam-Diam Menghanyutkan


__ADS_3

Ken menangkap pria yang menculik Aira dari hotel tempo hari. Ia berniat membunuhnya namun tiba-tiba Yoshiro mengacaukan rencananya. Aira datang.


Sekarang keduanya duduk di sebuah bangku panjang di luar bangunan tua itu. Aira membersihkan darah yang mengering di sudut bibir suaminya akibat pukulan Yamaken 2 jam yang lalu. Tak lupa ia juga mengoleskan obat anti memar di wajah lebam suaminya.


Ken menatap wajah istrinya yang berjarak kurang dari 30 cm itu dengan penuh rasa bersalah. Betapa ia sangat ingin merengkuhnya dalam pelukan. Meminta maaf atas perbuatan mengerikan yang ia lakukan sebelumnya. Dia sangat marah dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Tapi, lidahnya terlalu kelu hanya untuk mengucapkan kata maaf.


"Boku wa ikanai..." ucap Aira sambil memasukkan kembali obat-obatan yang ia pakai ke dalam kotak P3K


(Aku tidak akan pergi)


Ken terbelalak menatap istrinya.


"Dengan satu syarat..." ucap wanita berjilbab coklat itu dengan suara tertahan. Ia sedang menahan gemuruh di hatinya. Sebenarnya ia ingin berteriak memaki laki-laki di sampingnya ini dengan berbagai sumpah serapah dalam kepalanya mengingat berbagai luka yang ia alami selama bersama Ken. Tapi itu hanya akan membuang tenaganya, tidak akan ada gunanya. Semua sudah berlalu.


Nafas Ken tercekat. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia waspadai. Istrinya bukan gadis biasa, ia lebih pintar mengendalikan keadaan. Pembawaannya yang pendiam justru membuat Ken semakin tak mengerti jalan pikiran wanitanya itu. Ya, diam-diam menghanyutkan.


Aira menatap manik mata coklat suaminya tanpa berkedip, sebuah senyuman terukir di bibir mungilnya membuat Ken terpaksa menelan ludahnya. Jemari mungilnya menangkup pipi kiri Ken dan mengelus rahang kokoh itu dengan lembut seolah tak ingin kehilangan. Aira pasti punya pemikiran yang akan mengubah pendirian Ken. Pasti.


Satu


Dua


Tiga


"Bawa aku ke duniamu." ucapnya tegas. Senyuman yang ia tunjukkan 3 detik yang lalu sirna berganti dengan tatapan tajam yang bisa membunuh Ken saat itu juga.


Glek


Ken menelan ludahnya lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya sejak mereka berdiam disana. Detik berikutnya Ken berdiri menjauh dari duduknya, menyisakan sebelah tangan Aira yang hanya memegang udara.


Ken tidak mengerti permintaan istrinya itu. Dunianya? Dunia gelap yang tidak akan bisa dimasuki oleh sembarang orang, dan sekali berada di sana akan sulit untuk melepaskan diri. Bahkan Ken kabur ke Indonesia setahun yang lalu, menghindari Kakek yang semakin menekannya untuk menguasai dunia yakuza yang selama ini menopang perekonomian keluarganya. Perusahaan Miracle hanyalah tameng yang Tsuguri (ayah Ken) berikan agar Ken tetap aman di Indonesia.


"Apa kamu bodoh?" wajahnya memerah menahan marah. Urat lehernya menegang dengan tangan terkepal di samping badan.


"Hmm?" Aira menarik tangannya ke dalam jaket dan tersenyum lebar. Lebih lepas dari sebelumnya. Sebuah senyum kemenangan. Ya, dia berhasil membuat pilihan yang sulit untuk Ken. Melepaskan atau membawanya ke dunia yakuza?

__ADS_1


Aira berdiri dan menyerahkan kunci mobil Yoshiro yang sejak tadi ia simpan di sakunya. Saat di perjalanan tadi, Aira minta Yoshiro memberikan kunci mobilnya setelah mereka sampai. Meskipun tidak tahu apa rencana gadis 153 cm itu, Yoshiro tetap memberikannya. Ia justru merasa tertantang, apa yang akan terjadi dengan Ken.


Ken masih mematung tak ingin menerima pemberian Aira, ia tidak bisa membaca arah langkah istrinya. Benar-benar misterius.


"Hanya ada waktu 5 hari sebelum aku kembali ke Indonesia. Ayo bersenang-senang sebelum kita berpisah." ajak Aira menarik tangan Ken menuju mobil Yoshiro yang terparkir tak jauh dari mereka. Ia tahu Ken tidak akan menyetujui syarat yang ia berikan.


Baru beberapa langkah berjalan, Ken menahan genggaman Aira, "Tunggu.." ucapnya membuat Aira berbalik. Detik itu juga Ken menarik Aira dalam pelukannya. Keduanya diam tak bersuara. Mereka tenggelam dengan pemikirannya masing-masing. Ken yang ingin mempertahankan Aira di sisinya tanpa harus menyetujui syarat yang membahayakan nyawanya, dan Aira yang bertahan menguatkan dirinya untuk tak menangis. Dia hanya ingin kehidupannya baik-baik saja di masa depan. Ia tidak ingin anak-anaknya mengalami bahaya karena terlahir dari keluarga dengan lingkaran hitam yang menyeramkan.


Sejujurnya ia juga tidak ingin pernikahannya yang baru beberapa bulan ini kandas begitu saja, tapi janji masa depan untuk anak-anaknya kelak membuatnya harus berani mengambil keputusan. Dia telah melalui banyak hal untuk bersama dengan Ken, entah berapa banyak luka yang akan menghadang mereka kedepannya. Dan satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpinya adalah berpisah dengan Ken sebelum ia hamil.


IA TIDAK BOLEH HAMIL !!


Apa dia berpikir terlalu banyak? Bukankah Ken akan melindunginya? Pemikiran itu berhasil membuatnya goyah, namun disisi lain ia juga tahu Ken tidak akan berada 24 jam di sisinya. Atau justru Ken sendirilah yang akan menjadi ancaman baginya, seperti beberapa jam yang lalu.


Tanpa keduanya sadari, Yoshiro tersenyum melihat mereka masih berpelukan. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah lebih dari 5 menit dan posisi mereka tidak berubah.


"Ayo pergi," perintah Yoshiro pada Kosuke yang duduk di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang Ken dan Aira bicarakan, tapi ia berharap keduanya bahagia.


Sementara di kursi belakang, pria bertato itu tak sadarkan diri. Ia kehilangan banyak darah dengan luka di sekujur tubuhnya. Jika bukan karena kedatangan Aira, mungkin sekarang pria itu sudah ada di kamar jenazah rumah sakit.


Yoshiro tersenyum, ia tersentuh dengan kebaikan hati Aira yang masih memikirkan nasib anak yang akan lahir beberapa minggu kedepan itu. Ya, sekejam apapun seorang wanita, mereka tetaplah seorang ibu.


"Tuan muda hampir membunuh nona Rara," ungkap asisten Ken itu sambil fokus dengan kemudinya.


"Apa?"


Kosuke menceritakan penuturan Minami beberapa saat lalu di telepon. Yoshiro mengerutkan kening, ia tidak menyangka Aira akan tega memakan obat pencegah kehamilan yang Ken berikan.


"Darimana Ken mendapat obat itu?"


"Nyonya Sumari (ibu Ken) yang memberikannya minggu lalu. Beliau mengatakan tidak akan memaksa nona memiliki anak dalam waktu dekat. Jadi mereka bisa mencegahnya sampai benar-benar menginginkannya. Nyonya bahkan mengirimkan banyak untuk persediaan."


"Bisa kulihat?"


Kosuke membuka laci dashboard dan memberikan selembar obat berwarna orange itu pada Yoshiro. Pria berambut putih itu mengambil sebutir dan mencium baunya. Ia tampak menggelengkan kepalanya sambil memikirkan sesuatu, "Apa dia benar-benar meminumnya?"

__ADS_1


Kosuke mengangguk menyetujui pertanyaan pria di sampingnya. Seketika pria itu tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang terasa kebas.


"Yoshiro-san, apa ada yang salah dengan obat itu?" tanya Kosuke khawatir.


"Apa nyonya Sumari juga mengirimkan teh madu untuk menantunya?"


"Ya." jawab Kosuke dengan alis bertaut. 'Darimana orang ini tahu? Apa mungkin tuan muda memberitahu sahabatnya ini?'


"Aira akan segera hamil."


Ciiitt


Kosuke menghentikan mobilnya tiba-tiba. Ia terkejut mendengarnya.


'Bagaimana bisa?' pikirnya heran. Ia menatap Yoshiro dengan pandangan tak percaya. Ah iya, Yoshiro adalah seorang peneliti obat-obatan. Hanya dengan mencium baunya saja, ia bisa tahu zat yang terkandung di dalamnya. Kemampuan yang sangat langka di dunia ini. Dia fokus pada penelitian obat-obatan berbahaya, itulah sebabnya ia bekerja dengan pria yang memberikan racun bisa ular pada nona-nya.


"Sstt... Jangan biarkan mereka tahu. Kita lihat apa yang akan terjadi nanti." Yoshiro tersenyum penuh kebahagiaan.


Kosuke menggelengkan kepalanya berkali-kali tak mengerti kelakuan aneh para majikannya, terutama nyonya Besar keluarga Yamazaki itu. Bagaimana mungkin wanita itu memberikan obat untuk memperkuat rahim dalam kemasan sebaliknya?


Yoshiro menyandarkan kepalanya dan mulai menutup mata. Menikmati gumaman senandung lagu dari mulutnya yang tertutup.


*******


Yosh... Akhirnya kelar juga nih chapter 32. Sesuai permintaan kalian yaa, author buat Aira hamil *eh? 😂😂


See you next day, btw baru bisa up nih. Kayaknya server sedikit down karena banyak author yang demo mau minta THR 😂😂😥 Aku juga ikutan demo nih, tapi ketilep (?) sama author lain yang lebih gede. Maklum lah yaa, author-chan cuma 153cm jadi mungkin ngga nampak. *apaansii? 😅 efek laper jadi agak oleng. Maafkeun yaa gaess 🤗


Selamat Idul Fitri, semoga amal ibadah kita diterima disisi-Nya. aamiin 😍😍


Jaa,


With love,


Hanazawaeaszy 😘😘

__ADS_1


__ADS_2