
Cup
Ken mencium pipi Aira yang membuat wajahnya memerah seketika.
"Ah, maaf aku datang di saat yang tidak tepat," terdengar suara yang tidak asing untuk Aira. Gadis pipi chubby itu menoleh ke sumber suara dan matanya otomatis membulat melihat siapa yang datang.
"Akhirnya aku bertemu denganmu gadis kecil," Yoshiro mengulurkan tangannya hendak menyentuh puncak kepala Aira.
Hap
Ken menahan tangan yang tertuju pada istrinya itu, "Jam besuk telah berakhir. Tidakkah anda berpikir itu akan membuat pasien tidak nyaman, Ebisawa-san?" tanya Ken dengan rahang mengeras menahan emosi.
"Ah, tidakkah kamu keberatan jika membiarkanku membantu mengikat tali baju istrimu?" Yoshiro memamerkan senyum lebarnya membuat Ken tersadar dan segera menutup punggung istrinya dengan coat yang sedang ia pakai.
"Apa yang membawa anda kemari senior? Mari kita bicarakan di luar," ajak Ken agar tidak mengganggu Aira. Sekaligus mencegah orang itu mengatakan hal yang tidak-tidak. Ia melangkah mendekati pintu keluar, meninggalkan Yoshiro di belakangnya.
Aira menatap Ken dan Yoshiro bergantian, fakta mereka senior-junior membuatnya paham mengapa saat itu ia memanggil suaminya dengan sebutan Yama-chan. Seolah mereka saling mengenal dekat dan akrab.
"Aku datang untuk meminta maaf karena tidak bisa hadir di acara penyambutan kalian beberapa hari yang lalu. Selamat istirahat nyonya Yamazaki. Saya Ebisawa Yoshiro, senior Kenzo di akademi. Senang bertemu denganmu," Yoshiro menyerahkan sebuah bucket bunga mawar putih pada Aira.
Aira menerimanya dalam diam, bagaimana pun juga ia masih trauma bertemu dengan pria ini.
'Ingatlah ada 10.000 orang bergantung padaku. Jika kamu mengungkapkan kejadian itu pada suamimu, bisa ku pastikan mereka akan kehilangan pekerjaan karena Ken pasti akan membinasakanku'
Aira terbelalak membaca memo yang ada di bunga itu. Di bawahnya juga terdapat gelang pemberian Erina yang malam itu ia buang ke sembarang arah. Aira tak mengerti maksud pria asing di depannya, mengancamnya tapi mempercayakan gelang kesayangan mendiang adiknya. Benar-benar ambigu.
"Sampai jumpa gadis kecil yang manis. Kita akan sering bertemu setelah ini," Yoshiro membalikkan badan dan pergi tanpa menoleh lagi. Ken menyusulnya dan menahan bahu orang yang tingginya sepantaran dengannya itu di koridor.
"Jangan melibatkan dia. Masalah waktu itu, aku yang harus mempertanggungjawabkannya, jangan ganggu istriku," pinta Ken tegas.
"Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan, Yama-chan," jawabnya sambil menepis tangan Ken yang sedari tadi bersemayam di bahu kirinya.
"Aku akan berdiri di belakang bayangannya, sekali saja kamu membuatnya berbalik pergi dia akan masuk perangkapku dan tak akan bisa keluar untuk selamanya."
"Itu tidak akan terjadi," jawab Ken datar.
"Aku menyukai istrimu. Berhati-hatilah," Yoshiro meneruskan langkahnya dan menghilang ditelan lift.
__ADS_1
Ken memasuki ruangan perawatan Aira lagi dan melihat bunga itu teronggok di tempat sampah tak jauh darinya. Ia segera menarik Aira ke dalam pelukannya, "Jangan pedulikan orang gila itu, hmm?"
"Berjanjilah, jangan mencari tahu tentang penculikku lagi," pinta Aira di dalam pelukan suaminya.
Ken mengurai pelukannya, "Apa maksudmu?"
"Tidak peduli ada masalah apa dengan kalian di masa lalu, tolong jangan pedulikan ia lagi. Anggap saja ini sebagai penebusan kesalahan kita pada Erina-chan," pinta Aira serius.
"Apa maksudmu?" Ken tak mengerti.
Aira menyerahkan memo dari Yoshiro pada Ken yang membuat wajahnya jadi merah padam seketika itu juga. Tangannya mengepal, meremas kertas itu dengan seluruh dendam di hatinya.
"Tidak akan ku maafkan," geramnya.
Aira meraih tangan Ken yang menegang, ia menggeleng pelan, "Jangan lakukan apapun, ku mohon," pintanya dengan mata berkaca-kaca. Jemari mungilnya mencoba meng-cover kepalan tangan orang yang tengah emosi di depannya.
"Balas dendam hanya akan menimbulkan dendam yang baru. Seperti halnya bom waktu, ia akan meledak di waktu yang lain. Ada efek domino untuk setiap hal yang kita lakukan. Akan ada berapa anak malang sepertiku yang kehilangan keluarga karena keegoisan kalian?" Aira menatap manik mata Ken dalam-dalam.
"Aira-chan..." Ken masih bersikeras ingin membalasnya, terlihat dari kepalan tangannya yang belum juga melunak.
"Aku akan selalu ada di sisimu selama kamu tidak mengusiknya. Aku akan baik-baik saja," Aira menarik tangan Ken ke pipinya, membuat pria itu tersipu malu dan berhasil meredam kemarahannya.
"Terima kasih," Aira memeluk suaminya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menangis kecuali untuk suaminya.
Sejujurnya ia juga belum bisa memaafkan Yoshiro, tapi jika Ken bergerak justru akan membahayakan banyak orang. Ia tidak ingin membuat orang-orang yang tak bersalah itu menjadi korban penderitaannya yang tak seberapa ini. Terlebih Yu sudah menyelamatkannya, anggap saja melepaskan kakaknya sebagai rasa terima kasih meskipun tanpa diketahui olehnya.
"Ai-chan.." panggil Ken.
Yang dipanggil menggeleng pelan dalam pelukan, ia tidak mau membahasnya lagi.
Sepekan berlalu...
Mentari bersinar cerah saat Aira keluar dari rumah sakit dengan menaiki kursi roda. Di belakang tampak Ken mendorongnya dengan sukarela. Anita, ibu Aira berjalan di samping putri semata wayangnya.
Mereka mengantar ibu Aira ke bandara. Aira memeluk ibunya untuk yang terakhir kali sebelum ibunya check in dan bersiap memasuki burung besi yang akan menerbangkannya menuju tanah kelahirannya itu.
"Jaga dirimu baik-baik nak. Jangan lupa makan yang teratur dan turuti saran dokter. Setelah sembuh nanti jangan lupa pulang ke Indonesia, tengok ibumu yang mulai keriput ini," Anita menangkup pipi putrinya sambil berkaca-kaca. Sebulir air mata berhasil luruh menuruni pipinya dan jatuh ke punggung tangan Aira. Wanita 48 tahun itu menciumi pipi Aira tak henti-henti sampai seorang asisten Ken mengingatkannya untuk segera memasuki boarding gate.
__ADS_1
"Tolong jaga putriku," pintanya pada Ken yang dibalas dengan anggukan.
Sementara itu di sebuah gedung pencakar langit, Yoshiro duduk mematung menghadap bingkai foto Erina dan Ken saat kelulusan SMA. Keduanya tengah tersenyum sambil berangkulan.
Tok tok...
"Masuk," Yoshiro mempersilahkan orang di depan pintunya untuk masuk, "Ada apa?" tanyanya sambil menutup foto adiknya yang tersenyum cerah.
"Nona Aira keluar dari rumah sakit hari ini," lapornya.
Hening
"Tuan.." panggil pria berbaju hitam itu karena tak ada respon dari orang di depannya, "Haruskah saya.."
Praangg
Sebuah vas bunga kristal hancur berkeping-keping setelah mendarat di lantai dengan sempurna. Yoshiro membuangnya untuk melampiaskan amarah.
"Tuan.."
"Atur pertemuan dengan orang itu, pastikan ia membawa istrinya," Yoshiro berdiri dan pergi setelah mengambil jas di belakang kursinya.
Ia mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Ia kesal karena Ken tidak melakukan apapun untuk membalasnya. Dari karakter Ken yang ia kenal, seharusnya mereka sudah melahap habis perusahaan kecilnya ini. Tapi kenyataannya tak ada langkah apapun dari mereka, bahkan dari mata-mata di keluarga Ken, Ken sendiri lah yang meminta kasus itu ditutup. Dengan kekuasaannya dia membuat berita jika istrinya mengalami kecelakaan, hanya kecelakaan biasa tak ada yang lain.
'Apa yang terjadi? Siapa dia sampai bisa membuat Ken melupakan dendamnya? '
Tiiiinnnn....
Brakkk
Sebuah mobil terbalik setelah menghantam pembatas jalan. Seorang pria berlumuran darah keluar dari mobil yang rusak parah itu. Langkahnya gontai, terhuyung-huyung menuju ke tepian jalan.
"Gomen ne, Echan..."
*******
Thx for coming & reading my novel.
__ADS_1
Jaa mata ne
Hanazawaeaszy 🤗🤗😍