
Beberapa minggu kemudian ....
Ken masuk ke dalam rumah dibantu oleh Kosuke yang mendorong kursi rodanya. Malam terlihat gelap sempurna menandakan sudah waktunya untuk istirahat.
"Kosuke, pulanglah setelah..." kalimat Ken terhenti kala matanya menangkap sosok yang begitu ia rindukan sepanjang hari.
"Ai-chan," panggil pria lesung pipi itu saat mendapati wanita kesayangannya tertidur di sofa ruang tengah apartemen mewah ini. Nampaknya Aira menunggunya hingga tak sengaja terlelap, terlihat dari televisi yang masih menyala. Layar datar itu menampilkan acara musik rock yang biasanya sama sekali tidak pernah ditontonnya.
Ken meraba pipi Aira yang terasa dingin, sepertinya ia sudah cukup lama tertidur di tempat ini. Kepalanya bersandar di punggung kursi, semakin menampakkan perutnya yang membesar.
"Dimana Minami?" tanya Ken saat tak mendapati asisten pribadi istrinya di manapun. Ia memandang sekeliling dan tidak ada seorang pun yang membersamai istrinya.
"Ano..." Kosuke tampak kesulitan mengatakan dimana istrinya berada.
*Ano: itu, mm... (ungkapan saat seseorang kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk mengawali pembicaraan)
"Ada apa? Katakan dengan jelas!" geram Ken tak sabar mendengar jawaban Kosuke. Ia sedikit emosi karena Minami tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Nona meminta istri saya pulang lebih awal karena sedang tidak enak badan. Dia mual sepanjang hari dan itu membuatnya tidak fokus bekerja," jelas Kosuke.
"Dia mual? Apa dia...." Ken mengingat-ingat berapa lama waktu yang telah berlalu sejak dia mengirimkan pasutri itu untuk bulan madu hingga sekarang. Ken tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Kandungan istrinya sudah semakin membesar, itu artinya ada kemungkinan bahwa Minami....
"Benar. Istri saya hamil. Saya akan menjadi seorang ayah." Kosuke menahan tangis dan tawanya di saat yang bersamaan, yang menandakan luapan emosi yang kini memenuhi hatinya dengan kebahagiaan.
Ken tersenyum. Pantas saja asistennya itu selalu melihat jam di pergelangan tangannya. Rupanya dia ingin pulang lebih awal dan merayakan berita bahagia itu. Ken saja yang tidak peka.
"Pulanglah!" perintah Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari Aira. Jemarinya masih setia mengelus pipi chubby yang kini terlihat semakin bulat dan padat. Ah, sangat menggemaskan. Membuat Ken ingin menggigitnya sekarang juga seperti menikmati bakpau.
"Tapi tuan," Kosuke tampak ragu meninggalkan tuannya sendirian. Meskipun perban di tangannya sudah terlepas, namun kakinya belum sembuh total. Perlu waktu hingga empat atau enam bulan sampai tuannya ini dinyatakan benar-benar sembuh. Dan ini baru dua bulan sejak kecelakaan itu terjadi.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan khawatir."
"Tuan, bagaimana dengan Nona?" Kosuke sungguh bimbang. Satu sisi dia sangat ingin pulang dan segera bertemu Minami, tapi di sisi lain, dia tidak tega jika meninggalkan tuannya sendirian. Terlebih lagi, Aira sekarang tertidur di sofa. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya tentang tuan dan puannya
Bagaimana cara Ken memindahkan istrinya ke dalam kamar? Bukankah itu hal mustahil saat ini? Tapi rasanya juga tidak mungkin jika dia sendiri yang akan berinisiatif menggendong wanita hamil ini ke dalam kamar. Tamatlah riwayatnya jika hal itu benar-benar terjadi. Ken akan dengan senang hati mencincangnya sebelum memberikannya pada ikan di sungai amazon.
"Ambilkan tongkatku dan pulanglah segera. Jangan lupa belikan makanan manis untuknya. Dia mungkin sedang berdiri di depan pintu menantikan kedatanganmu." Ken sedikit berkelakar, mencoba menggoda Kosuke yang tampak kikuk dk tempatnya berdiri.
Pria itu mengambilkan benda yang Ken minta dan undur diri secepatnya. Kenyataan bahwa ia ingin menemui Minami secepatnya tak dapat dielakkan lagi. Dia benar-benar merindukan istrinya.
Ditinggal sendirian dengan wanita yang kini terlelap, membuat keheningan seketika menyapanya. Sepertinya dia membutuhkan bantuan Mone. Dia tidak bisa memindahkan Aira ke dalam kamar, tapi dia juga tidak ingin membangunkan istrinya yang terlihat sangat lelah.
Ya, pada akhirnya Ken menelepon gadis yang selalu bertengkar dengannya jika bertemu. Ia mengambil ponselnya dan menekan ikon berwarna hijau setelah menemukan kontak dengan nama 'Setan Kecil'.
"Moshi-moshi, kakak ipar! Apa yang..."
__ADS_1
*moshi-moshi: sapaan semacam 'halo' untuk menerima telepon.
"Kemari secepatnya!" perintah Ken detik itu juga membuat pertanyaan Mone terhenti di tengah jalan.
"Ada apa? Aku sedang di luar kota sekarang." jawab Mone ketus.
"Aku..."
Tut tut tut
Ken memutuskan panggilannya sepihak. Ia tidak ingin memohon pertolongan dari setan kecil itu. Enggan rasanya mendengar berbagai pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh gadis 20 tahun itu. Belum lagi kemungkinan lain yang lebih menyebalkan, seperti kalimat cemoohannya yang membuat kupingnya panas dan berakhir dengan menahan kemarahannya seperti yang sudah-sudah.
Karena tidak bisa meminta Mone datang, akhirnya Ken masuk ke kamar dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Ia berjalan dibantu tongkat yang kini menyangga ketiaknya.
Tatapan Ken kini tertuju pada sebuah buku yang ada di lantai. Lembaran kertas itu terjatuh saat Ken membaringkan Aira dengan hati-hati. Itu adalah buku yang dimiliki oleh para ibu hamil, terkait dengan perkembangan janin yang mereka kandung. Ken mengambilnya dan mengamati catatan yang ada.
Kandungan Aira saat ini memasuki minggu ke 23, atau terhitung memasuki bulan ke enam. Perubahan fisiknya sangat kentara, dimana selain perutnya yang semakin besar, pipi istrinya juga semakin berisi. Mungkin berat badannya mencapai enam puluh kilogram sekarang, atau bahkan lebih. Entahlah. Itu tidak penting. Bagi Ken, fisik istrinya tak lagi penting. Justru membuatnya semakin lucu dan menggemaskan, 'kan?
Ken tidak sempat menemani Aira ke dokter kandungan hari ini karena pekerjaannya di kantor semakin banyak. Setelah perjanjian Miracle dengan Circle K ditandatangani beberapa minggu yang lalu, rutinitasnya menjadi semakin padat. Ada berbagai hal yang harus ia urus untuk memastikan perusahaan kimia itu tidak bermain curang dengannya.
Ken meraih sebuah amplop coklat di meja dan membukanya. Matanya berkaca-kaca saat melihat potret yang dibawa pulang oleh Aira setelah pemeriksaan USG hari ini. Tampak buah hati mereka yang kini masih ada di dalam sana, bersembunyi di tempat ternyaman untuk keduanya.
Tunggu...
"Ai-chan... Sayang, lihat ini!!" Ken begitu antusias menggoyang-goyangkan lengan istrinya, lupa bahwa sebelumnya ia meletakkan tubuh berisi itu dengan hati-hati agar tidak terbangun.
"Sayang, kita punya triplets." Ken menatap istrinya yang kini masih mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa setelah terlelap sebelumnya.
*Triplets : anak kembar tiga
"Hmm, nani?" tanya Aira dengan suara serak khas orang bangun tidur.
*nani : apa
Cup
Cup
Cup
Ken menangkup pipi Aira dan menciumi wajah istrinya membabi buta, pria itu mengekspresikan betapa bahagianya dia saat ini. Detik berikutnya, kecupan sayang itu beralih pada perut Aira yang tertutup dress berwarna hijau, senada dengan kain segi empat yang menutupi kepalanya.
Berbagai doa Ken rapalkan dalam hati, berharap kebaikan untuk anak-anaknya dan tentu saja untuk istrinya tercinta.
__ADS_1
"Ken?!" Aira mengelus surai hitam suaminya saat mulai merasa tak nyaman dengan sikap suaminya yang berlebihan ini.
"Ai-chan, kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Ken kembali menangkup pipi Aira, mengabaikan panggilan istrinya itu. Ia kembali mengecup bibir istrinya sekilas.
Aira melirik potret bayi kembar mereka dan menyadari penyebab suaminya menjadi hilang kendali barusan.
"Aku ingin memberitahumu, tapi sepertinya aku ketiduran," jawab Aira melihat kondisinya sekarang yang duduk di sofa dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Maaf karena membuatmu menunggu. Maaf karena tidak bisa menemanimu ke dokter. Maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang selalu siap sedia untukmu. Maaf..." Ken speechless. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, menyadari ada begitu banyak kesalahannya pada Aira.
*speechless: tak bisa berkata-kata
Aira tertawa melihat tingkah suaminya yang begitu lucu, berbanding terbalik dengan bayangan orang-orang yang menilainya sebagai orang yang kaku dan menyeramkan. Pewaris keluarga Yamazaki ini sungguh berubah drastis beberapa bulan terakhir. Dulu, dia adalah pria dingin, angkuh dan kejam. Namun, kini sosoknya berubah menjadi seseorang yang hangat, penuh cinta dan begitu ekspresif.
"Aku tidak akan memaafkanmu," ucap Aira sembari mencubit hidung suaminya dengan gemas.
"Eh?"
"Bagaimana perasaanmu? Kita akan punya tiga anak sekaligus," ucap Aira dengan senyum terkembang di wajahnya. Ia tampak bahagia, sama seperti Ken.
"Terima kasih." Ken memeluk istrinya dengan erat, "Besok kita kembali ke dokter. Aku ingin melihat mereka."
Aira mengurai pelukan suaminya dan menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui pendapat suaminya.
"Kenapa?"
"Ibu akan datang kemari. Dia merindukanku," jawab Aira.
"Kalau begitu, kita ajak ibu untuk melihat mereka." Ken masih berusaha membujuk istrinya.
"Tapi Ken, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kosuke akan kewalahan jika kamu melimpahkan tugas padanya lagi. Ah, omong-omong, ada berita baik. Minami juga sedang mengandung sekarang," cetus Aira antusias.
"Aku sudah tahu. Dia sudah memberitahuku sebelumnya. Aku ikut senang mendengarnya," ungkap Ken menampilkan senyum hangat di wajahnya, "Besok pilihlah sesuatu sebagai hadiah untuk mereka."
"Umm. Dengan senang hati," jawab Aira.
Ken mendekatkan wajahnya pada Aira. Ia bersiap mencium istrinya yang kini telah memejamkan matanya. Jarak mereka hanya tersisa beberapa centimeter, hingga terdengar suara...
"Kakak ipar, apa yang terjadi?"
...****************...
Mohon dimaklumi kalo masih ada typo, author ketik sebelum tidur disaat konsentrasi hanya tersisa beberapa persen. Gomen ne (maaf).
See you next day 🤗
__ADS_1
Hanazawa Easzy