
"Jadi, mari kita lanjutkan agenda utama kita." Ken menatap semua orang yang hadir di ruangan ini dengan percaya diri yang tinggi. Pria lesung pipi itu berhasil menangani keadaan yang sebelumnya terasa menegangkan akibat provokasi yang dilakukan oleh Yuki Harada.
"Seperti yang dilaporkan oleh manager pemasaran sebelumnya, ada sedikit kendala dalam bidang non goods service yang Miracle berikan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah pelayanan di Miracle Aesthetic Center yang berada di bawah naungan Miracle Cosmetics." Layar lebar berwarna putih itu menampilkan gambar diagram batang yang berisi data pendapatan Miracle Cosmetics yang turun cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.
"Data di lapangan menunjukkan adanya penurunan daya beli konsumen sebanyak 25% dikarenakan kenaikan harga beberapa produk yang cukup digemari oleh wanita usia 13 sampai 35 tahun. Sedangkan untuk produk perawatan kecantikan untuk wanita dengan rentang usia 30 sampai 55 tahun, mengalami penurunan omset sebanyak 15%." Ken menekan tombol pada laser pointer di tangannya, menyorot pada angka yang ditampilkan di layar itu. Semua orang tampak memahami penjelasan ayah tiga anak ini.
"Meskipun target penjualan quarter pertama tahun ini tercapai, namun ada PR besar yang harus kami benahi selanjutnya. Kami terus mencari penyebabnya dan berusaha menanganinya secepat mungkin. Berkat bantuan Nyonya Harada, yang tak lain adalah ibu tuan Yuki Harada, kami mengetahui penyebab menurunnya daya beli masyarakat pada produk-produk kami."
Tampilan di layar berubah, menunjukkan gambar-gambar produk kecantikan Miracle dan beberapa produk dari perusahaan lain yang memiliki jenis dan fungsi yang hampir sama. Gambar-gambar itu ditampilkan berjejer dengan keterangan fungsi dan harga masing-masing.
"Seperti yang terlihat di gambar, 100 gram bubuk facial mask dari Miracle dibanderol dengan harga 5.000 Yen, setara dengan US $48. Sedangkan untuk produk dengan jenis dan fungsi yang sama dari perusahaan lain, mereka menetapkan harga 4.000. Yen, yakni setara dengan US $ 38,5."
Para investor saling pandang satu sama lain, merasa perbedaan harganya terlalu tinggi. Pantas saja para konsumen beralih ke produk lain.
"Apa Anda semua ingin tahu kenapa ada perbedaan harga yang begitu besar disini?" Ken beretorika, menanyakan pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Tentu saja semua orang ingin mengetahui alasannya, 'kan?
"Sebelumnya produk ini dijual dengan harga 4.200 Yen. Namun akhir-akhir ini ada kenaikan harga dari para pemasok bahan baku masker biji rumput laut ini. Mereka menaikkan harga barang-barang mereka hampir dua kali lipat. Hal ini dipicu karena tingginya permintaan bibit rumput laut jenis sposium yang biasa kami gunakan. Banyak perusahaan lain yang berani membayar dengan harga lebih tinggi, membuat mereka tergiur. Mau tidak mau, kami hanya bisa menuruti permintaan mereka."
Ken tampak menghela napasnya, mengambil sebanyak mungkin oksigen untuk masuk ke dalam paru-parunya, membantu kinerja jantung agar tetap bekerja dengan normal.
"Kami sudah membentuk tim khusus yang akan segera mengatasi lonjakan harga bahan baku pembuatan produk kosmetik ini. Selain mencari pemasok lain, kami juga menyelidiki adanya permainan harga yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab. Namun, tentunya hal ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit," terang Ken panjang lebar.
"Terkait dengan berita pemalsuan produk kami, itu hanya rumor yang dilemparkan oleh para pesaing yang ingin bermain dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Kami menemukan adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja melempar isu ini ke lapangan. Terlebih lagi dengan memanasnya situasi politik saat ini, akan menguntungkan jika mengorbankan nama mereka sendiri sebagai umpan. Menarik simpati masyarakat agaknya akan membuat permainan lebih menyenangkan. Bukan begitu, Tuan Harada Yuki?"
BRAKK
"Apa Anda menuduhku?" tanya pria tiga puluh tahun yang Ken sebutkan namanya itu. Ia berdiri sambil menggebrak meja di depannya, tidak terima akan tuduhan Ken.
__ADS_1
"Tunggu." Ken mengangkat tangannya. "Bukankah Anda lulusan salah satu universitas ternama di Inggris? Anda mendalami bidang ekonomi dan politik. Saya hanya memastikan bahwa saya tidak salah memahami hubungan kasus ini dengan bidang ekonomi dan politik secara umum. Kenapa Anda harus marah?" Ken merasa di atas angin. Ia berhasil memancing emosi tuan muda keluarga Harada ini.
Wajah Yuki merah padam. Ia kembali duduk, merasa telah dipermainkan oleh wakil direktur muda ini. Rasanya ia harus bisa menahan diri, dan akan membalas rasa malu ini di kemudian hari.
"Dan tentang pemalsuan produk yang terjadi, kami masih menyelidikinya. Saya, Yamazaki Kenzo, bersedia mempertaruhkan posisi saya ini jika benar Miracle membuat produk berbahaya dan menjualnya di pasaran. Saya bisa memastikan bahwa semua produk yang kami ciptakan telah melewati uji klinis sebanyak tiga kali dan aman digunakan oleh siapa saja, muda, tua, wanita, bahkan pria."
"Kerusakan wajah yang terjadi pada salah satu konsumen kami, itu karena beliau memakai produk perawatan dengan sembarang. Mencampur beberapa produk berbeda merek sekaligus dan tidak menanyakan pada ahli kecantikan yang menanganinya. Selain itu, beliau tertarik membeli produk dengan harga yang lebih rendah pada sembarang orang."
Yuki mengerutkan keningnya. Ia tahu, konsumen yang sedang Ken bicarakan ini adalah ibunya. Namun, dia tidak tahu bahwa ibunya mencampur beberapa produk perawatan dalam sekali pakai dengan asal. Ia memilih diam dan mendengarkan penjelasan Ken. Nanti, ia akan mengonfirmasi hal itu pada ibunya.
"Beliau mengalami kerusakan yang cukup parah. Wajahnya memerah, kering, keriput dan ada bentol merah di beberapa bagian. Selain itu beliau mengaku merasakan sakit kepala, ruam, gatal, bengkak pada wajah dan tenggorokan." Ken menunjuk gambar wajah nyonya Suzuki yang terlihat separuh. Orang-orang tidak menyadarinya, namun Yuki tahu betul siapa wanita itu. Sebuah tahi lalat di bawah bibirnya membuatnya yakin bahwa itu potret ibunya.
"Selain gejala pokok itu, beliau juga kesulitan bernapas. Berdasarkan hasil scanning yang dokter lakukan dengan alat khusus, itu adalah efek samping hydroquinone dan resorsinol. Selain membuat kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari, kulit juga akan terasa perih menyengat, kemerahan, kering dan pecah-pecah. Pada akhirnya jaringan kulit di sana akan melepuh atau menghitam. Padahal fungsi utamanya adalah untuk mencerahkan kulit dan menyamarkan bintik hitam."
*scanning : pemindaian/pemeriksaan khusus
"Sedangkan semua produk dari Miracle, tidak pernah memakai dua zat berbahaya itu. Produk kami 100% alami, tanpa zat kimia sama sekali. Itulah yang membuatnya aman untuk semua orang dengan segala usia serta jenis kulit wajah mereke entah itu berminyak, sensitif, kering, ataupun yang lainnya. Namun, sayang sekali, banyak konsumen yang tergoda dengan harga miring tanpa mempedulikan efek samping yang ditimbulkan."
Yuki mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia marah karena tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya dan bertindak bodoh dengan memprovokasi Ken. Yang ia tahu, ibunya memakai produk palsu Miracle. Jadi dia berniat menyalahkan pemimpin perusahaan itu atas kelalaiannya sampai membuat seseorang bisa memalsukan produk mereka.
Namun nyatanya, ibunyalah yang paling bersalah dalam hal ini. Beliau begitu ceroboh menggunakan berbagai produk kecantikan tanpa memperhatikan efek buruk yang ditimbulkannya. Dan ia juga tidak memeriksa lebih dulu sebelum datang ke rapat terbatas ini. Sepertinya ia harus menemui Ken dan meminta maaf padanya. Ia harus rela merendahkan diri demi bantuan yang mungkin akan ia butuhkan di masa yang akan datang.
Yuki menyadari betapa hebatnya seorang Yamazaki Kenzo. Ia tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun, apalagi sengaja menyulut api permusuhan dengannya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Semua orang meninggalkan ruangan itu. Tersisa Ken dengan beberapa staf khususnya, seperti Kosuke, Minami dan dua orang lainnya.
"Tuan Yamazaki Kenzo, bisakah saya meminta waktu Anda sejenak?" tanya Yuki setelah mendekat ke arah pria 178 cm itu.
__ADS_1
Ken mengangkat wajahnya, menatap salah satu investor dan pemegang saham di perusahaan yang dikelolanya ini.
"Ah, tuan Harada. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ken dengan senyum terkembang di wajahnya. Ia bersikap profesional, mengesampingkan perasaan pribadinya yang merasa sebal pada pria ini.
"Ini berkaitan dengan kasus... " lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan kalimat yang keluar dari mulutnya, 'ibu,' lanjutnya dalam hati. Ia merasa malu karena masih ada orang lain di sana.
"Kosuke, bagaimana jadwalku hari ini?" tanya Ken pada personal assistant yang selalu menyertainya ini.
"Anda tidak memiliki agenda lain hari ini selain mengantar Nyonya Aira ke rumah Tuan Besar," jawab Kosuke lugas.
Deg
Hati Yuki mencelos mendengar jadwal Ken hari ini. Dia sengaja mengosongkan kegiatannya hari ini untuk mengantar istrinya? Hal itu membuatnya terkejut. Ia yakin Ken tidak akan sesenggang itu. Pasti ada banyak agenda seorang wakil direktur sepertinya. Terlebih lagi, ada beberapa kasus yang harus ia selesaikan secepatnya.
Dan yang lebih mencengangkan lagi, tiga orang karyawan Miracle yang ada di sana tidak tampak terkejut sama sekali, itu artinya mereka sudah tahu sikap Ken yang begitu memanjakan wanitanya. Yuki menjadi penasaran, seperti apa nyonya Yamazaki itu? Apakah dia model papan atas yang sangat cantik? Artis? Pebisnis sama seperti pria ini? Atau seperti apa?
Berbagai pertanyaan mulai menghantui Yuki, berkaitan dengan istri Yamazaki Kenzo dan perjalanan cinta mereka. Entah kenapa ia merasa begitu penasaran akan hal ini. Apalagi, Yuki saat ini masih menyendiri. Ia mungkin bisa berguru pada Ken kedepannya dalam menaklukkan hati seorang wanita.
"Mari kita bicarakan di tempat lain," ajak Ken.
...****************...
Ugh abang Ken selalu bikin Author terpesona walaupun tanpa uwu-uwu 😍😘😘
Gimana-gimana? Puas ngga?
Kalo Author sii puas, puas mumetnya 😂😂 Pusing beneran dah kalo ada adegan kek gini, kudu mikir soalnya. Takut salah info kan rempong, haha...
__ADS_1
See you next episode yaa, jangan lupa like, vote, komen juga. Gomen ne kalo masih ada typo dikit. Jaa,
Hanazawa Easzy