Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Apa yang Terjadi, Terjadilah


__ADS_3

"Pertarungan belum usai, tapi saya merasa mereka sudah mengetahui gerak-gerik kita," keluh Sergey sambil mengendarai mobil ke arah utara, menjauh dari pusat kota.


"Itu hanya bayanganmu saja. Kau berpikir terlalu jauh." Anna menyangkal pendapat tangan kanannya. "Bocah itu tetaplah bocah yang belum mengerti apa pun. Dia masih mudah terkecoh oleh pergerakan drone kita. Kalau dia menguasai medan lebih baik, kita sudah binasa, Sergey. Kau lihat, enam jam berlalu dan mereka tidak melakukan serangan sama sekali. Mereka bahkan tidak bisa mengendus jejak kita."


Sergey tidak sependapat, tapi memilih bungkam. Dia mengenal Anna dengan baik. Tersinggung sedikit saja bisa menyebabkan perang dunia.


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Apa lagi? Mari buat kekacauan untuk membuat mereka keluar dari sarangnya. Aku harus membuat bocah itu tahu, dia sudah memilih pihak yang salah. Mone Kamishiraishi harus kembali padaku hidup atau mati!"


Sergey meneguk ludah untuk membasahi kerongkongan. Dia tidak menyangka wanita itu terobsesi pada Mone, putri angkat yang kini berbalik menyerangnya.


Sergey menambah laju mobilnya, melaksanakan perintah Anna.


Sementara itu, terpisah puluhan kilometer dari sana, pria dengan rompi anti peluru di dada tampak mengencangkan tali hitam yang mengikat kepalanya.


"Kalian siap?" tanya Yamaken, menatap dua rekan kriminalnya sebelum mulai beraksi.


Langit tampak gelap seluruhnya saat mobil yang ia tumpangi sampai di tempat parkir bawah tanah gedung apartemen 30 lantai.


"Tentu saja. Lebih dari siap. Aku sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan dengan mereka."


Jawaban Mone membuat Yamaken mengangguk. Pria 28 tahun itu semakin yakin akan rencananya.


"Jangan lupa, kita bertemu lagi di sini tiga puluh menit ke depan." Yamaken kembali mengingatkan dua orang beda usia di hadapannya.


"Siap. Saya sudah mengaktifkan fungsi GPS yang terhubung dengan monitor milik Tuan Ken dan Nyona Aira. Mereka bisa membantu pergerakan kita saat situasi tak terkendali terjadi."


Yamaken dan Mone kompak mengangguk.


Dengan isyarat tangan, Kosuke bergerak ke arah selatan, menelusuri tangga darurat yang membawanya menuju lantai dasar. Di saat yang sama, Mone bergerak ke arah berlawanan, siap menaiki lift setelah memakai topi hitam untuk mengaburkan pandangan orang-orang yang mungkin mengenalinya.

__ADS_1


"Segera selesaikan urusan kalian. Jika ada yang menghambat, segera beri tahu yang lain." Suara instruksi terdengar di telinga Mone dan Kosuke. Keduanya sudah tak terlihat, menghilang dari pandangan Yamaken yang berjalan menuju ruang kontrol CCTV di depan sana. Mereka sudah memiliki tugas masing-masing.


Suasana lantai dasar terlihat lengang, hanya ada dua resepsionis yang ada di belakang meja. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Kosuke mendekat ke arah mereka.


"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?"


Kosuke mengangguk, mengangkat sebuah dokumen ke atas meja.


"Saya diberi tugas untuk mengantarkan dokumen ini pada nyonya Anna Vyatcheslavovna, salah satu pemilik unit apartemen di gedung ini. Bisakah Anda meminta beliau untuk turun?"


Dua petugas resepsionis saling pandang. Sudah menjadi SOP mereka untuk tidak sembarangan menuruti perintah tamu demi keselamatan dan keadaan apartemen yang tetap kondusif.


"Maaf, Tuan, kami tidak bisa membantu Anda memanggil beliau. Kami tidak menerima tamu setelah pukul enam sore."


"Baiklah. Saya mengerti. Bagaimana jika dokumen ini saya titipkan di sini?"


"Mohon maaf. Kami tidak menerima penitipan baran atau jasa orang luar."


"Nona, ini salah saya. Karena sedikit masalah, saya jadi terlambat. Jika saya membawa dokumen ini kembali, bisa dipastikan ini hari terakhir saya menjadi kurir."


Sejenak dua orang itu saling pandang. Mereka mengamati penampilan Kosuke dari ujung kaki ke ujung kepala. Ya, pria itu sama seperti kurir lain di luar sana. Wajah lusuh terkena debu jalanan, baju dan celana dengan banyak kantung di kanan kirinya, dan yang paling kentara adalah ID card yang menempel di dada sebelah kirinya. Sebuah perusahaan ekspedisi terbesar di negara mereka.


"Tolong serahkan dokumen ini pada Nona Anna. Saya mohon."


"Apa isinya?"


"Saya tidak tahu. Anda bisa membukanya untuk memastikan kalau itu bukan sesuatu yang berbahaya."


Meskipun sempat ragu, tapi salah satu petugas resepsionis itu benar-benar membuka amplop cokelat dengan tali melingkari bagian tengahnya. Tampak lembar putih dengan deretan huruf dan angka yang menunjukkan harga saham Miracle Cosmetics di mana nama Anna Vyatcheslavovna terdaftar sebagai saah satu pemegang sahamnya.


"Apa laporan seperti ini masih diperlukan?" tanya wanita itu pada temannya. "Sekarang zaman sudah canggih, tidak butuh dokumen fisik lagi."

__ADS_1


"Mungkin beliau satu dari sedikit orang yang suka hard copy. Berikan padaku. Biarkan aku yang akan mengantarkannya."


"Tuan, silakan isi data diri Anda di sini."


Dengan tenang, Kosuke mengisi data diri palsu yang telah disiapkan olehnya di buku tamu dan pergi dari lobi setelah menganggukkan kepala dua kali. Langkahnya terarah kembali ke tempat parkir, memasuki mobil hitam yang dilengkapi peralatan lengkap untuk memindai sinyal GPS yang terpancar dari dokumen.


"Cek! Cek! Dokumen naik ke lantai dua." Suara Yamaken menghampiri telinga kedua rekannya. Dia bisa melihat dengan jelas pergerakan resepsionis yang berdiri seorang diri di lift yang terus naik ke atas. Bukan perkara sulit melumpuhkan dua penjaga di ruang CCTV. Obat tidur berbentuk asap berhasil membuat mereka terlelap.


"Lantai 15, unit 09." Kali ini suara Aira yang terdengar. Dia dan Kosuke melihat titik merah di layar terhenti. Informasi titik koordinat dan nomor ruangan segera tertera di layar, hasil pemindaian realtime yang diambil dari satelit.


"Apa dia ada di sana?" Suara Mone terdengar sedikit gemetar. Sepertinya dia gugup.


"Ya. Resepsionis itu kembali dengan tangan kosong. Dia pasti sudah menyerahkan dokumen itu pada Anna."


Mata tajam Ken mengamati setiap layar di hadapannya. Tidak ada pergerakan mencurigakan dari setiap sudut gedung pencakar langit itu. Semua aman terkendali.


"Baiklah. Aku akan menemuinya. Semoga dia masih mau mendengar kata-kataku. Kalau tidak ada kabar, segera dobrak pintunya dan selamatkan aku!"


"Itu tidak akan terjadi. Kau akan keluar dari sana dengan selamat. Kalian hanya perlu bicara."


Mone mengangguk, menatap CCTV di koridor lantai 14 dan melambaikan tangannya pada Yamaken yang mengamati dari ruang kontrol. Gadis itu sengaja menunggu di sana sejenak, memastikan Anna ada di ruangannya dan membaca dokumen dari Kosuke.


"Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja, Sayang."


"Hmm. Doakan aku, Kak."


"Tentu." Aira menggigit bibir bawahnya sebelum berkata, "Pergilah. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Bagaimanapun juga, dia pernah memperlakukanmu dengan sangat baik."


Mone mengambil napas dalam, mengangguk sebelum melepas earpiece dari telinganya agar Anna tidak curiga.


"Apa yang terjadi, terjadilah. Hadapi dengan berani, Mone-chan!"

__ADS_1


__ADS_2