
Ken dan Aira masih menikmati liburan musim dingin di dalam sebuah bangunan berbentuk seperti kura-kura. Mereka menghabiskan malam bersama dan Ken menangkap basah Aira yang sedang mencari petunjuk keberadaan Mone Kamishiraishi, adik angkat Shun.
Ken melihat data itu dan meminta penjelasan Aira. Selama ini dia tidak tahu kemampuan Aira yang bisa meretas jaringan dan baru saja 'mengacak-acak' sistem pertahanan negara maju seperti Italia. Keamanan mereka yang terlalu lemah atau istrinya yang terlalu jenius?
"Aku akan menceritakan semuanya, dengan satu syarat." pinta Aira.
"Katakan!" jawab Ken tanpa basa-basi. Ia mulai mendekati Aira dan mengambil alih pengering rambut berwarna hitam yang ada di tangan mungilnya. Ia membantu istrinya mengeringkan rambut.
Meskipun mereka sedang bersitegang karena urusan data itu, Ken tetap menyayangi istrinya lebih dari siapapun di dunia ini. Dia rela melakukan apa saja untuk membahagiakan istrinya, termasuk menjadi pelayan yang mengeringkan rambut basah nona-nya.
(Ken udah bucin akut ini mah. Ada ngga satu yang kaya Ken? Author-chan mau dong 😍😍 *gomen ne nghalu di tengah bacaan, ngga kuat author tuh 😂)
"Bisakah kamu tidak ambil bagian saat aku dan Yu membuat kesepakatan dengan Oguri Shun nanti?" tanya Aira dengan ekspresi serius. Ia tidak main-main saat menanyakannya, membuat Ken kehilangan fokus sejenak. Terlihat dari gerakan tangannya yang sempat terhenti, membuat jemarinya terjebak di antara helaian rambut panjang istrinya.
Deg
"Kesepakatan?" nafas Ken tercekat seketika. Entah kesepakatan seperti apa yang istrinya rencanakan. Apalagi dia bekerjasama dengan Yu kali ini. Apakah itu sesuatu yang berbahaya?
"Ya. Bisakah kamu mempercayai kami?" tanya Aira. Ia menatap manik hitam Ken yang berdiri di belakangnya melalui cermin besar. Tampak keduanya saling pandang dalam waktu yang lama.
Tangan Ken kembali menelisik ke dalam surai hitam istrinya, melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut Aira. Ken yang sekarang begitu lembut, sangat berbeda dengan gangster buas yang menyiksa Aira beberapa bulan yang lalu. Mungkinkah Ken yang berubah menjadi lembut karena Aira? Atau mungkin itulah sifat aslinya, lembut dan penyayang. Dia berubah sesuai keadaan yang mengharuskannya menjadi predator tak tertandingi di dunia gelap.
Ken masih terdiam tak menjawab permintaan Aira sampai ibu jarinya menekan tombol off pada benda bulat berwarna hitam di tangannya. Ia menyimpannya di laci setelah memastikan mahkota hitam istrinya kering sepenuhnya.
"Kesepakatan seperti apa yang kamu inginkan?" Ken duduk di sisi ranjang, meraih kedua tangan Aira dan menggenggamnya dengan erat. Keduanya kini duduk berhadapan, saling menautkan kening. Ah, tepatnya Ken yang menempelkan keningnya pada Aira. Dia tidak ingin istri dan calon buah hatinya berada dalam bahaya.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu..." jawab Aira sambil menatap Ken dengan penuh perasaan. Detik berikutnya ia menunduk ke bawah. Ia tidak berani menatap mata suaminya lagi karena bulir air tak berwarna itu mulai memenuhi penglihatannya, membuat semuanya menjadi buram.
"Katakan dengan jelas." pinta Ken lirih. Ia harus bisa mengontrol emosinya, memberikan rasa nyaman pada Aira agar istrinya itu mau mengatakan semuanya. Dengan begitu Ken tahu bagaimana caranya ia melindungi Aira dan buah hatinya. Ia takut masih ada celah yang bisa dimanfaatkan musuh untuk membahayakan mereka. Ia belajar dari pengalamannya selama ini, memastikan seluruh rencana mereka sempurna barulah membuatnya sedikit tenang. Hanya sedikit, karena keadaan bisa berubah sewaktu-waktu.
Dan Aira mulai menceritakan rencananya pada Ken yang berhasil membuat pria lesung pipi itu menggeleng beberapa kali. Tapi keputusan Aira sudah bulat, tidak akan ada yang bisa memisahkan ia dan suaminya.
*******
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul enam pagi saat Shun menyesap kopi di depannya. Secangkir kopi hitam tanpa gula adalah minuman yang wajib ada di mejanya saat dia bangun tidur. Entah itu benar-benar bermanfaat untuk menyegarkan pikirannya atau hanya sugestinya semata? Entahlah. Yang jelas, ia menyukainya. Rasa pahit di lidahnya membuatnya tersadar betapa banyak kejadian tidak mengenakkan yang harus ia maafkan, termasuk merelakan gadis yang selama bertahun-tahun yang lalu ia dambakan.
__ADS_1
Shun menatap bayangan dirinya yang sedang duduk tegap di depan cermin. Baju yang Aira berikan sembilan tahun yang lalu ia kenakan lagi hari ini, lengkap dengan sepatu berwarna krem. Warna favoritnya sejak hari itu, sejak Rara hadir di hidupnya. Menyelamatkannya yang kelaparan dan memberikan harapan hidup, disaat semua orang tidak mempedulikannya.
Jika bukan karena panggilan dari ayah angkatnya, yaitu tuan Kamishiraishi maka kebersamaannya dengan Rara mungkin akan bisa ia nikmati lebih lama lagi. Menjalin komunikasi lebih intens bahkan mungkin bisa mengetahui nama lengkap atau nomor ponselnya. Ah, Shun menyesal tidak berlaku baik pada gadis itu. Ia bahkan sempat mencurigainya sebagai bagian dari orang-orang yang mencelakainya.
Ya, hari itu Shun harus kembali ke Jepang untuk mulai belajar di akademi dan tidak sempat menemui Rara yang masih ada di sekolahnya. Ia hanya menitipkan beberapa lembar uang dan ucapan terima kasih pada wanita tua pemilik kamar sewanya. Ia memang bodoh, tidak bisa melihat ketulusan yang Rara berikan padanya saat itu. Ia berpikir hutangnya lunas dengan ia meninggalkan sepuluh ribu baht untuk Rara.
(baht : mata uang Thailand)
Sungguh Shun tidak menyangka sama sekali bahwa gadis yang Ken nikahi adalah orang yang sama dengan gadis penuh senyum yang ia temui di Thailand. Ia dengan bodohnya mencari di seluruh penjuru negeri seribu pagoda itu, tanpa memikirkan kemungkinan lain. Jelas-jelas dari wajahnya yang chubby dan bermata bulat, harusnya Shun sadar jika Aira bukanlah penduduk setempat. Pikirannya terlalu kacau karena tak mendapati gadis yang berhasil mengusik kewarasannya meski beberapa saat telah berlalu.
Awalnya Shun berpikir akan bisa melupakan Rara begitu saja, tapi bayang-bayang senyuman manisnya selalu muncul saat ia merebahkan diri di atas ranjangnya. Sayangnya ia tidak bisa keluar dari akademi sampai tiga tahun berikutnya, membuatnya terpaksa memendam kerinduannya pada gadis dengan kalung saturnus di lehernya.
Tok tok
Ketukan pintu terdengar merdu menyadarkan Shun dari kenangan masa lalunya. Ia melonggarkan syal yang menutupi lehernya, berharap hatinya sedikit lega dari segala penyesalan yang tak ada gunanya lagi. Seharusnya ia bersyukur karena bisa bertemu dengan Dewi Penyelamatnya, meskipun dengan skenario tak terduga ini. Ia yang berhutang satu nyawa pada Rara justru meracuninya agar Ken mau membuat kesepakatan dengannya. Bukankah itu berarti bahwa sekarang ia berhutang nyawa dua kali pada Rara?
"Masuk.." jawab Shun setelah menetralkan wajahnya yang tampak sedih detik sebelumnya. Ia tidak boleh menampakkan perasaan pribadinya di depan para bawahannya. Itu tidak ada manfaatnya, hanya akan membuatnya terlihat lemah.
"Tuan Oguri, tuan muda Yamazaki dan istrinya meminta izin untuk bertemu dengan Anda." lapor pengawal berbaju hitam di depan pintu. Ia menundukkan wajahnya saat melapor, menunjukkan rasa hormatnya pada tuan yang selama beberapa tahun ini mempekerjakannya. Membuatnya bisa menafkahi istri dan anaknya dengan layak. Gaji yang Shun berikan lebih dari cukup untuk menyambung hidup ia dan keluarga kecilnya. Ia memang pria kejam di dunia mafia, tapi berbaik hati pada semua karyawannya asalkan mereka tidak mengkhianati kepercayaannya.
"Dimana mereka?" tanya Shun antusias. Terlihat dari sikapnya yang langsung berdiri dari duduknya dan mata yang berbinar seolah akan bertemu dengan orang yang sangat ia nantikan, membuat ayah dua anak itu terkejut. Tuannya tidak pernah seantusias ini sebelumnya.
"Tentu saja. Ah, siapkan hidangan terbaik. Kita akan sarapan pagi bersama." jawab Shun dengan nada sebiasa mungkin. Ia benar-benar harus menjaga image-nya kali ini. Tapi tetap saja membuat asistennya itu membatu sejenak. Ia menatap Shun dengan pandangan tak percaya. Selama ini tidak ada seorangpun yang pernah makan bersama Shun Oguri kecuali ayah dan adik angkatnya yang hilang itu. Dan yang membuat hal itu terasa lebih aneh karena biasanya Shun tidak pernah sarapan.
Ada apa dengan tuannya ini? Siapa yang menggerakkan hati pria berdarah dingin ini, Yamazaki-san atau istrinya? Berbagai pertanyaan lainnya masih menggantung di kepalanya. Tapi apapun itu, dia hanya harus mematuhi perintahnya. Ia menunduk sebagai konfirmasi bahwa ia memahami perintah Shun.
Beberapa menit berlalu...
"Ohayou Yamazaki-san, Rara-chan..." sapa Shun begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah. Membuat kedua tamunya menoleh mencari sumber suara. Keduanya berdiri dan menyambut kedatangan tuan rumah yang sengaja mereka kunjungi.
(Ohayou: selamat pagi)
Atensi Aira tersita pada penampilan Shun. Baju yang ia belikan sembilan tahun yang lalu sekarang melekat di tubuh pria itu. Baju itu benar-benar pas dan terlihat pantas dipakai olehnya.
'Apakah mungkin Shun menyimpan baju pemberiannya sampai hari ini? Bukankah itu tidak masuk akal? Atau ia membuat yang baru? Tapi kenapa modelnya sama persis dengan yang ku belikan dulu?' batin Aira dipenuhi berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Aira segera memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. Ia tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Daripada memikirkan hal yang telah lalu, ia punya hal lain yang lebih penting untuk dibahas.
Melihat gelagat Aira yang tampak tidak mau menatapnya lebih lama lagi membuat Shun kecewa. Ia sadar diri atas penolakan itu. Ia terlalu berharap banyak dari pertemuan mereka kali ini. Memangnya siapa yang dengan mudah bisa memaafkan orang yang hampir membunuhnya?
"Apa yang membawa kalian kemari? Apa liburannya kurang berkesan? Atau kalian ingin mencoba tempat lain? Aku bisa memesan yang lebih bagus dari itu." tawar Shun basa basi yang memang basi. Baik Ken maupun Aira tak berniat untuk membahas liburan mereka.
"Ada sesuatu yang ingin istriku sampaikan." jawab Ken dengan nada datar. Kentara sekali bahwa yang akan mereka bicarakan bukan sesuatu yang ringan.
Shun menatap Aira yang kini juga menatapnya. Mata bulat itu masih sama, pipi chubbynya juga sama. Dia benar-benar gadis saturnus yang ia cari, hanya saja ia tidak bisa melihat rambut ikalnya lagi karena tertutup oleh kain yang kini melingkupi kepalanya. Shun mengambil nafas dalam-dalam, ia harus berhenti di sini. Atau jiwa melankolisnya akan semakin mendominasi, merasa tersakiti oleh keadaan. Padahal ia sendirilah yang membuat keadaan menjadi kacau seperti sekarang.
"Senior...." panggil Ken karena pria di depannya itu terlihat melamun sambil menatap istrinya. Hal itu berhasil membuat Shun tersadar dan mendapati Aira yang kini bersembunyi di balik punggung Ken. Wanita itu menghadap ke arah lain, memandang butiran salju yang terlihat dari kaca tembus pandang di depannya. Ya, halaman hijau yang luas miliknya seolah disepuh menjadi putih oleh waktu. Butiran salju yang turun semalaman menyelimutinya dengan sempurna.
Tok tok
"Tuan, tuan Yoshiro, nona Yu dan nona Kaori ada di sini." ucap asistennya itu setelah mengetuk pintu kayu di depannya. Tampak di belakangnya berdiri seorang laki-laki berambut merah bersama dua orang wanita yang Shun kenal.
"Aku yang mengundang mereka kemari," Ken berucap melihat keheranan yang terlihat jelas di wajah Shun, "Bisakah kita mulai pembicaraannya sekarang?"
*******
"Berdasarkan sidik jari nona Kamishiraishi, aku melacaknya di Italia tapi tidak ada satupun informasi yang membantu. Dia terakhir meninggalkan Italia empat tahun yang lalu dan tidak pernah kembali kesana." jelas Aira yang kini berdiri di hadapan semua orang. Ken, Shun, Yu, Yoshiro, dan Kaori mengelilingi meja bulat berwarna putih di tengah ruangan ini. Ruangan yang khusus Shun siapkan untuk bertemu orang-orang penting ini.
Tubuh mungil dengan jilbab berwarna navy yang menutupi kepalanya membuat Shun belum percaya sepenuhnya bahwa gadis itu adalah Rara. Dewi Penolongnya dulu tidak sekurus itu, tubuhnya sedikit berisi dan senyum manis selalu tergambar di wajahnya. Tapi sekarang? Gadis ini terlihat sangat serius dengan tatap mata yang tajam. Shun tidak bisa menatapnya lebih lama lagi, ia meletakkan keningnya di atas meja membuat netranya menatap sepatu krem pemberian Aira.
"Oguri-san, Anda baik-baik saja?" tanya Aira membuat Ken, Yoshiro, Yu dan Kaori menatap ke arah yang sama. Seketika Shun mengangkat wajahnya dan berpura-pura tersenyum di hadapan semua orang. Pandangannya terhenti saat menatap Aira. Raut kekhawatiran di wajahnya masih sama seperti saat di Thailand. Wajah itulah yang Rara tunjukkan saat pertama kali mendekatinya yang terkapar di pinggir jalan dengan wajah babak belur.
"Aku akan segera kembali." pamit Shun sambil berlalu. Ia tidak bisa terus seperti ini. Perasaan sepihaknya ini harus ia hentikan sekarang juga. Ia berjalan melewati koridor pendek di rumahnya dan menuju ke kamar pribadinya. Ia benar-benar hilang fokus.
"Ada apa dengannya?" tanya Kaori pada Yoshiro yang duduk di sebelahnya.
Yoshiro menggeleng, ia tidak tahu kenapa Shun bersikap aneh kali ini. Di saat yang sama, Aira mendekat ke arah Ken dan membisikkan sesuatu. Ken mengangguk dan detik berikutnya Aira keluar dari ruangan itu, menyusul Shun. Membuat semua orang semakin bertanya-tanya apa yang akan wanita hamil itu lakukan.
*******
See you next day, author udah deg-degan nih. Kira-kira apa yang bakal terjadi yaa sama Aira & Shun? Aaaghhh, author ngga sabaaaaaaarrr 😂
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawa easzy ♡