
"Bunuh dia!" perintah nyonya Hanako pada orang suruhannya.
Melihat situasi genting ini, membuat mata Shun berkilat tajam. Ia tidak bisa membiarkan orang-orang ini mendapatkan apa yang mereka inginkan. Rahangnya mengerat, gemeletuk gigi yang saling beradu terdengar sampai ke telinga. Ia harus menyerang lebih dulu, meskipun itu artinya ini menjadi hari terakhirnya menghirup udara di dunia. Dia tidak peduli.
BRAKK
PRANG
Shun menendang meja bundar di depannya, berusaha memecah perhatian semua orang. Bunyi gelas kaca yang terjun bebas ke lantai bersama piring dan berbagai benda yang ada di atas meja, berhasil membuat suara gaduh di ruangan yang awalnya begitu tenang ini.
Perhatian sepuluh orang yang mengepung dua orang itu sedikit terpecah, tidak menyangka dengan gerakan Shun yang bergitu cepat. Pria itu menendang meja di dipannya dan juga menyikut orang di samping kanannya. Pistol yang semula menempel di pelipis Shun, sekarang tergeletak di lantai bersama pemiliknya yang mengaduh kesakitan.
Melihat aksi sahabatnya dan situasi yang ada, Yoshiro tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia segera berbalik, menendang lutut belakang pria yang tadi mengancamnya dan merebut pistol di hadapannya.
DOR
DOR
Yoshiro menggunakan tubuh pria di hadapannya sebagai tameng dari rentetan tembakan yang menyasar padanya. Tubuh pria itu terkoyak dengan timah panas yang bersarang di badannya, membuat darah segar segera mengucur dari sana. Hujan peluru terjadi di ruangan itu, membuat nyonya Hanako berbalik, menatap keributan yang terjadi begitu cepat, kurang dari satu menit.
(source : pinterest)
Di sisi lain, Yoshiro memanfaatkan keahlian bela diri yang dimilikinya. Ia mengeluarkan nunchaku dari dalam saku celananya dan menyabet orang-orang yang berusaha menyerangnya.
*Nunchaku adalah senjata yang berupa dua batang kayu yang dihubungkan dengan rantai atau tali.
Tendangan dan pukulan Shun layangkan pada tiga orang yang masih menyerangnya, sedangkan dua yang lainnya sudah terkapar tak berdaya di lantai. Shun menyerang titik vital mereka dengan sekali pukul. Ia bahkan sempat tersenyum sembari menjepitkkan nunchaku di bawah ketiak setelah disabetkan ke lawan.
Bahkan salah satu dari mereka mengalami pendarahan di pelipis setelah ujung kayu yang keras itu mengenainya beberapa detik yang lalu, membuatnya limbung dan akhirnya terjatuh di lantai. Dengan daya hancur kuat, nunchaku dianggap sebagai alternatif senjata yang mematikan. Terlebih bentuknya relatif simpel dan kecil sehingga mudah disembunyikan. Itulah sebabnya Shun memilih benda ini sebagai senjata andalan, selain pistol tentunya.
"Tunggu apa lagi? Cepat bunuh dia!" teriak nyonya Hanako panik saat melihat sepuluh pengawalnya sudah berhasil dilumpuhkan oleh Shun dan Yoshiro.
Tuan Kubota gemetar ketakutan menatap mayat-mayat yang bergelimpangan beberapa meter darinya. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa ganasnya dua orang di depan sana. Hal itu membuat nyalinya menciut. Terlebih lagi, kini Yoshiro mulai mendekatinya dengan tatap mata tajam. Wajahnya yang terciprat darah sungguh menyeramkan. Jangan lupa ada pistol yang kini berada di masing-masing tangannya.
"Ja ... jangan mendekat! Aku ... aku akan membunuhnya!" Tuan Kubota berjongkok di depan Ken, menarik tubuh lemah itu untuk duduk dan menempelkan pistol di tangannya pada pelipis Ken. Ia berusaha mengancam Yoshiro, padahal jelas-jelas ia tengah gemetar ketakutan.
Yoshiro mengacungkan kedua tangannya ke depan, bersiap menembak pria bermarga Okura itu. Kemarahannya tak tertahan lagi, membuatnya ingin segera menghabisi pria yang tengah gemetar ketakutan itu.
Ctakk
"AAAGHH," teriak nyonya Hanako sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia begitu terkejut dan takut saat melihat darah mengalir dari kening orang suruhannya. Sebuah koin menancap tepat di sana, membuat rasa pening yang luar biasa. Terlihat dari ekspresi pria itu yang melepaskan pistol dari tangannya begitu saja dan memegangi kepalanya erat-erat.
Yoshiro berbalik, melihat siapakah gerangan yang sudah melempar steel round coinย pada tuan Kubota. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan itu, menanam koin dengan ketebalan 2 milimeter di tulang tengkorak kepala manusia.
__ADS_1
*Steel round coin adalah pisau berbentuk koin yang digunakan sebagai senjata rahasia dalam seni bela diri.
(source : pinterest)
"Apa Anda menikmati pertunjukannya, Nyonya?" tanya Ken dengan seringai menyeramkan di wajahnya.
Glek
Nyonya Hanako menelan ludah dengan paksa, tidak menyangka bahwa ada dua Yamazaki di sini. Pria yang ia buat tak sadarkan diri adalah Yamaken, bukannya Ken. Ia terlalu gegabah dan tidak memikirkan kemungkinan ini.
"Pertunjukkan belum selesai," ucap G yang tiba-tiba muncul. Ia berlari mendekat ke arah tuan Kubota dan bersimpuh di depannya, menyejajarkan posisi mereka berdua, "Surprise."
(Kejutan)
"Aa, Tu... Tuan!" mulut itu menganga, menahan sakit teramat sangat yang ia rasakan. Tangannya memeluk G dengan erat, berharap pria itu bersedia menolongnya.
"Itu hadiah untuk kesetiaanmu!" G berdiri sambil membenahi pakaiannya yang sedikit kusut. Ia menatap tuan Kubota dengan kemeja dan jas yang berlumuran darahnya sendiri. Detik berikutnya, G menendang pria itu dengan kasar sebelum melenggang pergi, menjauh dari orang yang pernah ia percayai sebagai mata-mata di Miracle.
"Nyo ... Nyonya," ucap pria sekarat itu dengan sisa napas yang ada. Ia merangkak, berusaha menggapai kaki nyonya Hanako yang terus mundur ke belakang.
BRUKK
Seketika tubuh berdarah itu jatuh tertelungkup di lantai. Bisa dipastikan bahwa nyawanya melayang saat itu juga, karena sebuah belati menancap di dada sebelah kirinya, tepat mengenai jantungnya. Tuan Kubota, pengkhianat Miracle itu telah tiada, tewas di tangan tuannya sendiri, Kwon Ji Yong.
DOR
Sebuah tembakan melesat cepat, membuat wanita lima puluh tahunan itu tumbang seketika.
...****************...
Matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat, membiaskan sinar berwarna jingga yang menyapu langit di atasnya. Semilir angin di akhir musim dingin mulai terasa hangat, namun masih ada aroma salju yang tertinggal.
Di sebuah kamar lantai dua kediaman kakek Yamazaki, seorang wanita dengan perut buncit berjalan kesana kemari dengan gelisah. Ia sesekali menggigit ujung jemarinya, khawatir pada keselamatan ayah anak-anaknya.
"Kak, tenanglah. Kakak ipar pasti baik-baik saja," hibur Mone yang duduk santai sambil membaca majalah fashion di tangannya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Tidak ada yang bisa ku hubungi untuk memastikan keadaan Ken. Apa dia baik-baik saja sekarang? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Apa mungkin dia terluka? Bagaimana jika Yoshiro gagal mengamankan bahan peledak itu? Kita harus kembali secepatnya, aku akan pergi kesana dan melihat keadaan suamiku dengan mata kepalaku sendiri." Aira meraih baju hangat miliknya dan berjalan menuju pintu.
"Kak, tenanglah. Seperti pesan kakak ipar, kamu tidak boleh pergi ke sana. Terlalu berbahaya untuk kalian." Mone berusaha mencegah Aira, menggenggam kedua tangannya yang berkeringat.
Aira tidak bisa tinggal diam begitu saja. Meskipun Mone tidak mau mengantarnya, ia bisa meminta pengawal untuk mengantarnya kembali ke pusat kota, meninggalkan wilayah pegunungan yang sejuk ini.
Krek
__ADS_1
"Ai-chan," panggil Ken begitu membuka pintu yang ada di hadapannya.
"Ken?!" Aira segera menghambur ke dalam pelukan suaminya. Ia mengeratkan tangannya melingkari pinggang Ken, menyalurkan kerinduan yang mengakar serabut di dalam hatinya. Wajahnya yang berlinang air mata, kini tersembunyi di dada bidang pria 28 tahun itu.
Terdengar suara isak tangis dari mulut Aira. Ia begitu khawatir pada Ken, dan akhirnya menangis karena merasa begitu bahagia. Suaminya sudah kembali dengan selamat.
"Apa kamu terluka?" Aira melepas pelukan Ken dengan paksa dan mengamati keadaan suaminya dari atas ke bawah.
"Aku baik-baik saja, Sayang." ucap Ken sembari menempelkan keningnya, membuat kulit kepala itu saling beradu.
"Kamu membuatku khawatir!" ketus Aira sebal. Ia begitu emosional dan bersiap akan menyusul Ken jika suaminya itu tidak segera datang.
"Gomen ne," ucap Ken sambil mencubit hidung istrinya.
(Maaf)
Cup
Sebuah kecupan singkat Ken hadiahkan pada istrinya yang tengah marah, terlihat dari kedua bibirnya yang berpaut.
"Jangan marah. Aku sudah pulang sekarang." Ken menangkup kedua pipi istrinya dengan gemas. Ia bahkan memainkan gumpalan daging tembam di wajah Aira sambil tersenyum lebar. Pria itu begitu bahagia karena bisa menemui istrinya setelah menyelesaikan misi penting ini dengan sempurna. Akan ada begitu banyak cerita tentang hari ini yang siap ia tumpahkan pada Aira.
"Ai-chan ... " panggil Ken lirih, sengaja ingin menggoda istrinya. Ia ingin melihat wajah Aira yang kemerah-merahan.
"Lepas!" Aira berusaha melepas tangan Ken dari pipinya.
"Tunggu aku puas, baru aku akan melepaskanmu," bisik Ken seduktif. Ia mulai mendekatkan wajahnya pada Aira, bersiap mencium istrinya.
"Ehm ehm!" Yu berdeham menyela aktivitas dua orang di depannya.
Ken segera menguasai diri dan memegang tengkuknya karena canggung.
"Aku tidak akan mengganggu kalian." Mone memilih pergi, membuat Ken kesal dan mengepalkan tangannya. Ia mengumpat gadis itu dalam hati, seharusnya adik iparnya pergi saja diam-diam dari sana, kenapa harus mengganggunya?
...****************...
Gomen ne, telat lagi ๐ฅ
Niatnya up semalam sebelum tidur, eh ketiduran, hehe.
Gimana gimana? Kurang yaa adegan actionnya? Emang sengaja dibuat ringan aja sih. Ngga usah terlalu banyak gelud, tapi kesan yakuza nya tetep dapet. Eh, tapi ngga tau dapet apa engga sih ini? Komen yaa ๐
Author salut sih sama semua pemeran di sini, khususnya bang Shun sama Yoshiro. Nanti episode selanjutnya insyaAllah bakal author jelaskan kenapa Ken sama G muncul belakangan. ๐
As always, jangan lupa tap ikon jempol di bawah yaa. Author tunggu komen kalian, semua author baca kok ๐ค
__ADS_1
Jaa,
Hanazawa Easzy ๐