Gangster Boy

Gangster Boy
Hukuman Ken


__ADS_3

"Saya akan kembali ke Indonesia besok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa lagi bertahan di sisi Ken. Sekali lagi, saya mohon maaf." pungkasnya lalu menunduk dalam.


Gregg


Pintu geser di belakang Aira terbuka dan menampilkan sosok pria dengan wajah babak belur. Pandangannya tertuju pada wanita berjilbab marun 2 meter di depannya.


"Ken..." panggil Sumari dengan wajah terkejut melihat keadaan putranya, "Apa yang terjadi dengan wajahmu?"


Ken melangkahkan kakinya dengan lemah dan berhenti di samping Aira yang duduk berpangku lutut di lantai. Kakek menautkan kedua alisnya, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan cucunya. Mungkin mereka bertengkar, tapi siapa yang bisa menghajar Ken sampai separah itu? Atau lebih tepatnya, siapa yang Ken ijinkan untuk menyentuh wajahnya?


"Ai-chan.." panggil Ken dengan suara sedikit berdengung. Hidungnya terasa kebas dan sulit bernafas membuat suaranya agak berubah. Gadis di depannya tak bergeming.


Pria itu bersimpuh di pangkuan Aira. Dia menelungkupkan wajahnya di lantai kayu yang dingin, senada dengan hati Aira sekarang. Dingin. Kebas. Tak ada rasa.


"Ai-chan, gomenasai..." tangan Ken menangkap jemari istrinya yang terbungkus sarung tangan berwarna peach untuk menghalau dingin.


(Maafkan aku)


Hening


Tak ada yang bersuara disana. Semua orang terpaku pada pria yang tiba-tiba datang dengan wajah kacau dan perban di hidungnya. Ah, sepertinya seseorang terlalu bersemangat saat memukulnya kemarin.


"Hontou ni gomenasai..." lirihnya dengan suara yang semakin menghilang.


(Aku sangat menyesal)


Aira masih mengatupkan bibirnya. Terlalu sakit jika harus membayangkan luka yang ia rasakan sejak awal pernikahannya dengan pria di depannya ini. Ah, bahkan sebelum mereka menikah, ia juga hampir kehilangan nyawanya karena emosi Ken tersulut saat ia menolak ajakannya untuk menikah.


Aira terpaku di tempatnya, suaminya menangis di pangkuannya dengan bahu berguncang. Ini pertama kalinya ia melihat suaminya begitu lemah tak berdaya. Hati kecilnya ingin membalas genggaman Ken yang terasa semakin erat pada jari-jarinya, tapi logikanya menolak. Jika ia menyerah sekarang, monster itu bisa muncul lagi kapan saja.


Perlahan Aira menarik jemarinya dan mundur menjauhi Ken yang mengangkat kepalanya saat merasakan pergerakan wanita yang sangat ia cintai.


"Saya sudah mengatakan apa yang seharusnya saya katakan. Terima kasih untuk semuanya." Aira menunduk takzim pada kakek dan ibu mertuanya.


Minami mendekat dan membantunya bangun. Tubuhnya bergetar sejak mendengar suara suaminya beberapa saat lalu. Ya, jujur saja ia masih trauma namun ia menutupinya, mencoba bersikap senatural mungkin.


"Tunggu.." Kakek menginterupsi, membuat Aira mengurungkan langkahnya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua, tapi bisakah kamu memikirkan keputusanmu sekali lagi?"

__ADS_1


Aira membuang nafasnya perlahan, seolah ada beban berat di hatinya. Wanita mana yang ingin pernikahannya berakhir hanya dalam waktu 6 bulan? Tapi siapa yang menjamin semua akan baik-baik saja?


Kobayashi-san mendekat dan membisikkan sesuatu pada kakek. Pria tua itu membulatkan mata tak percaya, memandang Ken dan Aira bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ia tampak terkejut dan memejamkan mata sejenak. Mengurut pelipisnya dengan tangan kiri dan mengambil belati yang ada di hadapannya. Tersisa cincin silver yang bertengger di dalam kotak berwarna merah yang tertutup kaca transparan.


"Cucuku, duduklah." pintanya dengan suara lemah. Ia terlalu tua untuk mencampuri kehidupan cucunya, tapi juga tak bisa mengabaikan kenyataan yang ada di depan matanya.


Aira tampak ragu sampai Minami mengisyaratkan dengan tangannya agar Aira kembali ke tempat duduknya semula. Pasti ada hal penting yang akan disampaikan kakek.


"Kobayashi-san, ambilkan rotan !" perintahnya. Pria 50 tahunan itu bergegas keluar ruangan dan membuat Sumari membelalakkan mata. Ia bertanya-tanya apa yang akan ayah mertuanya lakukan.


Ken masih bersimpuh di posisinya, tak beranjak sedikitpun. Tatapannya tertuju pada Aira yang kembali duduk, beberapa langkah di depannya. Minami setia mendampinginya seolah bersiap menjadikan dirinya sebagai tameng jika sesuatu yang buruk terjadi pada nona-nya.


"Sampai kapan kau akan berdiam di sana?" Kakek menatap Ken dengan kemarahan tertahan. Sumari segera mendekati putranya dan memintanya untuk bangun, berbalik menghadap pria 70 tahun itu.


Kobayashi-san masuk membawa beberapa batang rotan yang biasa kakek gunakan untuk menghukum Ken sewaktu kecil. Saat melakukan kesalahan, kakek selalu memukul betisnya sampai Ken mengaku salah dan minta maaf.


"Kau tahu apa kesalahanmu?"


"Seberapa banyak? Apa bisa dihitung?"


Lagi-lagi Ken diam, kali ini kepalanya menggeleng. Ia tidak akan bisa menghitung kesalahannya.


"Ambil posisi !" perintah kakek dengan suara beratnya. Sebenarnya dia juga tidak tega menghukum pewarisnya itu, tapi keadilan tetap harus ditegakkan.


Ken berdiri di tengah ruangan dan mulai menggulung celana panjangnya sampai ke lutut. Perlahan ia menurunkan kaos kaki hitam yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kakek mendekat dan duduk satu meter dari Ken. Ia meraih sebilah rotan dan menatap Ken yang berdiri menjulang di depannya.


"Kau siap?"


Ken mengangguk sekali.


Ctakk


Kakek mulai memukul betis Ken menimbulkan suara yang memilukan. Garis kemerahan sebesar jari telunjuk muncul di kakinya yang putih mulus membuat Sumari memejamkan mata. Ia tidak tega melihat hukuman yang kakek berikan, tapi juga tidak bisa mencegahnya.


Ctakk

__ADS_1


Pukulan kedua mendarat di atas bekas yang pertama. Itu sakit, terasa perih dan terbakar. Ken mengepalkan kedua tangannya dan menatap Aira penuh penyesalan. Aira menatap pemandangan di depannya tanpa ekspresi, ia tidak bereaksi sedikitpun membuat kakek tidak segan memukul cucu kesayangannya itu sampai rotan di tangannya patah menjadi dua.


"Ayah..." lirih nyonya Sumari.


Kakek mengambil rotan kedua dan terus memukul cucunya yang semakin pucat. Ia tidak akan berhenti sebelum Aira bereaksi dan membatalkan keputusannya.


30 menit berlalu, tak ada yang berubah. Bahkan 5 bilah rotan yang patah berserakan di depan Aira masih tak menggoyahkan keputusannya.


Sumari mendekati menantunya dan menggenggam tangan mungil itu, "Menantuku, bisakah kamu menarik ucapanmu? Ku mohon,"


Aira menatap wanita dengan tetesan air di pelupuk matanya. Aira menarik diri tak ingin bersentuhan dengan ibu mertuanya.


"Ku mohon, maafkan putraku. Jika kamu tidak memaafkannya, ayah tidak akan berhenti menghukumnya walau mematahkan seribu rotan sekalipun." isaknya mulai terdengar dengan jelas di telinga Aira.


Aira bangkit dan duduk di depan Ken, mengulurkan tangannya untuk menahan rotan yang kakek lecutkan.


"Apa yang harus saya lakukan agar anda menghentikan hukuman ini?" tanya Aira menatap kakek dengan wajah datarnya.


Kakek menurunkan tangannya dan meletakkan rotan itu kembali ke lantai. Menatap cucu menantunya tepat ke dalam manik hitamnya yang tampak melemah. Sepertinya ia sakit, seperti informasi yang dibisikkan pelayannya beberapa saat lalu.


"Kobayashi-san," kakek melirik pelayan setianya yang berdiri di depan pintu. Pria itu mengangguk dan mengangsurkan sebuah map berwarna biru dan sebatang korek api pada Aira. Ken membulatkan matanya melihat dokumen yang sempat ia cari-cari kemarin.


Aira membuang nafasnya yang sempat tertahan. Ia mengenal kertas itu. Dengan sedikit gemetar ia menerimanya dan membuka kertas dengan tanda tangannya di pojok kiri bagian bawah. Namun bagian Ken masih kosong, pria itu belum menandatanganinya. Sedari awal sepertinya Ken memang tidak ingin melepaskannya. Harusnya Aira tahu itu.


Tanpa ragu, Aira menyalakan korek api di tangannya dan membakar kertas itu sampai habis menjadi debu. Tepat saat itulah pertahanan Ken runtuh dan berlutut di hadapan istrinya. Bulir air mata turun di wajahnya yang lebam dan membiru. Tangannya merengkuh Aira ke dalam pelukan dan menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali.


Aira terdiam, tak menolak ataupun membalas perlakuan Ken yang seolah mendapatkan anugerah terbesar dalam hidupnya.


Kakek beranjak pergi diikuti Kobayashi dan Sumari yang sempat melihat keduanya sebelum melangkah keluar pintu.


*******


Hwaa.... author baper. Itu kakek bisa lebih kejam lagi ngga? 😭😭


With love,


Hanazawaeaszy 😢

__ADS_1


__ADS_2