Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Nasihat Ibu


__ADS_3

Aira marah pada Ken, membuatnya urung makan siang. Ia pingsan di depan semua tetua setelah Ken memperkenalkan putra putrinya. Itu terjadi karena tekanan darahnya begitu rendah, membuatnya merasa mual, pusing, dan akhirnya tak sadarkan diri.


"Dengarkan ibu." Nyonya Sumari mulai memberikan nasihatnya pada putra sulung kebanggan kakek Yamazaki ini. "Kamu harusnya memanjakan istrimu. Dia pasti lelah mengurus ketiga putramu. Dia hampir tidak bisa istirahat, mengurus mereka sepanjang waktu. Meskipun sudah ada Sakura dan dua orang yang lainnya, nyatanya dialah yang memberikan ASI untuk ketiga bayimu."


Ken menundukkan kepala mendengar nasihat yang ibunya sampaikan. Ia tahu dirinya bersalah dan kata-kata nyonya Sumari itu membuat penyesalannya semakin dalam menghunjam jantungnya, membuatnya merasa sesak dan tak bisa membela diri. Memang ia yang paling bersalah dalam hal ini.


"Kenzo, jangan pernah melakukan kesalahan ini lagi di masa depan!" tegas ibunya. "Bukankah kamu juga pernah menggigit lidahmu tanpa sengaja saat makan? Sakit tidak?" tanya ibunya sambil menggertakkan giginya.


Ken mengangguk. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodohnya itu lagi. Ia sungguh menyesalinya.


"Kamu tahu betapa sulitnya menjadi seorang ibu? Dia harus tetap menjaga kewarasannya agar anak-anaknya tetap dalam kondisi baik. Entah kamu percaya atau tidak, saat seorang ibu mengalami emosi memuncak seperti marah, stress, atau depresi berkepanjangan, itu akan berimbas pula pada anak-anaknya. ASI yang ia hasilnya menjadi berkurang dan akibatnya membuat mereka jadi rewel. Terlebih lagi, Aira harus mencukupi gizi mereka semua. Itu artinya, ia harus makan untuk mengisi empat perut. Bagaimana bisa kamu begitu bodoh dengan menggigit lidahnya?"


"Maafkan aku, Bu," ucap Ken lirih.


Nyonya Sumari mencubit hidung putranya dengan gemas. "Awas saja kalau kamu melakuknnya lagi. Ibu akan merontokkan gigimu atau kalau perlu memotong lidahmu saat itu juga!" ancamnya kemudian.


Ken tersenyum kecut mendengar peringatan ibunya. Darah yakuza di dalam tubuhnya ternyata diwariskan oleh kakek Yamazaki melalui ibunya. Ayahnya pebisnis, ibunya yakuza, jadilah Ken seorang yakuza yang berkecimpung di dunia bisnis. Ia pernah membantai orang dengan kejam kala itu, tanpa memikirkan keluarga yang mereka tinggalkan. Dan kini Ken berubah, dia tidak lagi sekejam itu.


Ken menjadi lebih manusiawi setelah Aira mewarnai hari-harinya. Tabiat wanita itu yang tegas namun lembut dan penuh perhatian berhasil meredam emosi Ken berkali-kali. Membuat monster di dalam dirinya lebih tenang dan jarang muncul. Namun tetap saja, jiwa yakuza di dalam dirinya tak bisa hilang. Seperti kejadian yang terakhir ini.


Ken tidak berniat menyakiti Aira sama sekali. Ia hanya ingin menggoda istrinya itu, semacam mencubit pipinya, begitu yang Ken pikirkan. Tapi ternyata ia bertindak di luar kendali, semacam insting yang otomatis muncul saat hewan buas bertemu mangsanya, ingin menerkam dan menggigitnya saat itu juga. Ia meraup wajahnya dengan kasar, menyadari kebodohannya.


"Dia mendiamkanmu?" tebak nyonya Sumari.


"Umm. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan."


"Kamu pantas mendapatkannya. Bahkan jika ibu ada di posisi Aira, ibu akan menghukummu! Apa dia menamparmu setelah kamu menggigit lidahnya?" tanya wanita berbaju hijau itu.


Ken menggeleng. "Dia meneteskan sebulir air matanya, tapi diam saja. Aira tidak protes sama sekali. Ia bahkan bersiap menyuapiku makan siang setelahnya," terang pria dengan kemeja putih melekat di tubuhnya.


"Lihat. Betapa lembutnya hati istrimu." Wanita itu memuji menantunya.

__ADS_1


Ken mengembuskan napas kasarnya. Ia tahu itu. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Bu?"


Nyonya Sumari mengelus kepala putranya sambil tersenyum. Ia tidak menyangka Ken akan tunduk dan patuh seperti sekarang. Aira sungguh membuat haluan Ken berubah. Ia yang begitu buas seperti binatang liar sebelumnya, sekarang menjadi begitu lembut dan penurut.


"Kamu harus merendahkan dirimu di depan istrimu. Bertanyalah walaupun dia tidak akan menjawabnya. Seorang istri yang sedang marah akan kesal jika suami mereka bertanya apa salahnya. Jangan pernah membiarkan kemarahan istrimu berlalu begitu saja. Karena itu akan membuat โ€œtabunganโ€ kesalahanmu semakin banyak."


Ken menunduk. Kesalahannya di masa lalu saja sudah begitu banyak. Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi seperti yang sudah-sudah.


"Sesekali bertanyalah seperti biasa. Tapi, jangan memaksa dia menjawab apalagi sampai muncul perdebatan. Jangan juga mendiamkannya. Diammu justru akan dianggap ketidakpedulianmu terhadap istrimu."


"Apa ayah juga bersikap seperti itu pada ibu?"


"Haish, kenapa membahas ayahmu?" Nyonya Sumari tampak kesal karena membicarakan suaminya. "Aku mengatakan ini padamu agar kamu tidak seperti ayahmu itu."


"Kenapa dengan ayah?"


"Huh!" Nyonya Sumari mengembuskan napas kasar dari mulutnya. "Ayahmu itu, bukannya membujuk ibu, dia malah merasa senang saat ibu marah. Jangankan memanjakan ibu, dia akan menasihati ibu dari A sampai Z. Menyebalkan!" tutur wanita itu, tangannya terkepal di atas meja.


Ken tersenyum simpul mendengar penuturan ibunya.


"Selain itu, tolong bantulah pekerjaannya. Terkadang istri yang lelah dengan pekerjaan rumah memang jadi gampang emosi. Ditambah lagi ada tiga nyawa yang harus istrimu pedulikan. Itu tentu bukan hal yang mudah."


Ken mengangguk. Ia tahu setiap malam istrinya hanya istirahat beberapa jam. Ia terbangun berkali-kali demi menyusui ketiga anak-anak mereka.


"Ken, jangan ambil hati pada perkataan Aira saat dia sedang marah. Semua orang mudah terpancing untuk mengatakan hal yang tidak-tidak saat mereka dikuasai emosi. Kamu harus tetap tenang dan jangan terpancing jika tidak ingin ada pertengkaran hebat."


"Bagaimana dengan menasehatinya, Bu?" tanya Ken.


"Menasehati wanita marah? Apa kamu cari mati?" Wanita itu hampir saja memukul putranya lagi, tapi ia urungkan.


"Seperti yang ibu katakan sebelumnya, jangan meniri ayahmu. Dia akan menasehati ibu saat ibu marah. Kamu tahu? Hal itu justru membuat kemarahan ibu semakin memuncak. Memang kesalahan bisa dilakukan suami maupun istri. Istri sendiri bisa melakukan hal-hal tidak terpuji saat marah. Tapi kamu tak bisa langsung menasehatinya saat itu juga."

__ADS_1


"Kamu bisa berbicara padanya saat api amarah sudah mereda. Katakan apa yang dilakukannya itu salah dan kamu tidak menyukainya."


Ken menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia sudah memahami apa yang ibunya sampaikan ini.


"Kamu juga bisa sedikit menggodanya dengan candaan jika yang terjadi hanya kemarahan ringan. Itu bisa mengalihkan emosinya sesaat dan mencairkan suasana yang ada. Jangan coba-coba melakukannnya saat amarah istrimu sedang membara untuk permasalahan serius. Itu justru akan membuat permasalahan semakin runyam."


"Bagaimana dengan sekarang? Apa cara yang paling tepat agar Aira memaafkanku?" Ken tampak belum menemukan solusi atas permasalahannya kali ini. Ini bukan perkara bisnis, jadi ia tak bisa sekedar mengandalkan logikanya.


"Saat kalian hanya berdua atau jika anak-anak sudah tidur, bahaslah permasalahan itu. Jangan lupa bumbui dengan canda tawa agar terlahir solusi, bukan amarah yang menggumpal dalam dada. Entah siapa yang bersalah disini, kamu harus bisa memaafkan istrimu. Karena istri yang sedang marah, semua perkataan dan perbuatannya seringkali tak ia sadari. Oleh karena itu, dengan memaafkannya maka tidak akan menimbulkan masalah baru lainnya yang lebih pelik."


Ken mengangguk sekali.


"Atau kamu bisa mengajak istrimu berjalan ke bukit di belakang sana. Mengajaknya keluar, menikmati pemandangan akan membuat kepalanya dingin. Kamu bisa minta maaf disana."


Ken tersenyum. Ia setuju dengan ide yang ibunya berikan ini. Ia ingin pergi ke bukit tempatnya dan Aira pertama kali berciuman, di bawah pohon yang rindang itu. Ia hanya perlu memastikan Yamaken tidak ada di sana untuk mengganggu mereka lagi seperti sebelumya.


Dari kejauhan, tampak Sakura mendekat.


"Tuan Muda, Nyonya, nyonya Aira sudah siuman."


Mata Ken berbinar mendengar kabar baik itu. Ia segera berlari, meninggalkan ibunya demi menemui istrinya.


"Ai-chan, aku datang... " bisiknya sambil berlari.


Nyonya Sumari hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Hatinya menghangat melihat betapa antusias putra sulungnya itu.


"Sakura, bagaimana dengan rencanaku? Kamu sudah mengatur semuanya?" tanya nyonya Sumari.


...****************...


Weehh kira-kira si emak barbar punya rencana apa yaa? See you next episode. Jangan lupa like, vote, komen, rate n share yaa ke sosmed kalian biar makin banyak orang yang bucin, ahahahaa ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Jaa,


Hanazawa Easzy ๐Ÿ’™


__ADS_2