
Angin bertiup lembut, menerbangkan dedaunan kering yang berserak di tanah. Kuncup-kuncup bunga sakura tampak di ujung dahan, bersiap mekar seperti kelopak bunga lainnya yang tumbuh lebih dulu. Musim semi kali ini terasa begitu indah. Siapa saja akan menikmatinya, membawa aroma cinta yang membuat hati berbunga-bunga.
Begitulah yang terjadi pada Ken dan Aira. Mereka berjalan berdua sambil bergandeng tangan di taman belakang kediaman kakek Yamazaki. Ada puluhan pohon sakura di sepanjang jalan setapak yang mengarah pada tempat pacuan kuda di ujung sana.
Langkah kaki mereka seirama, sejalan dengan tangan yang mengimbanginya. Sesekali keduanya saling menolehkan kepala, tersenyum pada yang lainnya. Ah, sepertinya mereka jatuh cinta lagi pada pasangannya. Sungguh menggemaskan.
"Ai-chan," panggil Ken lembut.
"Umm," jawabnya bergumam.
"Kamu suka?" tanya Ken menatap wajah istrinya dari samping.
"Umm. Kawai," puji Aira. Langkah kakinya terhenti, menatap pemandangan di atasnya yang terlihat begitu cantik.
Ken ikut menengadahkan kepalanya, menatap pemandangan yang sama seperti yang istrinya lihat.
"Ada yang lebih cantik dari bunga sakura ini," ucap Ken, kembali menatap wajah bulat istrinya.
"Benarkah? Dimana? Aku ingin melihatnya." Aira menatap ke kanan dan ke kiri, mencari pohon yang terlihat lebih cantik seperti yang Ken katakan.
"Di sini." Ken menunjuk bola matanya sendiri sambil tersenyum. Ia bahkan menundukkan sedikit badannya agar sejajar dengan Aira yang hanya memiliki tinggi 154 cm itu.
"Eh? Maksudmu?" Aira memperhatikan bulatan hitam yang bertugas sebagai indera penglihatan suaminya. Ia memicingkan matanya dengan kening berkerut, mencoba mencari tahu maksud kata-kata pria di depannya ini.
"Sudah lihat 'kan? Seseorang memenuhi mataku. Dia lebih indah dari bunga sakura di atas sana. Bahkan lebih cantik dari seluruh bunga yang ada di dunia ini sekalipun." Ken mengucapkannya dengan serius, tak ada ekspresi bercanda sama sekali.
Blush
Pipi Aira merona seketika. Ia malu dan merasa sudah dibodohi oleh Ken saat menyadari maksud ucapannya barusan. Wanita berpakaian pink fanta itu menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya, tersipu atas godaan yang dilontarkan oleh suaminya. Ia pura-pura meninju perut Ken, kesal tapi merasa gemas juga.
Hal itu tentu saja membuat Ken tersenyum lebar. Ia merasa senang, hatinya menghangat melihat rona yang terlukis di wajah istrinya. Itu adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu.
Cup
"Aishiteru, Ai-chan," bisik Ken setelah mengecup kening istrinya. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah Aira ke dalam dada bidangnya.
"Ayo duduk," ajak pria 28 tahun itu, menarik tangan wanitanya menuju salah satu bangku yang ada di taman. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, masih ada banyak waktu sebelum ia berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" tanya Aira setelah keduanya duduk. Ia sempat melihat Ken menatap jam tangannya.
"Tenang saja. Aku tidak akan terlambat bekerja." Pria itu menarik pinggang Aira, membuat mereka tak lagi berjarak.
Plakk
Aira menepuk lutut suaminya atas sikap posesif yang ditunjukkan oleh ayah dari anak-anaknya ini. Ia hanya bisa tersenyum mendengar keyakinan yang disampaikannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sampai rela melewatkan makan pagi dengan kakek? Beliau pasti marah karena kelakuan cucunya yang tidak tahu diri ini!" Aira menunjuk dada suaminya.
"Biarkan saja. Kakek sedang sibuk bersama anak-anak kita. Mungkin dia juga akan terlambat sarapan."
Aira tersenyum. Ia melihat interaksi kakek Yamazaki dengan Ayame pagi ini, tepat sebelum mereka melangkah keluar dari rumah.
"Sepertinya kakek Yamazaki begitu menyukai Aya. Jangan-jangan dia akan memberikan katana miliknya pada anak itu nanti," seloroh Aira bercanda.
"Bisa jadi. Ibuku pertama kali belajar memanah saat usianya baru dua tahun," ungkap Ken.
"Du... dua tahun? Kakek mengajarkan hal itu bahkan saat dia belum bisa berlari? Yang benar saja!" cetus Aira tak percaya.
"Umm. Aku juga tidak mempercayainya. Tapi tuan Kobayashi tidak pernah berbohong. Bahkan masih ada fotonya jika kamu ingin melihatnya." Ken mengelus puncak lengan istrinya dari samping. Ia tahu wanitanya ini terkejut, terlihat dari senyum yang tiba-tiba memudar dari wajahnya.
Selain perbedaan keyakinan, ia juga takut jika anak-anaknya akan tumbuh dengan sifat yang kasar seperti Ken. Sebelum bertemu dengannya, Yamazaki Kenzo, si Gangster Boy tak segan menyiksa orang yang mengusiknya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Ken saat melihat raut wajah istrinya yang terlihat begitu khawatir. "Ada apa? Katakan padaku." Ken menggenggam jemari istrinya, menangkal hawa dingin yang mulai dirasakannya.
"Apa kakek akan memperlakukan Aya seperti beliau mendidikmu?" tanya Aira cemas. "Dia seorang anak perempuan. Bagaimana mungkin... " Aira bahkan tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya berada di lembah kegelapan seperti yang aku alami. Dia akan mendapat pendidikan yang layak, keluarga yang hangat, sekaligus ilmu bela diri untuk membentenginya dari bahaya."
Aira diam cukup lama. Ia masih terjebak oleh opininya sendiri. Tentu saja kekhawatirannya ini cukup beralasan. Aya dan dua saudaranya, mereka adalah anak kandung Ken, pewaris keluarga Yamazaki yang berikutnya. Itu artinya, ada darah yakuza mengalir di tubuh ketiganya.
"Sayang," panggil Ken lirih. Ia membawa kepala Aira ke dalam dekapan, berniat meredakan kekhawatiran yang sedikit berlebihan ini.
"Inilah yang aku takutkan sejak awal. Ini salah satu alasan utama kenapa aku memintamu menceraikanku saat itu."
Deg
Ken kembali mengingat peristiwa kelam yang menyakitkan untuk Aira. Saat dimana ia mencambuk punggung Aira sampai berdarah-darah. Wanitanya itu bahkan langsung pingsan begitu Naru dan ibu mendekat.
FLASHBACK
__ADS_1
"Aku tidak akan segan membunuhmu sekarang,"
Ctakk
Terdengar suara ikat pinggang yang Ken lecutkan menabrak meja. Ken menggenggamnya erat sambil menatap Aira penuh amarah, "Apa kamu takut?"
"Lakukan yang kamu inginkan," Aira berdiri membelakangi Ken. Perlahan ia membuka kancing piyamanya dan menariknya ke bawah. Membiarkan punggungnya terekspos. Bersiap menerima cambukan ikat pinggang tebal itu.
Seketika Ken ragu. Tangannya semakin erat menggenggam ikat pinggangnya, tapi hati kecilnya tak tega melakukan hal buruk itu pada punggung mungil yang berada di depannya.
"Pria lemah sepertimu hanya bisa menggertak," ucap Aira sambil menatap Ken sekilas, "Jika aku jadi Erina, aku juga akan meninggalkanmu," Aira sengaja memancing kemarahan suaminya.
"DIAM !!" bentak Ken.
Ctarr
Sebuah cambukan mendarat di punggung Aira meninggalkan bekas kemerahan memanjang dari punggung kanan ke pinggang kirinya. Sebulir air mata turun membasahi pipi chubby gadis itu. Nafasnya tercekat, tubuhnya menegang menahan sakit.
Ken terus melakukannya berkali-kali. Melampiaskan amarahnya pada Aira yang tetap berdiri di tempatnya.
"Tarik ucapanmu dan memohonlah, aku akan mengampunimu !!" bentak Ken di sela-sela gerakan tangannya mencambuk Aira.
FLASHBACK END
Ken juga mengingat saat dia berusaha menguasai tubuh istrinya sehari semalam, tanpa memberikan waktu untuk istirahat. Padahal saat itu Aira tengah mengandung bayi mereka beberapa minggu. Dan saat. itu, baik ia maupun Aira, mereka tak mengetahuinya sama sekali.
"Ai-chan, kenapa saat itu kamu begitu inginnya berpisah denganku?"
...****************...
Kosakata bahasa Jepang :
-kawaii : cantik
-aishiteru : aku cinta padamu
...****************...
Akhirnya bisa up juga. Maaf yaa pendek dulu. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1