Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Dia Memang Gila


__ADS_3

"Ayo istirahat. Sekarang hampir tengah malam, besok kita harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Mone. Selain itu kita juga masih menunggu hasil tes pencocokan DNA yang Mone lakukan terhadapmu." ajak Ken.


Aira mengangguk dan menuruti perintah Ken. Ia memeluk pinggang Ken dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Berniat mengistirahatkan jiwa raganya yang masih terasa lelah.


"Oyasumi." ucap Aira lirih.


(Selamat istirahat)


Beberapa detik berlalu tanpa suara saat tiba-tiba Aira kembali membuka matanya. Ia membuat jarak dengan suaminya yang kini menutup mata. Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Takeshi setelah kepergiannya dan Mone.


"Ken.." panggil Aira lirih. Ia meletakkan tangannya di dada bidang suaminya, sedikit mencengkeram piyama tidur suaminya yang terbuat dari kain satin.


"Hmm," jawab Ken menggumam. Ia mulai kehilangan fokusnya dan bersiap masuk ke alam mimpi. Kelopak matanya enggan untuk terbuka, ia benar-benar lelah hari ini.


"Apa yang terjadi pada Takeshi?" tanya Aira langsung tanpa perlu berbelit-belit.


Ken sontak membuka matanya, menatap lurus ke depan ke arah cermin yang menampilkan refleksi dirinya yang tengah memeluk pinggang Aira di dalam selimut.


Kerutan halus terbentuk di dahi Aira, ia heran melihat ekspresi Ken yang seolah berubah menjadi mayat hidup. Tatapan kosong suaminya terasa ganjil, tidak biasanya Ken seperti itu. Ini pertama kalinya Aira mendapati wajah suaminya begitu aneh sejak mereka menikah hampir 8 bulan yang lalu.


"Ada apa?" tanya Aira penasaran. Hatinya tiba-tiba terasa sesak.


"Kita bicarakan besok saja." Ken melepas pelukannya dan berbalik memunggungi istrinya. Pria itu seolah sengaja menghindari Aira. Entah apa yang ingin ia sembunyikan dari istrinya itu.


"Ken.." panggil Aira lagi. Ini keanehan kedua yang ia dapati ada pada suaminya. Pertama kalinya Ken menjaga jarak darinya secara terang-terangan.


Hening


Ken mengunci rapat mulutnya. Ia bahkan memejamkan kelopak matanya, berharap segera masuk ke alam bawah sadar agar tak perlu meladeni pertanyaan istrinya. Namun nyatanya, hatinya justru semakin bergemuruh saat ini. Antara ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya atau menyimpannya rapat-rapat. Dia bisa membayangkan seperti apa respon istrinya jika ia mengatakan fakta mencengangkan itu.


"Aku bisa menanyakannya pada Kosuke." ancam Aira sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya, bersiap turun dari ranjang hitam yang sedari tadi ia tempati.


"Wait." cegah Ken. Ia menahan lengan istrinya, "Aku akan mengatakannya padamu. Tapi berjanjilah kamu tidak akan marah." pinta Ken saat keduanya beradu pandang.


(Tunggu)

__ADS_1


"Ada apa?" Aira semakin bertanya-tanya apa yang akan suaminya ungkapkan.


"Kamu tidak akan marah?" tanya Ken memastikan. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya.


Aira menghela nafas panjang, menambah kadar kesabaran dalam hatinya. Sepertinya apa yang nantinya Ken sampaikan akan membuatnya tidak senang. Jika tidak, kenapa pria lesung pipi itu harus mengkonfirmasi dua kali padanya agar ia tidak marah?


"Baiklah. Aku tidak akan marah." jawab Aira pada akhirnya. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk mengetahui apa yang terjadi di kediaman Takeshi Kaneshiro setelah Minami mengamankannya bersama Mone.


Grep


Ken memeluk Aira setelah keduanya saling berhadapan. Tangan kekarnya memeluk Aira dengan erat, membuat wanita hamil itu sedikit kesulitan bernafas karena hidungnya terperangkap di dada bidang suaminya.


"Ada apa?" tanya Aira setelah Ken mengurai dekapannya, "Apa terjadi hal buruk pada orang itu?"


Ken menganggukkan kepalanya, "Takeshi sudah tiada."


Aira menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan. Ketakutannya menjadi nyata. Aira melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa bulat keinginan Shun untuk memusnahkan pria 47 tahun itu. Dendam dari masa lalu membuat matanya berkilat tajam.


"Bagaimana dengan Anna? Apa dia baik-baik saja?" tanya Aira khawatir. Perasaan tidak nyaman seketika merambat ke hatinya, sepertinya bukan hal yang baik untuk ia dengar.


Deg


Jantung Aira seolah berhenti memompa darah selama satu detakan. Hatinya teriris mendengar penuturan Ken. Sebulir air mata luruh di pipinya tanpa ia minta. Dan disusul oleh bulir-bulir lain yang terjun bebas ke bawah. Tubuhnya bergetar hebat mendengar kenyataan tak mengenakkan itu.


Bayangan senyum manis Anna dan belaian lembut tangan wanita Rusia itu, tak bisa Aira lupakan. Juga elusan penuh cinta pada perutnya yang masih rata malam sebelumnya. Dia tidak bersalah. Seharusnya ia membawanya juga dari kediaman Takeshi, bukan hanya mengamankan Mone.


Dan tangis Aira tak bisa terbendung lagi. Ia menundukkan kepalanya, hampir menyatu dengan seprei yang membungkus kasur segi empat ini. Ia menangis tanpa suara sambil mengepalkan tangan. Ini semua salahnya yang melupakan ibu angkat Mone. Seharusnya ia ikut memperhatikan keselamatannya.


Punggung mungil di depan Ken bergetar dengan isak tangis menyedihkan, membuat pria itu semakin merasa bersalah. Itulah kenapa ia tidak ingin menyampaikan hal ini, pasti akan membuat istrinya bersedih.


"Gomen.." ucap Ken membawa istrinya dalam rengkuhan kedua tangannya. Ia tidak peduli pada pukulan Aira di dadanya, ia hanya ingin menenangkan istrinya.


"Naze?" tanya Aira dengan suara bergetar. Ia tidak bisa menahan kesedihan di hatinya, terasa sakit seperti sebuah anak panah menancap begitu dalam di sana.


(Kenapa?)

__ADS_1


"Maaf..." ucap Ken untuk kedua kalinya. Ia tahu ini begitu menyakitkan untuk istrinya. Ia juga tidak ingin hal ini terjadi, tapi kenyataannya semua sudah berakhir. Ia tidak bisa mencegahnya sama sekali.


Tangisan itu terdengar begitu menyayat hati. Aira kehilangan orang baik yang tidak bersalah, membuat sebuah lubang tak kasat mata. Perasaan bersalah itu menggerogoti hati nuraninya. Dan ini semua karena kelalaiannya yang tidak memasukkan wanita itu dalam daftar putih. Wanita tidak bersalah itu menjadi korban rencananya. Apa Tuhan akan menghukumnya karena hal ini?


Pukulan Aira mulai mengendur, ia tidak memiliki kekuatan lagi. Rasanya semua persendian di tubuhnya melemah, menghilang bersama keberadaan Anna. Bagaimana ia bisa menghadapi Mone? Apa gadis itu akan membencinya?


"Ai-chan, ini bukan kesalahanmu." Ken membelai surai hitam panjang Aira, berharap bisa sedikit menenangkan kesedihan yang mendera istrinya.


Aira melepas dekapan suaminya, ia meremas piyama berwarna navy yang Ken pakai dengan erat, "Apa yang akan kita katakan pada Mone?" tanya Aira lemah. Wajahnya sembab dengan mata memerah. Air mata di pipinya terus saja meluncur bebas tanpa bisa ia bendung.


Ken terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Aira. Kenyataan itu juga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia tahu Aira pasti akan sangat bersedih, mengingat betapa antusiasnya Aira bercerita setelah bertemu dengan Anna. Dan Ken juga melihat sendiri betapa Anna memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Satu orang tidak bersalah menjadi korban kebrutalan orang-orang di dunia gelapnya. Itu juga yang membuatnya khawatir dengan masa depan anak-anaknya, dan tentunya masa depan Aira. Malaikat maut mengintai mereka setiap saat.


...****************...


Mentari pagi agaknya masih nyaman bersembunyi di balik awan meski waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Kabut yang menyelimuti daerah pegunungan ini membuat suasana semakin dingin, sedingin interaksi yang terjadi di meja makan pagi ini.


Seorang asisten rumah tangga dengan pakaian khasnya menyajikan makanan di atas meja, potongan daging panggang yang masih mengepulkan asap. Menandakan makanan sarat protein itu masih panas. Hidangan yang cocok dikonsumsi saat puncak musim dingin seperti sekarang.


"Selamat menikmati." ucap seorang wanita sopan sambil menundukkan kepala. Ia dan dua rekannya kembali ke belakang setelah menyelesaikan tugasnya. Wajah mereka sama seperti wanita Rusia lainnya, cantik. Dan hal itu mengingatkan Aira pada Anna.


Sebulir air mata jatuh dalam diam, membuat Aira segera menghapusnya dengan kasar sebelum ada orang lain yang melihatnya. Ken yang sadar akan hal itu segera menggenggam jemari istrinya yang tersembunyi di bawah meja. Netra keduanya beradu pandang, saling menguatkan seiring genggaman Ken yang semakin erat.


Aira menatap Mone yang tengah menikmati makanan di depannya. Ia menangkap basah Shun yang sedang memenjara gadis itu dengan pandangan bahagianya.


'Dia memang gila.' batin Aira.


...****************...


Kurang banyak? Iya author juga kurang puas sebenernya, tapi apa daya masih banyak kerjaan di dunia nyata. Jadi segini aja dulu yaa gaess 😢😭😭😭


Please like, vote and comment yaa biar author tahu masih ada yang peduli sama author yang kejam ini 😖


Beneran pengen nangis author ini. Shun emang gila 😣😣


Gomen yaa 🙏

__ADS_1


Hanazawa easzy 💔


__ADS_2