
Klik like dulu yaa kak, jangan cuma jadi ghost reader, udah baca trus ngilang gitu aja. Kaya dia 😂
...****************...
Ken menceritakan semua peristiwa yang terjadi hari ini pada Aira, termasuk kesepakatannya dengan G dalam pengelolaan Circle K. Miracle akan mengakuisisi perusahaan kimia itu dan menyerahkan pengelolaannya pada Kwon Ji Yong.
Kekhawatiran yang sebelumnya mendera Aira, kini semua terkikis oleh penjelasan suaminya. Ia lega karena Ken bisa menangani masalah yang cukup pelik ini, bahkan berhasil memberikan nyonya Hanako 'pelajaran berharga'.
Ken menggandeng Aira berjalan menuju ruang makan di bangunan utama rumah ini. Langkah keduanya terpaksa berhenti kala mendapati Yamaken yang tampak terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Ken saat melihat noda darah pada kemeja putih yang dipakai adik kembarnya.
Yamaken mengangkat kepalanya sekilas, menatap Ken dengan pandangan kosong, "Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
Yamaken berusaha pergi, menjauh dari pasangan suami istri yang pasti akan menuntut penjelasan darinya tentang apa yang terjadi.
Srett
Ken menahan lengan adiknya, "Katakan siapa yang sudah membuatmu seperti ini?!" geram Ken dengan emosi tertahan, terlihat dari urat lehernya yang menonjol. Giginya mengerat, dia bertekad akan memberikan pelajaran pada orang yang sudah membuat adiknya terluka.
"Tidak ada. Aku hanya mimisan." Yamaken berusaha mengelak, ia menepis tangan Ken yang mencengkeram bahunya dengan sangat erat.
"Mimisan? Apa aku sebodoh itu?" Ken memperhatikan hidung adiknya yang sedikit bengkak. "Siapa yang memukulmu?" tanya Ken tajam.
Yamaken menutup mulutnya rapat-rapat, enggan mengungkapkan apapun pada siapapun. Semua yang terjadi padanya adalah kesalahannya sendiri, tidak ada yang harus bertanggung jawab untuk kejadian tak terduga ini.
Aira meraih lengan suaminya, "Ken, tenangkan dirimu. Sebaiknya panggil dokter untuk memeriksa kondisi Yamaken lebih dulu."
"Huh! Cepat panggil dokter kemari!" perintah Ken pada pelayan yang sudah menyela aktivitas pribadinya dengan Aira tadi.
Yamaken masuk ke dalam kamarnya diikuti Ken dan Aira. Seorang dokter masuk bersama tuan Kobayashi, kepala pengurus rumah ini. Pria dengan jas berwarna putih itu segera memeriksa Yamaken dengan teliti.
"Apa dia baik-baik saja, Dok?" tanya Aira sembari mendekat ke arah pria lima puluh tahunan itu yang sedang mengambil beberapa lembar obat dari tas yang dibawanya.
"Anda tidak perlu khawatir, kondisi Tuan Muda semuanya baik. Mimisan merupakan cedera hidung yang paling umum terjadi. Hal itu disebabkan karena hidung memiliki banyak pembuluh tipis sehingga sangat mudah pecah jika terkena pukulan atau tekanan. Selain berdarah, hidung dapat membengkak dan memar. Pembengkakan biasanya akan hilang dalam waktu 4 atau 5 hari," jelasnya sambil membereskan peralatan tempurnya.
"Syukurlah," cetus Aira lega. Tadinya ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada adik iparnya.
"Sebaiknya kompres dengan air dingin untuk meredakan pembengkakan, lalu diamkan selama 20 menit, jangan lebih. Saya memberikan obat pereda nyeri acetaminophen agar rasa tidak nyaman di hidung Tuan Muda sedikit berkurang."
"Terima kasih, Dok. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda." Aira tersenyum lega. Dokter senior itu berpamitan dan pergi bersama tuan Kobayashi.
"Katakan apa yang terjadi!" Ken berdiri dengan tangan bersedekap, menatap adiknya yang tengah mengambil pakaian dari lemari kayu di depannya.
__ADS_1
"Tidak perlu mengkhawatirkanku." Yamaken berlalu masuk ke kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian. Dia duduk di atas ranjang dengan wajah sayu, seolah baru saja patah hati.
"Minumlah," Aira menyodorkan sebutir obat anti nyeri pada pria yang memakai kaus putih lengan pendek di depannya.
Yamaken menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan, seperti ingin menceritakan sesuatu tapi sulit untuk mengucapkannya. Dia mengambil obat itu dan segera menelannya dengan dibantu segelas air putih. Dia kembali menatap Aira, mulutnya terbuka hendak mengucapkan terima kasih, tapi ia urungkan. Mulutnya kembali terkatup rapat.
"Ada apa dengan wajahmu? Berhenti menatap istriku seperti itu!" Ken berdiri di depan Aira, menyembunyikan istrinya dari adiknya sendiri.
"Ken," Aira justru menarik lengan suaminya agar pria itu menatapnya. "Bisa keluar sebentar?"
Mata Ken membola, tidak mengerti permintaan istrinya. Keningnya berkerut dalam, bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan oleh istrinya.
"Sebentar saja, please." Aira memohon sambil menarik suaminya menuju pintu, "Tunggu di luar yaa. Anak manis." Aira mencubit pipi suaminya, membuat kerutan di dahinya menghilang seketika dan berganti dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Ehm, lima menit. Tidak lebih!" Ken menetralkan wajahnya, menutupi bunga-bunga yang bermekaran di hatinya. Entah kenapa ia selalu bisa luluh oleh bujukan istrinya itu. Mungkin benar apa yang Shun katakan, ia sudah menjadi budak cinta istrinya.
"Umm. Jangan menguping ya." Aira mengerlingkan sebelah matanya sebelum menutup pintu geser itu ke samping, menjadikannya penghalang dari pandangan suaminya.
Aira mendekat dan duduk di sebuah kursi yang ada di samping tempat tidur Yamaken.
"Arigatou," ucap Yamaken lirih. Ia memandang kakak iparnya setelah mengembuskan napas kasar, seolah ada beban berat yang mendera batinnya.
(Terima kasih)
Yamaken menatap tangan Aira yang tengah mengelus perut besarnya, membuatnya merasa tak enak hati untuk mengatakan masalahnya, takut akan membuat kakak iparnya merasa terbebani. Samar-samar ia lihat pergerakan halus dari para keponakannya. Hal itu membuat bibirnya sedikit terangkat ke atas, ikut bahagia saat mengingat sebentar lagi akan mendengar suara tangis dari para jagoan kakaknya.
"Kamu tersenyum?" Aira menggerakkan tangannya di depan Yamaken.
"Apa aku boleh memegangnya?" tanya Yamaken ragu.
"Jangan sentuh istriku! Aku akan memotong tanganmu jika melanggarnya!" teriak Ken dari balik pintu.
Hal itu membuat Yamaken terhenyak. Ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Kakaknya semakin posesif pada istrinya, masih sama seperti saat bersama mendiang Erina dulu.
"Dia masih tetap sama seperti dulu," gumam Yamaken lirih.
"Tidak mudah merubah sifat seseorang. Ah, omong-omong, apa yang ingin kamu katakan padaku tadi?"
Wajah Yamaken berubah tegang dan kembali terlihat sedih mendengar pertanyaan dari Aira. Hatinya terasa sakit lagi, seolah belati tajam menghunjam tepat di jantungnya. Ia ingin mengungkapkan penyesalannya.
"Kamu bisa menceritakannya padaku jika berkenan."
__ADS_1
"Mone menolakku," tukasnya lirih namun masih bisa tertangkap indera pendengaran wanita hamil ini.
"Eh? Jadi lukamu ini ..." Aira terkejut saat mengetahui luka itu adalah hadiah dari Mone.
"Umm. Aku sudah melewati batas."
Aira menahan napasnya, menyiapkan hatinya untuk mendengar kalimat berikutnya dari Yamaken.
"Aku mengajaknya melihat matahari tenggelam di pantai. Ku pikir dia bisa membuka hatinya untukku karena dia tidak menolak saat aku memeluk lengannya. Jadi aku berniat menciumnya. Tapi dia justru menghantam kepalaku dengan keras. Aku memang pantas mendapatkannya. Siapa suruh aku tidak tahu diri," ungkap Yamaken dengan penuh penyesalan.
Aira menatap adik iparnya dengan iba. Ia mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Yamaken dengan sayang.
"Tidak apa-apa. Dia memang sedikit keras kepala. Kamu bisa mulai mendekatinya dengan perlahan, jangan terburu-buru. Nanti aku akan berbicara padanya," ucap Aira menenangkan pria patah hati ini.
"Kakak tidak marah padaku?" Yamaken menatap Aira tepat di matanya. Ia seperti kelinci kecil yang butuh tempat berlindung.
"Kenapa harus marah? Semua orang berhak menyukai siapa saja dalam hidupnya. Termasuk kamu,"
Yamaken tersenyum canggung.
"Sekarang kamu harus fokus untuk kesembuhan lukamu. Jika berjodoh, maka kalian pasti akan bersama meskipun tampaknya tidak mungkin. Jika bukan takdirmu, maka kamu harus merelakannya. Entah seberapa besar usahamu, kalian tidak akan bisa bersatu. Biarkan semesta berbicara, ia akan menuntun jalan kalian ke tempat terbaiknya." Aira tersenyum memberikan petuahnya.
Tok tok tok
"Waktunya habis!" teriak Ken dari luar membuat Aira beranjak bangun dari duduknya.
"Ayo keluar. Waktunya makan malam."
Aira keluar dari kamar Yamaken dan mendapati suaminya dengan wajah tertekuk.
"Ada apa dengan wajahmu? Apa kamu cemburu pada adikmu sendiri? Yang benar saja." cetus Yamaken sembari berjalan melewati saudara kembarnya.
"Siapa yang cemburu?" Ken menangkap lengan istrinya, "Sayang, aku lapar."
"Menggelikan," cibir Yamaken mendengar ucapan Ken yang tengah merajuk pada istrinya.
"Diam!" hardik Ken. Ia kesal karena Yamaken terus saja mengganggunya.
"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi. Ayo makan," ajak Aira menengahi pertikaian dua tuan muda klan Yamazaki ini. Ketiganya berjalan menuju ruang makan dimana anggota keluarga lainnya sudah menunggu.
...****************...
Lucu kalo abang Ken cemburu, hihihi 😄😄
__ADS_1
Jaa,
Hanazawa Easzy 💙