
PRANG
DUKK
BRAKK
Suara gaduh terdengar dari ruang kerja Yamazaki Kenzo, membuat semua pelayan di rumah ini berkumpul. Mereka takut tuannya murka karena ketidakbecusan para maid ini menjalankan tugas.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Mone pada salah satu asiten rumah tangga di rumah ini. Dia baru saja keluar dari kamar dan tampak segar dengan wajah yang lebih cerah. Gadis ini terlihat lebih baik dari sebelumnya, terbukti dari bahasa verbal yang mulai keluar dari mulutnya.
"Tidak tahu, Nona. Begitu keluar dari kamar anak-anak, Tuan langsung masuk ke ruang kerjanya. Mungkin dia sedang marah."
Mone hanya bisa mengerutkan keningnya, merasa heran dengan temperamen kakak iparnya. Sudah cukup lama dia tidak melihat ayah tiga anak itu menggila.
Aira menuruni anak tangga satu per satu dengan wajah tenang, seolah tidak mendengar suara gaduh akibat benturan berbagai benda yang berasal dari ruangan tempat suaminya berada.
"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Aira pada lima asisten rumah tangga yang berdiri berjajar di sebelah Mone. Dua asisten lainnya tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka di dapur.
Semua wanita itu segera menundukkan kepala sebelum pergi, membubarkan diri. Tersisa Mone seorang yang masih menatap kakak sepupunya dengan pandangan aneh.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Aira sembari mengelus puncak kepala adiknya. Dia ikut senang melihat tingkat depresi gadis ini berkurang banyak, tergambar jelas di wajahnya.
"Umm." Mone mengangguk. Dia menyambut uluran tangan Aira. Keduanya duduk di ruang tengah, menghadap televisi layar datar yang tampak menghitam karena tak dinyalakan.
"Ah, aku akan ambil minum dulu." Aira beranjak bangun, berniat menyajikan berbagai potongan buah dengan bumbu sambal kacang ini untuk adiknya. Tak lupa dia harus mengambil air putih, antisipasi saat Mone merasa kepedasan nanti.
"Kak," panggil Mone lirih. Dia menarik ujung baju Aira, membuatnya berbalik, kembali menghadap Mone.
"Eh, ada apa?" tanya Aira spontan.
"Apa kalian bertengkar?" Mone melirik ruang kerja Ken, tempat berbagai suara gaduh berasal.
PYARR
Tepat saat Mone bertanya, terdengar benda keramik yang hancur menghantam atau dihantam sesuatu. Cekalan tangan Mone semakin erat, dia benar-benar khawatir pada hubungan Ken dan Aira.
__ADS_1
Wanita berjilbab pasmina itu tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Tidak. Hubungan kami baik-baik saja."
"Tapi, kakak ipar?"
Lagi-lagi Aira tersenyum, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Tak ada sedikit pun raut khawatir atau takut yang terpancar di wajahnya. Dia benar-benar membuat Mone kebingungan.
"Biarkan saja. Nanti juga akan mereda." Aira melepas tangan Mone dari bajunya. "Tunggu sebentar, aku ambil minuman dulu. Nanti kita berbincang, ya."
Mone hanya bisa menatap punggung kakak sepupunya menjauh, membuka salah satu rak yang ada di belakang dua asisten rumah tangga itu.
"Nyonya, semua ini makanan laut. Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda inginkan untuk makan malam nanti?" tanya salah satu wanita yang berkutat di dapur. Apron hitam melekat di depan badannya yang sedikit berisi. Dia paham bahwa majikannya ini alergi makanan laut.
"Mmm...." Aira mengedarkan pandangan ke sekitar, menyapu seluruh meja yang penuh oleh bahan masakan yang Mone bawa sebelumnya.
"Tolong buatkan spaghetti carbonara. Itu saja sudah cukup untukku." Aira selalu membiasakan diri memakai kata 'tolong' meski berbicara pada asisten yang notabene-nya lebih rendah posisinya di rumah ini. Toh, Aira menganggap semuanya sederajat. Ia dan semua asisten di rumah ini sama, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.
"Baik, Nyonya."
Aira kembali mendekat ke arah Mone. Mereka berbagi kursi yang sama dan mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Rasa asam, manis, asin, dan pedas mulai menyambangi lidah mereka berdua.
Puk puk
"Pelan-pelan saja." Aira menepuk punggung adik sepupunya sambil tersenyum.
"Uhukk uhukk."
"Minumlah." Aira memberikan segelas air putih saat melihat Mone sedikit lebih tenang.
Gluk gluk
Air tanpa warna itu tandas hingga tetes terakhir dalam waktu kurang dari satu menit.
"Pedass!! Apa ini?" tanya Mone sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut. Rasa terbakar merajai lidahnya. Dia tidak terbiasa makan makanan pedas seperti ini.
__ADS_1
"Ini obat stres paling ampuh."
"HAH?" Mone kembali meneguk segelas air putih yang kakaknya berikan.
Aira mengambil sepotong buah yang ada di dalam wadah transparan dan menyuapkannya pada Mone. Wanita ini sengaja meminta Ken membelikan rujak buah untuk Mone.
Tak diragukan lagi, makanan pedas memang berfungsi sebagai moodbooster karena dapat menimbulkan hormon endorphin dan senyawa dopamin. Tapi tidak semua makanan pedas itu sehat. Oleh karena itu, Aira sengaja memilih rujak buah dibandingkan makanan yang lain.
Rujak buah atau dalam bahasa sunda dikenal dengan petis, termasuk makanan yang menyegarkan. Rasanya yang pedas, asam sangat nikmat disantap kapan pun. Apa lagi ketika seseorang sedang stres atau merasa kecemasan berlebih seperti yang Mone rasakan saat ini.
"Enak, 'kan?" tanya Aira setelah potongan nanas itu masuk dan mulai Mone kunyah di dalam mulutnya.
"Umm." Mone berkutat dengan makanan di depannya, mengabaikan Aira di sampingnya.
Aira tersenyum. Berdasarkan penelitian, dikatakan bahwa hormon endorphin mampu menghalangi saraf bekerja mengirimkan rasa sakit ke otak, sehingga bisa disebut sebagai penghilang rasa sakit yang alami. Seperti yang disebutkan di awal, senyawa dopamin dalam saraf yang berkaitan dengan perasaan nyaman juga dilepaskan. Dan itu terbukti sekarang. Mone terlihat membaik psikisnya, melupakan pertentangan diri yang ia alami sebelumnya.
Makanan pedas memang bukan hanya rujak, tetapi rujak buah ini tergolong cemilan sehat penghilang stress yang baik dimakan kapan saja. Satu porsi atau satu piring rujak buah memiliki jumlah total 228 kalori.
Dari total kalori yang terkandung pada rujak buah terdapat 15,5 gram lemak, 14,5 karbohidrat dan 7,6 protein. Adapun rincian prosentase kalori rujak buah adalah 61% lemak, 25% karbohidrat dan 13%nya adalah protein. Dengan jumlah ini, tidak akan membuat seseorang gemuk meski makan berkali-kali.
Selain itu, makanan ini mengandung vitamin yang sangat baik dalam memperlancar pencernaan. Dengan mengonsumsi rujak buah, bisa membantu mengurangi perut buncit akibat sering makan di malam hari, lebih dari jam tujuh malam.
Makan rujak buah ternyata juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung. Alasannya, cabai dapat mengurangi efek merusak dari kolesterol jahat dan capsaicin memiliki efek anti-inflamasi.
Gula merah yang digunakan dalam bumbu rujak dapat pula memberikan manfaat yang tak sedikit, yaitu membuat tubuh berenergi karena mengandung zat fitonutrien. Kesimpulannya, makan rujak buah merupakan salah satu cara hidup sehat penghilang stres yang menyenangkan dan sekaligus bisa memanjakan lidah.
BRAKK
Mone hampir tersedak lagi saat mendengar suara pintu dibanting. Tampak Ken berdiri di hadapan mereka, menatapnya dan Aira yang tengah duduk santai di kursi empuk.
"Kakak ipar, kamu mau ini?" tawar Mone tanpa takut sama sekali.
...****************...
Si Abang murka. Kenapa ya kira-kira? Gimana emak triplet baikin mood suaminya? Tunggu episode berikutnya yaa.
__ADS_1
Jangan lupa tap jempolnya, comment, share, dkk. See you,
Hanazawa Easzy