Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Awkward Moment


__ADS_3

Aira mengantarkan lunch box untuk Ken di kantor dan berakhir dengan kesalahpahaman resepsionis yang menganggapnya pekerja dari layanan pesan antar makanan. Hal itu membuat Ken naik pitam dan meminta Kosuke mengurus pemberhentian dua karyawannya. Ia berlari mencari Aira dengan panik.


"Ai-chan..." lirihnya khawatir.


Ken datang dari arah belakang dan melihat wanita yang dicarinya sedang memejamkan mata sambil tersenyum. Seolah ini adalah salju pertama untuknya.


Cup


Ken mendaratkan bibirnya pada Aira dan berhasil membuat wanita 25 tahun itu terkesiap. Ia membuka matanya dan kehilangan keseimbangan. Aira hampir terjatuh ke belakang jika Ken tidak segera menangkap tubuhnya.


"Apa aku mengejutkanmu, sayang?" bisiknya dengan suara yang membuat bulu kuduk Aira meremang.


Seketika Aira bangkit dan berbalik menatap Ken yang berdiri di depannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Aira masih dengan keterkejutannya dan Ken setia menanti penjelasan istrinya yang tiba-tiba berperan menjadi pekerja pesan antar makanan.


Keduanya hanya terhalang kursi besi tempat Aira duduk sebelumnya. Tatapan Ken mengunci istrinya tanpa berkedip, membuat wanita hamil itu tak bisa bergerak. Seolah ada kekuatan magis yang memenjarakan tubuh, atau memaksa kedua kakinya tetap berpijak pada tanah di bawahnya. Ya, Aira tidak bisa berpindah seinchi pun saat ini.


"Siapa yang memberikan kejutan untuk siapa?" tanya Ken kemudian membuat Aira menelan ludahnya. Senyum canggung terlukis di bibirnya tanpa bisa ia cegah.


Hap


Ken melompat melewati kursi besi di depannya demi mengikis jarak yang ada. Ia meraih tubuh mungil istrinya dan memeluknya saat itu juga. Menepis segala kekhawatiran yang sebelumnya melanda hatinya saat tak mendapati Aira dimanapun. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, tapi yang ia dapatkan justru Aira tengah menikmati 'mandi salju'nya.


Perasaan khawatir, takut, senang, marah, kesal, bahagia bercampur menjadi satu saat ini. Membuat pria lesung pipi itu semakin mengetatkan pelukannya.


"Ken..." panggil Aira lirih. Ia tahu Ken tidak akan melepaskannya sebelum perasaan suaminya itu kembali stabil dan merasa tenang.


"Aku kesulitan bernafas." ucap Aira saat ia mulai merasa sesak di dada.


Sebuah hembusan lega keluar dari mulut Ken, membuatnya bisa bernafas normal seperti biasanya. Ia berniat melepaskan pelukan istrinya saat indera penciumannya merasakan sesuatu yang berbeda dari istrinya. Ken mencium bahu istrinya, ada aroma parfum pria disana. Dan itu seperti parfum milik Shun, membuat kening Ken berkerut.


"Ken, jangan disini. Malu." Aira mengurai pelukan suaminya. Ia berpikir Ken sedang menggodanya, tidak tahu bahwa suaminya itu sedang membauinya. Berbagai prasangka buruk seketika menghujani pemikiran Ken, membuatnya marah. Rahangnya mengeras dan mencengkeram kedua lengan Aira erat-erat.


"Jangan sembunyikan apapun dariku!" ucapnya lirih namun penuh nada ancaman.


"Ada apa?" Aira tidak mengerti apa yang membuat suaminya marah. Ia merasa tidak melakukan sesuatu di belakang Ken, "Aku tidak menyembunyikan apapun darimu."


Ken meraup wajahnya dengan kasar. Ia menyapu pandang ke sekeliling, berharap kemarahannya mereda. Tapi kenyataannya nihil, ia tidak bisa menghentikan hatinya yang bergemuruh seperti ombak tsunami yang siap menghantam apa saja di depannya.


"Aku memberimu satu kesempatan lagi. Katakan sejujurnya atau aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya!" nada ancaman jelas terdengar dari perkataan Ken, membuat Aira harus memutar otaknya. Ia benar-benar tidak tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Apa yang membuatnya marah?


"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu, tapi mereka tidak mengenaliku. Jadi, aku meminta..."


"Ai-channn..." potong Ken dengan geraman tertahan. Wajahnya memerah, entah itu karena marah atau karena udara dingin yang semakin menyerang tubuh keduanya yang terpisah sehasta.


"Bayi kita sehat. Dokter bilang..." kata-kata Aira kembali terhenti saat Ken melepaskan cengkeraman dari lengannya dan berbalik.

__ADS_1


"AAAGGHH!!" Ken berteriak frustasi. Ia menyugar rambutnya serampangan, membuatnya berantakan di bagian atasnya.


"Ken.. Aku... Kenapa kamu marah?" Aira memberanikan diri bertanya. Alih-alih memberikan penjelasan yang tidak diinginkan Ken, bukankah lebih baik bertanya langsung duduk masalahnya? Apa yang membuat Ken marah padanya, Aira berhak tahu itu.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ken mendekati Aira dan melepas kancing paling atas baju hangat istrinya.


"Ken?!" Aira menahan jemari Ken yang bersiap melepas kancing berikutnya.


Ken menepis tangan Aira dan melanjutkan aktivitasnya membuka dua kancing di bawahnya. Tersisa tiga kancing lagi dari enam biji bulat hijau yang senada dengan warna kainnya. Aira tak habis pikir tentang apa yang sedang suaminya itu lakukan.


"KENN!!" Aira sedikit berteriak karena Ken tetap melanjutkan aktivitas tak masuk akalnya, membuat Aira kesal.


Srakk


Ken menarik paksa palto hijau lumut istrinya membuat dua kancing paling bawah terlepas dan terlempar ke sisi badan Aira. Bulatan itu tergeletak di atas salju membuat perpaduan warna yang kontras dan menarik atensi Aira.


Aira mengetatkan tangannya untuk menutup baju hangat yang dipakainya. Kekesalan Ken memuncak, ia benar-benar marah sekarang. Ia menatap Aira yang tengah menunduk.


"Lepaskan bajumu!" perintah Ken sambil berkacak pinggang.


"Apa kamu gila?" Aira menatap kanan kirinya sebagai respon atas perintah suaminya. Bagaimana mungkin ia menuruti permintaan tak masuk akal itu. Melepas baju hangatnya di bawah rintik salju yang semakin deras? Yang benar saja.


Detik berikutnya Ken melepas palto Aira tanpa perlawanan berarti. Ya, tenaga seorang pria tentunya tidak bisa dibandingkan dengan tenaga wanita, terlebih sedang hamil


"Aku tidak ingin ada aroma lain di tubuh istriku, bahkan di bajunya sekalipun." Ken membuang pakaian berbahan kain wol itu ke tanah dan menggantinya dengan jas yang ia lepas dari badannya sendiri.


Tanpa menunggu waktu lama, Ken menggenggam jemari istrinya dan sedikit menariknya untuk masuk ke dalam gedung. Aira agak berlari mengikuti langkah lebar Ken. Ia tersenyum menyadari kecemburuan suaminya hanya karena mencium parfum pria lain di bajunya. Ini benar-benar menggemaskan.


"Aku membantingnya." ucap Aira tepat saat kakinya menapak di anak tangga teratas, membuat langkah kaki Ken terhenti. Pria lesung pipi itu menolehkan wajahnya ke samping dengan pandangan heran.


'Apa yang barusan ia katakan?' batin Ken bertanya-tanya.


"Dia menarik tanganku tiba-tiba saat di rumah sakit. Jadi, aku membantingnya ke lantai." jelas Aira dan berhasil membuat Ken berbalik. Pria itu menatapnya penuh selidik.


"Dia memintaku membawa Mone-chan ke hadapannya dan akan memberikan antivenom buatannya sebagai imbalan. Ia menatapku dengan pandangan mengerikan membuatku terpaksa membantingnya ke lantai." jelas Aira takut-takut. Ia khawatir Ken akan marah padanya karena bertindak bar-bar.


Ken melepaskan cengkeraman tangannya di jemari Aira dan menengadahkan kepalanya ke atas. Ia tak habis pikir dari mana keberanian istrinya itu berasal? Dari segi fisik, jelas perbedaan antara Aira dan Shun cukup jauh.


Bagaimana mungkin Aira yang mungil berhasil membantingnya? Atau Shun yang sengaja melentingkan badannya agar beban Aira berkurang? Tapi kenapa? Kenapa seniornya itu bertindak bodoh dan rela menyakiti badannya sendiri?


Ken menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia mengenyahkan berbagai pikiran yang mengganggunya. Yang terpenting, Aira baik-baik saja sekarang. Ia mengulurkan tangannya ke depan, membuat Aira menutup matanya.


Puk puk


Ken menepuk puncak kepala istrinya dengan sayang membuat Aira perlahan membuka kelopak matanya. Ia pikir Ken marah, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

__ADS_1


"Jangan bertindak sendiri. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu. Aku mengkhawatirkan kalian." ucap Ken menatap manik coklat di depannya.


Aira mengangguk mengiyakan. Ia sudah hafal dengan tabiat suaminya. Saat jiwa otoriternya muncul seperti sekarang, Aira hanya cukup menganggukkan kepalanya tanda patuh. Jika tidak, entah apa yang akan suaminya lakukan selanjutnya.


"Seharusnya katakan itu sejak awal. Kamu cemburu hanya karena parfum di bajuku." goda Aira saat keduanya mulai berjalan bersisian.


"Apa yang kamu katakan? Cemburu? Siapa yang cemburu?" ketus Ken semakin mempererat genggamannya pada jemari Aira.


"Ah, tidak perlu menyangkalnya. Kamu memang cemburu." tangan Aira yang terbebas menarik lengan kemeja yang dipakai suaminya. Senyum lebar terukir di wajah bulatnya, sedangkan Ken semakin mempercepat langkahnya.


Awkward moment itu disaksikan oleh dua orang resepsionis yang masih berdiri canggung di belakang Kosuke. Baru pertama kalinya mereka melihat sisi lain Ken, menandakan wanita pesan antar itu sangat dicintai oleh wakil direktur. Ah, sungguh kesalahan yang tak termaafkan.


*awkward : canggung


"Aku akan berbicara pada Nona. Kalian tunggu di sini." ucap Kosuke menghadang Ken dan Aira.


Ken masih saja membuang mukanya, menolak menatap Aira yang terus saja menggodanya dengan celoteh ringan dari mulutnya.


"Ayolah mengaku saja.." ucap Aira semakin mendekatkan badannya pada Ken.


"Maaf Nona, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda." cegat Kosuke membuat langkah Ken dan Aira terhenti seketika.


"Ya?" jawab Aira spontan.


Ken menatap asistennya itu dengan pandangan tidak suka. Apa haknya mengganggu kebersamaannya dan Aira?


"Tuan muda meminta saya mengurus..."


"Kamu ingin mengadu pada istriku?" Ken memotong ucapan Kosuke. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Mohon maafkan saya." Kosuke menunduk dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "Tapi saya tetap harus mengatakannya pada Nona."


"Tidak perlu mendengarkannya. Aku lapar." Ken menarik tangan Aira menjauh dari Kosuke.


"Kita bicarakan ini nanti." jawab Aira pada Kosuke.


"Tapi Nona..." suara Kosuke terhenti karena Ken dan Aira telah mengilang ditelan lift yang membawa mereka ke lantai atas.


*******


Hwehehehehee..... Author pengin salto guling-guling rasanya 😂😂


See you next day..


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2