Gangster Boy

Gangster Boy
Chotto No Ma (Sekejap Saja)


__ADS_3

Ken heran dengan perubahan sikap Aira yang tiba-tiba menjadi manja. Ia merajuk hanya karena permintaannya untuk makan ramen ditolak oleh Ken. Ibu bilang emosi wanita hamil seringkali tidak stabil, apalagi di trimester pertamanya.


"Mau masak bersama?" tanya Ken lembut. Matanya berbinar menatap istrinya yang masih memasang wajah cemberut.


"Tawaranku hanya berlaku 5 menit." goda Ken saat melihat istrinya tak bergeming.


Aira berjalan mendahului Ken, wajah cemberutnya perlahan berganti dengan senyum. Ken menyusulnya, meraih jemari mungil di sampingnya dan berjalan bersisian menuju dapur.


"Yakin mau ramen?" tanya Ken sembari menatap wajah ayu istrinya dari samping. Ia tidak pernah melihat Aira makan ramen sejak datang ke Jepang.


"Ya. Apa ada jamur enoki juga? Aku mau."


"Ada. Itu makanan kesukaanku. Ibu selalu masak jamur enoki saat aku pulang."


Keduanya sampai di dapur. Ken memakaikan apron berwarna hitam pada istrinya. Ia mengikatnya sambil tersenyum, hatinya buncah oleh rasa bahagia. Betapa ia sangat bersyukur karena Aira mau memaafkan dan menerimanya kembali.


Tanpa menunggu waktu lama, Ken memeluk Aira yang tengah membenahi jilbabnya. Ia mengalungkan tangannya di depan leher Aira, memeluknya dari belakang. Membuat gadis 25 tahun itu terpaku di tempatnya.


Ini bukan pertama kalinya Ken memeluknya dari belakang, tapi entah kenapa Aira merasa sangat bahagia sekarang.


"Arigatou, Ai-chan.." Ken menyembunyikan wajahnya di belakang leher Aira yang tertutup jilbab. Mencium aroma lemon yang menguar dari sana. Selain aroma lavender, Aira juga suka lemon.


(Terima kasih, Ai-chan)


"Jangan seperti ini, aku belum mandi." kilah Aira yang merasa risih dengan perlakuan suaminya.


"Chotto no ma." pinta Ken semakin mengetatkan pelukannya.


(Sekejap saja)


"Ken..." Aira berbalik dan menatap wajah suaminya, "Jangan sampai aku marah yaa." Aira mencubit hidung suaminya.


Dukk. Lutut Ken menabrak meja kayu di depannya.


"Eehh?" wajah Aira memerah karena tiba-tiba saja Ken mengangkat tubuhnya agar duduk di atas meja, "Ken..." protes Aira.


"Kamu boleh marah padaku, tapi tolong jaga putraku dengan baik di dalam sana." Ken menarik kepala Aira mendekat. Kening mereka bertaut dan saling menempelkan hidung.


"I love you." bisik Ken.


Aira tersenyum mendengar pernyataan suaminya, "Love you more" balasnya.


Ken melepaskan diri dan beralih pada perut rata istrinya, mengelusnya perlahan dan menciumnya dengan lembut.


"Val je moeder niet lastig." ucap Ken dengan suara berdengung di hidung.


(Jangan menyusahkan ibumu yaa)

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan?" tanya Aira heran.


"Rahasia." jawabnya sambil menurunkan Aira perlahan. Senyum lebar terukir di wajahnya.


"Coba ucapkan sekali lagi." pinta Aira.


"Hmm.." Ken menggeleng pelan sambil memakai apronnya sendiri.


"Anak kita lapar." Ken membuka lemari pendingin di belakangnya. Mengambil beberapa sayuran dan bersiap memasak ramen untuk istrinya.


"Bahasa apa itu?" tanya Aira masih penasaran.


"Coba tebak."


"Perancis?" Aira mengambil pisau dari tempatnya dan mulai mengupas bawang di depannya.


"Bukan."


"Italia?" tebak Aira lagi.


"Bukan juga."


"Albania?" kejar Aira karena tebakannya salah lagi.


"Hmm..." lagi-lagi Ken menggelengkan kepalanya. Ia mulai membuat adonan mie dengan cekatan.


Cup


Ken mencium pipi istrinya membuat pipi Aira memerah seketika, "Itu hadiahmu karena bisa menebak dengan benar."


Aira tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya. Ia tidak tahu apa arti kalimat yang Ken bisikkan pada calon buah hatinya, apapun itu pasti bukan hal yang buruk.


Beberapa menit kemudian semangkuk ramen ekstra pedas yang ditambah seikat jamur enoki terhidang di meja. Aira mengambil sumpit di samping makanan yang masih berasap itu dan siap mencicipinya, tiba-tiba Ken mengambil mangkuk itu.


"Makan nasi dulu." pintanya menyodorkan nasi pada istrinya. Aira kembali mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Aku tidak ingin perutmu sakit." jelas Ken.


Takk


Aira meletakkan sepasang sumpit yang ada di tangannya ke atas meja kayu dengan keras. Selera makannya hilang seketika dan beranjak meninggalkan Ken. Ia pergi keluar rumah dan duduk di teras yang menghadap langsung ke halaman bersalju tempat Yamaken pura-pura pingsan beberapa hari yang lalu.


Angin malam di musim dingin ini tak menyurutkan niatnya untuk berdiam diri di sana. Padahal suhu udara dini hari seperti sekarang mencapai -3° celcius. Aira hanya memakai piyama berbahan satin dan jilbab pashmina yang menutup kepalanya, tanpa baju hangat, jaket atau selimut bulu pemberian nyonya Sumari. Matanya menerawang jauh ke angkasa yang gelap gulita. Ah nampaknya tak ada bintang satupun malam ini. Perlahan ia memejamkan matanya dan menghirup udara beraroma salju ini.


"Buka mulutmu." suara Ken membuat Aira menoleh ke sebelah kanannya. Ken duduk di sana dengan mangkuk ramen di tangan bersiap menyuapinya. Sebuah selimut bulu menutupi kakinya, entah kapan Ken meletakkannya di situ.


'Apa aku tertidur tadi?' batin Aira heran. Ia menatap Ken yang sedang meniup makanan di depannya. Aira tak menyadari kedatangan Ken.

__ADS_1


"Jangan ditiup." pinta Aira.


"Buka mulutmu. Ayo makan sebelum dingin." perintah pria yang memakai piyama hitam dengan garis putih di beberapa bagian.


Aira membuka mulutnya menerima suapan pertama dari suaminya. Semenjak mereka menikah hampir 7 bulan yang lalu, beberapa kali Ken menyuapinya saat sedang sakit. Makanan yang ia buat selalu enak, berbeda dengan kali ini. Rasanya hambar, ia tidak bisa merasakan pedas sama sekali. Tidak hanya pedas, manis asin juga tidak terasa.


"Ada apa?" Ken merespon ekspresi wajah istrinya yang terlihat kebingungan.


Aira mengambil sendok dari tangan Ken dan mencicipi kuah makanan di depannya. Masih tetap hambar.


'Aku tidak bisa merasakan apapun.' lirihnya dalam hati.


"Daijoubu desu ka?" tanya Ken khawatir karena Aira tak merespon pertanyaannya tadi.


(Apa kamu baik-baik saja?)


Aira mencoba menampilkan senyum terbaiknya, "Oishii..."


(Enak)


Ken menatap istrinya penuh selidik, ia tahu Aira menyembunyikan sesuatu. Detik berikutnya ia mencicipi makanan di depannya, takut mungkin saja terlalu asin atau pedas dan tidak cocok di lidah istrinya.


'Enak. Tidak ada yang aneh.' Ken membatin. Tadinya ia ragu karena sudah lama tidak meluangkan waktu di dapur, tapi kemampuan memasak yang diajarkan di akademi ia kuasai dengan baik.


Suapan kedua kembali masuk ke mulut Aira, masih dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Ia tidak menikmati makanannya dengan baik, Ken menyadari itu.


"Akan ku buatkan makanan yang lain jika kamu mau." tawar Ken melihat Aira tak segera menelan makanan di dalam mulutnya.


Aira kembali tersenyum dan merebut mangkuk keramik yang ada di tangan Ken, "Aku bisa makan sendiri."


Ken menatap wajah Aira dari samping, membiarkan istrinya menghabiskan ramen buatannya.


"Arigatou.." ucapnya seraya mengembalikan mangkuk berwarna hitam itu pada suaminya.


(Terima kasih)


Sejujurnya Aira tidak ingin memakannya lagi sejak ia merasa ada yang tidak benar dengan mulutnya. Tapi demi buah hatinya, ia harus mengisi perutnya. Lagipula hubungannya dengan Ken baru saja membaik, ia tidak ingin ada masalah lagi kedepannya. Mungkin karena efek musim dingin jadi lidahnya kebas dan tidak berasa, begitu pikirnya.


*******


Hai mina-san.... Selamat membaca 🤗


Episode ini author khusus kan buat Ken sama Aira. Gimana gimana, sweet ngga? Duuh author ngga tau harus gimana buat adegan mereka berdua biar manis kaya madu. Maklum yaa kalo kurang sweet karena itu cuma imajinasi author yang masih single ini 😅😅


See you next day, arigatou ne 😍😍


Jaa mata ne,

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2