
Ken terpaksa mengalah pada Mone yang merebut tempat duduknya. Ia kini duduk di samping Shun yang tengah memejamkan matanya dengan headphone menutupi telinganya. Perjalanan kali ini setidaknya membutuhkan waktu 12 jam, yang akan membuat Ken bosan. Apalagi ia tidak bisa bersama istrinya, Mone sungguh membuatnya kesal.
"Apa kamu benar-benar menjadi budak cinta istrimu?" tanya Shun tanpa membuka kelopak matanya.
Sial!
Ken semakin kesal karena mendapat cibiran seperti itu dari seniornya yang menyebalkan ini. Jika tahu akan begini jadinya, lebih baik Ken menyewa heli atau jet pribadi saja. Dengan begitu ia akan bisa bersama dengan Aira tanpa gangguan dari siapapun. Meskipun istrinya itu akan memarahinya, ia masih bisa membujuknya dengan cara lain.
"Bahkan, meskipun kamu suaminya. Dia tetap saja tidak berpihak padamu." Shun semakin senang menggoda Ken. Ia merasa berada di atas awan, bisa mencibir Ken dengan bukti nyata yang ada di depan matanya.
Ken mengepalkan tangannya dengan erat, tidak bisa menyangkal tuduhan Shun padanya. Ia bisa mentolerir sikap Aira yang masih ingin dekat dengan Mone, tapi entah kenapa rasanya ia ingin memukul orang yang duduk di sampingnya ini. Ken harus mengulur kesabarannya lagi dan lagi.
"Sepertinya dia mungkin akan memilih terjaga dengan Mone sepanjang malam daripada harus tidur di pelukanmu." Shun terus memancing emosi Ken, membuat rahang pria itu mengerat.
"Diamlah!" Yoshiro yang ada di sebelah Shun merasa tidak nyaman mendengar celotehan sahabatnya. Ia sedang pusing memikirkan Yu, dan kata-kata Shun membuatnya semakin insecure. Ia bergulat dengan pemikirannya sendiri.
Insecure adalah rasa cemas atau tidak percaya diri dalam segala kondisi. Insecure adalah istilah dalam dunia kesehatan mental yang menjadi perhatian banyak kalangan akhir-akhir ini. Kata insecure jadi sering diucapkan oleh orang yang sedang merasakan kecemasan terhadap suatu hal. Seperti halnya Yoshiro yang sedang mencemaskan hubungannya dengan Yu. Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam kepalanya atau biasa disebut overthinking (pemikiran berlebih). Padahal, pemikiran yang berlebihan juga tidak baik karena mencemaskan sesuatu yang bahkan belum terjadi.
"Jangan memikirkan mereka. Kita harus merayakan keberhasilan kita ini. Benar kan, Yoshiro-kun?" tanya Shun sembari membuka headphone di kepalanya dan meminta persetujuan Yoshiro.
Hening. Yoshiro tampak melamun dengan sebelah tangan di sisi wajahnya. Ia tampak gelisah dalam dunia paralel yang ia ciptakan sendiri, mengabaikan pertanyaan sahabatnya sejak masuk akademi beberapa tahun yang lalu.
"Yoshiro!" panggilan Shun membuat Yoshiro terpaksa mengarahkan pandangannya pada pria di sampingnya.
"Ah? Nani?" tanya pria dengan wajah tanpa ekspresi itu. Ia tidak tahu sama sekali apa yang Shun katakan sebelumnya.
*nani : apa?
"Heih. Kalian berdua menjadi manusia tidak berguna hanya karena wanita." cibir Shun pada pria di sisi kanan dan kirinya. Ia kesal, jangankan menyetujuinya, Yoshiro bahkan tidak mendengarkannya.
Ken memilih memasang headphone khusus yang telah disediakan dan mulai mendengarkan musik yang ia pilih dari monitor di depannya. Ia harus menenangkan diri sebelum tangannya meninju makhluk menyebalkan di sampingnya. Bukannya mendukungnya karena mereka memiliki gender yang sama, makhluk itu justru selalu mencibirnya.
Pria lesung pipi itu memejamkan mata, berharap bisa mempertahankan tingkat kewarasannya. Ken tidak boleh emosi di depan Aira. Ya, hanya di depan istrinya. Lain halnya jika Aira tidak ada di sini, Ken bisa membekap mulut Shun saat ini juga dengan tinjunya. Pemikiran itu membuat Ken mengangkat sebelah bibirnya, berkhayal memukul Shun saja membuatnya bersemangat, apalagi jika itu kenyataan? Pasti sangat menyenangkan.
Sementara itu, ribuan kilometer dari tempat itu tampak Yu yang keluar dari pesawat seorang diri. Ia memilih keluar dari burung besi itu paling akhir, malas berdesakan dengan para penumpang yang lain. Hampir sama dengan Yoshiro, wajah ayunya sama sekali tak menyunggingkan senyum.
"Silahkan nona." ucap seorang pelayan pada gadis yang membawa tas berwarna merah di tangan kanannya itu. Koper milik Yu ada di belakang tubuh tegapnya, nampaknya ia sudah menunggu nonanya di sini cukup lama.
"Hmm.." Yu menganggukkan kepalanya sekali sebelum mengikuti pria berpakaian hitam yang bekerja untuk keluarga Ebisawa. Yu menghubunginya sesaat setelah pramugari mempersilahkan para penumpang untuk menghidupkan ponselnya.
__ADS_1
"Apa ada masalah nona?" tanya pria 40 tahunan itu saat ia sudah ada di balik kemudi dan Yu duduk tenang di kursi belakang.
"Tidak." jawab Yu, "Kenapa?"
"Saya menunggu selama satu jam. Saya pikir nona sudah keluar dari pesawat." ucapnya sambil membawa mobil hitam yang mereka tumpangi keluar dari bandara.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah." jawab Yu datar, "Jangan pulang ke rumah. Antarkan aku ke apartemen." pintanya sambil menatap butiran salju yang ada di luar.
"Baik."
Kendaraan roda empat itu melaju pelan membelah jalanan Tokyo yang berselimut salju. Membuat siapa saja enggan untuk keluar dari kediaman mereka di akhir tahun ini.
...****************...
"Kakak ipar.." Mone menggoyangkan lengan Ken yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Hmm?" Ken membuka penutup matanya dan menatap gadis 20 tahun itu dengan pandangan tidak senang.
"Kakak ipar memanggilmu." ucap Mone dengan senyum terkembang di wajahnya.
Ken menutup matanya dengan tangan, mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali setelah tidur lelapnya tadi. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, jam 10 malam, masih ada 4 jam sebelum mereka mendarat di Tokyo.
"Ada apa?" tanya Ken setelah duduk tegap di atas kursinya.
"Kakak ipar memanggilmu." jawab Mone sambil menunjuk ke arah Aira yang sedang tersenyum ke arah Ken. Wanita hamil itu melambaikan tangannya, meminta Ken mendekat.
Pewaris keluarga Yamazaki itu melepas sabuk pengaman di depan perutnya dan berjalan menuju istrinya. Ia berjanji akan melakukan apapun asalkan Aira tetap di sampingnya.
"Ada apa sayang?" tanya Ken setelah duduk di samping istrinya.
"Aku lapar." ucapnya menirukan suara anak kecil.
"Aku akan panggilkan pramugari. Mau makan apa?" tanya Ken sambil mengangkat tangan kanannya, bersiap memanggil salah satu kru maskapai penerbangan ini.
Aira dengan cepat meraih tangan Ken, "Aku ingin makan masakanmu." ucap Aira cepat.
"Heih?" Ken mengerutkan keningnya, heran dengan permintaan istrinya yang cukup aneh. Terlebih lagi Aira memasang wajah imutnya membuat Ken tidak tega untuk menolaknya.
"Mana boleh. Ini pesawat komersil, penumpang dilarang masuk ke galley." ucap Ken hati-hati. Ia tidak ingin membuat Aira kecewa.
Galley merupakan sebutan untuk dapur/tempat mempersiapkan makanan untuk penumpang di dalam sebuah pesawat. Ada berbagai istilah penerbangan yang masih asing terdengar di telinga kita.
"Tapi aku lapar." jawab Aira manja. Ia menundukkan kepalanya sambil memegangi perutnya. Ah, ini senjata andalannya sekarang jika Ken tidak sepaham dengannya.
__ADS_1
"Baiklah baiklah. Apa yang ingin kalian makan?" bisik Ken di depan perut istrinya, berhasil membuat Aira tersenyum.
"Spaghetti dengan saus kacang." jawab Aira dengan raut wajah berbinar.
"Hah? Spaghetti saus kacang?" Ken kembali menautkan alisnya. Permintaan istrinya ini benar-benar aneh. Ia baru pertama kali mendengar ada jenis makanan seperti itu. Biasanya spaghetti dengan saus bolognese, carbonara (saus putih), marinara, atau mushroom cream sauce. Tidak ada pilihan saus kacang sama sekali.
Aira mencebikkan bibirnya, kecewa karena permintaannya tidak bisa dipenuhi. Ia sendiri tidak tahu kenapa ingin makan makanan itu. Mungkin ini yang dinamakan ngidam, menginginkan sesuatu yang tidak biasanya.
Ken tidak tega melihat istrinya bersedih, ia memanggil Kosuke dan membisikkan sesuatu pada asisten pribadinya itu yang dijawab dengan anggukan.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Ken sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Salad buah." ucap Aira meragu. Ia sangat menginginkan makanan itu dan tidak merasa bosan sama sekali, padahal sebelumnya ia tidak suka campuran buah dengan saus mayonais itu.
"Baiklah. Tunggu disini yaa." Ken mencium kening istrinya sebelum beranjak pergi.
"Ken.. " panggil Aira pada suaminya.
"Ya?" Ken berbalik menatap istrinya dengan cinta.
"Arigatou." ucap Aira tak enak hati.
"Tidak masalah." Ken mengerlingkan sebelah matanya pada Aira, membuat wanita hamil itu membulatkan matanya. Ia tidak menyangka Ken akan bersikap begitu genit meski di depan banyak orang seperti sekarang.
Ken beranjak ke bagian tengah pesawat, bersiap membuat makanan pesanan istrinya. Tanpa pria itu ketahui, Mone memberikan tanda Ok dengan jarinya pada Aira. Di sebelahnya, Shun tampak tersenyum dan menunjukkan jempolnya. Nampaknya Shun setuju dengan gagasan yang Mone sampaikan padanya. Ia akan turut ambil bagian dalam misi kali ini. Aira mengangguk sekali sambil tersenyum.
Misi dimulai...
...****************...
Haii hai hellooo....
Author come back. Ada yang kangen author ngga?
Hmm? Engga? Yaaahh kasian amat sii, ngga di dunia nyata, ngga di dunia maya, ngga ada yang kangen sama author. 😢😢
Huufft, ya udahlah. Emang ngga penting sii author imut satu ini. Lebih penting si Ken-Aira kan kan kan? Iya tahu kok, tahu...
Btw, gomen ne (maaf) yaa karena episode sebelumnya kacau. Itu sebenernya episode yang belum selesai. Jadi author udah punya gambaran bagus buat episode itu, eh tapi tiba tiba ada aja masalah kerjaan di dunia nyata. Dan itu beneran rusak mood banget. Jadi terpaksa author posting seadanya. Jadilah ngga jelas itu, dan baru sempet author lanjut hari ini setelah mood agak membaik. Agak loh yaa, belum enakan sepenuhnya nih.
Jadi, mohon maklum yaa kalo feelnya Aira ngerjain Ken belum dapet, malah mbahas Yu sama Yoshiro yang lagi galau.
Semoga next episode mood author udah baikan sepenuhnya yaa biar ceritanya enak dibaca. Sekali lagi author mohon maaf atas ketidakjelasan dan typo yang masih bertebaran di sini. Hontou ni gomenasai 🙏🙇
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawa easzy 💜