Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : First Love is Immortal


__ADS_3

Note : siapkan lagu Evanescene - My Immortal biar lebih dapet feelnya patah hati 😭😭


*******


Jika penuturan Yu benar, maka kemampuan Aira sekarang setara dengan Ken dalam segala bidang, itu mengerikan. Benar-benar sangat mengerikan.


"Apa kamu bisa menyembunyikan ini dari Ken?" tanya Yoshiro ragu. Ia ingin melindungi Aira sekali lagi.


Yu meraih remote di tangan Yoshiro dan membuka pintu di belakangnya. Ia pergi tanpa memberikan jawaban apapun pada Yoshiro. Ia sudah menduganya. Ada dua kemungkinan yang akan Yoshiro lakukan. Satu, berpihak pada Ken dan membatasi pergerakannya dan Aira. Atau kemungkinan kedua, mendukung wanita berjilbab itu dan menyembunyikannya dari Ken seperti ia menyembunyikan informasi kehamilan Aira dulu.


Dua hal itu sama-sama membuatnya tidak nyaman. Yoshiro masih menyimpan hati pada Aira, ia tahu itu. Ia tidak bisa dibandingkan dengan Aira ataupun Erina. Rambut panjangnya saat ini, Yoshiro yang meminta ia memanjangkannya. Yu menyadari ia hanya menjadi bayang-bayang Erina, dan pelindung untuk Aira. Memikirkan hal itu membuat dadanya sesak.


*******


Angin berhembus kencang menerbangkan debu di udara. Sebuah tetes air mengenai kening Ria saat menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap awan menghitam yang tergantung bebas di langit. Ia mempercepat langkahnya memasuki lobby apartemen tempat Aira tinggal. Ia menerima alamatnya siang tadi, sebelum istirahat. Dengan lincah wanita berkacamata itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift yang kosong.



Ting tong


Ria menekan bel di samping kanan pintu berwarna hitam. Benda di hadapannya itu tampak mewah dan elegan. Koridor pendek di sekelilingnya juga tampak cantik dengan dekorasi minimalis, bertema monokrom. Hampir tak ada warna selain hitam dan putih, dua warna yang saling berlawanan namun terlihat serasi saat dipadankan seperti halnya Yin dan Yang.



YinΒ dan Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini. Keduanya menunjukkan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain, tak terpisahkan dan saling melengkapi. Layaknya Ken dan Aira dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.


'Jadi Ken tinggal disini? Pantas saja, mana mungkin seorang CEO Miracle tinggal di rumah sederhana? Lelucon apa yang kamu pikirkan Ri?' tanya Ria dalam hati.


Krekk krekk


Terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan Ken yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tanpa ekspresinya. Dia hanya memakai singlet berwarna hitam. Ria terbengong dengan mulut terbuka. Ia terkejut melihat seorang CEO muda yang dikenal garang dan dingin di dunia bisnis, sedang berdiri di hadapannya. Sebuah lap kotak-kotak bertengger di bahunya.


'Aku tidak mimpi kan?!' batin Ria. Bagaimana mungkin ia menemukan pemandangan langka seperti ini? Meskipun kesan garang masih tampak di wajah tampan Ken, tapi serbet itu benar-benar menjatuhkan prestise nya.


(prestise : harga diri)



"Masuk." ajaknya. Ia bergeser satu langkah demi membiarkan tamunya masuk, "Aira ada di kamar."


Glek


Ria menelan ludahnya dengan kasar, ia tak merespon ucapan si pemilik rumah. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri, tak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya sendiri. Ia sedang berhadapan dengan seorang pemilik perusahaan tempat adiknya bekerja. Jangan lupa wajahnya yang sama persis dengan seorang aktor Jepang yang sering ia lihat dalam film atau dorama. Ingin rasanya Ria meminta tanda tangan atau foto bersama. Ah, itu tidak mungkin kan?


"Ada yang salah?" tanya Ken heran.


Ria segera menggelengkan kepalanya dan masuk mengikuti Ken. Ia melepas sepatunya dan berganti dengan sandal bulu berwarna putih seperti yang sering ia lihat di dorama Jepang. Itu sandal yang khusus digunakan saat di dalam ruangan. Mungkin masih terasa asing untuk sebagaian besar orang Indonesia. Apalagi untuk Ria yang terbiasa bertelanjang kaki saat di rumah. Ok, abaikan itu.


"Kak Ria..." sambut Aira dari balik daun pintu yang terbuka sedikit, menampilkan tubuh kecilnya yang berbalut piyama satin berwarna navy. Rambutnya tergerai indah sampai dada dengan ujung sedikit ikal.


'Masih sama seperti dulu.' gumam Ria dalam hati.


Langkah Aira semakin dekat, Ria segera memeluk mantan calon adik iparnya itu setelah keduanya berdekatan. Ia meluapkan rasa rindunya pada gadis chubby satu ini. Ah, ia sudah menikah sekarang jadi statusnya bukan lagi seorang gadis kan?


"Apa kabar kak?" tanya Aira membuka percakapan setelah keduanya duduk di atas sofa berwarna kelabu. Ia menyelipkan sejumput rambutnya yang tergerai bebas ke belakang telinganya. Gerakan itu tak lepas dari pandangan Ria.


'Dia kurusan sekarang. Apa Aira tidak bahagia dengan Ken?' pikiran buruk mulai menghantui Ria.


"Baik Ra. Kamu gimana? Baik kan? Kok tangan kamu panas sii? Kamu demam?" Ria segera melepaskan tautan tangan Aira dan meraba dahi wanita 25 tahun di depannya dengan khawatir.


Aira tersenyum, kak Ria masih sama seperti dulu, selalu perhatian padanya. Jika ibu Yudha menentang hubungan Aira dengan putranya, Ria justru sebaliknya. Ia selalu berada di pihak Aira, tidak peduli masa lalu seperti apa yang terjadi di hidupnya. Semua orang berhak bahagia, itulah yang Ria yakini.


"Ra, jawab dong?! Ditanya malah cuma senyum." kesal Ria karena pertanyaannya yang bertubi-tubi itu tak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya.


"Bingung mau jawab apa." ucap Aira sambil menarik tangan Ria ke perutnya, "Aku hamil, kak." ucap Aira bahagia.


"Kamu hamil?" Ria segera menarik tangannya menjauh dari perut Aira, seolah informasi itu bukan sesuatu yang membahagiakan baginya. Mungkin lebih tepatnya itu berita buruk untuk Ria.


"Selamat ya." ucapnya hambar. Ia melirik Ken yang masih berkutat di dapur. Entah kenapa ia merasa tak nyaman disana.


Aira menyadari respon Ria yang terlihat tidak senang dengan penuturannya. Wajah ovalnya itu terlihat khawatir dengan pandangan yang gusar.

__ADS_1


"Kak.." panggil Aira, meraih jemari Ria yang sempat terlepas beberapa saat yang lalu, "Ada apa?"


"Aku pikir kamu pisah sama Ken." lirihnya hampir tak terdengar, namun Aira melihat pelafalan dari mulut Ria. Ia memahami sikap Ria beberapa detik lalu yang tampak khawatir. Ya, di pertemuan mereka sebelumnya, Aira mengatakan akan berpisah dengan Ken. Tapi sekarang, faktanya ia justru hamil. Tentu saja itu membuat Ria heran.


Jujur saja, Ria masih berharap Aira kembali pada adiknya. Ia pikir Aira akan berpisah dengan Ken dan bisa menjalin hubungan yang baru dengan Yudha. Meski tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Apalagi sekarang ibu mulai mendesak putra bungsunya itu untuk menikah, Yudha selalu diam. Tak merespon segala tekanan ibunya, baik yang berupa ucapan langsung, sindiran atau bahkan perjodohan. Ya, ibu beberapa kali membawa gadis ke rumah untuk dikenalkan pada Yudha tapi adiknya itu selalu bersikap dingin. Ria tahu, masih ada Aira di hatinya.


"Ai-chan, makanannya sudah siap. Ayo makan bersama." ajak Ken membuyarkan lamunan Ria.


"Ra, aku pamit dulu ya, mau hujan. Kasian anakku, udah nunggu di rumah. Kita bisa ketemu lain kali. Oh iya, ini aku bawain kue tart kesukaan kamu." pamitnya dengan terburu-buru. Ria pergi tanpa menunggu konfirmasi dari si pemilik rumah.


"Kak..." panggil Aira lirih. Ken menahan lengan istrinya dari belakang.


"Biarkan saja." pinta Ken. Ia melingkarkan tangannya di perut Aira, menahan istrinya agar tak beranjak kemanapun.


"Lepas Ken?!" ucap Aira tak senang. Entah kenapa ia mulai tidak menyukai perilaku suaminya itu. Aira merasakan sikap posesif Ken, dan itu membuatnya tidak nyaman. Apa salahnya berbincang dengan kak Ria? Mereka bersahabat sejak lama, sebelum mengenal Ken.


Bukannya melepas tautan tangannya seperti yang Aira minta, Ken justru semakin mengikis jarak di antara mereka. Ia seolah akan mencium pipi Aira dari samping. Tangan kanannya beralih mengunci dada Aira, sementara tangan kirinya menyibak rambut Aira yang tergerai. Menyingkirkannya ke belakang leher.


"First Love is Immortal. Kamu boleh selalu mengingatnya, karena aku juga tidak bisa melupakan Erina sepenuhnya." bisik Ken sebelum melepaskan pelukannya. Ia urung mencium istrinya, justru berlalu meninggalkan Aira yang masih terpaku di tempatnya. Hal itu membuat Aira heran dengan ucapan Ken barusan dan bertanya-tanya apa maksud perkataan suaminya.


(Cinta Pertama itu Abadi)


Deg


Aira tertegun. Sebuah logam menyentuh dadanya menimbulkan perasaan dingin seperti tersentuh es. Ia merabanya dan mendapati kalung saturnus dari Yudha kini tergantung di lehernya. Hatinya mencelos menyadari perlakuan Ken padanya, membuat matanya berkaca-kaca. Bagaimana mungkin seorang suami mengizinkan istrinya memakai benda kenangan dari cinta pertamanya?


Aira terduduk di lantai. Ia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Ken. Bukannya marah, Ken justru memakaikan kalung itu padanya. Mengizinkannya tetap mengingat Yudha, cinta pertamanya.


Ken kembali mendekat dan menepuk punggung istrinya dengan lembut, memberikan ketenangan tersendiri di hati Aira yang masih menangis tergugu tanpa suara.


Tanpa Aira ketahui, sebulir air mata berhasil luruh melewati pipi Ken yang berusaha tersenyum. Ia menangis dalam diam seperti saat Erina pergi. Merelakan istrinya berbagi hati dengan masa lalunya.


'Apa tindakannya ini benar? Entahlah.'


*******


Lirik & terjemah Evanescene - My Immortal


I'm so tired of being here


Suppressed by all my childish fears


Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan


And if you have to leave


Dan jika kau harus pergi


I wish that you would just leave


Kuharap engkau pergi saja


'Cause your presence still lingers here


Karena kehadiranmu masih berbekas di sini


And it won't leave me alone


Dan bayangmu takkan meninggalkanku


BRIDGE


These wounds won't seem to heal


Luka ini takkan pernah sembuh


This pain is just too real


Rasa sakit ini memang nyata


There's just too much that time cannot erase

__ADS_1


Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu


CHORUS


When you cried I'd wipe away all of your tears


Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu


When you'd scream I'd fight away all of your fears


Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu


I held your hand through all of these years


Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini


But you still have all of me


Namun kau masih memiliki diriku


You used to captivate me


Dulu kau memikat hatiku


By your resonating light


Dengan cahayamu yang menggetarkan


Now I'm bound by the life you left behind


Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan


Your face it haunts


Wajahmu menghantui


My once pleasant dreams


Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan


Your voice it chased away


Suaramu menghalau


All the sanity in me


Kewarasan dalam diriku


BRIDGE


CHORUS


I've tried so hard to tell myself that you're gone


Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada


But though you're still with me


Namun meski kau masih bersamaku


I've been alone all along


Selama ini aku tlah sendiri


*******


Hai minna-san 😒😒 Ok fix author baper, patah hati 2x di episode ini πŸ’” Yu patah hati karena Yoshiro-Erina. Ken patah hati karena Aira-Yudha.


See you next day..


Tetap jaga kesehatan yaa kalian semua 😘😘

__ADS_1


With love,


Hanazawa easzy πŸ’™


__ADS_2