Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Wanita Rusia


__ADS_3

Yuki Harada, putra sulung tuan Hayato Harada, mulai merasa ada yang ganjil dengan kematian ayahnya. Dia tidak yakin bahwa pria yang selama ini amat sangat ia andalkan, justru mengambil nyawanya sendiri.


Yuki paham betul tabiat ayahnya yang tak mudah menyerah dengan keadaan. Terlebih lagi, dia seorang politisi yang disegani banyak orang. Semua tingkahnya akan mendapat sorotan publik.


Dan ada begitu banyak orang- orang yang melindungi ayahnya. Dan Yuki tahu bahwa pria itu memiliki bisnis bawah tanah yang berbahaya. Meski tak ikut berkecimpung di sana, tapi dia pernah melihat beberapa tukang pukul sedang berbicara dengan ayahnya secara pribadi.


Ya, Yuki sebenarnya tidak tahu bisnis seperti apa yang ayahnya jalankan. Lebih tepatnya, tuan Harada tidak membiarkan putra sulungnya ini tahu apa yang dia kerjakan. Sebagai seorang kepala keluarga, dia hanya menginginkan anak istrinya bahagia.


"Bagaimana? Apa ada perkembangan?" Yuki menatap pria berpakaian hitam yang kemarin ia pukuli saat melapor. Ini adalah hari ke tiga sejak ayahnya dikebumikan. Dan belum ada titik terang sama sekali, apa motif ayahnya bunuh diri.


"Tidak ada sama sekali. Tapi saya bertemu dengan seseorang wanita di sana saat memeriksa tempat kejadian perkara."


"Seseorang?" Kening Yuki berkerut dalam. Dia memijat pelipisnya, memikirkan kemungkinan tentang siapa yang pengawalnya bicarakan ini.


"Wanita itu mengaku bahwa dia tahu segalanya tentang apa yang ingin Anda dengar. Tapi dia menolak berbicara dengan saya."


Pikiran Yuki semakin kacau. Bahkan para pengawal yang ia tugaskan untuk mencari jejak, tak menemukan apapun. Bersih. Semua seolah  bagaikan debu yang tersapu angin. Tak berbekas. Tak ada tanda sama sekali. Hilang arah. Dan sekarang ada wanita tidak jelas identitasnya yang ingin menemuinya.


"Selamat siang, Tuan." Seorang wanita dengan wajah cantik memasuki ruang kerja Yuki tanpa mengetuk pintu. Wajahnya terlihat tidak asing, seperti pernah Yuki lihat di suatu tempat. Ada sebuah tato bintang di ceruk lehernya. Dan yang membuatnya terlihat aneh adalah bekas luka di wajahnya. Seperti luka terkena serpihan kaca atau sejenisnya. Wanita ini tidak menutupi kekurangannya itu. Bahkan seolah sengaja menunjukkannya.


"Apa Anda mencari kebenaran tentang kematian ayah Anda?" Wanita itu menampilkan senyum mautnya. Dari pakaian serba hitam yang ia kenakan, tampak bahwa dia bukan orang sembarangan. Mungkin tukang pukul, pengawal pribadi, atau bahkan detektif. Entahlah, Yuki tidak ingin berprasangka.


"Siapa Anda?" Yuki memasang sikap waspada. Dari wajah dan tubuhnya, jelas sekali bahwa dia bukan orang Jepang atau orang Asia. Lebih seperti orang Eropa atau Rusia.


"Anda tidak perlu takut. Saya bisa memberikan informasi yang Anda inginkan. Termasuk bagaimana cerita di balik kematian ayah Anda, tuan Hayato Harada."


Kening Yuki yang berkerut, tak jua kembali ke tempatnya semula. Wanita ini mengundang berbagai tanya di dalam hatinya. Cara bicara dan logatnya menunjukkan bahwa dia menguasai bahasa Jepang dengan sangat baik, berbeda dengan orang asing lainnya.


"Kejutan untuk Anda." Wanita itu tersenyum, menampakkan deretan geriginya yang tampak rapi.


Sebuah amplop hitam tergletak di atas meja, membuat Yuki memicingkan matanya.


"Apa ini? Siapa Anda?"


Wanita itu lagi-lagi tersenyum penuh arti, lebih terlihat seperti menyeringai, seolah menertawakan sikap Yuki yang begitu bodoh dan tak tahu apa-apa. Dia datang menemui orang yang tepat.

__ADS_1


"Tidak penting siapa saya. Lebih penting apa yang ada di dalam sana. Anda pasti akan terkejut melihatnya."


Yuki mengambil kertas gelap yang terlipat dengan rapi itu. Dan yang ia lihat pertama kali membuat matanya membola.


"Ka ... Kaori-chan." Yuki tergagap seketika.


Seringai di bibir wanita itu semakin lebar, berhasil mencapai tujuan awalnya, membuat pria ini terkejut saat melihat foto mantan istrinya yang terlelap. Yang membuatnya membelalakkan mata adalah adanya pria yang tengah


mencium keningnya. Tampak bahwa hubungan mereka begitu baik.


"Apa ini?" Yuki semakin penasaran.


"Anda pasti tahu siapa yang ada dalam potret itu kan?"


Yuki bungkam. Dia tidak tahu apa yang wanita ini inginkan. Di awal, dia membahas kematian ayahnya, tapi kenapa sekarang justru menunjukkan foto Kaori?


"Mereka sedang bulan madu di Thailand. Dan tuan Harada terbunuh di sana. Mungkinkah itu kebetulan?"


Yuki mencoba mencerna apa yang wanita ini coba sampaikan. Entah dia ini kawan atau lawan, Yuki harus memastikannya terlebih dahulu.


Seperti anak kecil yang masih polos, Yuki menuruti perintah wanita ini.


"Ini?!!"


Tampak foto seorang pria yang memegang senjata api di tangannya. Noda darah membasahi wajah yang terasa tak asing oleh Yuki.


'Tunggu,' batin pria ini merespon. Dia ingat bahwa pria ini adalah seseorang yang datang bersama Kaori. Mereka tak sengaja bertemu di perusahaan Yamazaki Kenzo, saat dia berusaha meminta penjelasan tentang keadaan  ibunya yang terkena iritasi kosmetik. Jika tidak salah, pria ini bernama Shun Oguri atau siapalah itu.


"Anda mengenalinya, bukan?" pancing wanita berkacamata hitam ini. Penampilannya membuat siapa saja gentar, aura gangster terpancar darinya. "Pria itu ada di tempat kejadian saat ayah Anda melakukan seppuku."


"Apa yang Anda inginkan? Kenapa memberikan semua informasi ini padaku?" Yuki mecoba menggali maksud dan tujuan kedatangan wanita ini di hadapannya. Tidak sembarang orang bisa datang menemuinya. Dia terlalu sibuk untuk menemui orang-orang tak penting di luar sana.


"Ayah Anda memang bunuh diri. Tapi, tahukah Anda? Apa yang membuatnya menjadi seputus asa itu?"


"Katakan dengan jelas, siapa Anda?" Yuki masih mencoba bersabar dengan wanita ini. Dia tidak boleh gegabah.

__ADS_1


"Ayah Anda, Hayato Harada adalah seorang yang tangguh. Dia merajai preman jalanan dan mulai berkontribusi mengurus Naga Hitam. Apa Anda pernah mendengar istilah itu?"


Lagi-lagi Yuki bungkam. Dia tidak akan meladeni wanita yang bahkan tidak menjawab pertanyaannya barusan. Sungguh membuatnya semakin pusing saja.


"Tentu saja tidak pernah dengar, 'kan? Karena ayah Anda memang sengaja menyembunyikan identitasnya itu."


Yuki tak merespon. Meski awalnya merasa sebal, tapi apa yang wanita ini katakan masuk di akal. Ayahnya memang tak pernah memberitahu apa yang dia lakukan saat pergi ke Nagano.


"Naga Hitam adalah kelompok kriminal yang lahir dan besar di Nagano, tempat kelahiran ayah Anda sendiri. Di sana, tuan Harada bekerjasama dengan tuan Yamazaki untuk mengatur para tukang pukul yang meresahkan masyarakat. Bahkan mereka menjalin aliansi selama bertahun-tahun untuk menjalankan bisnis bersama."


"Jangan tanyakan bisnis apa yang membuat perut Anda dan adik Anda kenyang sejak kecil. Kita semua tahu bagaimana kerasnya hidup di negara ini. Tanpa uang, tak ada yang bisa kita makan, bahkan sebulir nasi sekalipun."


"Apa Anda tahu seberapa jauh peran tuan Harada dalam mengendalikan pasar senjata ilegal di pasar gelap?"


Yuki tercengang. Dia tidak tahu sama sekali bahwa ayahnya pernah berkecimpung di dunia ilegal.


"Berkat bantuan tuan besar Yamazaki, bisnis tuan Harada melesat cepat, melebihi kecepatan shinkanshen."


"Hentikan!! Siapa Anda?"


Yuki tak bisa mendengar ocehan wanita ini yang semakin membuat kepalanya sakit. Pertama, membahas kematian ayahnya. Kedua, menunjukkan foto Kaori dan seorang pria. Dan sekarang justru mengulik tentang pekerjaan mendiang ayahnya di dunia gelap.


"Apa Anda benar-benar ingin tahu siapa saya?" Wanita ini menyeringai lebar, menunjukkan bahwa dia sangat percaya diri.


Yuki menajamkan telinganya, mencoba menangkap suara wanita Rusia ini. Ya, beberapa menit menatap wajahnya, Yuki yakin wanita ini berasal dari negara pecahan Uni Soviet itu.


"Nama saya .... "


* * *


Whoaaa.... Siapa nih? Ada yang bisa nebak?


Cantik, gangster, Rusia?


Makin penasaran sama kelanjutannya? See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2