Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Happy Wedding Anniversary, Dear


__ADS_3

Puk puk


Sebuah tepukan mendarat di puncak kepala Aira, membuatnya terusik. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan mengangkat kepalanya demi memeriksa siapa yang telah mengganggu tidurnya.


'Siapa?' batinnya bertanya-tanya. Rasa kantuk masih menderanya yang baru terlelap sekejap. Matanya membola saat menatap pemandangan tak terduga di depannya.


Suaminya, Yamazaki Kenzo, duduk bersandar di kepala ranjang sambil tersenyum. Tangannya memegang seikat bunga yang kemudian ia ulurkan pada Aira.



"Happy wedding anniversary, Dear." Ken memberikan seikat bunga, ah sebenarnya hanya beberapa tangkai bunga berwarna ungu yang diikat bersama dua bunga krisan putih yang nampak seperti sepasang boneka. Menggemaskan.


(Selamat hari jadi pernikahan, Sayang)


Aira tertegun di tempat duduknya. Ia linglung, waktu seolah berhenti berputar. Berbagai memori setahun kebeesamaannya dengan Ken berputar begitu saja di otaknya. Dan terakhir ingatan pertempuran mereka melawan geng Naga Hitam yang berakhir dengan Ken yang tak sadarkan diri.


"Ai-chan," panggil Ken, melambaikan tangannya di depan wajah wanita kesayangannya. Wanita kelahiran Indonesia, 26 tahun lalu ini, berhasil memporakporandakan pertahanannya, membunuh kekejaman hatinya dan akhirnya ia berubah menjadi pria yang hangat dan penuh kasih sayang.



"Untukmu." Ken mengulurkan sebuah kotak perhiasan kecil berisi cincin berbentuk mahkota. Ia memakaikannya di jari tengah Aira.


"I love you, My Queen."


Cup


Belum habis keterkejutan Aira dengan dua hadiah dari Ken, sebuah kecupan singkat sudah mendarat di bibirnya. Hal itu membuatnya menelan ludah dengan paksa dengan jantung berdetak dua kali lebih kencang.


Aira menatap suaminya yang tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi. Wajahnya menunjukkan ia begitu bahagia, seolah tak pernah merasakan sakit sedikit pun. Jelas-jelas sebelumnya ia tampak seperti seonggok daging tak bernyawa.


"Apa kamu terkejut dengan hadiah dariku? Hari ini, tepat ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Apa kamu senang?" tanya Ken antusias.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Aira justru menundukkan kepala. Sebulir air mata keluar dari ujung indera penglihatannya itu, disusul oleh bulir-bulir tanpa warna yang lainnya. Bahunya berguncang, menandakan ia benar-benar terbawa perasaan. Ia membekap mulutnya, menangis dalam diam.


Deg!


Jantung Ken seolah berhenti satu waktu. Hatinya tertohok saat melihat wanitanya menangis sedu sedan. Ia tidak menyangka dengan respon yang Aira tunjukkan ini. Ken pikir, Aira akan tersenyum mendapat semua surprise yang telah ia siapkan ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wanitanya ini tampak begitu terluka. Apa yang terjadi sebenarnya?


"Sayang," Ken segera bangkit dari ranjangnya, tak peduli pada selang infus yang tercerabut begitu saja dari punggung tangannya. Ia mendekat ke arah Aira dan memeluknya, membuat wajah yang basah oleh air mata itu tersembunyi di depan perutnya. Ya, saat ini Ken duduk di tepi ranjang, menarik kepala istrinya dalam pelukan.


"Gomenasai," lirihnya sambil mengelus punggung Aira yang masih berguncang sesekali. Isak tangisnya mulai mereda, berganti dengan helaan napas yang tak beraturan.


(Maafkan aku)

__ADS_1


Srett


Hap


Tubuh mungil Aira kini berpindah ke pangkuan suaminya. Ken mengangkat tubuh mungil Aira dengan tangan kirinya yang tidak terluka.


"Ada apa, hmm? Apa aku membuatmu takut?" tanya Ken sembari menyeka bekas air mata yang membasahi pipi istrinya. "Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku."


Ken kembali menarik istrinya dalam dekapan. Ia merasa bersalah karena telah membohongi istrinya itu. Tadinya ia hanya ingin bermain-main dengannya, tidak tahu akan seperti ini kejadiannya.


Ckiitt


Aira mencubit perut rata suaminya, membuat pria itu berjengit menahan sakit.


"Kamu membohongiku? Kamu tidak benar-benar pingsan 'kan?" Aira menuntut jawaban dari suaminya.


"Gomen ne," jawab Ken berusaha memeluk istrinya.


(Maaf)


Bugh!


Aira mendorong dada suaminya, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari pria licik ini. Air mata kesedihan yang ia keluarkan sejak berjam-jam yang lalu, nyatanya sia-sia.


Grep


Ken menahan kepergian istrinya dengan memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Tangan kirinya mengunci dada Aira dengan erat.


"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu." Ken berbisik tepat di telinga Aira. Ia meletakkan dagunya di bahu wanita kesayangannya.


Hening


Aira mengunci mulutnya rapat-rapat, tidak ingin menjawab perkataan suaminya. Ia terlanjur kesal karena merasa telah dibohongi oleh ayah dari anak-anaknya ini.


"Aku memang benar-benar terluka dan harus mendapat transfusi darah di ruang operasi. Tapi siapa sangka, aku ketiduran setelahnya.


'Ketiduran?' batin Aira sangsi. Ia tak percaya begitu saja dengan penjelasan suaminya. 'Mana mungkin seseorang bisa tertidur di ruang operasi? Yang benar saja?'


"Kamu tahu sendiri, beberapa malam kemarin aku tidak cukup istirahat. Saat para dokter itu membersihkan lukaku dan menjahitnya, aku kehilangan kesadaran. Dan begitu tersadar, kamu sedang sibuk bersama anak-anak."


Ken membalik tubuh istrinya, membuat mereka berhadapan, saling menatap satu sama lain.


"Aku meminta Kosuke menyiapkan bunga lavender kesukaanmu, tapi dia tidak mendapatkannya. Hanya ada itu saja. Maafkan aku." Ken kembali mengungkapkan penyesalannya.

__ADS_1


Cup


Ken meraih tangan Aira dan mencium punggung tangannya. "Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku siap menerima hukuman darimu."


Cup


Ken mengecup jemari Aira tempat cincin mahkota darinya bersemayam. Ia kembali merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan.


"Aku sudah memberikan hadiah untukmu. Apa kamu punya sesuatu untukku?" pancing Ken sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Tidak ada!" ketus Aira. Ia melepaskan diri dari dominasi suaminya dan kini memilih berbaring di ranjang kosong yang khusus disiapkan untuk penunggu di ruang VVIP ini.


Wanita berjilbab ini memejamkan matanya, berharap bisa terlelap dan terhindar dari godaan suaminya yang genit. Emosinya terkuras dan ia benar-benar lelah sekarang.


"Sayang, apa kamu masih ingat janjimu jika aku berhasil memenangkan pertempuran ini?"


Aira masih diam seribu bahasa, enggan merespon perkataan Ken.


"Sayang," panggil Ken lirih. Ia menyusul istrinya, naik ke atas brangkar berwarna putih itu. Ken memeluk Aira dari belakang sambil menciumi punggungnya yang terhalang dress hitam busui yang dipakainya.


"Menjauh dariku!" geram Aira sambil mendorong bahu suaminya.


"Aaghh, sakit!" teriak Ken sembari memegangi luka di puncak lengannya. Ia memejamkan matanya, pura-pura kesakitan.


"Terus saja bermain peran! Kemampuanmu itu pantas diganjar penghargaan! Kamu bisa bersaing dengan adikmu sendiri," ketus Aira sambil beranjak pergi, meninggalkan suaminya yang masih terdiam di atas ranjang. Ia mendekat ke arah ketiga putra putrinya yang tengah terlelap.


"Sayang, apa kita bisa membuat adik untuk Aya?" tanya Ken lirih, tepat di telinga istrinya. Ia kembali memeluk Aira dari belakang, langsung bertanya to the point setelah aktingnya gagal.


Bugh!


"Dasar mesum!" Aira menghantam perut suaminya dengan siku. Tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya. "Apa otakmu terbentur?" tanya Aira menahan emosi. Ia kembali menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Aku mesum pada istriku, apa itu salah?" tanya Ken, menampilkan smirk andalannya.


"Menyebalkan!" ketus Aira sambil berusaha menjauhkan wajah Ken dari dadanya. "Masa nifasku belum selesai."


Ken terhenyak di tempatnya berdiri. Tubuhnya berubah kaku detik itu juga. Jawaban Aira mematahkan berbagai imajinasinya yang sudah traveling keliling dunia.


...****************...


Wkwk, kasian si Abang. Sini-sini sama Author aja deh, Bang. Author nggak akan nolak kok, wkwk 😂😂😂😂 *otakku travelling keliling dunia juga nih 💃😍


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2