Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Diagnosis Dokter


__ADS_3

Ken merasakan sesuatu yang sedikit aneh dengan tubuhnya saat rapat terbatas sedang berlangsung. Ia tak lagi bisa menyimak laporan yang Yu sampaikan karena telinganya tiba-tiba saja berdenging.


Sebenarnya dia sepekan terakhir merasa lelah tanpa sebab yang jelas. Bahkan beberapa kali sempat begitu pusing yang tak tertahankan, membuatnya harus menghentikan aktivitasnya secara tiba-tiba. Tidak ada orang yang tahu akan hal ini kecuali asisten pribadinya, Kosuke Murasawa. Itulah sebabnya pria itu terus memaksanya check up, bahkan membuat janji dengan rumah sakit tanpa memberitahunya sama sekali.


Dan Ken yang keras kepala selalu mengabaikan hal itu. Tak sekalipun ia datang ke rumah sakit, membuat Kosuke harus menghubungi mereka untuk meminta maaf. Ken beranggapan bahwa apa yang ia rasakan hanyalah karena efek kelelahan akibat bekerja terlalu lama. Akhir-akhir ini ia memang sering pulang larut malam demi menyelesaikan urusannya di kantor. Dengan begitu, ia memiliki quality time bersama Aira dan ketiga buah cinta mereka.


"Tuan, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Kosuke pada atasannya yang kini terbaring di atas ranjang ruang istirahatnya di kantor. Rapatnya sudah selesai tiga puluh menit yang lalu tanpa ada kritik atau saran apapun dari Ken. Pria itu sungguh sudah kehilangan fokusnya dan tidak bisa berpikir apapun lagi.


"Tuan Yamazaki," panggil calon ayah itu dengan hati-hati. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan tuannya ini.


"Berikan aku segelas air putih." Ken duduk dan memijat pelipisnya sendiri setelah menyingsingkan lengan baju hingga ke siku. Jas hitam yang sedari tadi melekat di tubuhnya, kini tergeletak begitu saja di sisi lain ranjang besar ini.


Kosuke dengan sigap menuruti permintaan Ken. Ia kembali dengan segelas air putih dan multivitamin yang Ken minta beberapa saat sebelumnya.


Glek


Ken segera menelan dua butir pil berwarna merah itu dengan bantuan air putih. Ia merasakan tubuhnya tak bertenaga seolah belum makan selama beberapa hari. Padahal jelas-jelas ia menghabiskan masakan Aira dengan lahap.


"Saya akan meminta dokter Hugo memeriksa Anda sekarang." Kosuke mengeluarkan ponsel dari saku celananya, siap menghubungi dokter senior kepercayaan keluarganya itu.


"Tidak. Aku baik-baik saja!" cegah Ken spontan.


Pria itu memaksakan diri bangkit dari duduknya. Namun belum sempat ia berdiri sempurna, tubuhnya limbung dan memaksanya kembali terduduk di atas kasur empuk ini.


"Tuan?!" Kosuke segera mendekat ke arah Ken, berniat menopang pria 28 tahun itu. Namun isyarat tangan Ken membuat Kosuke berhenti satu langkah di depannya.


"Panggilkan orang lain. Jangan dokter Hugo. Dia pasti akan melapor pada ibu jika terjadi sesuatu padaku." Ken berusaha mengatur napasnya yang kini terasa begitu pendek. Ada rasa tidak nyaman di dalam dadanya, seolah ada sesuatu yang membuatnya sesak. Ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir akan keadaannya ini.


"Baik."


Kosuke segera keluar dari ruangan tertutup ini demi menemui Minami di luar sana. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk kecuali Kosuke. Bahkan Minami saja tidak ia izinkan. Ken takut jika wanita itu mungkin saja akan melapor pada Aira di belakangnya.


"Bagaimana keadaan tuan Yamazaki?" tanya Minami khawatir. Ia semakin yakin bahwa tuannya tidak dalam keadaan yang baik sekarang. Pasti terjadi sesuatu yang tidak biasa.


"Tidak baik. Panggilkan dokter yang ada di klinik kesehatan sekarang!"


Minami mengangguk sambil menghubungi orang yang suaminya maksud. Dia adalah seorang dokter yang Miracle pekerjakan. Semua karyawan bisa datang ke klinik untuk meminta vitamin maupun memeriksa kesehatannya. Hal itu adalah terobosan baru dari Ken untuk menjaga kesehatan para karyawannya. Setidaknya ada tiga dokter utama yang bertugas melayani ratusan pekerjanya ini.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Kosuke khawatir. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada tuannya.


"Dari gejala yang ada, ada dua kemungkinan. Pertama Tuan Yamazaki mengalami anemia, yakni tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin. Akibatnya, sel-sel dalam tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan tidak berfungsi secara normal atau disebut juga hipoksemia," terang dokter berkacamata itu.


"Beliau mengalami gejala yang cukup serius seperti badan terasa lemas, kulit tampak pucat bahkan justru kekuningan. Selain itu, gejala lainnya seperti kaki dan tangan terasa dingin, sesak napas, detak jantung menjadi lebih cepat, nyeri dada dan suara berdenging di telinga (tinnitus)."

__ADS_1


Baik Ken maupun Kosuke terdiam mendengar penjelasan yang dokter itu kemukakan. Biasanya Ken tidak pernah merasa selemah ini. Hampir selama 28 tahun ia menghirup udara di dunia ini, ia akan masuk ke rumah sakit karena terluka setelah bertarung dengan musuhnya. Bukan karena penyakit tertentu yang menyerangnya secara perlahan seperti ini.


"Beberapa gejala tersebut memang sangat mirip dengan gejala hipotensi atau tekanan darah rendah. Dan beliau juga mengalami pusing dan pandangan buram. Oleh karena itu, saya sarankan agar Tuan Yamazaki melakukan pemeriksaan darah di laboratorium guna memastikan diagnosis. Dari hasil pemeriksaan ini, kita akan mengetahui kadar sel darah merah dan hemoglobin." Penjelasan dokter masih berlanjut.


"Jika pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan bahwa kadar hemoglobin kurang dari 13,5 gram/dL pada pria atau kurang dari 12 gram/dL pada wanita, maka kondisi ini disebut anemia."


"Apa harus cek darah untuk memastikannya?" Kini Ken bersuara. Ia enggan pergi ke rumah sakit, meski sudah memiliki janji temu dengan dokter Hugo sekalipun. Dia tidak ingin orang-orang kesayangannya menjadi khawatir jika tahu tentang kondisi kesehatannya ini.


"Benar. Sekali lagi, gejala yang timbul akibat tekanan darah rendah dan kurang darah atau anemia memang mirip. Namun, penyebab dan cara pengobatan kedua kondisi ini sangat berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat. Jadi, bila Anda mengalami gejala pusing atau lemas yang terus-menerus, sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lanjutan."


Ken kembali bungkam. Ia sama sekali tidak mengira akan ada hal seperti ini. Dia tidak tumbang meski membantai ratusan orang sekalipun. Namun, hanya karena kelelahan yang terus ia abaikan justru membuatnya harus terbaring lemah seperti sekarang.


"Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan tingkat keparahan yang bisa ringan sampai berat. Anemia merupakan gangguan darah atau kelainan hematologi yang terjadi ketika kadar hemoglobin yakni bagian utama dari sel darah merah yang mengikat oksigen, berada di bawah normal.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya. Apabila kadar hemoglobin di bawah 8 gram per desiliter, anemia sudah tergolong berat dan disebut dengan anemia gravis. Perlu perawatan khusus jika hal itu sampai terjadi. Untuk mengatasi anemia tergantung kepada penyebab yang mendasarinya, mulai dari konsumsi suplemen zat besi, transfusi darah, atau bahkan sampai operasi."


"Apa separah itu?" Kosuke semakin khawatir. Ia tidak boleh mengabaikan hal ini atau kemungkinan terburuknya, akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini. Ia tidak berani memikirkannya, bahkan membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Entah apa yang akan kakek Yamazaki dan nyonya Sumari lakukan padanya yang telah lalai menjaga kesehatan Ken.


"Saya menduga tuan Yamazaki menderita anemia. Tubuh membutuhkan beragam nutrisi, seperti zat besi, protein, vitamin B12, dan asam folat, untuk memproduksi hemoglobin, yaitu komponen penting dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Kemungkinan besar, anemia terjadi ketika tubuh kekurangan hemoglobin, dan umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi atau vitamin B12 dan asam folat. Penyebab anemia lainnya adalah perdarahan, kehamilan, kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah, sel darah merah banyak yang pecah, dan penyakit ginjal kronis.


"Pengobatan anemia juga tergantung pada penyebabnya. Bila anemia disebabkan oleh kurangnya hormon eritropoetin, yaitu hormon yang dihasilkan ginjal untuk merangsang pembentukan sel darah merah, maka dokter akan memberikan suntikan eritropoetin. Sedangkan bila anemia disebabkan oleh kurangnya zat besi, asam folat, atau vitamin B12, dokter akan memberikan suplemen atau multivitamin yang sesuai. Saya tidak berani melakukan tindakan sebelum melihat hasil cek darah dari laboratorium."


"Aku bukan wanita hamil dan sumsum tulangku selama ini tidak pernah mengalami kelainan apapun. Apa kemungkinan terbesar penyebabnya?" Ken ingin mengulik lebih dalam apa yang terjadi padanya. Ia bukan orang lemah yang penyakitan sama sekali.


"Ini hanya dugaan saya. Kemungkinan besar penyebabnya karena produksi sel darah merah yang kurang. Selain itu, bisa karena hancurnya sel darah merah yang terlalu cepat. Atau bisa juga karena kehilangan darah secara berlebihan. Bukankah Anda terluka cukup parah sebelumnya?" Dokter itu menatap lengan atas Ken yang dulu terluka saat berkelahi dengan tuan Harada.


Kosuke membulatkan matanya. Ia ingat betul bahwa tuannya bahkan langsung mengurus berbagai hal beberapa jam setelah keluar dari rumah sakit. Saat itu adalah perayaan ulang tahun pernikahan yang pertama, jadi pria itu sama sekali tidak ingin melewatkannya dan tidak peduli pada lukanya yang saat itu kembali mengeluarkan darah. Dokter menyarankan agar Ken bed rest saat itu, tapi dia mengabaikannya. Benar-benar keras kepala.


*bed rest : tirah baring/istirahat total.


"Saya yakin Anda pasti merasakan gejalanya saat itu, tapi Anda tidak menyadarinya. Namun, perasaan tidak nyaman, pusing, penglihatan buram dan berbagai gejala lainnya akan makin terasa seiring bertambah parahnya kondisi anemia." Dokter itu mengeluarkan beberapa multivitamin dari dalam tas hitam yang dibawanya.


"Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan untuk memastikan apakah itu anemia atau penyakit yang lain?" tanya Kosuke ingin tahu.


"Untuk menentukan apakah pasien menderita anemia, dokter akan melakukan hitung darah lengkap. Dengan memeriksa sampel darah pasien, dokter dapat mengetahui kadar hemoglobin yang terdapat dalam darah. Kadar hemoglobin normal tergantung pada usia, kondisi, dan jenis kelamin. Seseorang bisa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobin berada di bawah angka standar yang ada. Untuk anak-anak, kadar hemoglobinnya 11-13 gram per desiliter. Ibu hamil: 11 gram per desiliter. Sementara itu, untuk laki-laki, masih dikatakan normal jika berada di antara 14 sampai 18 gram per desiliter. Sedangkan untuk perempuan yakni 12 sampai 16 gram per desiliter." Dokter itu menyebutkannya dengan lancar, sudah hafal di luar kepala.


"Melalui tes darah, dokter juga akan mengukur kadar zat besi, hematokrit, vitamin B12, dan asam folat dalam darah, serta memeriksa fungsi ginjal. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab dari anemia. Selain tes darah, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan lain untuk mencari penyebab anemia, seperti endoskopi untuk melihat apakah lambung atau usus mengalami perdarahan.


"Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan aspirasi sumsum tulang, guna mengetahui kadar, bentuk, serta tingkat kematangan sel darah dari ‘pabriknya’ langsung. Pihak rumah sakit maupun laboratorium pasti akan memberikan hasil yang lebih jelas dibandingkan sekadar teori yang saya kemukakan ini. Anda benar-benar harus memeriksanya lebih lanjut, Tuan." Pria berpakaian putih itu berdiri. Ia meletakkan multivitamin dan suplemen makanan di atas nakas.


"Saya hanya bisa memberikan vitamin dan suplemen itu untuk sedikit menguatkan tubuh Anda sementara. Anda benar-benar harus memeriksanya lebih lanjut untuk hasil yang lebih maksimal," saran dokter itu sambil menatap tepat pada wajah Ken yang masih terlihat pucat meski sudah istirahat beberapa waktu.


"Aku tahu." Ken mengembuskan napas beratnya.

__ADS_1


"Baiklah, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya permisi," pamitnya undur diri. Dia pergi setelah menundukkan kepala pada Ken dan Kosuke yang mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Apakah Anda benar-benar tidak ingin memberitahukan ini pada Nyonya?" tanya Kosuke begitu kembali dan mendapati tuannya masih terduduk di atas kasur dengan bersandar pada kepala ranjang. Tampaknya ia masih memikirkan saran dokter itu barusan. Pasti ada banyak pertimbangan dalam kepalanya saat ini.


"Tuan," panggil Kosuke karena Ken tidak menjawab pertanyaannya meski beberapa detik sudah berlalu.


"Kamu cari mati denganku?" Ken melirik asisten pribadinya dengan tajam, menandakan bahwa Aira sama sekali tidak boleh tahu akan hal ini.


"Maafkan saya," Kosuke menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa bersalah dan tidak ingin membangkitkan sisi iblis di dalam diri atasannya ini.


"Semua urusan hari ini aku serahkan padamu. Jangan mendekat tanpa perintah dariku!" Ken kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, berniat mengistirahatkan diri beberapa waktu.


"Baik." Kosuke undur diri setelahnya. Ia menemui Minami dan menyampaikan keluh kesahnya tentang Ken.


"Aku akan berbicara pada nyonya. Kamu urus sisanya!" Minami memakai blazer miliknya yang tergantung di sudut ruangan. Ia menyambar tas miliknya dan bersiap mengambil sepatu yang khusus ia pakai saat keluar ruangan. Selama ini ia hanya memakai sandal ruangan demi kenyamanan kakinya. Ken tidak mempermasalahkannya sama sekali karena ia tahu hal terpenting untuk seorang wanita hamil adalah membuatnya tetap nyaman di segala keadaan.


"Tunggu ... " Kosuke menahan lengan istrinya, "Tuan tidak ingin nyonya tahu hal ini."


"Apa kamu gila?" sarkas Minami sambil memelototkan matanya.


Swush


Cekalan tangan Kosuke ia hentakkan begitu saja sebelum berjalan dengan cepat keluar ruangan. Sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri, ia tahu perasaan Aira. Tidak ada istri yang akan mengabaikan penderitaan Sang Suami. Setiap wanita pasti akan melakukan yang terbaik untuk seseorang yang telah bertahta dalam hatinya itu.


"Minami-chan, kembali!" Kosuke sedikit berteriak. Ia berusaha menyusul istrinya saat telepon di meja Minami berdering, membuat langkah kakinya terhenti seketika. Pasti itu telepon penting yang berkaitan dengan urusan bisnis perusahaan ini.


"Minami!!"


Kosuke bimbang, antara mengejar istrinya atau kembali dan mengangkat telepon kabel yang terus berbunyi nyaring itu.


"AARGGHHH!!!" teriak Kosuke frustasi. Ia tidak bisa mengabaikan tanggung jawab perusahaan begitu saja. Terpaksa ia membiarkan Minami pergi dan kembali untuk menjawab telepon.


"Dengan Kosuke Murasawa di sini. Ada yang bisa saya bantu?"


...****************...


Waaaah si calon ayah ini kesian yaak. Mau ngejar istrinya, nanti urusan bisnis terbengkalai. Mau angkat telepon, Minaminya kabur 😂😂😂


The power of emak-emak mungkin kali yaa, jadi bisa lolos gitu aja. Pas keadaannya mendukung juga. Btw, Ken takluk sama Aira, Shun ngga bisa menang dari Kaori, dan sekarang ini Kosuke cuma bisa teriak frustrasi ngga bisa nyegah Minami yang mau lapor ke emaknya baby triplet 🤗😆😆


Mau gimana nih kedepannya? Papa Ken pasti bakalan murka kalau Aira sampai tahu dia sakit. Poor Kosuke 😄


Mayan panjang loh episode ini. 2000 kata lebih, huft 😥 Author tunggu jejak kalian yaa. Sampai jumpa di keseruan berikutnya 🤗

__ADS_1


Bai-bai...


Hanazawa Easzy


__ADS_2