Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Okinawa


__ADS_3

Semburat warna jingga terlukis di ufuk timur. Aroma bunga sakura perlahan menyapa indera penciuman seorang gadis yang masih berbaring di atas ranjang. Ia membuka kelopak matanya perlahan saat merasakan seseorang mengelus pipinya.


"Ohayou, Yu-chan," ucap Yoshiro setelah gadis di depannya mengerjap beberapa kali. Wajahnya terlihat sayu tak bersemangat.


(Selamat pagi)


"Hmm," gumam Yu. Ia kembali memejamkan matanya. Enggan bangun dari mimpi indahnya. Ah, tidak juga. Sebenarnya ia tidak bermimpi apapun semalam. Detik berikutnya Yu langsung duduk, membuat Yoshiro sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanya Yoshiro pada gadis pujaan hatinya.


Yu tampak seperti kebingungan. Ia menatap ke sekeliling dan otomatis mengerutkan keningnya. Tirai berwarna kelabu itu tampak menari-nari tertiup angin. Jendela yang terbuat dari kayu tampak terbuka separuh, menampilkan pemandangan bunga sakura berwarna pink yang terlihat kontras dengan langit biru sebagai backgroundnya.



"Sakura?" tanya Yu, ia menoleh ke arah kalender yang berdiri di meja. Seharusnya masih terlalu awal untuk mereka bermekaran. Ini masih bulan Februari, yang artinya masih sekitar satu bulan lagi waktu yang tepat bagi pohon-pohon bunga sakura di Tokyo mulai mekar. Kecuali jika mereka ada di bagian lain Jepang dimana bunga-bunga cantik itu mekar lebih cepat.


Duk duk


Yu segera berdiri di depan jendela, menatap pemandangan indah di luar penginapan tempatnya berada, mengabaikan kakinya yang berlari tanpa alas. Kakinya menapak di atas lantai kayu yang terasa hangat. Udara musim semi segera menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya bergerak perlahan tertiup angin.


"Okinawa?!" tebak Yu. Prefektur Okinawa terletak di barat daya Pulau Kyushu.


"Hmm," gumam Yoshiro membenarkan tebakan Yu. "Kamu tahu? Berkenaan dengan sakura, Okinawa memiliki 2 ciri khas. Yang pertama, sakura di Okinawa mekar tercepat se-Jepang. Okinawa yang memiliki iklim hangat menyebabkan sakura mekar lebih dahulu mulai dari pertengahan bulan Januari," jelas Yoshiro tanpa menghadap Yu. Ia asik menatap pohon sakura di sepanjang jalan.


"Ciri khas kedua, sakura di Okinawa memiliki jenis yang berbeda dengan jenis sakura yang biasanya mekar di Pulau Honshu. Umumnya sakura yang bermekaran di Pulau Honshu berjenis Somei Yoshino. Akan tetapi, jenis sakura yang mekar di sini disebut Kanhizakura (Prunus campanulata). Sakura jenis ini mekar dengan menghadap ke bawah serta memiliki warna pink pekat, tidak seperti yang ku sebutkan sebelumnya." Yoshiro tersenyum seolah begitu bahagia menjelaskan detail sakura di tempat ini.


Yu menatap Yoshiro yang kini berdiri di sampingnya. Rahangnya yang kokoh dan tegas sungguh membuat gadis itu terpesona. Aura maskulin memancar dari pria 29 tahun itu, terlebih ditambah aroma kekayuan hutan yang menyertainya, sungguh membuat Yu mabuk kepayang.


"Tahun 2019 lalu, sakura mulai mekar pada tanggal 10 Januari dan mekar dengan sempurna pada tanggal 12 Februari. Akan ada festival yang akan diadakan di Taman Yogi, sebuah taman umum di Kota Naha. Itu cukup dekat, sekitar 15 menit dari pusat perbelanjaan Naha Kokusai Dori. Di sini akan ada sekitar 400 batang pohon sakura yang mekar."


Yu seperti terhipnotis oleh pesona Yoshiro. Ia tidak bisa tidak menunjukkan ketertarikannya.


"Kamu suka?" Yoshiro menolehkan wajahnya, menatap gadis dengan tahi lalat di wajahnya yang sedang tersenyum.


"Ah? Eh? Iya, aku su ... " Ucapan Yu terhenti di tenggorokan. Ia merasa bersalah pada Yoshiro. Bukankah ia yang mencampakkan pria ini sebelumnya? Tidak pantas jika ia menerima perhatian khusus darinya seperti sekarang.

__ADS_1


Yu berbalik, berusaha menjauh dari pria yang seringkali membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ia tak bisa menepis perasaan di dalam hatinya yang masih ingin bersama kakak angkatnya ini. Namun, segala hal buruk yang ia lakukan selama ini sungguh membuatnya takut. Statusnya yang begitu hina tak pantas disandingkan dengan pria baik ini.


Greg greg


Yu berusaha membuka pintu geser di depannya, namun hasilnya nihil. Segala daya upayanya untuk kabur dari tempat ini tak membuahkan hasil. Pintu itu terkunci rapat dan tak bergerak se-inchi pun.


"Kamu mencari ini?" tanya Yoshiro sambil memainkan kunci pintu dengan jemarinya. Ia memutar-mutar benda logam mungil bergerigi itu di depan wajahnya.


Deg!


Jantung Yu seolah berhenti sejenak saat mendengar nada bicara Yoshiro yang begitu terluka. Meski tanpa melihatnya sekalipun, Yu tahu pria itu pasti sedang menatap punggungnya.


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Yoshiro sembari mendekat ke arah gadis yang berbeda enam tahun darinya itu. "Apa kamu begitu tidak ingin melihatku?"


Yu berbalik dan menatap Yoshiro yang kini berdiri dua langkah darinya.


"Pergilah." Yoshiro mengulurkan kunci di tangannya pada Yu. Ia bahkan tersenyum manis pada gadis berkulit putih itu. "Di luar ada pesawat pribadi milik kakek Yamazaki, kamu bisa pergi sekarang juga. Aku tidak akan menahanmu lagi kedepannya. Bahkan mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Ku harap kamu tidak menyesali keputusanmu."


Hening


Yu bersiap mengambil kunci itu, namun tangannya terhenti di udara. Jemari lentik itu gemetar, menahan gemuruh di dalam hatinya yang tidak rela berpisah dengan pria di hadapannya.


Bukannya mengambil kunci di hadapannya, gadis itu justru menghambur ke dalam pelukan Yoshiro. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Anak nakal!" Yoshiro balas memeluk Yu dan mencium puncak kepalanya.


"Gomen," lirih Yu dengan suara bergetar. Ia tidak ingin kehilangan pria itu untuk ketiga kalinya. Ya, Yu mencampakkan Yoshiro saat di Rusia dan bahkan mengembalikan cincin darinya beberapa waktu yang lalu.


(Maaf)


Yu dan Yoshiro larut dalam pemikiran mereka masing-masing, menikmati kebahagiaan yang kini membuncah di hati keduanya.


"Okinawa beriklim hangat sepanjang tahun dan memiliki banyak pantai yang indah. Kamu mau ke sana?" tanya Yoshiro setelah mengurai pelukannya. Ia menatap gadis kesayangannya dengan penuh cinta.


"Pantai? Bukankah kamu harus pergi bekerja?"

__ADS_1


Yoshiro sedikit tersentak. Ia tidak ingat ada tugas begitu penting yang harus ia selesaikan hari ini bersama Shun. Tentu saja itu berhubungan dengan pembangunan gedung baru milik Circle K dan Miracle.


"Kamu harus pergi. Benar kan?" Yu memastikan. Ia menggoyangkan lengan Yoshiro beberapa kali, menuntut jawaban dari pria itu.


Lagi-lagi Yoshiro hanya bungkam, tak menjawab. Ia tidak ingin berpisah dengan Yu atau meninggalkannya sendiri di tempat ini. Tapi, bagaimanapun juga, ia juga memiliki tanggung jawab di tempat lain.


"Selesaikan pekerjaanmu. Aku tidak akan pergi." Yu menunjukkan jari kelingkingnya sebagai bentuk janjinya pada Yoshiro. Sejak kecil, mereka selalu melakukan janji jari kelingking saat bersepakat akan bertemu lagi.


"Aku akan segera kembali." Yoshiro menyambut jemari mungil di depannya. Ia kembali memeluk gadis itu dan menepuk punggungnya beberapa kali.


"Tapi sebelum pergi, ada satu tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu. Ayo!"


Yoshiro menggenggam jemari Yu dan membawanya keluar kamar. Ia memiliki satu kejutan khusus untuk wanitanya ini.


"Eh, tapi ... " ucapan Yu terhenti saat tiba-tiba Yoshiro berbalik menghadapnya.


"Ada apa lagi? Kamu tidak ingin pergi denganku?"


"Bukan begitu, tapi ini sudah siang. Jika kamu membawaku pergi ke tempat itu, kamu mungkin akan terlambat. Aku tidak ingin ... "


Cup


Yoshiro membungkam mulut Yu detik itu juga membuat mata gadis itu membulat sempurna. Juga detak jantungnya menjadi begitu cepat seperti mendapat serangan jantung tiba-tiba. Ah, bahkan lebih dari itu.


"Aku tidak menerima penolakan!" tegas Yoshiro, "Ayo. Waktu kita tidak banyak."


Keduanya kembali berlari, menuruni anak tangga yang akan membawa mereka ke lantai dasar penginapan ini. Hanya tinggal beberapa langkah dan mereka akan sampai di pelataran rumah dimana tampak bunga sakura yang bermekaran di ujung dahannya.


Pagi ini menjadi milik mereka berdua. Tidak akan ada yang mengganggu mereka menikmati bias cinta yang mengakar kuat di hati masing-masing. Mereka bahkan tak peduli pada bibi pemilik penginapan yang menggelengkan kepala karena melihat kedua tamunya yang berlarian, menimbulkan bunyi gedebuk yang saling bersahutan.


"Jatuh cinta membuat semua orang bahagia. Ah, aku jadi merindukan masa mudaku yang begitu indah," lirihnya sambil tersenyum.


...****************...


Gomen, telat lagi 🙇🙏🙏

__ADS_1


See you next day 🌸


Hanazawa Easzy


__ADS_2