Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Kesepakatan?


__ADS_3

"Berhasil.." ucapnya sambil meregangkan tangannya ke atas, membuat otot di tubuhnya sedikit rileks.


"Apanya yang berhasil?" tanya Ken selidik.


"Hah?" Aira terlonjak kaget melihat suaminya berdiri tak jauh darinya dengan bathrobe hitam melingkupi tubuhnya. Sejak kapan dia ada di sana? Apa Ken tahu apa yang tengah Aira lakukan?


Aira membatu selama sepersekian detik, masih syok dengan kehadiran Ken yang tidak ia sadari. Sama seperti sebelumnya, Ken juga tak menyadari kehadiran Aira saat pria lesung pipi itu berkutat dengan segala prasangkanya.


Aira tersadar jika laptop di depannya masih menampilkan data yang susah payah ia kumpulkan tanpa sepengetahuan Ken. Ia tidak ingin Ken tahu tentang kemampuannya meretas sistem keamanan sebuah negara demi membantunya menemukan adik Shun. Ah, bukannya tidak ingin Ken tahu, tapi belum saatnya ia memberitahu suaminya itu.


HAP


Ken mencengkeram pergelangan tangan kanan Aira yang bersiap menutup layar pipih di depannya. Ia sudah curiga Aira menyembunyikan sesuatu, dan menunggu saat yang tepat untuk 'menangkap basah' aksi istrinya itu. Kecepatan geraknya masih lebih unggul dari Aira. Bagaimanapun, Ken lebih berpengalaman dari istrinya di dunia yakuza ini. Respon super cepatnya terlatih untuk melindungi dirinya saat menghadapi musuh. Terlambat satu detik saja, nyawanya bisa melayang.


Aira menatap Ken dengan waspada, tetap berusaha mempertahankan penemuannya agar tak diketahui Ken. Tangan kiri Aira berusaha melepaskan tangan Ken yang sedang mencengkeram tangan kanannya. Sebuah smirk terukir di bibir Ken, menampilkan sebelah lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin tampan.


"Mau melawanku, manis?" goda Ken melihat Aira yang tak menyerah. Ia mendekatkan wajahnya, berhenti tepat di depan kening Aira. Keduanya hanya berjarak beberapa centimeter sekarang. Aira melirik tetes air yang jatuh dari rambut basah Ken ke pangkuannya. Semerbak wangi lemon menguar dari tubuh atletis di depannya membuatnya semakin hilang fokus. Aroma kesukaan Ken itu seolah membius Aira, mengacaukan konsentrasinya.


Glek


Pipi Aira seketika merona mendengar panggilan itu sambil menelan ludahnya dengan paksa. Sisi wanitanya tersentuh hanya karena satu kata yang terdengar ambigu. Selain kata-kata, aura Ken terasa sangat mendominasi disini.


'Kenapa ia terlihat begitu tampan? Sejak kapan dia pandai merayu? Bahkan memanggilku manis. Kata sifat yang lebih cocok jika dilekatkan dengan makanan semacam gula, kue atau permen.' berbagai pertanyaan bertumpuk dalam pikiran Aira di saat yang bersamaan.


Melihat fokus Aira yang sedikit terpecah, membuat Ken dengan leluasa mengangkat tangan Aira agar menjauh dari laptop. Tangannya yang lain segera mengambil benda yang tengah mereka perebutan itu dengan leluasa. Membawanya ke sisi badan, tak lagi berada dalam jangkauan Aira.


"Terima kasih istriku," lirihnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Cup


Ken mencium kening Aira yang nampaknya belum menyadari apa yang terjadi. Hal itu hanya berlangsung beberapa detik, bahkan mungkin tidak sampai satu detik. Aira kalah cepat dari suaminya lagi. Jam terbang benar-benar berpengaruh saat mengalami situasi genting seperti ini. Aira hanya bisa menundukkan kepalanya dan membiarkan Ken menjauh dengan komputer jinjing di tangannya. Ia mengakui kemenangan suaminya atas pertarungan mereka kali ini.


Aira beranjak bangun dari ranjang yang sedari tadi ia tempati, menanggalkan selimut yang menutupi kakinya. Ia tidak akan bisa melawan Ken sekarang. Memang ada beberapa hal yang tidak bisa ia lampaui, kecepatan Ken dan tentu saja pemikirannya yang kompleks. Aira berusaha mengimbangi kemampuan Ken, namun nyatanya ia belum bisa menyamai suaminya itu.


"Kamu mendapatkan jejak adik Shun?" tanya Ken setelah melihat data yang sedari tadi diperjuangkan oleh istrinya.


"Ya. Dia tidak ada di Italia." jawab Aira sambil melihat sekilas ke arah Ken yang kini duduk di kursi sofa, berkutat dengan laptop putihnya.



Sementara itu, ia mulai mendekat ke arah lemari di salah satu sisi ruangan, tepatnya di sebelah pintu masuk. Ada beberapa sweater lengan panjang dan palto berwarna soft yang ada di dalamnya, terhalang oleh dinding kaca. Shun bahkan memikirkan hal kecil semacam ini, membuat Aira sedikit ingat pada pertemuannya dengan Shun beberapa tahun yang lalu. Mungkin mereka perlu bicara, selain urusan kepergian Ken. Ia harus berterima kasih untuk paket liburan ini dan uang yang Shun tinggalkan saat di Thailand.


(palto : baju hangat khas musim dingin)


"Aku akan mengatakannya saat sudah mendapat data yang valid. Jika aku mengatakannya sejak awal, pasti kamu tidak akan mengizinkanku terlibat. Benar 'kan?" Aira mengambil sebuah sweater rajut berwarna biru dan celana panjang dengan warna senada namun lebih gelap. Sebuah palto berwarna krem ada di tangan sekarang, melengkapi baju yang akan ia kenakan.


Ken tak bisa menyangkal pernyataan istrinya tersebut. Hal itu memang benar adanya, ia tidak akan mengizinkan Aira berhubungan dengan dunia gelapnya. Apapun yang terjadi atau sesulit apapun masalah yang ia hadapi, jangan sampai membahayakan keselamatan istri dan anak-anaknya kelak. Tapi sepertinya Aira sudah terlibat sekarang dan ia tidak bisa mencegahnya.


"Kamu bisa meretas jaringan?" selidik Ken masih sangsi. Ia tidak tahu kemampuan khusus istrinya ini.


"Begitulah." jawab Aira sambil membuka lemari yang lain, mengambil pakaian untuk Ken. Ia memilih sebuah sweater hitam lengan panjang dan jaket eksklusif keluaran designer terkenal Giorgio Armani. Ken menerimanya setelah meletakkan laptop Aira di meja. Ia langsung memakainya di tempat, berbeda dengan Aira yang memakai bajunya di dalam kamar mandi karena merasa malu. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang wanita dan mahkota tertinggi mereka adalah rasa malu. Wanita tanpa rasa malu tak ubahnya seperti butiran debu, tak ada harganya sama sekali.



Krekk

__ADS_1


"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Ken begitu melihat pintu kamar mandi terbuka, menampilkan istrinya dalam balutan baju hangat sampai ke lutut. Rambutnya masih tergerai bebas sampai ke punggung.


"Kamu pasti tidak akan menyetujuinya." jawab Aira sambil menatap Ken yang mengenakan pakaian serba hitam. Ia berusaha tidak terpengaruh dengan pandangan mematikan Ken yang tampak seperti seekor elang yang sedang mengincar mangsanya.


"Apa aku seburuk itu?" tangan Ken masih setia memangku pipi kanannya, tak bergerak sedikitpun sejak beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar menantikan penjelasan Aira tentang apa yang istrinya itu ingin lakukan.


Aira berbalik, mengambil hairdryer dari dalam laci dan mulai mengeringkan rambutnya. Ia masih memilah kata yang tepat untuk mengungkapkan semua rahasianya pada sang suami.


"Aku akan menceritakan semuanya, dengan satu syarat." pinta Aira.


"Katakan!" jawab Ken tanpa basa-basi. Ia mulai mendekati Aira dan mengambil alih pengering rambut berwarna hitam yang ada di tangan mungilnya. Ia membantu istrinya mengeringkan rambut.


"Bisakah kamu tidak ambil bagian saat aku dan Yu membuat kesepakatan dengan Oguri Shun nanti?"


Deg


"Kesepakatan?"


Nafas Ken tercekat seketika. Entah kesepakatan seperti apa yang istrinya rencanakan. Apalagi dia bekerjasama dengan Yu. Apakah itu sesuatu yang berbahaya?


*******


Happy reading gaess. See you next chapter 🤗


Jaa mata ne,


With love ♡

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2