Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Biarkan Silent Berbicara


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul delapan pagi waktu Indonesia bagian barat. Ken dan Aira baru saja selesai makan pagi bersama ibunya. Mereka terlihat sibuk membersihkan peralatan makan di dapur. Ibu tengah mengurus tanaman di halaman belakang.


Deg!


Aira memegangi dadanya. Dia merasa ada yang tidak beres, membuat gerakan tangannya terhenti. Piring yang Ken ulurkan tak lagi ia terima, membuat pria 28 tahun itu menoleh ke arah istrinya.


"Ada apa, Sayang?" Ken memaku pandang pada wanitanya.


Aira menoleh ke arah Ken dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Aku khawatir terjadi sesuatu dengan mereka." Suara Aira yang lirih tetap berhasil tertangkap indera pendengaran Yamazaki Kenzo. Dia juga melihat dengan jelas mimik wajah dan gerakan bibir wanitanya, menyiratkan ketakutan berlebih.


Drap drap drap


Di saat keduanya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, dari kejauhan tampak Sakura mulai menuruni tangga dengan tergesa.


"Tuan,Nona!" panggilnya sambil sedikit berlari. Raut wajahnya terlihat tidak tenang, seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang mengejutkan.


"Tu-an, No-na," ulangnya dengan suara terbata. Dadanya naik turun, menunjukkan bahwa dia tergesa untuk turun dari lantai dua dengan segera..


"Ada apa? Ambil napasmu lebih dulu." Aira merespon pengasuh bayinya, sementara Ken menyelesaikan pekerjaan rumah di depannya sebelum membersihkan tangan dan mengeringkannya dengan handuk yang ada di tangan sang Istri.


"Anda berdua harus segera kembali. Lihat apa yang terjadi."


Sepersekian detik Ken dan Aira saling pandang. Mereka baru saja membicarakan bahwa Aira khawatir sesuatu terjadi dengan orang-orangnya di Jepang, detik berikutnya datang Sakura yang melapor dengan tergesa. Ini tidak bagus. Pasti ada sesuatu hal buruk yang telah terjadi.


Ken dan Aira mengangguk bersamaan sebelum melesat dengan kemampuan masing-masing, berlari sekuat tenaga menuju kamar utama yang mereka tinggalkan tiga puluh menit yang lalu. Selain untuk memastikan anak-anak mereka baik-baik saja, mungkin ada kejadian tak terduga yang terlihat di monitor.


Sakura tidak sempat menjelaskan situasi buruk apa yang terjadi. Dia terlalu panik, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan situasi yang ada.


Ken sampai lebih dulu dan mendapati ketiga putra putrinya masih baik-baik saja di tempatnya semula. Ada Mao yang menjaga mereka selama Sakura pergi tadi.


"Tuan." Mao menunjuk layar laptop yang tergeletak di atas meja. Disana menampilkan pemandangan dimana Anna dan Maria tampak tertawa-tawa.


'Apa yang terjadi sebenarnya?' batin Ken. Dia segera memutar ulang rekaman kamera yang ada, beberapa menit ke belakang. Tampak Anna membawa komputer jinjing warna merah miliknya dari dalam kamar dan meletakkan benda tipis itu di atas meja.


Detik berikutnya, tampak Maria meletakkan wadah penuh berisi popcorn di atas meja. Dia kembali ke dapur, mengambil dua gelas minuman yang telah ia siapkan sebelumnya. Hal itu membuat Ken mengerutkan kening dalam-dalam. Dia tidak bisa menduga apa yang terjadi.

__ADS_1


"Shit! Apa yang aku lewatkan?!" Ken merasa kesal. Ia mengepalkan tangannya, tidak tahu Anna dan Maria mulai bertindak saat ia dan Aira sedang sarapan.


Aira sampai beberapa detik setelah Ken mulai mengutak-atik layar monitor di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Aira khawatir. Dadanya naik turun dengan cepat, berusaha menetralkan lagi fungsi jantung dan sistem pernapasan yang ada di dalam tubuhnya. Ia berlari dari dapur menuju lantai dua ini, menapaki anak tangga dengan tergesa.


Ken tak lantas menjawab, perhatiannya terus terfokus pada layar monitor. Dia mencoba menggali apa yang telah mereka lewatkan bermenit-menit yang lalu.


"Saya tidak tahu detailnya, tapi mereka menyebut tentang tuan Yuki." Suara Mao memecah keheningan.


Ken sibuk menggerak-gerakkan jemarinya di atas mouse, mengalihkan kamera pengawas yang satu ke kamera lainnya.


"Yuki?" Aira membeo. Dia tidak tahu kenapa perasaannya semakin tidak tenang begitu Mao menyebutkan satu nama itu. Ia dan Ken terlalu fokus mengawasi Anna dan Maria di dalam kediamannya, tidak menyangka kedua wanita licik itu akan mulai menyisir Yuki seperti sebelumnya.


"Sakura, tolong siapkan laptop lainnya," pinta Aira dengan tergesa. Dia tahu tidak akan ada banyak waktu yang tersisa jika sudah seperti ini situasinya. Melihat dari ekspresi Anna dan Maria, terlihat jelas mereka mulai bersenang-senang dengan rencananya.


"Sial! Aku tetep tidak bisa tahu apa yang mereka rencanakan. Tidak ada satupun kamera yang bisa menangkap layar laptop yang mereka lihat." Ken terlihat murka.


Semua kamera yang Kosuke pasangkan kemarin lusa hanya memperlihatkan Anna dan Maria dari kejauahan, tidak terlihat detailnya. Mereka tidak memasang kamera dari sisi atas yang bisa mengawasi keseluruhan ruangan ini.


"Silent bisa melakukannya!" tegas Aira, meraih tangan Ken dan menggenggamnya dengan erat.


Sakura datang dengan membawa laptop warna hitam di tangannya. Dia sigap meletakkan benda itu di atas meja.


"Ini, Nona."


"Umm." Aira segera mengambil alih benda berbentuk pipih itu, menekan tombol power dan menunggunya menyala. "Biarkan 'silent' yang berbicara."


Detik demi detik yang terlewati terasa begitu lama, membuat Ken dan Aira semakin khawatir.


"Kamu menanamkan 'silent' di laptop milik Anna sebelumnya?" selidik Ken. Dia tidak tahu istrinya menggunakan teknologi meretas komputer untuk memata-matai musuh mereka.


"Ya. Aku meminta Kosuke melakukannya. Kamu tertidur, jadi aku ambil alih komandonya." Aira mulai sibuk begitu layar monitor di hadapannya mulai standby. Kesepuluh jemarinya menari-nari dengan cepat, masuk ke dalam program yang bisa ia gunakan untuk menghubungkan laptop Anna dengan miliknya.


Silent adalah program buatan yang bisa memindai dan meretas komputer seseorang tanpa jejak, tanpa suara, juga tanpa notifikasi apapun. Dia sudah mempelajari ini selama dan mengantisipasi rencana Anna yang tidak mereka ketahui. Tapi, ternyata mereka terlambat satu langkah. Aira tidak menyangka Anna bergerak di jalur yang berbeda, menyasar Yuki lebih dulu.


Dilayar Monitor yang ada di depan Kenzo, tampak Anna berdiri berkacak pinggang, melihat Maria dengan pandangan berbinar. Kedua wanita Rusia itu pasti merencanakan sesuatu yang besar.

__ADS_1


"Sakura, ambilkan pengisi daya di dalam laci." Aira melirik indikator baterai laptop yang menunjukkan warna kuning. Ia lupa tidak mengisi dayanya semalam. Jika tiba-tiba komputer portable ini mati saat tengah beroperasi, tamatlah riwayat pengintaian yang tengah ia lakukan.


"Baik." Sakura segera melaksanakan perintah nonanya, menghubungakn alat charger itu ke dalam soket daya yang ada di bawah ranjang.


"Ken, apa yang mereka lakukan?" Aira melirik sekilas monitor di hadapan Ken yang menunjukkan Anna dan Maria tertawa-tawa.


"Aku tidak tahu. Kalimat yang mereka ucapkan tidak terdengar jelas." Ken kesal karena suara yang muncul dari masing-masing kamera pengintai tidak terdengar jelas, seperti terganggu oleh radar lain atau semacamnya.


"Kalau begitu hubungi Shun atau Mone. Tanyakan pada mereka apa sudah ada tanda-tanda Anna bergerak mendekati mereka."


Tanpa banyak kata, Ken segera mengambil ponsel di atas nakas dan mulai menghubungi sahabatnya. Dia tidak ingin melewatkan satu hal sekalipun. Dengan segala cara, mereka berdua akan mengatasi rencana jahat yang Anna dan Maria mainkan.


"Mao, tolong ambilkan ponselku. Hubungi Kosuke sekarang juga."


"Baik, Nona." Gadis yang menjadi rekan kerja Sakura itu langsung mencari kontak asisten pribadi tuannya.


"Ini, Nona." Sakura memberikan earpiece warna hitam pada Aira yang langsung dipakainya. Alat bantu dengar itu akan membuatnya terhubung dengan Kosuke tanpa perlu menyentuh ponsel pintar yang kini ada dalam genggaman Mao.


Bukan hal yang aneh bagi agen rahasia sepertinya mengetahu atau bahkan terbiasa menggunakan alat komunikasi lain untuk mempermudah misinya. Bahkan tak jarang, ia harus menggunakan alat-alat canggih ini secara bersamaan seperti yang terjadi sekarang.


Sementara menunggu Kosuke mengangkat panggilannya, jemari Aira kembali melanjutkan pekerjaannya, memasukkan berbagai kombinasi huruf dan simbol. Bahasa pemrograman yang muncul di layar benar-benar kompleks, Sakura tidak memahaminya sama sekali.


"Sakura, Mao, bawa anak-anak kembali ke kamar mereka." Titah Aira terdengar begitu lugas, membuat Mao dan Sakura mengangguk tanpa suara.


Keduanya segera bergerak, tidak ingin menunda lebih lama lagi. Mereka tahu Ken dan Aira sibuk dengan urusannya, jika salah satu dari tiga bayi menggemaskan itu terbangun dari tidurnya, akan mengganggu konsentrasi masing-masing.


"Moshi-moshi, Kosuke," panggil Aira begitu terdengar panggilannya mulai tersambung. Ia mengangkat sebelah tangannya, menyentuh earpiece yang menempel di telinga.


"Ya, Nona. Saya di sini." Suara Kosuke terdengar jelas di telinga kiri Aira melalui alat mungil yang terpasang sejak beberapa detik yang lalu.


"Ada tugas untukmu. Lakukan sesuai perintahku."


* * *


Tugas apa yang akan diberikan oleh Aira untuk Kosuke? Bisakah dia mencegah seluruh rencana Anna dan Maria? Dimana Mone dan Yamaken? Apa yang sedang mereka lakukan? Bagaimana dengan Yuki? Apa yang terjadi padanya?


Sampai jumpa di bab berikutnya. See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2