
Semilir angin berhembus melewati bingkai persegi panjang yang terbuat dari besi, menerbangkan tirai yang membuatnya seolah menari-nari tak beraturan. Semburat merah terlukis di ufuk barat, menandakan waktu segera berganti malam.
Aira membuka kelopak matanya secara perlahan dan melihat siluet seorang pria yang berdiri di depan jendela, beberapa meter dari tempatnya berbaring. Ia segera menatap sekeliling, menilai dimana ia berada sekarang.
Asing.
Satu kata yang terbersit di benak Aira. Ia segera duduk dan memasang sikap waspada. Ruangan berdinding kuning ini tampak luas, dimana tidak ada perabot lain kecuali ranjang yang ia duduki sekarang dan sebuah kursi di sisi kanannya. Tak ada meja, sofa panjang atau bahkan almari seperti yang biasanya mendominasi ruang tidur. Hanya ada cermin besar yang tertanam di salah satu dindingnya.
Ini bukan tempat biasa, Aira yakin seseorang ada di balik cermin dan sedang mengawasinya. Sebuah kamera CCTV terletak di salah satu sudut ruangan. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang kecuali memandang pantulan dirinya yang kini duduk di ranjang king size berwarna putih.
Deg
Denyut nadinya seolah terhambat sepersekian detik, menimbulkan perasaan was-was yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Jari-jarinya seketika terasa begitu ngilu untuk sekedar ia kepalkan.
"Tidur nyenyak, nyonya Yamazaki?" tanya suara berat itu seolah menyadarkan Aira bahwa ia benar-benar dalam bahaya sekarang.
Pria itu berbalik, menatap Aira dengan seringai lebar di wajahnya. Dialah Takeshi Kaneshiro, pria 47 tahun yang berkedok sebagai malaikat pelindung Mone selama lima tahun belakangan.
Aira mencoba bersikap tenang meski hatinya mulai bergemuruh. Ada ketakutan yang menghantuinya, ia sendirian di sini. Berbagai prasangka buruk sontak menyerang akal sehatnya, merenggut kepercayaan diri yang ia tanam sebelumnya.
Aira mencari jam tangannya, berniat mencari tahu berapa lama ia terlelap, namun nihil. Benda bulat yang sebelumnya melingkar di pergelangan tangannya tak lagi ada di sana. Juga cincin dan semua asesoris yang ia gunakan, entah dimana rimbanya. Aira segera meraba anting di telinganya dan ia harus kembali menelan kekecewaan saat mengetahui benda berbentuk kincir angin itu tak lagi ada di sana. Pasti seseorang melepasnya saat dia tak sadarkan diri. Sial!
"Kamu mencari ini?" tanya Takeshi sambil menunjukkan perhiasan mungil di antara ibu jari dan jari telunjuknya, "Aku sudah merusak GPS di dalamnya. Tidak ada gunanya lagi kan?" cetus Takeshi sambil melempar anting itu ke sembarang arah.
Sumpah serapah bermunculan di benak Aira detik itu juga. Ingin rasanya merapal semua kalimat tidak baik itu dari mulutnya. Sayangnya, logika Aira masih bisa berpikir jernih. Tidak ada gunanya, yang ada Takeshi semakin merasa di atas angin. Ia harus tenang untuk bisa mengatasi orang ini.
"Tuan Takeshi Kaneshiro yang terhormat, bolehkah saya tahu apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Aira dengan senyum terkembang di wajah.
"Ckck.. Nyalimu besar juga." ucap Takeshi sarkas.
"Apa itu sebuah pujian? Jika iya, maka saya cukup tersanjung mendengarnya dari mulut anda sendiri." ucapnya dengan tenang.
Takeshi mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Aira. Senyum hangat terpancar di wajahnya, tetapi hatinya sebaliknya. Ia ingin mengupas habis atau bahkan memusnahkan wanita hamil di depannya ini. Dan Aira sangat paham tentang hal itu. Lagi-lagi peringatan Ken saat ia pertama masuk ke akademi terlintas di pikirannya, bahwa orang yang tersenyum di depan kita lebih berbahaya dibandingkan mereka yang menghunuskan pisau dengan terang-terangan.
Dan Aira juga bersikap setenang mungkin, memupuk kepercayaan dirinya yang sempat pudar beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Takeshi sambil menyerahkan segelas susu yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan wanita yang kini berdiri di belakang pria itu.
"Sama seperti yang Anda inginkan." jawab Aira sambil menerima minuman hangat itu, "Terima kasih." ucapnya sebelum meneguk habis isi dalam gelas. Ia menyerahkan gelas kosong itu pada pelayan yang sigap menerima uluran tangan Aira.
"Kamu meminumnya? Tidakkah kamu takut itu beracun?" sindir Takeshi.
"Jika anda ingin membunuh saya, anda sudah melakukannya." jawab Aira tenang, menatap tepat pada manik mata berwarna hitam itu. Sama. Ken dan Yamazaki memiliki aura yang sama saat menatap. Apa yazuka memang memiliki keharusan untuk membunuh dengan tatapan mereka? Entahlah...
"Kamu terlalu percaya diri. Aku bisa membunuhmu kapanpun jika aku mau." Takeshi membela diri, tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya.
"Itu tidak akan terjadi. Istri anda begitu peduli pada saya. Jika dia tahu anda menyakiti saya sedikit saja, bisa saya pastikan anda akan mendapat kebenciannya." Aira berbicara dengan formal, membuat Takeshi semakin geram. Wanita ini tidak bisa ia hasut, ia seolah tidak takut pada kematian atau bahaya apapun yang menunggunya nanti.
"Siapa bilang?" Takeshi mengambil pistol yang tersimpan di balik jas hitamnya dan mengacungkan benda berbahaya itu di depan kening Aira.
"Tanpa ilmu bela diri, wanita lemah sepertimu bisa apa?" sindir Takeshi.
Mone yang berdiri di balik cermin hampir berlari jika Anna tidak menahannya. Meskipun tidak mendengar percakapan keduanya, tapi Mone yakin mereka sedang berselisih. Ya, ruangan tempat Aira dan Takeshi berada kedap suara, tidak akan terdengar dari luar.
"Anda mungkin bisa membunuh siapapun, tapi saya percaya anda tidak berhak atas nyawa siapapun, termasuk nyawa kami." Aira mengelus perutnya perlahan, berdoa dalam hati semoga pria ini tidak benar-benar membunuhnya. Bagaimanapun juga Aira tidak boleh menunjukkan kemampuannya, meski ia sangat ingin melakukannya. Seperti yang Ken katakan, ia akan lebih aman jika menjadi wanita lemah saja. Saat ini ia hanya harus menebalkan muka, memupuk kepercayaan dirinya di depan Takeshi. Hanya itu yang bisa ia gunakan sebagai senjata pamungkasnya saat ini.
Deg
Takeshi memangku sebelah lututnya sambil tersenyum. Tampaknya ia tahu kenapa Ken memilih wanita ini sebagai istrinya, karena dia pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh wanita manapun di dunia ini. Pasti.
"Aku meragukanmu." ucap Takeshi.
"Tentang?"
"Kemampuanmu." ucap Takeshi tanpa mengalihkan pandangannya dari Aira. Senyum di wajahnya bahkan tidak luntur setelah beberapa menit berlalu, "Aku ingin tahu seberapa banyak kelebihan yang kamu miliki?"
"Anda menilai saya terlalu tinggi, tuan Takeshi. Bukankah anda sudah mendapat informasi tentang saya, termasuk kedua orang tua saya di Indonesia?" tanya Aira sambil membenahi jilbab yang dipakainya. Mencari tahu kemana arah pembicaraan pria itu.
Takeshi diam. Ia tahu pasti Ken sudah mengetahuinya bahwa ia menggali informasi tentang Aira. Ken memiliki banyak agen, pastinya termasuk di Indonesia.
__ADS_1
"Bolehkah saya bertanya satu hal pada anda?" tanya Aira setelah tidak ada suara diantara mereka. Saling diam dengan pemikiran masing-masing.
Takeshi mengisyaratkan dengan tangannya, mempersilahkan Aira untuk menyampaikan pertanyaannya.
"Benarkah anda yang bertanggung jawab atas peristiwa penembakan lima tahun yang lalu? Anda menargetkan Shun tapi tuan Kamishiraishi yang menjadi korbannya?" tanya Aira to the point. Ia ingin melihat reaksi pria ini.
"Dari mana kamu mendengarnya?" tanya Takeshi datar dan dingin.
"Bukan hal yang mustahil untuk saya mengetahui hal itu. Seperti halnya mendapat data Mone yang anda sembunyikan, saya juga bisa mengatakan seberapa hebat kemampuan Mone pada istri anda. Bukankah mereka ada di balik cermin sekarang?" tebak Aira.
"Kamu mengancamku?" sarkas Takeshi. Ia menarik sebelah bibirnya, salut pada keberanian Aira. Pegangan tangannya mengerat pada pistol yang sedari tadi tersimpan dalam genggamannya.
"Saya tidak berani melakukannya." jawab Aira.
"Jika kamu ingin tahu, tanyakan sendiri padanya di alam baka."
DOR
"Kakak..." teriak Mone sambil berlari. Ia melepas cekalan tangan Anna dengan paksa dan berlari dari ruangan itu menuju tempat dimana Aira berada.
PRANG
Sementara itu 60 km dari kediaman Takeshi, Kaori tertegun di tempatnya berdiri. Ia menatap Yu yang kini berdiri di depannya dengan gelisah. Cangkir yang ia pegang terjun bebas menghantam lantai marmer di bawahnya.
"Apa yang kamu katakan, itu tidak benar kan?" tanya Kaori meragu. Perasaan takut seketika menjalar di hatinya. Semoga semuanya baik-baik saja.
*******
Deg degan bikin ini.. Semoga kalian suka. Jangan lupa like, vote & comment yaa. Siap-siap buat next episode yang bikin jantung berdebar lebih cepat 🤗
Maaf ya slow update, see you next episode 😘😘
With love,
Hanazawa easzy
__ADS_1