Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Silent


__ADS_3

Mone keluar dari ruangan itu dengan denyutan hebat di kepala. Langkah kakinya mengarah ke balkon lantai dua rumah ini. Rumah yang ia tinggali beberapa tahun terakhir bersama Anna dan Takeshi. Apa-apaan ini?


Penjelasan ayah angkatnya tentang Aira membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Gadis itu mencengkeram besi berulir di depannya dengan erat. Matanya menatap lurus ke angkasa yang terlihat gelap sempurna. Berbagai perasaan tak menentu bercampur dalam hati dan mulai mengusik pemikiran rasionalnya.


Perlahan tubuhnya luruh ke lantai. Ia menelan salivanya dengan susah payah, beradu dengan nafas yang terasa berhenti di tenggorokan. Ia mulai menitikkan air mata dan memukuli dadanya yang terasa sesak. Kenyataan ini begitu mengejutkannya, entah ia harus merasa senang atau justru sedih.


"Sayang..." Anna memeluk putrinya dengan lembut. Membawanya ke dalam dekapan hangat di tengah udara musim dingin yang terasa mencekam.


Ia tidak tahu apa yang suaminya katakan pada putri mereka sampai membuatnya begitu terluka, yang pasti ia harus menenangkan Mone. Apapun yang terjadi, ia akan mendukung keinginan putri kesayangannya itu. Rasa cintanya melebihi apapun di dunia ini, tidak ada yang bisa mengalahkannya.


Takeshi Kaneshiro terpaku di tempatnya berdiri. Ia merasa bersalah telah menyampaikan fakta mengejutkan ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa menarik kembali ucapan yang terlontar dari mulutnya.


*******


"Minami?" tanya Aira heran ketika melihat asisten pribadinya dan sang suami ada di sana. Seingatnya mereka sudah pulang beberapa jam yang lalu.


Dengan sigap Aira mengambil jilbab segi empat yang ada di pundaknya, mengaitkan sebuah peniti di bawah dagunya dan merapikannya sekilas. Jurus tersimpel menggunakan jilbab ini cukup efektif digunakan oleh Aira. Kurang dari 1 menit dan auratnya sudah tertutup sempurna.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Aira menatap Minami dan Kosuke bergantian. Pandangan matanya tertuju pada kotak kubus yang berisi anting miliknya. Ia meraba telinganya, namun masih ada perhiasan mungil di alat pendengarannya itu.


' Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Aira.


Kedua asisten pribadi itu hanya bisa menunduk dalam, tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan nona-nya ini. Perasaan tidak nyaman seketika menghantuinya. Mereka merencanakan sesuatu di belakang Aira.


"Ai-chan, aku bisa menjelaskannya." ucap Ken.


Aira mengambil piring berisi bulatan coklat yang dibuat Ken sebelumnya. Ia menikmati chocholate truffle di depannya dengan lahap. Tidak mempedulikan pandangan tiga orang yang ada di sekitarnya.


"Nona..." panggil Minami lirih. Ia kini bersimpuh di hadapan nonanya dengan rasa bersalah yang memuncak, "Ini semua salah saya." ucapnya.


Aira memasukkan potongan terakhir coklat berbentuk bulat itu ke dalam mulutnya. Ia bersikap seolah tidak mendengar apapun. Kakinya melangkah santai menuju wastafel dan mulai mencuci piring bekas camilan manisnya tadi.


"Ai-chan..." panggil Ken saat Aira melewatinya begitu saja, sosoknya hanya seperti angin lalu di mata istrinya.


"Terima kasih atas makanannya, suamiku." ucap Aira dengan senyum terkembang di wajah. Ia mengalungkan ujung jilbab pashmina yang jatuh melangsai melewati bahunya sedetik yang lalu. Raut wajahnya kembali datar setelah menampilkan fake smilenya pada Ken barusan.


*fake smile : senyum palsu.


Aira marah. Jelas-jelas tadi Ken mengatakan akan menjadikannya sebagai umpan. Ya, itulah yang terjadi. Aira pura-pura tidur untuk melihat apa yang akan suaminya lakukan. Dan ternyata dugaannya benar. Entah rencana rahasia apa yang disusun oleh suaminya, bahkan Minami saja sampai berani menutupi hal itu darinya. Asistennya itu bekerja sama menyiapkan anting yang sama persis dengan yang ia pakai sebelumnya.


Aira tidak ingin mendengar apapun alasannya. Katakanlah ia egois, tapi ia juga berhak marah karena seolah mereka semua tidak menganggap keberadaan Aira dalam rencana besar itu.


"Jika sedari awal kalian tidak ingin aku tahu, sebaiknya pastikan telingaku benar-benar tidak pernah mendengarkan pembicaraan kalian." ucap Aira dingin.


"Kita akan berangkat ke Rusia siang ini." ucap Ken pada akhirnya. Ia akan mengatakan semuanya pada Aira sebelum masalah ini menjadi semakin rumit.


"Jangan katakan rencana rahasia kalian pada 'orang luar'." ucap Aira, menekankan dua kata terakhir yang ia ucapkan barusan. Langkahnya berlanjut menuju kamar setelah sempat terhenti saat mendengar perkataan Ken.


"Gomen.." Ken menahan jemari istrinya.


(Maaf)


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Lanjutkan saja rencananya, aku tidak ada hubungannya dengan itu." ucap Aira bersiap melepas anting di telinganya.


"Maaf..." Ken menarik istrinya dalam pelukan. Ia menahan tangan Aira dan membawanya turun ke sisi badan. Ia menyesal karena telah menyimpan rahasia dari istrinya. Seharusnya ia berbagi keluh kesah dengan ibu dari anak-anaknya ini, bukan pada orang lain.


Aira berdiri tanpa ekspresi. Tangannya tetap lurus di samping badan, enggan membalas pelukan suaminya. Lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan dari sikap Ken.


"Maaf karena menyembunyikan banyak hal darimu. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir dan memikirkannya berlarut-larut. Aku akan memberitahumu saat semuanya sudah terkendali. Saat ini ada beberapa hal yang harus ku pastikan demi keselamatanmu."


Hening


Lidah Aira terlalu kelu untuk berucap. Ia melepas pelukan Ken dan berlalu menuju kamarnya. Detik berikutnya ia pergi menuju kamar mandi dan mulai membenamkan dirinya dalam bath tube yang berisi air hangat. Ia harus menenangkan dirinya.

__ADS_1


Ken mendekat ke arah istrinya, duduk di samping cekungan keramik berbentuk oval itu dan meraih tangan istrinya. Ia harus menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Ai-chan..." panggil Ken.


"30 menit. Biarkan aku sendiri. Setelah itu kita bisa membicarakan semuanya." ucap Aira tanpa membuka matanya. Bagaimanapun juga ia hanya manusia biasa, bisa marah, sedih, kecewa dan segala perasaan lainnya. Ia bukan malaikat yang bisa selalu berbaik sangka meskipun itu pada suaminya sendiri. Dan saat emosi seperti sekarang, ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Meredam amarahnya agar tidak salah mengambil keputusan.


Ken berlalu kembali ke ruang tengah dengan wajah muram. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi istrinya. Semula ia berencana akan memberi tahu Aira saat mereka ada di pesawat nanti, tapi ternyata hal tidak terduga terjadi seperti sekarang.


"Tuan.." panggil Kosuke khawatir.


"Pergilah. Kemasi barang kalian dan kembali ke sini setelahnya." ucap Ken lirih. Ia duduk di kursi yang ditinggalkan Aira dan menatap perhiasan berbentuk kincir angin yang tergeletak di meja. Semua salahnya yang tidak bisa terbuka pada Aira. Ia berhak menerima kemarahan istrinya.


30 menit berlalu...


Aira keluar dari kamarnya dengan dress panjang yang menutupi mata kakinya. Wajahnya tampak segar dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai sampai ke pinggangnya. Ia menghampiri Ken yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mungkin suaminya itu sedikit frustasi memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Sudah kusiapkan air panas. Pergilah basuh tubuhmu agar terasa lebih baik." ucap Aira sambil tersenyum. Emosinya sudah terkendali sekarang.


Ken beranjak menuruti saran istrinya tanpa mengatakan sepatah kata pun dan kembali beberapa menit kemudian. Wajahnya tampak lebih segar dan berseri. Nampaknya minyak aroma terapi lavender yang Aira tuang di bak mandi cukup berpengaruh untuk memperbaiki perasaan suaminya.


Aira menyajikan nasi kepal dan telur gulung buatannya di atas meja. Mereka menikmati sarapan dengan tenang seolah tak ada masalah yang terjadi sebelumnya.


"Terima kasih." ucap Ken. Lagi-lagi ia harus mengagumi pembawaan istrinya yang bisa menguasai emosinya dengan baik. Sangat berbeda dengannya yang seringkali meledak-ledak saat marah.


Mungkin itu sebabnya Tuhan menitipkan penjagaan seorang anak dalam kandungan wanita selama sembilan bulan, karena mereka memiliki emosi yang stabil. Tak terbayangkan jika seorang pria yang mengandung, perang dunia ketiga pasti tidak bisa dihindari.


"Ai-chan, ada yang harus aku katakan." ucap Ken sembari membantu istrinya mencuci peralatan makan mereka.


"Katakan saja." jawab Aira dengan senyum hangatnya.


"Kamu tidak marah lagi?" tanya Ken meragu.


"Untuk apa marah?" Aira menyenggol lengan Ken yang berdiri di sampingnya, "Aku yakin apapun yang kamu lakukan, itu adalah yang terbaik untukku dan anak kita." ucapnya kemudian.


Aira mengangguk, "Tidak ada yang lebih ku percayai lagi selain suamiku sendiri."


"Maaf karena tidak mengatakannya sejak awal." sesalnya.


"Berapa kali kamu akan mengatakannya? Aku sudah memaafkanmu. Jangan berpikir aku masih menyimpan dendam pada suamiku sendiri." Aira mencolek hidung Ken dengan jari telunjuknya yang basah, meninggalkan buih sabun cuci piring di sana dan berhasil membuat Ken tersenyum.


Drrtt drrtt


Terdengar getaran ponsel milik Ken yang tergeletak di meja tak jauh dari keduanya. Benda pipih itu bergerak pelan dengan layar berkedip menunjukkan ada telepon yang masuk.


"Ponselmu." ucap Aira mengingatkan agar suaminya pergi mengangkat panggilan itu.


Ken menurutinya. Wajahnya tampak serius sebelum akhirnya mengakhiri panggilan dua arah itu. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ada apa?" tanya Aira yang kini berdiri di sisi suaminya.


"Ai-chan, berjanjilah jangan pernah melepasnya," Ken memegang telinga Aira, mengusap anting yang ia pakaikan beberapa waktu lalu.


"Mungkinkah..." Aira ragu mengatakan prasangkanya.


Ken mengangguk, "Ada GPS di dalamnya."


Aira memegang telinganya sendiri, perlahan rasa khawatir menyeruak di dalam hatinya. Apa yang Ken lakukan pastilah beralasan, tapi ia belum mendengar apa alasan suaminya menyematkan GPS ini padanya. Detik berikutnya ia menganggukkan kepala menuruti perintah suaminya, "Aku janji." ucapnya.


"Seseorang menggali informasi pribadimu. Aku yakin dia adalah orang yang selama ini melindungi Mone." ucapnya lirih. Urat lehernya tampak menegang menandakan ia tengah menahan emosinya.


"Bisakah kamu ceritakan pelan-pelan padaku sejak awal?"


Ken menganggukkan kepalanya lagi dan membawa istrinya duduk. Keduanya saling berhadapan dengan tangan saling berpegangan. Tepatnya Aira yang menggenggam jemari Ken, berharap suaminya bisa berpikir jernih. Lagi-lagi peran Aira begitu terasa untuk membuat suaminya tetap tenang dengan segala masalah yang akan mereka bicarakan.

__ADS_1


"Aku siap mendengarkan." ucap Aira karena Ken masih belum membuka mulut meski beberapa menit sudah berlalu. Ken menghembuskan nafas beratnya, ia merasa terbebani dengan tindakannya di belakang Aira.


"Aku membiarkan mereka menemukan alamat IP yang kamu gunakan untuk melacak keberadaan Mone. Dan sekarang mereka benar-benar memburu informasi pribadimu." ucap Ken dengan nada penyesalan di akhir kalimatnya. Raut khawatir terpancar dari kedua bola mata Ken membuat Aira semakin mempererat genggaman tangannya.


"Mereka mencari informasi sedetail mungkin tentangmu. Bahkan sampai informasi tentang ayah dan ibumu di Indonesia." ungkap Ken kemudian.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Aira penasaran.


"Aku menanamkan virus 'Silent' dalam jaringan mereka. Jadi, saat mereka mengakses informasi yang telah Kosuke siapkan, dalam waktu yang bersamaan virus itu meretas jaringan yang mereka gunakan. Jadi apapun informasi yang mereka cari, aku bisa melihatnya." jelas Ken.


"Mungkinkah mereka menyadari keberadaan silent itu?" tanya Aira.


"Tidak. Seperti namanya, aplikasi itu hanya diam di sana. Ia tidak akan merusak data atau menunjukkan gejala apapun di piranti penggunanya. Bukankah kamu tidak menyadari saat aku meretas ponselmu waktu itu?"


Aira tersenyum mendengar penjelasan Ken. Ia tahu suaminya bukan orang yang bisa diremehkan di dunia gelap, tentu saja virus ini bukan hal yang mustahil. Ken menciptakan virus tak kasat mata untuk memuluskan tujuannya. Ya, Ken pernah meretas ponselnya tanpa ia ketahui.


"Lalu, apa yang membuatmu khawatir?" tanya Aira.


"Mereka mengakses data rumah sakit dan mendapati fakta bahwa kamu tengah mengandung." ucap Ken dengan suara tertahan di tenggorokan, "Aku takut mereka memanfaatkan itu untuk mencelakaimu. Itu sebabnya aku membekali GPS ini padamu. Aku takut mereka menculikmu. GPS ini akan memudahkan aku menemukanmu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan lebih berhati-hati lagi kedepannya." janji Aira dengan tatap mata tajam menunjukkan kesungguhannya.


"Ah, satu hal lagi. Jangan menunjukkan kemampuan bela dirimu disana. Aku menyesatkan mereka dengan menyembunyikan pendidikanmu di akademi. Jadi mereka tidak tahu kemampuanmu sama sekali. Bersikaplah seolah kamu adalah wanita lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berselancar di dunia maya." ucap Ken memperingatkan.


Hal itu sukses membuat Aira tertawa sampai menutup mulutnya. Ia tidak menyangka suaminya berpikir serumit itu, "Tidak bisa berbuat apa-apa selain berselancar di dunia maya? Yang benar saja." ucap Aira merasa geli sendiri.


"Memangnya kenapa kalau mereka tahu aku bisa menggunakan senjata tajam? Bukankah itu justru akan membuat mereka gentar? Aku bahkan bisa melempar granat pada mereka jika kamu menginginkannya." cetus Aira belum mengerti jalan pikiran suaminya.


"Tidak." Ken membelai kepala Aira dengan lembut, menyingkirkan surai panjang miliknya ke belakang telinga.


"Mereka tidak akan menyerangmu jika kamu hanya 'wanita lemah'. Sebaliknya jika mereka tahu kemampuanmu, mereka pasti akan mengerahkan lebih banyak orang untuk menargetkanmu. Jadilah wanita lemah untuk mengamankan nyawamu sendiri." pinta Ken sambil menempelkan keningnya di kening Aira. Ia ingin istrinya itu mengerti pemikirannya dan jangan membantah.


"Baiklah. Aku mengerti." jawab Aira mengiyakan perintah suaminya.


Cup


Aira berinisiatif mencium suaminya membuat mata Ken membulat sempurna.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ken heran dengan sikap agresif istrinya. Tidak biasanya Aira memulai lebih dulu.


"Ucapan terima kasih karena kamu begitu mengkhawatirkanku." jawab Aira dengan pipi memerah.


"Kamu yang memulainya. Jangan salahkan aku jika jadwal penerbangannya harus diundur." bisik Ken di telinga kiri Aira yang berhasil mengaktifkan alarm tanda bahaya di kepala wanita hamil itu.


Aira segera melepaskan diri dari dominasi suaminya dan berlari menuju kamar. Ia segera mengunci pintunya, jangan sampai Ken masuk. Jika Ken serius dengan ucapannya, maka jadwal penerbangan mereka ke Rusia benar-benar harus diundur. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.


Ken menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aira yang panik hanya dengan beberapa kata yang ia ucapkan barusan. Menggemaskan. Hatinya menghangat melihat istrinya bisa kembali tersenyum seperti sebelumnya. Kesalahpahaman ini terselesaikan dengan baik.


*******


Unchh... 😉❤❤


Author baper endingnya 😣😭😭


Gimana gimana, kerasa naik turun kaya roller coaster belum? Hehe.. Kemarin kan sempet terkejut sama penyataan ayahnya Mone, sekarang virus buatan Ken lebih mengejutkan lagi. Ini Shun belum muncul loh, Yoshiro juga belum mulai beraksi. Yu sama Kaori masih adem ayem nih. Eh, jangan lupa kalo Mone juga mahir pake pistol yaa 😲 Kira-kira ada kejutan apa lagi kedepannya ya?


Segitu dulu aja ya gaess, see you next day 🤗


Big love for you all ❤ Thanks for like, vote, comment, etc. Author bahagia banget kalo kalian mau sempetin satu detik aja buat tap tanda jempol di bawah.


Mata ashita ne,


Hanazawa easzy ^^

__ADS_1


__ADS_2