
Ken mengajak Aira menemui Kaori terkait perubahan sikapnya yang terasa semakin aneh akhir-akhir ini.
"Kehamilan, terutama pada kehamilan pertama, merupakan peristiwa psikologis yang kuat. Di sini bumil mengalami banyak perubahan psikologis dalam hidupnya. Contohnya, mulai dari ambivalensi (perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama), perubahan suasana hati, kecemasan, kelelahan, kegembiraan, hingga depresi."
"Ah, Aira bilang ingin membunuhku." ucap Ken spontan membuat Aira memukul tangan suaminya itu untuk diam.
"Aku bukan dokter kandungan, hanya sedikit mempelajari ilmu psikologi. Alangkah baiknya berkonsultasi langsung pada dokter kandungan yang memeriksamu kemarin. Ah, bukankah hari ini jadwal untuk check up rutinmu? Ayo pergi kesana." ajak Kaori.
Ken mengendarai mobilnya seorang diri, sedangkan Aira memilih ikut mobil Kaori. Hal itu membuat Ken tidak senang, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Masih sering mual?" tanya Kaori pada wanita hamil di sampingnya.
"Sesekali." jawab Aira sembari tersenyum pada dokter cantik di belakang kemudi.
"Syukurlah. By the way Aira, aku terkejut dengan perubahan drastis yang terjadi pada Ken."
"Perubahan drastis?"
Kaori mengangguk, "Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya. Ken selalu memasang wajah dinginnya dan tidak tertarik pada wanita sama sekali. Dia menolak dengan tegas setiap wanita yang berusaha mendekatinya. Itu terlihat mengerikan. Siapa yang bersedia mendampingi pewaris yakuza yang tidak punya hati seperti itu? Membayangkannya saja membuatku ngeri."
"Aku juga berubah." jawab Aira singkat.
"Ah, iya. Aku mendengarnya dari Yoshiro. Dia menceritakan banyak hal tentangmu padaku. Rasanya aku jadi penasaran seperti apa wajah tuan besar (kakek) Yamazaki saat pertama kali melihatmu." celoteh Kaori antusias.
"Beliau memandangiku cukup lama seolah sedang men-scanning seberapa pantas aku bersanding dengan cucunya. Tatapan tajamnya terlihat mengerikan. Terlebih lagi saat itu aku sama sekali tidak bisa memanah, berkuda atau menggunakan senjata tajam. Aku benar-benar payah."
"Tidak juga." sanggah Kaori.
"Hmm?"
"Mungkin beliau melihat kamu adalah pilihan yang terbaik untuk mendampingi Ken. Tatap matamu yang dalam dan tajam tersembunyi dengan baik di balik ketenanganmu. Kamu akan bisa mengimbangi Ken. Itulah sebabnya beliau mengajarimu secara langsung."
Aira terdiam, ia setuju dengan pendapat wanita cantik di sisinya itu. Kakek memiliki banyak pengawal, kenapa saat itu kakek turun tangan langsung untuk membimbingnya berlatih sebelum masuk ke akademi? Beliau bisa saja meminta orang lain kan?
"Sudah sampai. Ayo.." ucapan Kaori membuyarkan lamunan Aira.
Kaori dan Aira berjalan menuju ruang praktek dokter kandungan. Mereka melewati koridor sepi yang sengaja di atur untuk para staff dan karyawan di rumah sakit ini. Jadi, tidak semua orang bisa melewatinya. Ken mengikuti keduanya di belakang dalam diam.
__ADS_1
"Selamat pagi, dok." sapa Kaori pada dokter wanita paruh baya yang duduk di belakang mejanya.
"Pagi Kaori-chan. Masuklah." pintanya dengan senyum terkembang. "Ku pikir ada masalah urgent apa sampai membuatmu datang sepagi ini kemari." dokter wanita itu mempersilahkan Ken dan Aira duduk dengan isyarat tangannya.
*urgent : mendesak
"Temanku panik karena istrinya tiba-tiba berubah membencinya." jawab Kaori sambil melirik Ken, menyindirnya.
"Mari silahkan duduk tuan, nyonya."
Mereka bercengkerama basa-basi sejenak sebelum Aira diminta naik ke ranjang untuk diperiksa. Dokter itu membuka catatan medis minggu lalu dan membandingkannya dengan kondisi Aira saat ini.
"Kita bisa memeriksa kondisi janin dengan USG. Kaori-chan, bisa bantu aku menyiapkannya?" tanya dokter itu setelah berdiri dari kursinya.
"Tentu." jawab Kaori dengan sigap.
USG atau Ultrasonografi menggunakan alat khusus yang disebut transducer. Alat ini berfungsi sebagai transmiter gelombang suara berfrekuensi tinggi, yang diarahkan ke organ-organ maupun cairan dalam tubuh di area tertentu.
Gelombang suara tersebut akan terpantul kembali dalam bentuk sinyal listrik. Kemudian sinyal tersebut akan diterjemahkan oleh mesin menjadi gambar yang dapat disaksikan melalui layar monitor secara real-time.
Aira berbaring di atas ranjang periksa. Kaori akan mengoleskan pelumas berbentuk gel untuk mengurangi gesekan antara transducer dan permukaan kulit. Pelumas ini akan memberikan sensasi dingin pada kulit.
Ken tersenyum sembari menggenggam jemari istrinya yang masih berbaring. Dokter senior itu masih menggerak-gerakkan transducer di perut Aira.
"Sama seperti minggu ke-11, belum ada perubahan bentuk fisik yang berarti di usia kehamilan 12 minggu ini. Ini karena bayi dalam kandungan masih belum begitu berkembang dan membutuhkan banyak nutrisi. Pertambahan berat badan juga tidak terlalu besar atau bahkan tidak ada. Meski begitu, sebaiknya Anda mulai memperhatikan pola makan dan menambah konsumsi air agar tidak ada gangguan pada perkembangannya."
Aira menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dokter. Ken membantunya berdiri setelah dokter selesai memeriksanya.
"Perubahan sikap dan emosi adalah hal yang wajar selama kehamilan. Makanya para suami tidak perlu heran bila suasana hati bumil naik-turun. Perubahan suasana hati ini bisa membuat bumil jadi gampang tersinggung, marah-marah, atau menangis." jelas dokter dengan kaca mata kotak bertengger di atas hidungnya. Ia kembali ke belakang mejanya.
"Sifat ibu hamil berupa bad mood ini biasanya muncul pada trimester pertama kehamilan. Ketika memasuki trimester kedua, bumil mungkin sudah bisa mengontrol suasana hatinya."
Penjelasan itu membuat Aira sedikit malu, ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Mau tahu penyebab di balik sifat ibu hamil yang satu ini? Di dalam tubuh istri Anda terdapat peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini yang memengaruhi neurotransmitter (zat kimia di otak) yang mengatur suasana hati. Akibat perubahan sifat ibu hamil, suasana hati, sikap, dan emosi yang terjadi, membuat ibu hamil merasa ingin diperhatikan lebih oleh pasangannya. Kondisi ini bisa membuat ibu merasa lebih sehat, kuat, dan bahagia dalam menjalani kehamilan. Jika ibu sehat dan bahagia, maka kesehatan si kecil di dalam kandungan juga ikut terjaga." jelasnya lebih lanjut.
"Bukan cuma rasa sensitif secara emosional karena dianugerahi kehamilan, perubahan hormon yang terjadi saat trimester pertama membuat ibu hamil jadi lebih sensitif terhadap rangsangan. Rangsangan tersebut dirasakan berlebihan oleh ibu hamil melalui hidung. Contohnya, sedikit aroma yang tidak sedap dapat memicunya untuk merasakan mual dan muntah. Namun, tidak semua kadar kepekaan hidung ibu hamil sama. Setiap ibu hamil peka terhadap aroma yang berbeda-beda. Anda tidak perlu terlalu khawatir karena kepekaan hidung tersebut akan mereda saat memasuki trimester dua."
__ADS_1
Ken semakin mempererat genggaman tangannya pada Aira. Rasa cintanya semakin berkembang pada istri dan buah hati yang masih tersembunyi di dalam rahimnya.
"Selain tiga hal di atas, seiring pertumbuhan bayi di dalam kandungan, maka berat badan ibu hamil juga terus meningkat. Kecemasan akan kenaikan berat badan ini menjadi sifat baru ibu hamil. Di kondisi ini, banyak ibu hamil yang cemas dan takut bila berat badannya tidak bisa kembali normal dengan cepat meski sudah melahirkan.
Oleh karena itu, suami harus memahami dan membantunya mengontrol kenaikan berat badan agar tidak naik berlebihan. Perlu diingat, yang ibu hamil butuhkan adalah nilai gizi yang lebih banyak dalam makanan, bukan jumlah atau porsi yang banyak namun kosong gizi."
"Sepertinya Aira sedikit mengalami perubahan psikologi dok." ucap Kaori mengingat kata-kata Ken sebelumnya tantang ancaman Aira padanya.
"Masalah psikologi ini bisa berdampak serius pada kesehatan ibu dan bayi, bahkan menyebabkan janin stres. Oleh sebab itu, suami harus memperhatikan perubahan psikologi atau sifat ibu hamil yang berkaitan dengan depresi.
Contohnya, merasa tidak berharga, kurang berenergi, kurang tertarik dengan dunia sekitar, merasa bersalah, gelisah, hingga dilanda kesedihan berkepanjangan. Nah, andaikan bumil menunjukkan sikap ini, alangkah lebih baik jika Anda menghabiskan waktu lebih banyak dengan istri Anda." jelasnya sambil menatap Ken.
"Kesimpulannya, kehamilan melibatkan banyak perubahan psikologis dan somatik. Kehamilan juga bisa menjadi pemicu stres dan depresi yang bisa menyebabkan masalah kesehatan. Oleh sebab itu, ibu hamil membutuhkan dukungan emosional dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, dalam kasus tertentu, dukungan psikoterapi profesional mungkin juga diperlukan." terangnya sambil memberikan secarik kertas berisi resep vitamin yang harus Aira konsumsi.
"Ada baiknya jika Ken semakin memanjakan istrinya, benar kan dok?" tanya Kaori.
"Betul. Saat ibu hamil bahagia, janin juga merasakan hal yang sama."
"Baiklah. Terima kasih atas waktu dan penjelasan Anda." Ken berpamitan pada dokter yang menyalami tangannya.
"Aku masih ada urusan, jadi tidak bisa mengantar kalian keluar." ucap Kaori di depan koridor panjang rumah sakit yang mulai terlihat ramai. Beberapa orang duduk di kursi tunggu, menantikan jadwal pemeriksaan dokter beberapa menit lagi.
"Terima kasih untuk semuanya. Kita akan bertemu lagi esok untuk membahas hal 'itu'." ucap Ken.
"Baiklah. Sampai jumpa." Kaori melambaikan tangannya sambil berlalu.
"Hal 'itu' apa?" tanya Aira penasaran.
"Rahasia." jawab Ken sambil membawa istrinya keluar dari gedung berwarna biru itu.
*******
Masih seputar kehamilan Aira 🤗
Next episode baru mulai naik roller coaster ya. Jadi, persiapkan diri kalian 😋😋
Mata ashita ne,
__ADS_1
Hanazawa easzy ^^