Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Tekad yang Kuat


__ADS_3

Nyonya Sumari melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa tuan Harada. Dia memutus rantai yang menahan lengan kiri pria itu sebelum menendang kakinya. Tuan Harada yang kehilangan keseimbangan, bertahan dengan memangku lutut ke lantai. Namun itu justru membuat luka di bahunya semakin terasa menyakitkan. Darah kembali keluar di sela-sela pundaknya yang terkoyak.


Bukannya lega karena satu tangannya terbebas, tapi ia justru semakin merasa kesakitan. Tangan kanannya masih terikat rantai, dan sebelah kakinya menempel di lantai. Sebelumnya, ia bisa berdiri dengan kedua kakinya karena dua tangannya terikat ke samping kanan dan kirinya. Meski terlihat menyedihkan, nyatanya keseimbangan tubuhnya masih terjaga dengan baik. Ia tak perlu susah payah mengeluarkan banyak tenaga, bahkan sesekali ia bisa memejamkan matanya dan terlelap, tidak takut tubuhnya terjerembap ke lantai.


Tapi sekarang? Berdiri saja rasanya sulit. Tangannya kebas, kakinya melemah. Ia benar-benar tak berdaya sekarang. Darah yang terus keluar, bersamaan dengan rasa nyeri yang tak tertahankan di pundaknya, membuat pria paruh baya itu kewalahan. Ia tidak pernah merasa begitu terluka seperti ini. Bukan hanya luka fisik, melainkan harga dirinya juga ikut terluka. Tidak ada seorang pun yang pernah menindasnya karena ialah yang selama ini menindas orang-orang. Tiba-tiba situasinya berbalik, ia menjadi tawanan keluarga yakuza yang kejam ini. Entah bagaimana nasibnya nanti. Tidak ada yang tahu.


Sementara itu, hawa dingin segera menyambangi Ken yang masih ada di rumah sakit. Ia merasakan aura dingin yang menyeramkan bersamaan dengan nyonya Sumari yang bertekad akan memberikan pengawasan ketat pada putra sulungnya itu.


"Ai-chan, lindungi aku dari kekejaman ibuku!" Ken memohon sambil mencengkeram lengan Aira erat-erat, membuat wanita berjilbab itu mengerutkan keningnya cukup dalam.


"Jangan mengada-ada! Ibu tidak akan melakukan apapun padamu. Kamu sedang terluka sekarang!" ketus Aira sembari melepaskan lengannya dari cengkeraman Ken. Ia tengah membantu pria ini memasangkan kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.


"Kamu tidak tahu seberapa kejamnya ibuku. Bahkan kakek saja tidak bisa mencegah kemauannya." Ken masih tetap merajuk, takut mendapat murka dari ibunya. Jika Aira bisa diibaratkan sebagai monsternya monster, maka nyonya Sumari akan cocok jika diberikan predikat sebagai Ratu Monster


Aira memilih diam. Ia segera menjauh dari pria 28 tahun ini dan meletakkan pakaian kotor suaminya di keranjang cucian yang ada di sudut ruangan. Dokter sudah mengizinkan Ken keluar dari rumah sakit ini. Kosuke sedang mengurus proses administrasinya.


"Kenapa harus takut? Ibu tidak akan menghukummu jika kamu tidak bersalah!" ketus Aira. Ia merasa sebal dengan sikap Ken yang kembali menunjukkan sisi childish-nya ini. Sejak semalam ada-ada saja tingkah ayah muda ini.


"Sakura, masuklah. Tolong bantu aku berkemas." Aira berucap setelah membuka pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan koridor panjang di depan sana.


"Baik, Nyonya." Sakura segera masuk seperti perintah puannya.


Pengasuh baby Aya itu sedari tadi berdiri di depan pintu karena Ken akan berganti pakaian. Sebenarnya kaki Ken tidak terluka sama sekali. Pria itu bisa saja melangkah ke kamar mandi, tak perlu mengusir pengasuh anaknya untuk keluar. Tapi sepertinya dia memang sengaja mencuri waktu untuk berduaan dengan istrinya. Ken memiliki misi baru sejak jatuh cinta pada Aira, yakni mencari kesempatan dalam kesempitan. Selalu seperti itu. Aira menyadarinya, tapi berpura-pura tidak tahu.


Sakura memasukkan barang-barang milik Akari, Ayame, dan Azami ke dalam box besar. Tak lupa ia mengamankan ASI yang sengaja Aira perah beberapa waktu sebelumnya. Cairan berwarna putih kekuningan itu berpindah dari lemari pendingin menuju container kecil yang ada di tangan Sakura.


"Sakura-san, apa ibu sungguh mengundang banyak orang ke rumah hari ini?" tanya Aira sembari mengambil kaus kaki milik Ken dari dalam tas yang ada di sebelahnya. Tas itu berisi pakaian Ken, lengkap dengan atribut yang selalu dipakainya dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti kaus kaki, dasi, jam tangan, pena, dan beberapa benda lainnya. Ia berjongkok di depan Ken, bersiap memakaikan kaus kaki pada suaminya.


"Itu benar. Nyonya mengatakan ingin menunjukkan cucu-cucunya yang menggemaskan di depan semua orang. Beliau begitu membanggakan mereka." Sakura menatap ketiga bayi yang kini memejamkan mata mereka masing-masing.

__ADS_1


Wajah Aira terlihat sedikit tidak senang. Ia tidak suka keramaian, terlebih lagi berada diantara para tetua yang membawa katana di pinggang mereka masing-masing.


"Ai-chan, aku bisa memakainya sendiri." Ken meraih tangan Aira, mencegah agar wanita itu tidak perlu berlutut di lantai untuk membantunya melakukan hal sepele ini.


"Duduk diam di tempatmu!" tandas Aira dengan nada tajam dan menukik. Wajahnya begitu menyeramkan, tak ada gurat bahagia sama sekali. Malah cenderung terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang membebaninya.


Glek


Ken menelan ludah, terkejut dengan perubahan sikap istrinya ini. Entah kenapa, aura gelap segera menguar di sekitarnya. Menunjukkan bahwa Aira tidak suka dengan acara yang diatur oleh ibunya.


"Ada masalah?" tanya Ken saat mendapati ekspresi wajah istrinya kembali normal. Wanita itu sudah duduk di sebelahnya, membantu memasangkan dasi yang mengalungi lehernya.


"Lain kali aku tidak ingin ada acara seperti itu lagi," jawabnya tanpa ekspresi.


"Ada apa?" Ken membelai pipi chubby Aira dengan jemari tangan kirinya. "Katakan padaku. Jangan sembunyikan apapun dariku. Aku suamimu, kamu istriku. Semua masalah yang ada, akan kita lewati bersama."


Ken tersenyum. Ia merengkuh istrinya ke dalam pelukan dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Ia tahu apa yang dikhawatirkan oleh istrinya.


"Kamu terlalu banyak berpikir. Tidak akan terjadi apapun pada anak-anak kita. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti kalian. Satu helai saja rambut yang mereka ambil, maka aku siap menebas leher mereka!"


Janji yang Ken ucapkan membuat Aira terhenyak. Ucapan pria ini begitu tegas, menunjukkan sebuah tekad yang sangat kuat. Suaminya ini tetaplah seorang yakuza, salah satu gangster paling menyeramkan yang ada di negeri ini. Akhir-akhir ini, Ken menjadi seorang pencemburu, bersifat manja dan kekanak-kanakan di depannya. Itu membuat Aira lupa betapa kejamnya suaminya ini.


Aira melepaskan diri dari pelukan suaminya dengan hati-hati, tidak ingin menyinggung perasaan pria 28 tahun ini. Ia membenahi jilbabnya yang sedikit kusut sebelum beranjak mendekat ke arah ketiga bayinya.


"Mereka sudah siap?" tanya Aira sembari mengamati ketiga buah cintanya dengan Ken yang kini ditempatkan dalam satu box khusus.


"Sudah, Nyonya. Kita bisa berangkat sekarang."


...****************...

__ADS_1


Angin pegunungan berhembus lembut, menerbangkan kelopak bunga sakura yang mulai berjatuhan. Satu dua kelopak bulat warna merah muda itu mendarat di tanah. Yang lainnya terhempas ke arah yang lainnya.


Halaman kediaman kakek Yamazaki penuh dengan tamu undangan yang tengah menikmati makanannya. Tak kurang dari dua ratus orang, tua-muda, bahkan beberapa membawa serta anak cucunya. Ini adalah acara spesial. Sangat jarang kediaman kakek Yamazaki membuka pintunya lebar-lebar untuk orang luar. Biasanya hanya kerabat dekat saja yang beruntung bisa memasuki kediaman ini.


"Silakan nikmati perjamuannya!" Nyonya Sumari mengakhiri kata sambutannya. Beliau segera turun dari podium dan menyapa para kerabat jauh yang baru saja datang. Ken dan Aira lebih banyak duduk kali ini. Yang tampak begitu sibuk adalah wanita 52 tahun itu.


"Ken, aku lelah," bisik Aira di dekat telinga suaminya.


"Mau istirahat sekarang?" Ken segera melihat arloji di tangannya, pukul delapan malam. Jamuan ini sudah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Biasanya acara seperti ini baru akan selesai satu jam dari sekarang. Ken merasa iba melihat ekspresi wajah istrinya yang kelelahan.


Aira menganggukkan kepala dengan lemah. Ia benar-benar ingin tidur sekarang. Ketiga putra putrinya juga sudah tertidur pulas di box masing-masing. Ken segera memanggil Kosuke, membisikkan sesuatu yanh segera dijawab dengan anggukan.


Brukk


Aira merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yang mendominasi ruangan klasik ini. Ia segera memejamkan mata, berharap bisa segera terlelap.


Cup


"Oyasumi." Ken mencium kening istrinya dengan tulus. Ia tahu Aira kurang istirahat belakangan ini. Terlebih lagi, pertarungan mereka kemarin lusa pasti membuat tubuhnya butuh istirahat lebih. Ia memasangkan selimut di atas tubuh istrinya yang sukses pergi ke alam mimpi.


(Selamat tidur/selamat istirahat)


"Tidurlah, Sayang. Aku akan selalu ada di sisimu."Ken mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. Ia sudah bertekad akan melindungi istrinya, membuatnya bahagia hingga maut memisahkan.


...****************...


Oyasumi minasan... Selamat istirahat buat kalian semua. See you next day, 😚


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2