Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Alergi Seafood


__ADS_3

Semerbak aroma masakan tercium begitu sedap memenuhi ruangan ini. Seorang wanita berjilbab tengah memasak bersama seorang wanita 52 tahun yang masih terlihat muda. Sepertinya ada perawatan khusus yang ia jalani untuk memudarkan kerutan di sekitar matanya. Di usianya yang tak lagi muda ini, tidak mungkin kulit wajahnya tidak mengalami penuaan.


"Aira, tolong ambilkan garam dan lada itu," pinta wanita yang memakai dress sepanjang lututnya ini. Ia tengah sibuk memasak berbagai olahan seafood kesukaan putra sulungnya, Yamazaki Kenzo.


"Ini, Bu." Aira memberikan dua botol kecil pada ibu mertuanya, masing-masing berisi bumbu penyedap yang berbeda.


"Maaf karena harus merepotkan ibu seperti ini," ucap Aira tak enak hati. Ia sengaja meminta wanita ini datang untuk membuatkan masakan favorit Ken.


"Tidak perlu sungkan, Sayang." Nyonya Sumari tersenyum pada wanita chubby di depannya ini. "Justru ibu senang melakukannya. Setelah Ken menikah denganmu, dia tidak pernah meminta ibu memasak lagi. Dulu, sesekali dia mengirim pesan pada ibu bahwa dia ingin makan cumi asam manis atau udang goreng tepung."


Aira tersenyum canggung. Ia mencoba bersikap senatural mungkin di depan wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.


"Apa dia sering pulang untuk makan siang di rumah?" tanya wanita berkulit putih itu.


"Hanya sesekali saja. Tapi, akhir-akhir ini Ken jarang pulang untuk makan siang. Ada banyak pekerjaan di kantor, jadi dia tidak bisa pergi terlalu lama. Dia juga selalu memintaku makan malam lebih dulu karena dia akan pulang terlambat," terang Aira.


"Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya ibu khawatir. "Anak itu selalu saja gila kerja dan tidak mempedulikan kesehatannya sendiri."


"Sebenarnya dia terlihat sedikit pucat pagi ini. Makanya aku akan pergi melihatnya di kantor dan membawakan masakan kesukaannya ini. Semoga saja itu bisa membuat kondisi tubuhnya membaik. Sepertinya dia kelelahan seminggu belakangan. Aku akan memarahi Kosuke jika ternyata Ken melewatkan makan siangnya karena mengurus pekerjaan."


Kedua wanita itu tak melanjutkan perbincangan. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Nyonya Sumari masih berkutat dengan wajan dan segala isi yang ada di dalamnya, sedangkan Aira tengah memasukkan nasi dari dalam magicom ke dalam wadah oval yang telah ia siapkan.


"Kamu mau mencobanya?" tawar nyonya Sumari pada wanita yang sudah memberikannya tiga orang cucu yang menggemaskan. Ia mendekatkan sendok berisi sepotong cumi yang tengah ia masak, meminta menantunya mencicipi rasa masakannya ini.


Aira menggeleng lemah, "Aku tidak berani," jawabnya tak enak hati. Sebenarnya, ia tidak sampai hati menolak tawaran nyonya Sumari. Tapi demi kebaikan bersama, dia harus melakukannya.


"Sayang sekali. Padahal ini makanan kesukaan suamimu, tapi kamu justru alergi." Nyonya Sumari mencicipi masakannya sendiri dan terlihat puas dengan rasanya.


Aira tersenyum kecut mendengar penuturan wanita di hadapannya ini. Alerginya ini juga bukan dia yang meminta 'kan? Jika boleh memilih, maka ia akan melahap semua jenis makanan tanpa terkecuali, termasuk udang, cumi, kerang, rajungan, dan segala jenis makanan laut lainnya.

__ADS_1


"Apa kamu alergi sejak kecil?" tanya ibu ingin tahu.


Aira menggeleng. "Kalau tidak salah saat usiaku sekitar dua puluh tahun. Saat itu, aku makan bersama teman-temanku di salah satu kedai seafood di Jakarta. Tadinya tidak ada gejala sama sekali, tapi begitu sampai di rumah, aku langsung memuntahkan semua makanan di dalam perutku," terang Aira menjelaskan kejadian enam tahun yang lalu saat awal-awal dia bekerja di Miracle.


"Mungkin makanannya yang tidak higienis," cetus wanita itu menimpali.


"Entahlah. Menurut dokter, sebagian besar alergi diawali pada masa anak-anak, namun khusus untuk alergi seafood bisa juga muncul saat dewasa. Bahkan ada pula yang muncul secara tiba-tiba setelah mengonsumsi makanan laut tertentu yang sebelumnya tidak menimbulkan alergi. Reaksi alergi ini bisa muncul dalam hitungan menit atau jam setelah mengonsumsi seafood."


*Alergi seafood merupakan reaksi tidak normal dari sistem kekebalan tubuh terhadap protein yang terkandung di dalam makanan laut tertentu. Beberapa gejalanya seperti kulit terasa gatal dan kering (eksim), sakit perut, diare, mual dan muntah, hidung tersumbat, dan sesak napas. Pada beberapa kasus bahkan bisa menyebabkan bibir, wajah, lidah, dan tenggorokan bengkak. Seringkali, para penderitanya juga mengalami pusing hingga pingsan.



"Apa kamu hanya alergi jenis seafood tertentu atau semuanya?" Nyonya Sumari mengambil tempat makan berbentuk kotak yang akan digunakan sebagai wadah cumi asam manis pedas yang dimasaknya. Wanita itu menambahkan irisan cabai dan tomat cukup banyak, itu yang paling Ken suka. Ada sensasi rasa tersendiri saat makanan itu masuk ke dalam mulut.


"Aku tidak tahu. Setelahnya, aku tidak pernah makan udang, lobster, kepiting, kerang, gurita, sotong, cumi-cumi, atau makanan lainnya yang berasal dari laut. Aku takut alerginya kambuh lagi, Bu."


"Hmm, sayang sekali yaa."


"Kalau begitu, sebaiknya kamu menghindari konsumsi seafood atau berada di lokasi yang menyediakan aneka olahan makanan laut dan semacamnya," saran wanita paruh baya ini.


"Iya, Bu," lirih Aira sambil membersihkan meja di depannya. Ia mengembalikan sisa-sisa bahan makanan yang masih utuh ke dalam lemari pendinginan dan membuang sisanya yang sudah selayaknya disingkirkan.


"Selain itu, usahakan selalu hati-hati mulai sekarang. Kamu sedang menyusui anakmu. Kamu harus membaca label kemasan untuk mengetahui apakah produk yang akan kamu konsumsi mengandung seafood atau tidak. Cara pencegahan yang lain misalnya dengan menanyakan bahan makanan dari menu yang akan dipesan saat makan di restoran. Pastikan juga apakah peralatan masak yang digunakan untuk memasak seafood berbeda dengan hidangan lainnya yang kamu pesan."


"Iya, Bu. Aku tahu." Aira melepas celemek yang sedari tadi dipakainya dan meletakkannya pada keranjang cucian di dekat pintu. Nanti akan dicuci oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini.


"Kamu akan mengantarkannya sendiri?" tanya nyonya Sumari, menilik jam dinding yang menunjukkan pukul 10.20 pagi. Masih ada banyak waktu sebelum jam makan siang tiba.


"Umm. Aku akan menyusui anak-anak lebih dulu sebelum pergi. Bu, aku titipkan mereka padamu selama aku pergi nanti." Aira memeluk lengan ibu mertuanya sambil tersenyum. "Maaf selalu merepotkan ibu."

__ADS_1


"Haish, berapa kali lagi kamu akan meminta maaf pada ibu, hah?" candanya sambil mengelus puncak kepala menantunya dengan sayang.


"Sana, cepat urus anak-anak menggemaskan itu. Ibu akan berjalan-jalan di halaman sebentar." Nyonya Sumari mendorong menantunya untuk menjauh.


Aira segera melangkah menaiki tangga setelah mencuci tangannya terlebih dahulu. Ia masuk ke dalam kamar anak-anak dan memberikan asupan terbaik untuk ketiganya sebelum pergi mengantarkan makan siang untuk ayah mereka.


Di saat yang bersamaan, Minami menghentikan mobil yang ia kendarai di halaman depan rumah ini. Wanita itu berusaha mengatur napasnya lebih dulu sebelum turun dari kendaraan roda empat yang membawanya pergi dari Miracle tiga puluh menit yang lalu.


Minami melihat ponselnya sejenak dan mendapati ada dua belas panggilan tak terjawab dari Kosuke. Ia yakin suaminya itu pasti ingin memintanya agar tidak mengatakan kondisi tuan muda mereka pada Aira. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan tetap memberitahu nona-nya itu.


Tuk tuk tuk


Gemeletuk suara sepatu Minami terdengar nyaring di halaman rumah mewah ini. Langkah kakinya terhenti di depan pintu, sebelum mengulurkan tangan dan bersiap memencet bel di samping pintu.


"Minami-chan," panggil sebuah suara yang terdengar riang, membuat Minami menoleh ke belakang dan mengurungkan niatnya menekan tombol kecil berwarna hitam yang tertanam di kusen pintu. Ia menatap gadis imut yang kini tengah mendekat ke arahnya.


"Apa kabar?" sapa Mone sambil tersenyum, membuat Minami meragu. Ia tidak yakin apakah akan mengatakan rahasia ini pada Aira di depan Mone atau mengurungkan niatnya.


Cklekk


Belum sempat Minami menjawab pertanyaan Mone karena sibuk berpikir, pintu di belakangnya terbuka. Dari balik benda pipih berwarna putih itu muncul wanita yang sangat ia segani di keluarga Yamazaki, yakni nyonya Sumari.


"Apa yang kalian lakukan di depan pintu?" tanya wanita itu dengan kening berkerut.


Deg!


...****************...


Waahh kira-kira Minami jadi bilang enggak yaa? Kita lihat jawabannya di episode berikutnya. Jaa,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2