
WARNING 18+ !!!
Bijaklah dalam memilih bacaan. Cerita ini hanya fiktif belaka, bukan untuk ditiru! Adegan ini hanya boleh dilakukan oleh suami istri.
BOCAH DILARANG BACA!!
SKIP PLEASE 🙏🙏
...****************...
"Sayang, kamu pasti akan terkejut besok pagi saat bercermin," ucap Ken pada Sang Istri.
Cup
Ken berbisik sambil mendekatkan bibirnya ke ceruk leher istrinya. Ia menyesap aroma khas Aira sebelum mengecupnya lagi dengan penuh cinta. Tak lupa, ia meninggalkan bekas disana sebagai kejutan untuk ibu dari ketiga anaknya.
Cup
Bibir Ken mendarat di telinga Aira, salah satu bagian sensitif wanita ini sebelum mendusel ke helaian rambut panjangnya. Ya, Ken menikmati aroma bunga sakura dari surai hitam istrinya. Harum.
Selain rutin keramas dan menggunakan kondisioner, ada ritual rutin yang tidak Ken tahu. Untuk membuat rambutnya wangi sepanjang hari adalah dengan cara menggunakan parfum rambut. Ia menyemprotkan cairan pewangi khusus rambut sebelum menyisirnya. Hal itu akan memberikan sensasi wangi yang tahan lama pada rambutnya yang seringkali tertutup jilbab.
Cup
Ken mulai bergerak. Dia mencium bagian belakang leher Aira, membuat wanita itu bergerak pelan karena merasa sedikit tidak nyaman. Itu adalah respon tanpa sadarnya akibat 'gangguan' suaminya, seperti kita yang refleks menepuk nyamuk tanpa sadar saat tidur. Aira menganggapnya demikian.
"Enghh," gumamnya sambil berusaha menutupi lehernya dengan tangan. Hal itu membuat serangan Ken terhenti. Ia mengamati wajah istrinya lekat-lekat, menantikan respon selanjutnya dari wanita itu. Apa dia terbangun atau tidak.
Cup
Ken mengetesnya dengan mencium bibir istrinya. Tak ada balasan sama sekali, dia benar-benar terlelap dengan nyenyak. Itu artinya Ken bisa memonopoli tubuh istrinya dengan leluasa. Kecupan-kecupan itu semakin buas. Sesekali ia menggigit bagian tubuh istrinya, meninggalkan begitu banyak bekas disana.
Tak cukup sampai di situ, lidah dan bibirnya semakin menggila. Ia menghujani leher dan dada istrinya dengan kecupan dan sesekali menghisap seperti vampir. Ken benar-benar loss control lagi. Ia mabuk tanpa meminum wine setetes pun, melainkan hanya karena menatap istrinya dari jarak yang begitu dekat. Aira menjadi candu untuk Ken, seperti halnya Kaori yang kini menjadi candu bagi Shun.
"Sayang, aku tidak akan mengganggu tidurmu. Kamu lanjutkan istirahatmu, aku lanjutkan 'menyantapmu'," bisik pria 28 tahun ini di telinga istrinya, namun tak mendapat respon dari Aira. Itu haknya sebagai seorang suami, jadi Ken tidak merasa bersalah sama sekali. Dia benar-benar menginginkan Aira sekarang.
__ADS_1
Jemari Ken mulai bergerak aktif melepas kancing piyama istrinya satu per satu. Sesekali dia berhenti dan mencium bagian tubuh istrinya yang selalu tersembunyi dengan baik di dalam sana. Hasratnya semakin meluap, membuatnya tak bisa berhenti sebelum merasa puas. Napasnya terengah-engah seolah berkejaran dengan waktu, padahal dia tidak bersaing dengan apapun.
Sebulir keringat turun melalui pelipisnya saat bibirnya sibuk menjelajahi tubuh Sang Istri. Ken sungguh menikmati keadaan ini tanpa berpikir bahwa mungkin nanti Aira akan murka padanya. Biarlah, ia akan menerima apapun akibatnya.
Aira membuka matanya sekilas saat merasakan tidak nyaman di bagian tertentu dari tubuhnya. Samar-samar dia melihat Ken yang sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri, namun Aira terlalu enggan untuk bangun. Ia tahu Ken sedang mencari kesenangan tersendiri dari tubuhnya. Biarlah, ia terlalu lelah dan mengantuk.
"Apa kamu bangun, Sayang?" tanya Ken saat melihat Aira membenahi piyamanya yang terbuka, membuat perut ratanya terekspose.
"Hmm," gumamnya dengan mata tertutup.
"Kamu tidak marah karena aku melakukan ini?" tanya Ken, berbisik sambil menatap wajah ayu istrinya.
"Lakukan sesukamu," jawab Aira sambil memiringkan badannya ke samping. Sebagai seorang istri, ia tidak boleh menolak permintaan suaminya. Ini sudah menjadi kewajibannya, yakni memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Hanya saja, ia terlalu lelah untuk merespon apapun yang suaminya lakukan.
"Terima kasih."
Cup
Ken mencium belakang telinga Aira dan kembali menyibukkan diri seperti sebelumnya. Ia tak akan segan lagi setelah mendapat izin atas tubuh itu. Dia siap membombardirnya dengan berbagai serangan yang sudah ia siapkan. Dia menyimpan begitu banyak cara yang ia khayalkan dua bulan kemarin. Sekarang saatnya dia mempraktekkannya.
"KEN?!" pekik Aira saat merasakan betapa buas suaminya. Ibu tiga anak ini mencengkeram pundak Ken yang shirtless, berharap dia mengurangi intensitas serangannya. Namun, bukannya seperti yang Aira harapkan, Ken semakin semangat menguasai permainan, membuat wanita 26 tahun ini hanya bisa menggigit bibirnya. Napasnya semakin cepat seiring dengan dadanya yang naik turun. Ia merasakan tubuhnya memanas akibat ulah Sang Suami. Bahkan air conditioner di sudut ruangan seolah tak ada fungsinya sama sekali. Pergulatan mereka luar biasa panasnya.
"Dasar serigala liar!" umpat Aira saat Ken menyudahi aktivitas mereka. Ken berbaring di sampingnya, berusaha menormalkan lagi detak jantungnya yang menggebu-gebu beberapa saat sebelumnya.
Sebenarnya Aira merasa kesal karena Ken yang mendominasi seluruh kegiatan panas mereka barusan. Inilah sisi lain Ken yang tidak orang lain ketahui. Dia begitu otoriter dan pemaksa saat bekerja, namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sikap pemaksanya di atas ranjang.
Aira benar-benar kewalahan menghadapi serangan ini. Momen ini sama seperti kejadian beberapa bulan lalu, saat mereka kembali dari taman bermain di bulan-bulan pertama pernikahan. Saat itu, Ken menyerangnya selama sehari semalam tanpa memberikan waktu istirahat sedikit pun. Ia bahkan mengikat pergelangan tangannya agar tak bisa lagi melawan. Puluhan tanda membekas di tubuhnya menandakan betapa ganasnya serigala ini. Aira bahkan sampai pingsan dan akhirnya dibawa pergi oleh Yoshiro hari berikutnya.
Saat di kediaman pria bersurai putih itulah, Aira pertama kali bertemu dengan Kaori. Dokter cantik yang memeriksanya dan memberikan laporan bahwa saat itu dirinya tengah hamil empat minggu. Dan ternyata Minami maupun Yoshiro berusaha menutupi fakta itu darinya.
Tik
Sebulir air mata keluar dari ujung indera penglihatan Aira, membuatnya berbalik memunggungi Ken. Tangannya segera menarik sebuah selimut melingkupi tubuh polosnya. Lagi-lagi Aira menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang tidak bisa ia bendung lagi.
"Terima kasih, Sayang. Maaf sudah membangunkan tidurmu," ucap Ken tanpa tahu istrinya tengah menangis saat ini. Ia bahkan asik memainkan beberapa helai rambut istrinya yang berantakan. Pria ini tak mengizinkan Aira pergi, terbukti dari lengannya yang mengunci tubuh mungil ini di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku akan sangat senang jika ada satu atau dua bayi lagi dalam perutmu," lanjutnya lagi.
Hening
Aira tak merespon sama sekali. Ia mati-matian berusaha menghentikan tangisnya, namun tak berhasil. Luka dalam yang telah Ken torehkan sebelumnya, tak akan pernah terhapus dari ingatannya. Bulir-bulir air tanpa warna terus merangsek keluar dari matanya dengan tidak tahu diri. Kesedihannya semakin menjadi-jadi saat Ken mencium puncak kepalanya dari belakang.
Ken memainkan jemari di punggung istrinya yang tak tertutup satu helai benang pun. Pria ini mengelus bekas luka cambuk yang kini terlihat seperti garis putih yang membelah punggung istrinya. Ia bahkan tak segan mengecupnya seolah itu bisa menghapus kesalahannya di masa lalu. Namun hal itu justru membuat air mata Aira semakin deras. Flashback kenangan pahit itu berputar di kepalanya tanpa bisa ia cegah.
Deg!
Gerakan Ken yang tengah asik menciumi punggung istrinya terpaksa berhenti. Ia terhenyak saat mendapati istrinya gemetar ketakutan. Pria Jepang ini semakin terkejut saat melihat mata sembap penuh air mata begitu membalik tubuh istrinya.
"Ai-chan, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ken setelah menatap wajah bulat Aira. Ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai membuat wanitanya menangis. Apa dia terlalu kasar tadi?
"Sayang," panggil Ken lirih, berharap mendapat sahutan dari istrinya. Namun hanya sebuah gelengan yang ia dapatkan.
"Maaf karena tidak bisa mengendalikan diriku tadi. Maafkan aku," ucap Ken sambil membawa istrinya dalam dekapan. Ia harus menenangkan istrinya, baru bisa bertanya apa yang sebenanrnya terjadi. Percuma bertanya pada wanita yang sedang menangis. Yang ada, tangisan mereka justru semakin menjadi-jadi.
Puk puk
Ken menepuk-nepuk punggung istrinya, tak peduli pada air mata yang kini membasahi dadanya. Ia merasakan tangisan itu lambat laun mereda, berganti dengan sedu sedan yang sesekali mengganggu jalan napas wanita kesayangannya, membuat punggungnya sedikit berguncang.
"Aku buatkan coklat hangat untukmu, ya," tawar Ken saat tangis Aira benar-benar mereda. Sebuah anggukan dari Aira menjadi jawaban, membuat Ken tersenyum.
"Tunggu disini. Aku akan segera kembali," pamit Ken sambil beranjak duduk. Ia mengambil kimoni tidur yang tersimpan bawah ranjang tempat tidurnya.
Ya, kasur empuk ini memiliki desain yang unik. Selain berfungsi sebagai tempat tidur, nyatanya ada laci besar yang tersembunyi di bawahnya. Disana tersimpan kimono tidur milik Ken dan Aira. Pengusaha muda ini sengaja mengaturnya untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Ia tidak mungkin memunguti bajunya satu per satu yang berserakan di lantai. Akan lebih praktis jika ia membalut tubuhnya dengan pakaian instan ini. Cukup mengikat tali pinggangnya, maka tubuhnya tertutup dari pundak sampai ke lututnya.
Ken segera keluar dari ruangan pribadinya ini setelah mengecup kening Aira. Ia berjalan menuruni tangga sambil bersenandung, meninggalkan Aira seorang diri. Tanpa ia tahu, Aira mengambil obat kontrasepsi dari dalam tas kecil yang tergeletak di atas nakas. Ia meminumnya dengan bantuan segelas air putih yang selalu ada di samping tempat tidurnya. Wanita ini tidak ingin hamil beberapa waktu kedepan, sampai ketiga jagoannya sedikit lebih besar.
'Maafkan aku,' lirihnya dalam hati sambil mengelus perutnya yang rata. Ia memakai kimono yang sama seperti milik Ken, namun berbeda warna dan ukuran. Ia masuk ke dalam selimut lagi, ingin beristirahat setelah aktivitasnya bersama suaminya tadi yang terasa begitu melelahkan. Aira menutup matanya, berharap bisa segera terlelap dan melupakan kesedihannya. Ia harus menerima baik buruknya pria yang sudah berstatus sebagai suaminya sejak setahun yang lalu ini.
...****************...
Hmm, emaknya triplet nangis lagi kaan. Abang sii... 😢😭😭
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy