Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Permainan Dimulai


__ADS_3

Ken membantu Aira mengurus Aya, memakaikan baju untuk bayi cantik itu setelah berjibaku dengan Akari dan Azami.


"Jadi, apa aku boleh meminta imbalannya sekarang?" Pria ini menatap Sang Istri penuh harap.


"Imbalan apa?" Aira membenahi ranjang yang sempat dikacaukan oleh kedua putranya beberapa saat lalu. Dia pura-pura lupa pada apa yang suaminya ini inginkan.


"Ai-chaaaannn." Ken merengek, persis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan baru.


"Apa?" Aira berkacak pinggang, menatap suaminya dengan pandangan mematikan.


Ken bungkam. Dia tidak bisa terus merengek jika wanita ini sudah menunjukkan sisi aslinya sebagai seorang predator.


"Aku lapar," lirih pria itu, mengarang jawaban.


Aira tersenyum. Jelas-jelas Ken sudah makan pagi dengannya satu jam yang lalu. Bagaimana mungkin pria ini sudah merasa lapar lagi.


"Lihat perutmu. Kamu ingin membuatnya buncit seperti para politikus kotor itu?"


"Hah?"


"Iya. Para pekerja publik di negeri ini memiliki perut buncit. Mereka terlalu banyak makan uang rakyat." Aira menyindir orang-orang di tempat kelahirannya ini.


"Siapa yang kamu bicarakan?" Ken tidak mengerti kemana arah pembicaraan wanita ini.


"Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya."


Sejurus kemudian, Aira memakai sweater hijau di tubuhnya, senada dengan jilbab pasmina di kepala.


"Ayo!" ajaknya kemudian.


"Kemana?" tanya Ken heran.


"Ikut saja!"


Ken melangkah cepat, mengikuti istrinya yang berlari di hadapannya. Mereka melewati halaman, menjauh dari bangunan mewah di pinggir pantai ini.


Dalam waktu beberapa menit saja, keduanya sampai di sebuah tebing yang tidak begitu curam. Tingginya hanya sekitar tiga atau lima meter dari permukaan air laut. Pemandangan di sini begitu indah, membuat siapa saja pasti akan terpana. Tapi tidak demikian dengan Yamazaki Kenzo, dia merasa ada sesuatu yang janggal. Kenapa tiba-tiba Aira mengajaknya pergi ke tempat seperti ini?


"Indah, 'kan?" Suara Aira menggema, membuat perhatian Ken kembali tertuju padanya.


"Umm," gumam pria yang memakai kaus putih dan celana warna krem ini. Dia mengamati keadaan sekitar. Mungkinkah Aira ingin membuat surprise untuknya?

__ADS_1


Hening. Tak ada suara apapun selain desau angin pantai yang menerpa wajah sepasang suami istri ini.


Aira melepaskan tangannya dari Sang Suami, berjalan mundur beberapa langkah ke belakang, semakin mendekat ke pinggir tebing yang berbatas laut. Sebuah senyum hangat terukir di wajahnya, membuat Ken waspada.


'Apa yang ingin dia lakukan?' batin Ken bertanya-tanya. Wanita ini tampak begitu tenang, seperti laut luas yang tampak begitu tenang sebelum badai menerjang.


"Ai-chan?"


Lengang. Tak ada jawaban dari mulut wanita ini.


Ken mulai panik saat jarak tumit kaki Aira dengan ujung tebing hanya tersisa tiga langkah saja.


"Ai-chan! Apa yang kamu lakukan?!" Ken melangkah, mendekati wanita ini yang terus tersenyum.


"Apa kamu berani melompat ke sana?" tanya Aira, melirik lautan luas di bawah sana. Dia kemballi menatap suaminya dengan pandangan selidik, penasaran dengan respon pria ini.


"Ap... apa? Melompat?" Ken tergagap. Dia bukan pria pengecut, tapi dia merasa ini bukan hal yang harus dilakukan. Dia bisa saja tenggelam dan terbawa ombak.


Aira menggeleng. "Jika kamu berani melompat, aku akan menuruti semua kemauanmu seharian penuh. Termasuk... itu." Wanita ini menggunakan dua jarinya sebagai isyarat tanda kutip saat mengatakan 'itu'.


Pria 28 tahun ini menggeleng tegas.


"JANGAN GILA!!" Suara Ken meninggi. Dia tidak ingin membuat dirinya berada dalam bahaya.


"Ai-chan, berikan tanganmu!" titah Ken, meminta wanita ini menyambut uluran tangannya.


Ibu tiga anak ini menggeleng. Dia menolak permintaan suaminya.


"Jangan bermain-main! Itu berbahaya!"


"Kita lihat, apa kamu berani terjun atau tidak!" Aira mengangkat kedua tangannya ke atas, sebelum tapak kakinya terangkat di udara.


BYURR


Tubuh ramping 45 kilogram itu jatuh begitu saja, sepersekian detik setelah Ken menggerakkan tangannya untuk meraih tubuh wanita ini. Namun nahas, hanya udara kosong yang dia dapatkan.


Ken menggeram. Apa yang Aira lakukan ini sungguh tidak lucu sama sekali. Bahkan dia belum juga timbul ke permukaan meski beberapa detik telah berlalu.


"Ai-chan, kamu membuatku gila!!"


Tanpa berpikir panjang, Ken terjun menyusul istrinya. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada ibu dari anak-anaknya ini. Apa yang akan dia katakan pada kakek dan yang lainnya jika sampai kehilangan Aira karena lelucon yang tidak lucu ini?

__ADS_1


Ken merasakan pening luar biasa kala air laut masuk ke hidungnya. Dia terlalu panik dan tidak berhitung dengan cermat kapan harus menarik napas sebelum tubuhnya menyelam ke dalam lautan. Sial!


Satu dua detik berlalu. Ken tidak mendapati Aira di manapun. 'Dimana dia?' batinnya semakin merasa khawatir.


"Huaahhh!!!" Tubuh bagian atas pewaris yakuza terbesar di Jepang ini menyembul ke permukaan air, mencoba mengisi pasokan udara di dalam paru-parunya sebelum kembali menyelam. Dia harus menemukan wanitanya.


Cup


Sebuah kecupan di bibir dia dapatkan begitu membuka mata di dalam air. Aira menciumnya dengan begitu berani, memaksakan lidahnya untuk masuk, membuat gelembung udara dari mulutnya keluar begitu saja.


"Uhukk uhuukk." Ken terbatuk-batuk begitu kembali muncul di permukaan. Dia melepas ciuman istrinya dengan paksa sebelum paru-parunya terisi penuh oleh air. Entah berapa banyak yang sudah dia minum selama Aira menjajah mulutnya.


"Itu hadiah dariku." Aira menyeka wajahnya yang basah, menatap Sang Suami sambil tersenyum. Pria ini masih saja merasakan menyesuaikan diri setelah terjun dengan tergesa demi istrinya.


"Apa kamu gila?!"


Wajah Ken merah padam. Dia segera berenang ke tepi, meninggalkan Aira seorang diri. Sungguh pria ini tidak tahu apa yang diinginkan oleh wanitanya dengan melakukan hal-hal berbahaya seperti barusan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?


Ken mendengus, merasa kesabarannya sudah habis untuk menghadapi Aira. Wanita ini semakin tak terkendali, melakukan semua semaunya sendiri.


Pria temperamental ini beranjak dari dalam air. Tetes cairan tanpa warna itu turun melalui ujung rambut hitamnya. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Dengan langkah kaki panjang, dia kembali ke dalam rumah. Aira menatapnya sambil tersenyum.


"Permainan dimulai..." ucapnya lirih, menunjukkan senyum penuh arti tanpa suaminya ketahui.


* * *


Ken baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sebuah handuk membalut tubuhnya yang basah bekas guyuran air dari shower. Dia langsung mandi sekembalinya melihat kejutan ekstrim yang Aira tunjukkan.


"Sayang, kamu marah?" tanya Aira, sengaja menggoda Ken yang kini menatapnya dengan sebal.


Ken bungkam. Dia tidak ingin meladeni perlakuan wanita ini. Gila. Benar-benar gila!


"Kenapa diam saja? Kamu marah padaku?" Aira mendekat, menempelkan tubuhnya ke arah Ken. Fisik keduanya tak lagi berjarak. Jemari telunjuknya dia tusukkan di dada bidang milik Sang Suami, sebelum membuat gerakan berputar di sana.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?"


Glek!


Semerbak aroma parfum yang wanita ini kenakan membuat napas Ken tercekat. Jantungnya seolah berhenti berfungsi. Dia tak bisa menolak pesona Aira. Sepertinya wanita ini memang sengaja mempermainkannya.


"Sayang, aku akan melakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu memaafkan kebodohanku sebelumnya." Aira memasang wajah paling imut, sengaja menggoda suaminya. Dia tahu seberapa tinggi ego pria di hadapannya. Dan itu akan Aira manfaatkan, sengaja mengerjainya.

__ADS_1


"Apa aku tidak layak mendapatkan maaf darimu?" Aira menundukkan kepala, sengaja mendramatisir keadaan ini.


'SHIT!' umpat Ken dalam hati. Dia tidak tahan melihat tingkah Aira yang sangat langka ini. Dalam setahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Aira bersikap manja seperti sekarang. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Mungkinkah ada udang di balik batu?


__ADS_2