Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Perjuangan Hidup dan Mati


__ADS_3

"Sergey, habisi mereka!" titah Anna satu detik sebelum seorang pria menekan tombol kuning, dimana membuat lalat-lalat kecil itu menambah kecepatan laju mereka masing-masing. Dia tidak ingin melewatkan dimana anak-anaknya ini meledakkan van hitam di depan sana.


Dengan seringai iblisnya, pria yang dipanggil Sergey itu menyandarkan punggung ke belakang. Dia mulai menikmati adegan dimana kendaraan warna hitam itu semakin menambah kecepatannya.


Pria dengan hidung bengkok ke kiri itu bahkan dengan santai mengangkat kakinya ke atas meja, yakin misinya akan sukses seperti sebelumnya. Apalagi ini hanya sebuah mobil. Lima belas drone yang sekaligus berfungsi sebagai bom itu akan dengan mudah meledakkannya.


Pria berkebangsaan Rusia itu tidak tahu sama sekali bahwa ada sepasang kekasih yang bersiap memberikan perlawanan sengit untuk 'anak-anak'nya. Dalam kepalanya, ia berpikir bahwa mobil hitam itu hanya bisa berlari, menghindar dari kejaran lalat buatannya.


Di dalam mobil warna hitam itu, tampak Mone dan Yamaken berdiri di belakang pintu yang masih tertutup. Mereka mencari waktu yang tepat untuk menyerang drone-drone mini yang kini masih berjarak seratus meter. Salah perhitungan sedikit saja, peluru yang nantinya mereka lesatkan akan sia-sia, tak ada gunanya lagi.


"Murasawa-san, turunkan kecepatannya!" Komando dari Mone membuat calon ayah itu membulatkan mata. Entah apa yang akan ia lakukan. Otaknya berpikir cepat, mencari opsi terbaik yang dimilikinya saat ini.


Haruskah Kosuke menuruti permintaan gadis 20 tahun di belakang sana? Atau ia harus terus menambah kecepatan mobil ini dan terus lari dari maut yang mengintai mereka?


"Kosuke!" teriak Yamaken detik berikutnya, membuat Kosuke mau tak mau harus mengangkat sedikit tekanan kakinya pada pedal gas di bawah sana.


Lebah dengan tubuh warna hijau itu semakin dekat, kini jaraknya tidak kurang dari delapan puluh meter. Hal itu membuat Anna maupun sergey senang bukan kepalang. Apa yang menjadi tujuan utama mereka akan segera terlaksana, yakni menghancurkan mobil hitam yang tampak mencurigakan itu.


"Tujuh puluh meter!" cetus Minami, melihat titik-titik merah di monitor yang semakin dekat dengan mereka.


Kosuke semakin panik. Ingin sekali ia menginjak pedal gas lagi seperti sebelumnya, tapi tampaknya itu tidak akan berguna, justru ia harus mengerem laju kendaraan ini. Ada tikungan tajam di depan sana. Mereka sudah meninggalkan kota, ada di wilayah yang lebih lengang.


"Enam puluh!" Suara Minami kembali mengingatkan. Dia terus berkomunikasi dengan Aira sambil mengamati pergerakan benda kecil itu yang jumlahnya justru semakin banyak.


"Tiga..."


Tangan Yamaken membuka pengait besi yang ada di belakang pintu, tapi masih memegangi handelnya erat-erat. Di saat yang sama, ia melebarkan jarak kedua kakinya, memperkuat kuda-kuda. Satu kesalahan kecil saja, bisa membuat mereka kalah dalam perlawanan hidup dan mati nanti. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi.


"Dua..."


Mone dan Yamaken sama-sama menghitung mundur, siap menunjukkan kebolehan mereka setelah hitungan berakhir.


"Satu."


"Sekarang!" titah Mone dengan tegas dan mantap. Cengkeraman pistol di tangannya semakin erat. Dia tidak ingin momen langka ini terlewatkan atau nyawa mereka dalam bahaya. Jarak drone-drone itu semakin dekat. Mereka tidak boleh terlambat.


Yamaken mengangguk.


BRAKK


Kaki kiri pria itu menendang pintu dengan sekali hentakan. Mone berjongkok dan segera menembaki benda kecil menyebalkan itu.


Dor

__ADS_1


Dor


Dor


Tak kurang dari tiga peluru terlontarkan hanya dalam waktu satu detik dan kesemuanya tepat mengenai sasaran. Percikan api segera terlihat di udara, diikuti gumpalan asap tipis yang langsung tersapu angin.


Dor


Dor


Selisih satu detik, Yamaken ikut menghamburkan timah panas dari senjata di tangannya. Empat lalat berhasil dilumpuhkan dari dua peluru yang dikeluarkannya. Tembakan jitu.


Dor


CIIITTTT


Di saat  yang sama, Kosuke terpaksa memutar kendali mobil yang dikendarainya. Ada jurang di depan sana, tidak mungkin mereka terus melaju lurus. Hal itu membuat tembakan Yamaken maupun Mone tidak tepat mengenai targetnya. Hanya menembus udara kosong. Sayang sekali.


Tubuh Yamaken sedikit tergeser ke samping, untung saja tangannya berpegangan di pintu, jadi ia masih bisa berdiri di belakang gadisnya.


Mone bergeming di tempatnya. Posisinya yang memaku lutut di lantai membuat tubuhnya lebih seimbang. Dia hanya bergesar beberapa inchi saja ketika kendaraan ini menukik tajam.


Detik berikutnya, tembakan kembali dua sejoli ini muntahkan. Tak kurang dari dua puluh peluru telah berhasil mereka keluarkan dari beberapa senjata yang membersamai misi berbahaya mereka kali ini.


"Sial!" geramnya tertahan. Urat lehernya menegang, menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki jalan untuk kabur dari kejaran makhluk kecil menyusahkan ini.


"Berapa banyak?" sahut Mone, masih tetap membidik target di belakang mereka. Masih tersisa lima atau enam drone. Mereka berhasil menghindar dari bidikan senjata yang Mone lesatkan tadi. Sepertinya orang yang mengendalikan itu mulai ikut 'bermain' dari kejauhan.


"Satu koloni. Saya tidak bisa menghitungnya." Minami mulai panik. Dia tahu lawan mereka tidak mudah. Tidak ada jaminan bahwa ia dan ketiga rekan-rekannya akan memenangkan pertempuran sengit ini. Jangankan memenangkan, selamat dari maut saja sudah menjadi berkat tersendiri dari Tuhan.


Kosuke berpikir cepat. Ia menatap kaca spion untuk melihat sisa drone di belakang sana. Masih ada empat yang tersisa. Dua makhluk buatan itu baru saja meledak sepersekian detik yang lalu. Percikan apinya bahkan masih terlihat.


"PUTAR ARAH ATAU CARI JALAN LAIN!" titah Aira terdengar di telinga Kosuke dan Minami. Dia tidak bisa melihat keadaan di sekitar mobil yang Kosuke bawa ini, jadi hanya bisa menyarankan hal itu.


Kosuke segera menolehkan kepala ke kanan dan kiri, melakukan scanning secara cepat. Jalan mana yang paling memungkinkah untuk mereka menyelamatkan diri. Satu koloni tidak akan mudah mereka hadapi.


Melihat situasi mulai terkendali di belakang sini, Yamaken berlari ke depan. Sesekali ia terhuyung saat Kosuke meliukkan mobilnya, menghindari lubang jalan. Hal itu membuat kepalanya menghantam tiang besi di sisi kiri tubuhnya.


Tak cukup sampai di sana, Yamaken kembali terlempar ke kanan begitu kendaraan ini kembali ke jalur yang seharusnya. Darah segar mengalir membasahi pelipisnya.


"SHIT!" ucapnya penuh kemarahan. Dia bukan marah pada Kosuke, melainkan pada keadaan yang memaksanya terpelanting kesana kemari. Rasa nyeri segera ia rasakan di kepala. Tapi, ada hal yang lebih penting lagi sekarang. Dia harus menyelesaikan misi ini secepatnya.


Tanpa membuang banyak waktu, pria ini segera berjalan ke depan, menuju tempat Kosuke berada.

__ADS_1


Di belakang sana, Mone kembali berhasil melumpuhkan satu drone dengan peluru di pistolnya. Namun sayang, senjata itu terlempar ke luar saat kendaraan ini meliuk tadi, bersamaan dengan Yamaken yang menghantam tiang besi.


Masih ada tiga buah drone dan dia tidak memiliki senjata lagi. Yamaken sudah berpindah ke depan sana dan Minami sibuk dengan monitor di hadapannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memusnahkan atau setidaknya mengusir tiga lalat sialan itu. Mereka semakin mendekat, seolah tahu gadis dengan wajah tertutup masker hitam ini tak lagi memiliki senjata.


Berjarak beberapa langkah dari Mone, tampak Minami mengigit bibirnya kuat-kuat. Satu tangannya memegangi perut yang tiba-tiba terasa nyeri bukan main. Keringat membanjiri pelipisnya. Sekilas ia melirik Mone, ingin meminta bantuannya. Tapi, gadis itu saja terlihat kerepotan dengan pekerjaannya. Minami tak sampai hati untuk mengacaukan misi ini hanya karena perutnya yang sakit luar biasa.


Glek


Tanpa berpikir panjang, wanita hamil ini meraih obat pereda nyeri yang ada di dalam laci dan langsung menelannya dengan bantuan air mineral di dalam botol. Bukan saatnya mengeluh. Pertempuran ini belum selesai. Masih ada musuh yang menghadang di depan sana.


"Bantu ibu, Nak. Bersabarlah di dalam sana. Semoga saja kita bisa cepat pulang dan istirahat, ya," lirih Minami sambil mengelus perutnya. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan bayinya, tapi juga tidak bisa melakukan apa-apa. Sampai misi ini tuntas, barulah mereka bisa bernapas lega dan kembali ke rumah.


Kedua netra sipit Kosuke kembali memicing tajam. Dia melihat ada jalan yang bisa mereka lalui di depan sana. Tapi rasanya itu tidak mungkin diambilnya. Jarak mereka terlalu dekat dengan koloni lalat sialan itu.


"Terus melaju!" titah Yamaken lirih dan dalam.


"Huh?" Kosuke tentu saja heran. Apa meraka akan bunuh diri? Dia segera menoleh ke samping dan semakin terkejut detik berikutnya. Tatapan pria di sampingnya ini sama seperti saat Ken memberikan komando. Keadaan genting menghadapi musuh selama ini sering terjadi, dan ekspresi iblis berdarah dingin seperti yang ada di wajah Yamaken ini yang selalu Ken tunjukkan.


Sepersekian detik Kosuke seperti linglung. Waktu seolah berhenti berputar untuknya. Dia mengalami demensia seperti orang-orang lansia pada umumnya. Demensia ditandai dengan penurunan dua fungsi otak yang cukup fatal yakni hilangnya memori dan kemampuan menilai.


Dan itulah yang sekarang Kosuke alami. Dia tidak bisa menilai siapa pria yang ada bersamanya saat ini. Bukankah itu Yamaken? Artis sejuta talenta yang digandrungi banyak wanita di luar sana? Kenapa sosoknya tiba-tiba berubah? Sejak kapan Yamazaki Kenzo ada di sini? Bukankah dia ada di Indonesia bersama istri dan anaknya?


Pikiran Kosuke semakin tersesat kala melihat darah segar menuruni pelipis pria ini. Sepertinya dia terluka, tapi tidak dirasakan sama sekali. Itu adalah karakter seorang Yamazaki Kenzo. Sebelum pertarungan mereka berakhir, dia tidak mempedulikan luka di tubuhnya sendiri. Ya, itulah ciri seorang yakuza, mati rasa sementara hingga misinya terlaksana.


Melihat tak ada respon dari pria di sampingnya, Yamaken menoleh. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan pria di hadapannya ini. Bukannya memperhatikan jalan di depan mereka, justru menoleh dan mengamati wajahnya.


"APA KAMU BODOH?!" hardiknya detik itu juga, membuat lamunan Kosuke terjeda. "TAMBAH KECEPATAN MOBILNYA!"


Kosuke segera menguasai diri dan kembali ke dunia nyata. Pikiran bodoh di dalam kepalanya benar-benar menyesatkan, membuatnya tak bisa menilai siapa yang ada bersamanya saat ini. Ken atau Yamaken?


Detik berikutnya, dia masih belum mengambil keputusan. Jika ia menambah kecepatan mereka, maka bisa dipastikan hanya dalam hitungan detik mereka akan berjumpa dengan koloni lalat peledak itu. Tapi, jika berbalik, tidak ada waktu lagi. Tiga drone yang tersisa bisa masuk ke dalam mobil mereka. Dan itu tidak ia inginkan.


Di belakang sana, Mone semakin panik. Lalat-lalat itu semakin mendekat. Jarak mereka hanya tersisa tiga puluh meter saja. Sementara di depan sana, Yamaken justru terdengar membentak Kosuke. Entah apa yang terjadi, dia tidak tahu.


Mone menatap ke sekeliling. Tidak ada satu benda pun yang bisa ia jadikan senjata. Jika ia beranjak ke depan dan meminta pistol dari Kosuke atau Yamaken, rasanya itu tidak akan sempat. Lalat iblis ini pasti sudah berhasil hinggap di atas kap mobil. Hanya dalam hitungan detik atau menit, maka mobil ini akan meledak seperti crane di pelabuhan setengah jam yang lalu.


Apa yang harus Mone lakukan? Bagaimana dengan Kosuke dan Yamaken? Jalan mana yang akan mereka pilih? Bisakah mereka menyelamatkan diri dari lawan yang tak terhitung jumlahnya? Atau harus ada sejarah kelam dari cerita kehebatan orang-orang yang bekerja untuk keluarga Yamazaki?


* * *


Hwaaa.... Author dag dig dug bikinnya. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian yaa. Nantikan bab berikutnya. See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2