
"Dimana Yamazaki Kenzo? Kenapa aku tidak melihatnya beberapa hari ini?" tanya Yuki.
Kosuke kelepasan bicara tentang Mone dan juga keberadaan Kenzo. Itu membuat suasana sedikit canggung.
"Ah, kamu tidak perlu menjawabnya." Yuki menepuk pundak pria yang berdiri di sebelahnya. "Jadi, bagaimana cara kita pulang sekarang? Satu-satunya perahu cepat itu sudah dibawa oleh saingan cintaku." Yuki berjalan kembali ke belakang, mendudukkan diri di atas kursi kayu yang tampak sedikit kusam termakan usia.
Kosuke mengambil ponselnya, berniat meminta bantuan pada rekan-rekannya.
"Tidak ada jaringan selular di pulau ini."
Calon ayah itu memutar otaknya dengan cepat, berusaha mencari solusi atas permasalahan yang menimpanya kali ini. "Ada radio atau alat komunikasi lainnya?"
Yuki menggeleng. "Kita tunggu sebentar lagi, mungkin saja rekan kerjaku menyadari kalau pria itu meninggalkan kita di pulau ini." Yuki berucap dengan tenang, bahkan sebuah senyum simpul terpatri di wajahnya.
"Anda tersenyum?" tanya Kosuke heran. Di situasi seperti ini, bagaimana bisa Yuki tersenyum tanpa beban seperti barusan?
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Marah? Mengumpat? Atau apa? Itu tidak ada gunanya." Yuki mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. "Mau?" tawarnya pada pria yang kini ikut duduk di sampingnya.
"Saya tidak merokok," jawab Kosuke, menolak dengan sopan tawaran pria ini.
Yuki tersenyum sebelum menyalakan batang tembakau di tangannya.
"Apa kalian sudah mengenal satu sama lain sebelumnya?" Yuki bertanya, merujuk pada hubungan Kosuke dan Shun.
"Ya. Sekarang ini dia tergolong dekat dengan tuan muda Yamazaki dan istrinya."
Yuki menoleh, menatap wajah Kosuke dari samping. "Sekarang? Maksudmu sebelumnya hubungan mereka tidak baik?"
Glek!
Kosuke meneguk salivanya dengan paksa. Dia kembali tidak sadar bahwa percakapannya dengan Yuki akan bermuara pada kehidupan pribadi tuan dan puannya.
__ADS_1
"Ya. Bisa dibilang seperti itu." Kosuke kembali dibuat salah tingkah seperti sebelumnya.
"Hahaha. Kamu tidak perlu tertekan seperti itu." Yuki terkekeh, melihat ekspresi Kosuke. "Tidak perlu menjawab pertanyaanku jika itu memang privasi mereka."
"Tidak. Bukan begitu. Saya bingung bagaimana menjelaskannya. Hubungan tuan Shun dengan Tuan Muda Yamazaki dan nona Aira memang sedikit buruk di awal. Nona Kaori menyuntikkan racun bisa ular pada nona Aira yang saat itu tengah hamil muda."
"Eh?" Yuki tidak tahu ada cerita seperti itu tentang mantan istrinya. "Kaori-chan melakukan hal seperti itu?"
Kosuke mengangguk. "Ya. Saya tidak tahu bagaimana detailnya. Itu terjadi di Indonesia. Bahkan membuat keadaan fisik nona Aira memburuk dan harus dibawa kembali ke Jepang untuk mendapat perawatan intensif. Minami yang saat itu ada bersamanya juga tidak bisa mencegahnya. Tuan Muda Yamazaki murka dan hampir saja membunuh nona Kaori."
Kening Yuki berkerut semakin dalam. Sejak dia berpisah dengan Kaori, dia tidak pernah mencari informasi tentang mantan istrinya itu.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" Yuki ingin tahu.
"Tuan Muda mengurung mantan istri Anda, tapi kemudian ditukar dengan nona Yu yang disandera oleh tuan Shun."
Kerutan di kening Yuki semakin dalam. Sekilas penjelasan Kosuke sudah membuatnya bingung. Siapa Yu? Kenapa Ken menukar Kaori dengan gadis itu? Apa hubungan mereka?
Dari kejauhan, tampak sebuah speedboat mendekat ke arah pulau tempat Kosuke dan Yuki berada. Itu salah satu rekan kerja Yuki, sengaja datang untuk menjemput atasannya.
"Lihat, orang yang menjemput kita sudah datang. Ayo kembali. Kita lanjutkan obrolannya lain kali."
* * *
Matahari kembali ke peraduannya saat Ken membawa Azami berjalan-jalan di sekitar pantai. Dia mendekap bayi 56 cm itu sambil bersenandung lirih. Wajahnya yang tampan tampak semakin berkilau terkena bias sinar matahari berwarna kuning kemerahan.
"Sayang, waktunya kembali!" teriak Aira dari kejauhan. Dia melambaikan tangnannya, meminta suami dan putra bungsunya untuk segera masuk ke dalam rumah sebelum langit berubah menjadi gelap seluruhnya.
Ken tersenyum sembari berlari-lari kecil menjauh dari istrinya.
"Yamazaki Kenzo. Kembali!!" Aira berusaha mempercepat langkahnya, hampir berlari.
__ADS_1
"Mommy, ayo kejar kami." Ken pura-pura bersuara seperti anak kecil, mewakili kata hati bayi gembul di dalam dekapannya. Dia menggoyangkan tangan Azami, seolah melambaikan tangan pada ibunya.
"Kalian. Kembali!" Suara Aira sedikit meninggi, meminta dua orang pria tersayangnya untuk tak semakin menjauh dari jangkauannya.
"Mom, ayo kejar aku." Lagi-lagi Ken berperan menirukan celoteh anaknya.
Aira menghentikan langkahnya. Napasnya tersengal mengejar pria 28 tahun ini yang kabur membawa Azami.
"Hey, Yamazaki Kenzo! Harada Yuki mencarimu!" ketus Aira, mendekat ke arah suaminya dengan tenaga yang tersisa. Tak kurang dari lima ratus meter dia berlari mengejar pria tidak tahu diri ini. Tubuhnya masih kelelahan setelah Ken membombardir pertahanannya empat jam yang lalu. Dan sekarang dia dipaksa untuk berlari di pantai berpasir putih ini. Tenaganya hampir tak tersisa, membuat wajahnya terlihat pucat.
Ken menghentikan langkahnya, menatap Aira dengan penuh tanda tanya. "Yuki mencariku?"
Aira mengangguk, merebut Azami dengan paksa. "Benar. Dia membuat masalah baru dengan Shun. Orang-orang itu benar-benar merepotkan. Sama sepertimu!" Wajah Aira terlihat semakin kesal, menatap suaminya dengan wajah tertekuk berlipat-lipat.
Sesaat Ken heran. Masalah apa yang pria itu lakukan pada Shun? Kenapa harus membuat semuanya jadi semakin runyam? Dan lagi, kenapa Kosuke tidak bisa menghandle hal itu?
"Lain kali kalau mau kabur, pastikan dulu masalah yang kamu hadapi sudah terselesaikan!" Aira semakin ketus berucap. Sejak awal dia memang tidak setuju dengan pelarian ini, tapi Ken bersikeras mengikuti kemauan kakek.
"Apa masalah itu begitu penting?" tanya Ken penasaran. Dia jelas-jelas ingin tahu tentang apa yang terjadi.
Aira melirik Ken dengan pandangan sengit. "Mana aku tahu. Orang-orang itu memang suka membuat masalah denganmu seperti yang sudah-sudah!" Nada bicara wanita 26 tahun ini semakin tidak bersahabat. Dia masih kesal karena Ken tidak juga puas setelah mendapat pelepasan berkali-kali. Dan sekarang justru ia ikut dipusingkan dengan panggilan dari Kosuke beberapa saat yang lalu.
Jelas-jelas dia mengatakan bahwa setelah pergulatan panas mereka siang ini, Ken harus fokus menghadapi masalah yang berkaitan dengan Anna. Tapi ternyata, pria tampan ini enggan menepati janjinya. Justru asik membawa Azami keluar rumah dan menikmati udara hangat di sepanjang pantai.
"Pergilah. Aku belum memutus sambungan telepon dengan orang itu!"
Ken segera berlari, menuju bagian utama rumah yang istrinya tinggalkan. Apa yang akan Kosuke bicarakan padanya? Kenapa harus mengganggu quality time-nya bersama Azami?
Yuk simak episode berikutnya. See you...
Hanazawa Easzy
__ADS_1