Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Berakhir


__ADS_3

Aira berdiri di dekat jendela, menatap langit kota Tokyo yang gelap sepenuhnya. Bulan sabit yang tergantung bebas di angkasa tampak bersanding dengan deretan bintang yang memancarkan cahayanya. Indah. Hal itu membuat Aira tersenyum dan melupakan kesedihannya sejenak.


"Nona, Tuan Yamazaki sudah pulang." ucap Minami menyela keterdiaman nonanya. Ia barusan menerima pesan yang Kosuke kirimkan bahwa mereka sudah ada di lobby apartemen.


Aira keluar dari pintu tepat saat Ken masuk. Kosuke mengikuti dua langkah di belakangnya.


"Kalian bisa pulang sekarang." ucap Ken sambil melepaskan baju hangat yang melingkupi tubuhnya.


Minami dan Kosuke berpamitan, segera menjauh dari tuan muda Yamazaki yang terlihat lelah setelah seharian bekerja.


Aira mendekat dan membantu Ken melepas dasi yang melilit lehernya. Hening. Masih tak ada kata yang terucap dari bibir wanita hamil itu.


"Aku lapar. Ayo makan." ajak Ken. Ia melangkah ke arah wastafel guna mencuci tangannya. Ia menatap istrinya dari kejauhan, menilik wajah tanpa ekspresi itu yang tampak sedikit pucat. Sudah dua hari istrinya tidak berbicara kecuali sepatah dua patah kata.


"Yosh. Baunya enak, kamu yang memasaknya?" tanya Ken sembari menarik kursi di depannya, bersiap duduk.


"Ya." jawabnya singkat.


Aira menyajikan nasi goreng udang kesukaan suaminya. Ia memasaknya beberapa menit yang lalu. Ken melahapnya dengan antusias, tidak memperhatikan Aira yang hanya menatapnya dalam diam.


"Uma.." ucap Ken di sela-sela makannya.


*Uma \= umami \= lezat. Kata 'umami' ditemukan oleh ahli kimia Jepang bernama Kikunae Ikeda tahun 1907. Umami menjadi 'rasa kelima' setelah manis, asam, asin dan pahit hingga akhirnya muncul dalam bahasa Inggris di tahun 1970-an.


Tak hanya pada daging, umami juga bisa ditemui pada makanan nabati seperti tomat, jamur, miso, rumput laut, kecap ikan, dan kecap. Ada juga campuran beragam bumbu yang menghadirkan rasa umami. Salah satunya furikake yang terbuat dari rumput laut, biji wijen, dan ikan bonito kering.


Drrt drrtt


Ponsel Aira bergetar, membuatnya beranjak mengambil benda pipih yang tergeletak di dapur. Hal itu membuat Ken menghentikan aktivitasnya dan menatap punggung istrinya yang tengah menerima telepon.


Ia bersiap meneruskan makannya saat menyadari hanya ada satu piring berisi makannya di atas meja. Saat itulah ia tahu jika sedari tadi ia makan sendirian.


"Ibu mengkhawatirkanmu." ucap Aira mendekat ke arah Ken yang tertegun di kursinya. Nasi goreng di piringnya masih tersisa beberapa suapan.


"Buka mulutmu." Ken bersiap menyuapi Aira namun wanita itu menggeleng pelan.


"Aku alergi udang." jawab Aira lirih, membuat Ken menarik kembali sendoknya. Ia menghabiskan makanannya dalam diam.


Lagi. Aira seolah menebalkan tembok tak kasat mata di antara mereka. Dua hari sejak kejadian di tempat spa pagi itu, Aira masih mendiamkannya. Wajah tanpa ekspresinya benar-benar membuat Ken tidak nyaman.


"Mau jalan-jalan keluar?" tawar Ken.


"Terserah." jawab Aira sembari membawa bekas makan suaminya ke arah wastafel.


Gemericik air yang mengalir mengisi keheningan di antara mereka. Ken tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat istrinya kembali tersenyum.

__ADS_1


"Kamu masih marah?" tanya Ken, mendekat dan memegang pundak istrinya.


Aira menggeleng sambil meletakkan piring yang dicucinya ke atas rak yang ada di dinding. Ya, ia tidak berhak marah pada Ken. Lagi pula sudah menjadi kewajibannya kan? Dan ia sadar sepenuhnya seperti apa tabiat suaminya, memang ia yang bersalah kemarin.


"Kenapa terus mendiamkanku? Dan lihat wajahmu, selalu murung sepanjang hari." Ken menatap istrinya intens, berharap Aira mau mengatakan apa yang tersimpan di dalam hatinya.


"Tidak apa-apa."


Aira masuk ke kamar, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Ken terus mengikuti wanita yang lebih muda 2 tahun darinya itu.


"Lavender atau geranium?" tanya Aira di ambang pintu sambil menunjukkan dua botol essential oil di tangannya.


Essential oil lavender adalah aroma favorit Aira. Harum dari bunga lavender ini bisa menambah kesegaran tubuh. Selain itu dapat menenangkan kulit kering dan juga dapat membasmi bakteri penyebab infeksi.


Sedangkan geranium essential oil dapat membantu mendorong sirkulasi darah, meningkatkan elastisitas kulit dan menghilangkan kotoran dari lapisan dalam kulit.


Aira akan menambahkan minyak aroma terapi itu di bath tube tempat suaminya biasa berendam. Setidaknya seminggu sekali, di akhir pekan seperti ini Ken akan mengistirahatkan tubuhnya di bak mandi minimal satu jam. Demi menghilangkan penat dan lelahnya bekerja selama beberapa hari terakhir.


"Aku tidak ingin berendam. Kita akan pergi ke luar nanti." jawabnya menyusul Aira masuk ke dalam ruangan 3x4 meter itu.


Aira mengangguk sekilas sebelum pergi. Ia tidak ingin membantah suaminya. Sebagai seorang istri, ia hanya perlu menuruti kemauan suaminya selama itu bukan hal yang membahayakan atau merugikan orang lain.


Dan di sinilah keduanya sekarang, berjalan bersisian sambil bergandeng tangan menyusuri taman.



Sebulir air berwarna bening menyeruak keluar dari ujung matanya. Aira menangis dalam diam, mengingat perjumpaannya dengan Yudha saat tengah sarapan di restoran.


FLASHBACK


"Selamat pagi Yamazaki-san..." ucap Yudha sambil menatap wakil direktur Miracle Corps.


'Suara ini...' batin Aira.


"Selamat pagi nyonya Yamazaki, Khumaira Latif..." lanjutnya, beralih memandang wanita di sebelah Ken.


Hening. Beberapa detik berlalu tanpa suara.


"Pagi." jawab Aira pada akhirnya. Ia berusaha bersikap biasa saja meskipun di dalam sana terasa bergemuruh. Ya, bagaimanapun juga pria ini adalah cinta pertamanya kan? Bagi beberapa orang, melupakan cinta pertama adalah hal yang mustahil.


"Yamazaki-san, ada yang ingin saya bicarakan berdua dengan istri Anda. Bolehkah saya meminjamnya sebentar?" tanya Yudha.


"Istriku bukan barang yang bisa dipinjam atau dipulangkan. Dia mempunyai kehendaknya sendiri." jawab Ken tanpa memandang lawan bicaranya.


"Maaf atas ketidaksopanan saya." ucap Yudha menundukkan kepala.

__ADS_1


"Ai-chan, pergilah." ucap Ken mengizinkan.


"Aku tidak akan pergi. Katakan saja di sini." Aira memantapkan hati, menolak apapun itu yang dikatakan Ken. Ia masih marah padanya. Lagi pula tidak seharusnya ia meninggalkan suaminya untuk berbincang empat mata dengan laki-laki lain.


Tampak Yudha menahan nafas sebelum berbicara, seolah ia akan mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan matinya.


"Aku akan menikah." ucapnya dengan berat hati membuat Ken, Kosuke maupun Minami terkejut. Tapi tidak dengan Aira, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.


"Aku sudah mendengarnya dari kak Ria." jawab Aira tenang, "Selamat.." lanjutnya sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


Yudha tidak percaya dengan respon yang Aira tunjukkan, tapi ia tetap balas menjabat tangan di hadapannya.


"Apa kamu akan datang ke pernikahanku?" tanya Yudha, mengabaikan pandangan tiga orang di depannya yakni Ken dan kedua asistennya.


"Aku tidak akan datang. Maaf." jawabnya pelan.


"Aira..."


"Maaf." Aira segera memotong ucapan mantan kekasihnya. Ia melepas kalung dengan liontin saturnus yang dipakainya.


"Semoga kamu bahagia." Aira meraih tangan Yudha dan menyimpan kalung berwarna silver itu dalam genggaman. Ia benar-benar harus melepaskan diri dari bayangan cinta pertamanya, termasuk kalung saturnus itu. Ia harus mengembalikannya pada si pemberi. Tidak boleh tidak. Perasaannya pada Yudha harus berakhir di sini.


"Aira..." panggil Yudha. Dia masih ingin mengatakan sesuatu.


"Minami, bisakah kamu mengantarku pulang sekarang?" tanya Aira pada asistennya. Ia ingin sendiri.


"Baik." Minami segera berdiri.


"Aku pulang." pamitnya sebelum pergi. Ia tidak sempat melihat wajah suaminya, atau memang tidak ingin melihatnya? Entahlah. Perasaannya kacau. Itu saja.


Setelahnya ia mengurung diri dalam kamar yang gelap. Minami terus berdiri beberapa meter darinya tanpa mengatakan apapun. Ia tahu nonanya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendampinginya dalam diam.


Aira seolah kehilangan secercah cahaya di hatinya. Luka karena perlakuan kasar Ken masih terasa, dan kini Yudha meninggalkannya. Seolah perasaan di hatinya tercerabut begitu saja, tidak ada rasa cinta yang tersisa. Yang ada hanyalah tanggung jawab dan tugas yang harus ia pikul sebagai seorang istri. Dan hari-hari berlalu tanpa senyum di wajah Aira.


FLASHBACK END


*****


Nyesek rasanya bayangin gimana perasaan Aira 😭😭


Udah ngga bisa ngomong apa-apa lagi 😭😭😭😭😭😭


Bye,


Hanazawa easzy 💔

__ADS_1


__ADS_2