Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Let's Do It!


__ADS_3

WARNING 18+


Aira sengaja menggoda suaminya, membuatnya panik dan kemudian bermanja-manja dengannya. Dia sengaja membuat kejutan, sebagai imbalan karena Ken sudah membantunya mengurus anak-anak.


"Ai-chan, apa yang kamu lakukan?" Ken semakin merasa tidak nyaman saat Aira semakin mendekatkan badannya. Dia lelaki normal, bisa terpancing hasratnya jika terus digoda seperti sekarang.


Cup


Tanpa menjawab, Aira justru mengalungkan tangannya ke leher Ken. Dengan sedikit berjinjit, wanita mungil ini menempelkan bibir tipisnya, membuat Sang Suaminya terbelalak.


"A-apa yang kamu lakukan?" Ken menatap wajah istrinya dengan heran, merasa aneh pada tingkah wanitanya yang kini berubah jadi begitu agresif.


"Apa? Bukankah ini yang kamu inginkan?" Aira mengusapkan jemarinya di dada bidang Kenzo yang tak tertutup sehelai benang pun. "Ini hadiah karena kamu sudah membantuku mengurus anak-anak."


Ken mengerutkan kening. Dia takut Aira tengah bersiasat padanya. Wanita ini selalu saja berhasil mengejutkan Ken dan membuatnya speechless.


Brukk


Bukannya menjawab, Aira justru mendorong tubuh suaminya ke belakang, membuatnya terduduk di atas sofa panjang berwarna hitam. Dengan sekali tarikan, tali kimono yang dipakai Ken terlepas, membuat tubuhnya terekspose.


"Ai-chan!!" Ken semakin tidak mengerti, menahan kedua tangan istrinya erat-erat. "Apa kamu demam?"


Ken menempelkan tangannya di kening wanita ini, memeriksa apakah suhu tubuhnya lebih dari biasanya atau tidak.


Aira tersenyum. "Bukankah kamu ingin adik untuk Aya? Ayo segera buat," ucap Aira dengan semangat menggebu-gebu.


"HAH?"


"Adik untuk Aya." Dengan mengerlingkan mata, Aira sengaja menggoda suaminya.


Ken tercengang, dia kehilangan seleranya melihat Aira yang begitu ganjen menggodanya. Dia illfeel, atau bisa dibilang mati rasa. Saat dia begitu menginginkan itu, Aira menolaknya. Dan sekarang, saat Aira menyerahkan diri, justru Ken yang enggan menyambutnya.


"Berhenti membuat onar!" Ken melepaskan diri dari jangkauan Sang Istri dan duduk sambil membenahi handuk kimono yang sempat Aira lepaskan talinya. Dia salah tingkah, merasa istrinya ini tidak waras atau semacamnya, tapi tak dia ucapkan.


"Hahaha..." Aira tergelak, tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia begitu terhibur melihat wajah suaminya yang tampak menggemaskan. Rasanya seperti bermain-main dengan anak kecil.


"Kenapa kamu begitu tegang?" tanya Aira, mendudukkan diri di atas pangkuan Ken, membenahi pakaiannya sendiri yang sedikit berantakan karena Ken mencengkeram puncak lengannya tadi. "Aku hanya bermain-main. Kamu terlihat begitu ketakutan."


Ken mendengus, sebal karena wanita ini berani mempermainkannya. Sebenarnya bukannya Ken menolak perlakuan istrinya, tapi dia takut tidak bisa mengendalikan diri setelahnya. Dan itu akan menyakiti wanita yang telah memberikannya tiga orang malaikat kecil tak bersayap untuknya.


Perlahan Aira meletakkan kepalanya di pundak Ken, tangannya memeluk pinggang Sang Suami dengan intens, memberikan rasa nyaman yang tidak bisa pria ini tolak.


"Kamu terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini, jadi aku ingin membuatmu sedikit rileks. Tapi kamu justru marah." Aira menjelaskan maksudnya yang tiba-tiba terjun dari atas tebing dua jam yang lalu. Dia memang sengaja melakukan itu, tentu saja setelah melihat medan dan membuat pertimbangan yang matang.

__ADS_1


Ken bungkam, tak menyahut pernyataan istrinya. Jujur saja, dia sangat khawatir, takut terjadi sesuatu dengan wanita yang berhasil menarik perhatiannya ini. Rasanya, dia tidak akan sanggup melanjutkan hidup jika kehilangan Aira. Apalagi dengan jalan konyol seperti tadi.


"Kamu butuh hiburan. Dan tidak ada yang bisa ku lakukan selain bermain-main denganmu." Aira mengeratkan pelukannya. "Jadi, maaf yaa karena membuatmu tidak nyaman."


Ken luluh. Hatinya menghangat dengan pengakuan wanita ini. Rasanya dia begitu beruntung memiliki seorang Khumaira Latif di sisinya. Dia wanita yang luar biasa, bisa membuat perasaannya jungkir balik dalam hitungan detik.


"Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi," ucap Ken sambil mencium puncak kepala istrinya yang masih basah.


Aira tak menjawab, mengangguk sebagai balasannya. Aroma mint yang kuat menguar dari tubuh kekar suaminya, membuat wanita ini nyaman. Keduanya diam, tak saling berbincang selama beberapa menit, menikmati quality time yang jarang mereka miliki akhir-akhir ini.


"Ken," panggil wanita yang kini mempermainkan jemarinya di dada Sang Suami.


"Hmm?"


"Tawaranku masih berlaku. Tidak ingin mengambilnya?" lirih Aira, tapi masih terdengar jelas di telinga pria 28 tahun ini.


"Tawaran apa?" Ken mengerutkan kening, tidak tahu apa yang tengah istrinya bicarakan.


"Itu..." Aira menusukkan jemarinya di otot dada Sang Suami yang menonjol.


Glek!


Ken menelan ludahnya dengan paksa. Dia tahu betul apa yang istrinya maksudkan.


Aira mendongak, menatap wajah suaminya yang kini terlihat tegang. Dia juga merasakan ada sesuatu yang lain di bawah sana. "Aku tidak sedang menggodamu. Aku juga menginginkannya. Besok ibu ada di sini bersama kita. Aku mungkin tidak akan melayanimu sampai beberapa hari kedepan. Jadi, hanya ini kesempatan kita."


Ken tampak berpikir. Bercinta di siang hari bukanlah hal yang tabu bagi pasangan suami istri, tapi mereka tidak terbiasa melakukannya. Terlebih lagi, ada begitu banyak hal yang tengah mereka hadapi sekarang ini, berkaitan dengan Anna, Yuki, dan segala permasalahan yang menyertainya.


"Kamu yakin?" tanya Ken, meragu akan tawaran Sang Istri.


Aira mengangguk. "Setelah memuaskanmu, aku bisa tenang mengurus anak-anak. Dan kamu juga lebih fokus mengurus permaslahan Shun dan Kaori."


Ken membenarkan pendapat istrinya. Dia tidak akan bisa berpikir jernih sebelum hasratnya terpenuhi. Tapi, yang menjadi masalah adalah dia tidak bisa cepat puas. Rasanya ingin menguasai wanita ini terus menerus. Apa Aira tidak keberatan akan hal itu?


"Kita punya waktu dua jam sebelum makan siang," celoteh Aira, seolah mengerti suara hati suaminya. Dia melirik jam yang menempel di dinding, pukul sepuluh pagi.


"Tidak cukup," sanggah Ken cepat.


"Kalau begitu lakukan dengan cepat!" titah Aira.


Cup


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Aira mengecup leher suaminya dengan l.embut, membuat listrik ribuan volt serasa menyengat tubuhnya. Sapuan lidah wanita ini sungguh membuatnya menggila.

__ADS_1


"Ai-chann!!!" geramnya tertahan. Jemarinya mencengkeram lengan mungil Aira yang terhalang bathrobe yang dikenakannya.


"Let's do it." Aira menatap suaminya dengan pandangan menggoda. Matanya berkilat, menunjukkan hasrat yang tak biasa. Nampaknya kali ini Aira lah yang akan menjadi pengendali permainan.


"Are you sure?" Ken kembali memastikan, menahan hasrat yang terus menggodanya.


Aira mengangguk sebagai jawaban. Sudah seharusnya dia melayani Sang Suami, membuat lahir batinnya tenang. Tentu saja, dia juga menikmati hal itu. Dia bukan wanita munafik yang berpura-pura menolak seorang pria, padahal hatinya begitu mendamba.


"Woman on top?" tanya Ken memastikan. Pikiran liarnya segera menguasai, ingin mendapatkan sensasi lain dari biasanya.


"Tidak masalah." Aira menyanggupi permintaan Ken dengan percaya diri. Dia sudah mempelajari hal itu saat kelas ibu hamil beberapa bulan yang lalu. Dokter menyarankan posisi itu agar kegiatan suami istri tidak terganggu dengan perut ibu hamil yang semakin membesar. Dan ternyata, setelah Akari, Ayame, dan Azami berusia tiga bulan, barulah Aira akan mempraktekkan hal itu. Sungguh konyol. Dia tidak sedang hamil sekarang, tapi tidak ada salahnya mencoba hal itu.


"Apa kita akan melakukannya di sini?" Aira memastikan. Mereka selalu melakukan hubungan biologis di atas ranjang, tidak di tempat yang lainnya.


"Tidak masalah." Ken menatap sekeliling, senyumnya terkembang kala melilhat pintu balkon yang terbuka. "Atau kita melakukannya di sana?"


Wajah Aira memerah seperti kepiting rebus. "Apa kamu gila? Melakukan hal itu di balkon?"


"Why not? Tidak akan ada yang bisa melihat kita." Ken menunjukkan smirk andalannya, sengaja memacu adrenalin mereka dengan melakukan hal pribadi di ruangan terbuka. "Kita bisa menutup tirainya."


Aira meneguk ludahnya dengan paksa. Bukan tidak mungkin menyetujui ide suaminya ini. Balkon mereka memang tertutup kelambu, sengaja di desain sedemikian rupa untuk menghalau nyamuk atau serangga agar ketiga bayinya bisa aman menghabiskan waktu di sana.


Srett


Tanpa menunggu persetujuan Aira, Ken menggendong wanita itu dan mendudukkan diri di atas sofa bed di balkon.


"Ai-chan, tunjukkan kemampuanmu untuk memuaskanku!"


* * *


Hwaaaaa..... Ayang Ken mulai kumat mesumnya. Ada yang penasaran mereka mau ngapain?


Ah, sayangnya kita skip aja yaa. Banyak anak-anak di sini. Hiihiihiiii...


Oh iya, Author minta maaf karena jarang up novel ini. Author lagi bikin rumah baru di platform sebelah yang benefitnya lebih menjanjikan. Di sana Author usahakan up setiap hari, bahkan kemarin sempet double up. Kalau ada yang penasaran, bolehlah main ke sana. Ada beberapa part kesukaan emak-emak, yakni adegan 21+ *upss.


Ini si bukan kesukaan emak-emak doang, siapa aja bisa panas dingin bacanya.


Boleh lah search nama Hanazawa Easzy atau judul novelnya "Terpaksa Menikahi CEO Mesum" di web atau aplikasi G O O D  N O V E L. Jangan lupa sapa Author yaa biar tahu kalian ini ngikut dari sini ke sana. Hehe,


Salam sayang dari Aira, eh Author maksudnya. Bye-bye...


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2