Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Bad Liar


__ADS_3

Yu sengaja membuat alerginya kambuh dengan minum susu sapi agar bisa mengalihkan perhatian G. Ia tidak ingin pria itu menginterogasinya terkait siapa dalang di balik gagalnya serangan mereka pada Miracle. Yu sudah memastikan sendiri bahwa Rara atau Aira berhasil memulihkan jaringan Miracle.


Ia menyusup ke perusahaan itu saat jam makan siang tiba. Siapa sangka ia justru melihat Ken dan asistennya yang membawa banyak makanan dari sana. Tentu saja itu untuk Aira, siapa lagi? Ia yakin kelima staf IT Miracle tidak akan bisa membersihkan kekacauan yang ia sebabkan.


"Sudah bangun?" tanya G. Ia membuka pintu kamar Yu dan mendekat ke arah gadis cantik yang duduk bersandar pada kepala ranjang.


Yu menatap ke arah jendela yang tampak gelap sempurna. Nampaknya hari sudah malam. Ia minum obat demam dan tertidur setelahnya. Entah apa yang G lakukan, Yu tidak tahu.


"Maaf karena membuatmu bekerja terlalu keras kemarin. Lain kali jangan memaksakan dirimu. Pastikan kamu istirahat dengan cukup." G duduk di tepi ranjang dan menasehati wanita kesayangannya. Ia turut merasa bersalah karena meminta Yu meretas sistem jaringan Miracle.


"Kenapa kamu marah saat datang kemari? Apa aku berbuat salah padamu?" tanya Yu mengingat G datang sambil menggedor pintu apartemennya.


"Itu, aku hanya tidak sabar ingin bertemu denganmu. Kamu tidak bisa dihubungi, jadi aku memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku mengkhawatirkanmu," jawab G spontan. Ia mengaduk sup ayam di dalam mangkuk untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Makanan itu masih mengepulkan asap, menandakan masih panas.


"Benarkah? Hanya itu?" tanya Yu sangsi, "Kamu tidak bisa membohongiku. Bahkan meski bertahun-tahun berlalu, kamu tetap sama. Bad liar!"


*bad liar : pembohong yang buruk/orang yang tidak pandai menutupi kebohongannya.


G diam. Ia tidak bisa menyanggah tuduhan Yu. Nyatanya ia memang datang dengan tujuan lain.


"Kamu tidak mempercayaiku, benar 'kan?"


"Gomen," jawab G lirih. Ia menunduk dalam, mengakui kesalahannya pada Yu. Hanya satu kata itu yang bisa mewakili perasaan bersalahnya.


(Maaf)


"Kamu memecat mereka semua, itu artinya kamu juga memecatku?" tanya Yu datar dan dingin. Ia harus pura-pura marah di depan pria berbahaya ini. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk memonopoli G. Pria itu paling lemah saat Yu marah padanya. Ia sudah diperbudak cinta. Itu sebabnya Yu tidak tega meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.


"Tidak. Aku tidak akan memecatmu. Aku tidak akan melepaskanmu." G meletakkan sup di tangannya ke atas meja. Jemarinya menggenggam tangan Yu yang terjalin di atas selimut yang menutupi kakinya.


"Tidak akan melepaskanku? Karena aku berarti di hatimu? Atau karena aku barang yang berharga untukmu?"


"Apa maksudmu?" G benar-benar kehilangan sosoknya yang begitu garang jika berhadapan dengan Yu. Ia akan mengalah pada gadis ini dan menyetujui apapun yang dikatakannya, "Yuzuuki-chan, aku ... "


"Jika aku berharga untukmu, kenapa kamu tidak mencariku begitu datang ke Jepang? Kenapa bibi Hanako yang memintaku bergabung dengan Circle K dan bukan kamu? Kemudian kamu mencariku karena takut bibi Hanako merencanakan hal buruk padamu dengan memanfaatkanku? Apa tebakanku benar?"


G tersentak mendapat pertanyaan bertubi-tubi yang ditujukan padanya. Bagaimanapun juga semua yang Yu tuduhkan benar adanya. Ia takut ibu tirinya memanfaatkan Yu, itu sebabnya ia mengajak gadis itu kembali berkencan agar bisa melindungi dirinya sendiri.


"Kamu masih sama, Ji Yong-ah. Bahkan meskipun kamu datang lebih awal atau lebih lambat sekalipun, kamu tetaplah Kwon Ji Yong yang egois. Kamu mendekatiku untuk memantau pergerakanku. Kamu takut aku akan membahayakan posisimu di perusahaan. Itu sebabnya kamu menjeratku, benar 'kan?"


Ji Yong tak bisa menyangkal atau mengiyakannya. Memang benar ia egois, tapi dia juga masih menyayangi Yu. Dia ingin menjalin hubungan layaknya pria wanita lainnya yang bisa hidup damai tanpa adanya bayang-bayang perebutan kekuasaan atau bahkan harta. Tapi ia sudah terjebak dengan pusaran masalah rumit ini sejak awal.


"Lepaskan semuanya, mari hidup bersama dimana tidak ada seorang pun yang akan mengganggu kita,"


Deg!


Jantung G serasa lepas dari dadanya. Ia menatap Yu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mendekat ke arah gadis itu dan mencium sudut bibirnya.


Cup


"Maaf," hanya itu yang bisa ia ucapkan sebelum akhirnya pergi dari hadapan Yu.


Yu meraba sudut bibirnya. Sebuah kecupan singkat itu menjadi penanda bahwa G masih menyayanginya. Namun ambisinya untuk mengambil kembali harta kekayaan peninggalan ayahnya tak bisa dipadamkan begitu saja. Dendam yang ia simpan bertahun-tahun lamanya telah membutakan mata hatinya, memaksanya merelakan gadis yang sangat ia cintai demi memuaskan iblis yang membujuknya untuk balas dendam.


"Rara-chan, maaf rencanaku tidak berakhir dengan baik." ucapnya lirih sambil menundukkan kepala. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menyelesaikan misinya untuk melindungi Aira. Jika G setuju dengan ucapannya, pria itu tidak akan mengusik Ken lagi. Itu artinya Aira akan aman.


...****************...


Aira menatap gugusan bintang di langit. Ia mencengkeram pagar besi berulir di depannya dengan erat. Ia tidak bisa memejamkan matanya meski malam sudah larut.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Sayang?" Ken mendekap istrinya dari belakang. Ia mengalungkan tangan kanannya di depan dada Aira dan tangan kirinya mengelus ketiga jagoannya yanh sesekali bergerak perlahan.

__ADS_1


"Ken?!"


Aira berusaha membalikkan badan tapi Ken menahannya.


"Sebentar saja. Tetap seperti ini sebentar saja." Ken meletakkan dagunya di pundak Aira. Ia memejamkan matanya dan menghirup aroma lavender yang menjadi ciri khas wanita kesayangannya, ibu dari anak-anaknya.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Aira khawatir.


"Ssttt," desis Ken, meminta istrinya untuk diam.


Aira menangkap jemari Ken dan menggenggamnya. Ia tahu suaminya pasti melewati hari yang berat dan sekarang saatnya ia menguatkan pria ini. Ia dengar bahwa Ken datang ke lokasi pembangunan gedung baru dimana Miracle dan Circle K akan menjalankan usaha bersama ke depannya.


Sejak awal, mereka sudah mengendus adanya niat tidak baik dari perusahaan dengan gambar berlian sebagai logonya itu. Tapi belum ada cukup bukti untuk menjatuhkan mereka.


"Berapa lama kamu di sini? Kenapa tanganmu begitu dingin?" tanya Ken sambil membalik tubuh istrinya yang sangat berisi saat ini. Tangannya bersemayam di kedua pinggang Aira.


"Wajahmu terlihat tidak baik. Apa hari ini begitu melelahkan?" Aira menangkup pipi suaminya, mengalihkan topik pembicaraan.


Ken bersimpuh di depan Aira, "Tidak. Aku tidak lelah sama sekali. Aku hanya sangat merindukan mereka. Hello baby boy. Ayah pulang," ucap Ken sembari mengelus perut Aira dengan gemas. Giginya tampak berderet saat tersenyum, menandakan ia sungguh bahagia saat berinteraksi dengan anak-anaknya.


Dukk


"Ugh," Aira memegangi perutnya saat tiba-tiba mendapat tinju dari salah satu jagoannya dengan cukup keras. Lagi-lagi ia hanya bisa menggigit bibirnya menahan ngilu yanh terasa hingga tulang belakangnya.


"Hey, hey, hentikan itu. Jangan menendang ibumu terlalu keras." Ken menciumi perut istrinya setelah mengatakannya.


Ia kembali berdiri dan merangkul Aira, membawanya masuk dari balkon lantai dua menuju kamar mereka.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ken saat keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Ia dengan sigap memasang selimut sampai ke perut istrinya agar wanitanya tidak kedinginan lagi.


"Aku menunggumu," jawab Aira jujur.


Srett


Aira membentangkan sebuah kertas di tangannya yang berhasil menjadi penghalang bibir suaminya. Hal itu tentu membuat Ken terkejut dan seketika menjauhkan diri. Ia kesal karena gagal mencium istrinya. Tapi, wajah Aira tampak begitu menakutkan sekarang membuat Ken hanya bisa menelan kekecewaannya.


Ken sedikit terkejut menatap istrinya. Ia bukan wanita yang akan malu-malu kucing dengan pipi memerah sesuai namanya. Tidak. Dia adalah sosok lain yang pernah Ken lihat saat ujian akhir di akademi. Wajah tanpa ekspresi dengan sorot mata yang tajam.


"Apa ini?" Ken mengambil kertas itu dan memperhatikan barisan bahasa pemrograman yang tercetak di sana. Keningnya bertaut, menantikan jawaban dari mulut istrinya.


"Apa kamu mengenalinya?" tanya Aira lirih.


Ken tak langsung menjawab. Ini bukan spesialisasinya. Terlebih lagi, ada begitu banyak masalah yang ada di kepalanya sekarang. Ia tidak bisa menemukan ada korelasi apa antara kertas di hadapannya dengan ekspresi Aira yang begitu menyeramkan. Istrinya terlihat baik-baik saja saat ia pergi. Ada apa sebenarnya?


"Gomen ne, Ai-chan. Aku ... " kata-kata Ken terhenti saat matanya menangkap kertas lain yang ada di tangan Aira. Kontrak kerja yang Yu tanda tangani di atas materai.


(Maaf)


Ken lagi-lagi speechless melihatnya. Ia tidak tahu sejak kapan istrinya itu mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya. Istrinya yang terlalu cepat bergerak atau dia yang tidak berhati-hati menyembunyikan itu.


*speechless : tak bisa berkata-kata


"Kamu ingin menyembunyikannya dariku?" tanya Aira.


"Itu tidak seperti yang kamu ... "


"Kenapa?"


Ken menghembuskan napasnya dengan berat hati. Nampaknya ia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari istrinya.


"Kamu mencurigai Yu. Itu sebabnya kamu menyelidikinya diam-diam tanpa memberitahuku. Benar 'kan?" tanya Aira menuntut jawab pada suaminya.

__ADS_1


"Sayaang, aku bisa menjelaskannya. Yu sungguh ada di pihak nyonya Hanako dan G. Dia mempunyai perjanjian kerjasama dengan wanita licik itu. Dia juga yang sudah meretas sistem Miracle dan menemuimu setelahnya sebagai alibi. Dia ingin memperdaya kita, memanfaatkan kepercayaanmu padanya demi keuntungan Circle K," jelas Ken.


"Sejak kapan kamu menjadi bodoh? Apa nyonya Hanako berhasil mempengaruhimu?" tanya Aira dengan menggertakkan giginya. Ia marah karena Ken menilai sahabatnya serendah itu dan percaya pada rubah licik yang menemui suaminya sore ini.


"Ai-chan, apa maksudmu?"


Aira mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Kaori beberapa jam yang lalu.


Yu menemuiku. Dia meminta obat alergi dosis tinggi setelah minum dua gelas susu sapi murni. Kenapa dia meminumnya? Apa dia ada masalah?


Ken terhenyak setelah membacanya. Ia menatap Aira, menunggu istrinya bersuara.


"Nyonya Hanako ingin mengadu domba kita. Apa kamu tidak menyadari trik busuk seperti itu?"


Deg!


Ken tersadar detik itu juga. Ia mengingat semua pemaparan nyonya Hanako yang mengatakan bahwa Yu kembali berkencan dengan G untuk mengalihkan perhatian orang-orang, termasuk Aira. Nyonya Hanako yang kini lebih dikenal sebagai nyonya Kwon itu tahu hubungan Aira dan Yu cukup dekat. Ia pernah melihat keakraban keduanya saat pernikahan Kosuke dan Minami. Saat itu ia datang bersama tuan Ebisawa, kakaknya. Sayangnya, baik Ken maupun Aira tidak menyadari keberadaannya. Dia bukan orang yang layak untuk diperhitungkan saat itu.


"Nyonya Hanako membuatmu mencurigai Yu. Dia ingin menghancurkan hubungan baik yang terjalin sebelumnya. Tapi dia tidak tahu ada Tangan Tuhan yang menyingkirkan tabir kepalsuan yang ia bangun. Kaori menunjukkan fakta yang sebenarnya."


"Ada apa dengan Yu?" tanya Ken belum mengerti. Ia tidak begitu mengenalnya.


"Dia alergi susu sapi. Jika dia minum sedikit saja, pasti akan muntah. Tapi jika dia meminumnya dalam jumlah yang banyak, tubuhnya yang akan menanggung akibatnya. Dia akan demam tinggi dan tidak sadarkan diri. Tahukah kamu kapan dia meminumnya?" tanya Aira.


Ken mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Aira.


"Siang ini, setelah tahu Aku berhasil membersihkan Trojan yang dia kirimkan."


"Apa tujuannya melakukan itu? Darimana kamu mendengarnya?" tanya Ken ragu. Ia takut Aira mendengar itu dari sumber yang tidak bisa dipercaya.


"Aku mendengarnya dari Kaori. Yu mengatakan semua rencananya, mengantisipasi jika saja rencananya gagal dan nyawanya tidak lagi tertolong."


"Apa rencananya?"


"Dia sengaja membuat tubuhnya demam agar G tidak lagi menuntut penjelasan padanya. Setelah tahu rencana mereka gagal mengacaukan sistem Miracle, pasti G mencariku. Yu ingin melindungiku dengan memanfaatkan kelemahan G, yaitu perasaannya. G akan menyerah jika Yu terlihat lemah tak berdaya. Dia pasti akan panik dan melupakan semua masalahnya. Jika Yu masih hidup, dia akan mengajak G melupakan semua dendam masa lalunya dan memulai hidup yang baru di tempat yang baru. Entah rencana itu berhasil atau tidak, aku tidak tahu."


Ken terdiam mencerna penjelasan istrinya. Ia tidak menyangka Yu akan bertindak begitu ekstrim dengan membahayakan nyawanya demi menutupi identitas Aira. Ia sudah salah karena lebih mempercayai ucapan rubah wanita itu dibandingkan mencari tahu fakta yang sebenarnya.


"Maaf karena tidak berpikir jernih. Apa kamu tahu sejak awal bahwa yang mengirimkan Trojan adalah Yu?"


Aira tersenyum, ia mengangguk atas pertanyaan suaminya, "Bahasa pemrograman itu, hanya beberapa orang saja yang tahu. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali goresan tangan sahabatku sendiri?"


Ken tersenyum. Ia merasa begitu bodoh di depan wanita jenius ini. Lingkaran masalah yang ada di hadapannya perlahan terurai sedikit demi sedikit. Kedepannya ia harus lebih berhati-hati saat bertemu dengan nyonya Kwon. Entah trik apa lagi yang akan dipakai oleh rubah wanita itu untuk mengadu domba dan memutarbalikkan fakta yang ada.


"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Ken pada Aira.


"Rencana?" Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ken, seolah bersiap membisikkan sesuatu padanya, "Aku akan memberitahumu setelah kamu mandi. Bau!!" ucap Aira dengan suara yang cukup memekakkan telinga suaminya.


Wanita hamil itu segera menyembunyikan diri di bawah selimut sebelum mendapat hukuman dari suaminya. Ia tahu Ken pasti tidak akan melepaskannya setelah ia bertingkah jahil pada suaminya itu. Ken tersenyum mendapati tingkah istrinya yang luar biasa. Lagi-lagi wanita ini mengejutkannya.


Cup


Ken mencium kepala istrinya yang terhalang selimut. Ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badan sesuai perintah istrinya. Beban pikirannya sedikit berkurang setelah mendengar fakta yang dipaparkan oleh Aira. Hampir saja ia terjebak pada adu domba yang nyonya Hanako ucapkan.


...****************...


Ngebut 🙈💃


Maaf kalo masih ada typo,


Hanazawa Easzy 🍁

__ADS_1


__ADS_2