
Ken menuruti kemauan Aira untuk makan Ramen. Sejujurnya Aira tidak ingin memakannya lagi sejak ia merasa ada yang tidak benar dengan mulutnya. Tapi demi buah hatinya, ia harus mengisi perutnya. Lagipula hubungannya dengan Ken baru saja membaik, ia tidak ingin ada masalah lagi kedepannya. Mungkin karena efek musim dingin jadi lidahnya kebas dan tidak berasa, begitu pikirnya.
"Ayo masuk." ajak Ken saat dirasa udara semakin dingin.
"Hmm..." Aira menolak dengan tegas. Ia masih ingin berdiam disana, menikmati rintik salju yang cantik sebelum kembali ke Indonesia.
"Aku tidak keberatan jika harus membatalkan tiket pesawat lusa dan kita harus tinggal disini selamanya." sindir Ken.
"Aku keberatan." ucap Aira cepat, bagaimana pun juga ia lebih suka tinggal di Indonesia. Tanah kelahirannya, dengan segala plus minusnya. Ia segera berdiri, namun tubuhnya limbung karena kakinya kram.
"Eeh..." Aira meraih tiang di belakangnya agar tidak terjatuh. Ia menyeimbangkan diri dan menolak bantuan Ken.
"Mau coba menggodaku?" ejek Ken sambil tersenyum membuat Aira mempoutkan bibirnya.
"Siapa yang menggodamu?" Aira menampik tangan Ken yang hendak memapahnya. Ken terkekeh melihat wajah istrinya yang memerah. Itu yang ia suka dari Aira, sulit didapatkan dan membuat adrenalinnya meningkat. Membuatnya merasa tertantang untuk menaklukkan gadis chubby ini.
"Tanpa aku menggoda pun, kamu sudah bertekuk lutut di depanku." jawab Aira dengan ketus, ia melangkah meninggalkan Ken dengan agak tertatih.
"Benarkah?" Ken menyusul Aira dan segera meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya ala bridal style, "Kalau begitu aku yang akan menggodamu." bisiknya di telinga Aira yang tertutup jilbab. Kedua tangan Aira refleks melingkar di leher Ken agar tidak terjatuh.
"Turunkan aku !" lirih Aira dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.
"Apa aku tidak memberimu makan dengan baik? Selain tulang dan kulit di tubuhmu, tidak ada yang lainnya." Ken menyeringai kembali membully istrinya yang tidak berisi. Aira membuang muka tak ingin menatap suaminya yang terasa sangat menyebalkan ini.
Ken membaringkan Aira di ranjang dan mencium keningnya dengan lembut sembari mengusap pipinya. Jemarinya bergerak lincah meraba hidung, alis dan mata bulat milik Aira. Aira meremas lengan Ken, berharap Ken tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Kamu selalu menggodaku seperti ini." Ken mendekat hendak mencium istrinya saat Aira tiba-tiba bangkit dan bersandar di kepala ranjang.
"Dimana Minami?" tanya Aira mengalihkan perhatian. Jantungnya berdetak terlalu kencang dan takut Ken menyadarinya karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Minami?" Ken menaikkan sebelah alisnya.
Plukk
"Hahahahaa..." Ken menepuk keningnya sambil tertawa. Ia membalikkan badan menghadap ke langit-langit. Istrinya tidak pandai berbohong sama sekali. Kenapa harus mencari asistennya hanya untuk menghindar dari hal-hal yang mungkin akan Ken lakukan sebagai seorang suami.
__ADS_1
"Tidak adakah topik lain untuk dibicarakan?" Ken berpindah, meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil memainkan ujung jilbab yang menjuntai sebatas perut. Matanya terpaku pada manik coklat milik Aira, sungguh istrinya ini sudah menjadi candu untuknya. Mungkin ia harus pergi ke psikolog jika selalu terbayang-bayang wajah istrinya sepanjang waktu dan ingin terus menempel padanya.
Aira meraih sebuah buku yang ada di atas nakas dan pura-pura membacanya. Ken kembali tertawa melihat Aira salah tingkah. Itu buku tentang bisnis yang Ken baca saat menunggui Aira yang sedang demam beberapa jam yang lalu, mana pernah istrinya itu tertarik membaca buku tentang perhitungan profit dan sejenisnya. Ia hanya ingin bersembunyi, Ken tahu itu.
"Bukunya terbalik, sayang." tangan Ken bergerak memutar buku di depan Aira jadi menghadap ke atas.
"Aku tahu." jawab Aira ketus menahan malu. Wajahnya memerah seperti sebelum-sebelumnya. Entah kenapa ia mudah sekali tersipu oleh candaan yang dilontarkan Ken. Entah dia yang sensitif akhir-akhir ini atau Ken yang terlalu agresif?
Ken diam, membiarkan istrinya meredam canggung di antara mereka. Ia tidak ingin dan tidak akan membuat istrinya marah. Ia berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk Aira dan buah hati yang ada dalam kandungannya.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke Indonesia. Apa kamu mau menemaniku?" tanya Ken setelah dirasa kondisi emosional istrinya sudah membaik.
"Kemana?"
"Surprise. Kamu akan mengetahuinya besok." janji Ken. Ia memejamkan mata mencoba untuk terlelap, berbalik badan mendekap perut Aira yang tepat di depan kepalanya. Mencari kenyamanan tersendiri, berdekatan dengan buah hatinya yang masih belum nampak keberadaannya.
Aira meletakkan bukunya di samping badan dan mengelus kepala Ken dengan lembut. Berharap semua baik-baik saja dan mereka bisa membina keluarga yang bahagia.
*******
Mereka berdiam sejak 2 jam yang lalu di atap gedung Miracle Corps milik keluarga Yamazaki, tepatnya milik Ken sekarang. Mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang malam. Ah, tapi bukan kencan seperti pasangan yang lainnya dengan pergi ke taman bermain atau semacamnya. Keduanya hanya duduk dan makan di kedai pinggir jalan yang menjual aneka olahan seafood. Saling diam dan tidak terlalu banyak bicara, pasangan yang cukup aneh.
Tidak ada tempat yang lebih bersejarah dibandingkan atap gedung ini, dimana mereka pertama kali bertemu.
Kosuke merebahkan kepalanya di atas pangkuan Minami yang membelai surai hitamnya, "Ayo kita menikah." ajak pria yang jarang tersenyum seperti tuannya itu.
"Kamu yakin?" Minami menatap manik hitam di depannya dengan sedikit ragu. Tidak ada satu orang pun yang tahu hubungan mereka. Baik Kosuke maupun Minami, masing-masing selalu menjaga jarak dan menyembunyikan kedekatannya dari siapapun.
"Kenapa tidak? Tuan muda sudah mengetahuinya."
"Tuan muda?" Minami mengerutkan keningnya.
"Dia sudah menyiapkan pernikahan untuk kita. Besok." jawabnya sambil tersenyum.
"Heihh apa kamu gila?" Minami tak percaya pada apa yang Kosuke ucapkan.
__ADS_1
"Yukou..." Kosuke bangkit dan menarik tangan Minami untuk mengikutinya.
(Ayo pergi)
Keduanya pergi melewati pintu besi yang berdebam saat tertutup dan menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Langkah keduanya terhenti di depan sebuah ruangan. Kosuke menempelkan jarinya pada mesin finger print di depannya. Pintu berwarna silver itu terbuka, menampilkan isi ruangan dengan dominasi warna hitam dan putih. Monokrom, warna kesukaan Minami.
Semerbak aroma bunga lili menyeruak ke dalam indera penciuman wanita 30 tahun itu. Katakanlah ia terlambat menikah karena selalu fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan urusan pribadi. Hingga ia bertemu dengan Kosuke 2 tahun yang lalu.
Kosuke berkali-kali mengajak Minami untuk berkomitmen, tetapi selalu ditolak. Selain urusan pekerjaan, juga karena usia Kosuke yang lebih muda 2 tahun darinya membuat Minami tidak percaya diri.
Klik
Kosuke menjentikkan jarinya dan seluruh lampu di ruangan itu menyala. Dekorasi bunga berwarna hitam dan putih menghiasi hampir seluruh sisi ruangan ini. Deretan meja tempat makanan tampak masih kosong, dengan bunga artificial di kanan kirinya. Minami terharu dan hampir menangis.
"Seharusnya aku tidak menunjukkan ini padamu, tapi aku benar-benar tidak sabar." ucap Kosuke sembari menggenggam erat jemari calon istrinya.
"Kapan tuan Yamazaki menyiapkannya? Bukankah dia selalu bersama nona?"
"Dia punya seribu tangan dan dua ribu kaki. Sekali menjentikkan jari, semuanya terselesaikan." canda Kosuke yang membuat Minami tersenyum.
"Kawaii desu ne.." puji Kosuke yang mendapat tepukan di bahu kanannya. Keduanya tertawa bersama.
(Kamu imut sekali)
*******
Gomen ne atas keterlambatannya... Author lagi agak oleng 😥 Niatnya mau up tadi malem tapi tiba-tiba ada orang ga jelas bikin author badmood & idenya nguap seketika 😑
btw selamat membaca, semua kritik dan saran author-chan terima dengan tangan terbuka 🤗 karena emang part ini kurang maksimal. Author lagi ngga bisa masuk ke karakter mereka. Lari-lari terus idenya. Lagi ngga bisa romantis-romantisan jadi rasanya hambar kaya aku tanpa dia 😢😢 *author mulai ngaco deh. Gomen gomen 😔
See you next day,
Love you all 😚😚
Hanazawa easzy 😊
__ADS_1