
-Pattaya, Thailand
Angin bertiup lembut, menerbangkan dedaunan yang luruh di tanah. Satu dua tersapu hingga ke ujung jalan, sementara yang lainnya diam di tempat sebelum terinjak pejalan kaki esok pagi.
Dua sejoli turun dari sebuah taksi yang membawa mereka dari Central Pattaya Beach. Itu adalah pusat perbelanjaan di Pattaya, Thailand. Tempat itu dibuka pada tahun 2009 dan merupakan pusat perbelanjaan pertama dari Centr*l Pattana, perusahaan ritel terbesar di Thailand dengan merek "CentralFestival Pattaya Beach".
Langkah kaki keduanya memasuki hotel bintang lima dimana barang-barang mereka tersimpan sejak dua hari yang lalu. Ya, pasangan suami istri ini tak lain adalah Shun dan Kaori. Mereka tengah menikmati liburan di Thailand dalam rangka bulan madu yang sempat tertunda karena mengurus pekerjaan.
"Bagaimana hari ini?" tanya Shun begitu mereka memasuki kotak besi yang akan membawa keduanya ke lantai tujuh dimana kamar mereka berada.
"Luar biasa!" jawab Kaori antusias. "Aku tidak tahu akan ada kembang api semegah itu di sini."
"Aku yang mengaturnya," aku Shun pada istrinya.
"Eh? Maksudmu?" Kaori menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. Shun bukanlah seseorang yang romantis seperti ini. Jelas-jelas dia pria yang kaku dan seringkali tidak menyadari situasi yang ada.
'Apa benar dia yang menyiapkan pertunjukan kembang api ini?' gumam Kaori dalam hati.
"Kehilangan uang ribuan baht tidak masalah asalkan bisa melihat kamu tersenyum." Shun merangkul lengan istrinya, membuat tubuh mereka tak lagi berjarak.
Ting
Denting lift terdengar bersamaan dengan pintu mengilap itu yang terbuka lebar, mempersilakan siapa saja untuk keluar maupun masuk ke dalamnya.
"Terima kasih," ucap Kaori sambil mengetatkan tangannya di pinggang Shun.
"Hanya itu saja?" tanya Shun sambil menempelkan kartu kamarnya, membuat pintu berwarna putih di depannya tak lagi terkunci. Ia membukanya dan mengajak Kaori masuk.
"Apa kamu meminta bayaran dariku? Aku tidak punya uang." Kaori mengerucutkan bibirnya, pura-pura memasang wajah menyedihkan di depan pria yang sudah memporakporandakan pertahanan hatinya. Dulu ia selalu berpikir tak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria sejak berpisah dengan Yuki Harada, mantan suaminya.
"Aku tidak mau uang. Aku mau kamu."
Brukk
Shun langsung menyergap Kaori dan mengunci pergerakan istrinya itu di atas ranjang. Matanya berkilat penuh gairah, membuat dokter cantik ini bergidik ngeri. Sejak mereka mendarat di Negeri Gajah Putih ini, tak terhitung berapa kali Shun melakukan hal 'itu', membuat Kaori kelelahan dan akhirnya tertidur lelap.
Shun mulai melancarkan serangannya dan semakin tidak terkendali. Kaori hanya bisa memejamkan matanya sambil mencengkeram seprai di bawahnya dengan erat.
Drrtt drrtt
Ponsel Kaori yang ada di atas nakas bergetar, membuat perhatian wanita kepala tiga itu teralihkan dari suaminya. Shun tidak mempedulikannya dan melanjutkan aktivitas panasnya.
__ADS_1
"Sudah!" Kaori mendorong dada suaminya yang shirtless dan segera beranjak bangun. Ia meraih ponsel miliknya dan melihat nama Yamazaki Kenzo tertulis di layar.
"Ada apa, Ken?" tanya Kaori sambil membenahi pakaiannya yang berantakan akibat ulah Shun yang tiba-tiba menjajah tubunya. Pria itu sungguh ganas seperti tidak pernah mendapat kepuasan meski sudah melakukannya berkali-kali.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Ken lirih.
"Tidak. Kami baru saja pulang melihat festival bunga. Ada apa? Ada yang bisa ku bantu?" tanya Kaori penasaran. Tidak biasanya yakuza muda ini menghubunginya tengah malam seperti sekarang.
Hening
Ken tak langsung menjawab pertanyaan dokter cantik ini. Ia bingung bagaimana harus mengatakan permasalahan yang tengah mengganggu pikirannya.
"Ken? Kamu masih di sana?" kejar Kaori karena beberapa detik berlalu tapi Ken belum membuka suaranya.
Grep
Shun yang merasa sebal karena Kaori menghentikan kenikmatan yang ia rasakan, segera memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang. Tangannya terulur, bersemayam di perut rata Kaori yang tertutup pakaian berwarna peach yang wanita itu kenakan sejak siang tadi.
"Dimana Senior?" tanya Ken, memastikan bahwa dia tidak membuat Shun marah atau semacamnya.
"Ada. Dia sedang istirahat," jawab Kaori sambil menahan mulut Shun yang terus mendusel ke ceruk lehernya yang terekspose. Pria ini benar-benar membuatnya hilang fokus.
"Bisa aku minta waktumu sebentar?" pinta Ken. Dia menceritakan peristiwa yang sebenarnya, yakni Aira menangis setelah mereka melakukan hubungan biologis. Dia ingin konsultasi dengan Kaori.
Meski memiliki tiga orang pengasuh yang membantunya mengurus baby triplet, nyatanya pasti Aira tetap kelelahan karena harus menyusui ketiganya secara bergantian. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk dirinya sendiri karena mempedulikan tiga bayi kecil dan satu bayi besarnya.
Dan Yamazaki Kenzo, Si Suami tak tahu diri itu justru mengambil haknya demi memenuhi kepuasannya tersendiri. Dan sepertinya pria itu melakukannya dengan caranya sendiri, buas dan tak tergambarkan, membuat Aira kembali merasakan trauma masa lalunya.
Kaori geram. Ken, serigala tanpa otak itu sungguh menyebalkan. Sama seperti Shun yang selalu saja mengambil haknya tanpa bertanya lebih dulu. Dua orang pria ini sama saja, menyebalkan. Serigala tetaplah serigala, entah dia bersikap semanis apa, tetap ada sisi buas yang ada di dalam diri mereka.
Ada satu saat Kaori merasa menyesal sudah menikah dengan Shun, namun perasaan itu hanya ia simpan di dalam hati tanpa pernah mengungkapkannya pada Sang Suami. Dia pasti akan marah jika mendengar fakta ini. Dan Kaori tidak ingin peristiwa yang terjadi pada Aira sampai menimpanya. Ken, Yoshiro, dan Shun, ketiganya merupakan orang yang hampir sama yakni suka memaksakan kehendaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ken lirih. Ia kembali melakukan kesalahan fatal tanpa ia sadari.
"Dia sudah berhenti menangis?" tanya Kaori. Ia menghirup udara malam ini banyak-banyak, berharap pasokan oksigen di dalam tubuhnya bisa menjaga agar kepalanya tetap dingin dan bisa berpikir dengan tenang.
"Umm. Dia tidur," jawab Ken. "Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan sekarang."
Kaori mengembuskan napasnya, menyadari permasalahan Ken ini cukup rumit karena berhubungan dengan kondisi psikis Aira sendiri.
"Mungkin Aira tiba-tiba merasa takut, sedih, dan mengingat traumanya lagi. Seharusnya dia boleh memintamu untuk berhenti terlebih dahulu dan menenangkan diri. Tapi, mungkin dia segan mengatakannya atau menjelaskan sebabnya, karena dia sendiri mungkin tidak tahu apa yang ia rasakan sampai membuatnya menangis." Kaori menyingkirkan helai rambutnya yang tertiup angin dan menghalangi pandangan matanya. Ia menengok ke samping saat sebuah baju hangat mendarat di pundaknya. Shun kini berdiri di sampingnya dan memeluk lengannya dengan erat.
__ADS_1
"Saat kamu melihat Aira seolah tidak nyaman sebelum atau ketika sedang berhubungan, cepat hentikan apapun yang kamu lakukan. Tenangkan dia lebih dulu, dan berikan segelas air putih untuknya. Kamu juga bisa mengambilkan minyak aromaterapi agar ia lebih tenang. Saat dia terlihat nyaman, biarkan dia mengatasi emosi yang terjadi di dalam dirinya. Kamu hanya perlu diam, jangan tanyakan apapun padanya."
"Jangan tanyakan apapun?" beo pria 28 tahun ini.
"Umm. Saat dia menatapmu lagi, itu artinya dia sudah bisa mengatasi pertentangan psikologis dalam dirinya. Saat itulah kamu bisa menanyakan apa yang istrinya rasakan atau apa yang membuatnya merasa takut. Jika dia tidak mau menjelaskan apa yang terjadi, biarkan dia benar-benar merasa tenang. Lebih baik peluklah istrimu. Jika dia ingin sendiri, maka turuti dan jauhilah dia untuk sementara."
Ken menundukkan kepala, berharap Aira baik-baik saja setelah terbangun nanti.
"Jangan membangunkannya. Biarkan dia istirahat semaksimal mungkin. Dia sudah melakukan aktivitas yang mengeluarkan banyak energi, jadi wajar jika tubuhnya merasa lelah dan lemas setelahnya. Setelah berhubungan, tubuh menghasilkan banyak hormon oksitosin yang membuat kalian merasa lebih santai.
"Lebih lanjut, oksitosin dan hormon prolaktin yang dihasilkan setelah bercinta dapat membuat dia merasa mengantuk. Jadi, rasa lelah yang dialami setelah berhubungan bisa jadi merupakan hal normal. Nah, salah satu cara mengatasi lelah setelah berhubungan adalah dengan mengonsumsi makanan yang dapat mengembalikan stamina."
"Aku membuatkan segelas susu coklat dan salad buah kesukaannya," ungkap Ken.
"Itu bagus. Susu cokelat adalah sumber protein dan karbohidrat yang hebat. Dengan mengonsumsi minuman ini, dehidrasi usai berhubungan bisa teratasi. Aku pernah membaca bahwa karbohidrat dan protein sangat cocok untuk pemulihan otot. Agar lebih sehat, pilihlah susu cokelat yang rendah lemak." Kaori menyarankan hal itu pada Ken.
"Selain itu, konsumsi yoghurt dapat menjadi cara mengatasi lelah setelah berhubungan. Kandungan lemak dan protein di dalamnya sangat baik untuk pemulihan otot. Kamu bisa memasukkan sereal dan segenggam buah beri segar ke dalam yoghurt untuk tambahan vitamin dan nutrisi lainnya."
Ken menganggukkan kepalanya, siap mengingat saran Kaori.
"Saat membuatkannya salad buah, kamu bisa tambahkan buah alpukat. Buah ini memiliki kandungan asam folat yang sangat tinggi. Selain itu, alpukat juga dapat dengan cepat memecah protein dan memberi energi spontan serta tahan lama. Alpukat juga menyimpan lemak baik (lemak tak jenuh tunggal) di dalamnya, yang mengoptimalkan produksi hormon. Boleh juga tambahkan pisang. Buah ini kaya karbohidrat kompleks, vitamin B6, dan kalium.
"Kamu juga bisa menyiapkan biji labu. Biji labu mengandung zat besi yang diperlukan untuk memulihkan stamina. Kandungan lainnya pun, seperti zink, magnesium, dan omega-3, baik untuk kesehatan. Pastikan kamu tidak menuntut macam-macam setelah dka bangun nanti."
"Aku tahu. Terima kasih."
"Baiklah. Jangan membuatnya menangis lagi atau aku akan buat perhitungan denganmu nanti. Aku tutup teleponnya. Ingat ya, jangan menyusahkannya!" Kaori menekan tombol merah di ponselnya dengan kesal. Dia berharap Ken menyadari kesalahannya dan tidak akan menyakiti Aira lagi.
"Sudah?" tanya Shun, menempelkan bibirnya di telinga Sang Istri dan mengendusnya.
"Dasar mesum! Kalian berdua sama saja!" tukas Kaori, geram dengan Shun yang sangat manja padanya setelah mereka menikah.
"Benar. Suamimu ini sangat mesum. Bisakah kita lanjutkan yang tadi?" tanya Shun sambil mengerlingkan sebelah matanya. Satu alisnya naik turun, sengaja menggoda Kaori.
Kaori memutar bola matanya, merasa jengah dengan tingkah suaminya yang luar biasa. Ia tahu kenapa Aira begitu bersikeras ingin berpisah dengan Ken waktu itu. Para lelaki sungguh merepotkan!
...****************...
Abang Shun mulai aktif yaa bund, 😂
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy