
Aira melakukan pemeriksaan kandungan bersama Ken dan ibunya, nyonya Sumari. Mereka berpisah setelah keluar dari rumah sakit. Ken kembali ke kantor, sedangkan Aira dan nyonya Sumari pergi bersama Minami.
"Kemana kita akan pergi, Bu?" tanya Aira saat mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Kemana ya? Bagaimana jika kita berbelanja? Kamu belum membeli perlengkapan bayi, 'kan?" tanya ibu sembari meraih jemari Aira, menggenggamnya penuh kasih sayang.
"Belum. Ken begitu sibuk akhir-akhir ini," jawab Aira sembari menempelkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia merasa pinggangnya pegal.
"Ckck, sudah ku duga hal itu akan terjadi," ibu berdecak geram, "Itulah sebabnya ibu sengaja datang untukmu. Anak itu tidak akan merasa lelah bekerja meskipun kakinya masih terluka. Dia bahkan melupakan anak dan istrinya," nyonya Sumari tidak habis pikir dengan putranya yang tetap gila kerja seperti biasanya.
Aira tersenyum, "Ken tidak seburuk itu, Bu. Dia selalu memanjakanku. Lagipula dia sudah sembuh bu. Dokter mengatakan pemulihan Ken sangat cepat sampai membuat mereka terheran-heran," ungkap Aira.
"Sudah sembuh?" ibu coba mengingat-ingat berapa lama putranya menjalani pengobatan akibat tulang kakinya yang patah. Jika tidak salah, baru sekitar dua bulan sejak kecelakaan tunggal yang putranya alami. Seharusnya masih masa pemulihan.
"Kata dokter, biasanya luka patah tulang seperti itu membutuhkan waktu empat sampai enam bulan untuk sembuh. Tapi sekarang Ken sudah sembuh total bu. Entah dia yang tidak merasakan sakit atau ia yang enggan untuk berlama-lama mendapat perawatan," jelas Aira pada ibu mertuanya.
"Lalu, kenapa dia masih memakai tongkat?" tanya ibu penasaran. Ia ingat betul Ken masih setia menggunakan alat bantu untuk menyangga kakinya.
"Itu hanya pencitraan, Bu." Aira menutup mulutnya menahan tawa.
"Pencitraan? Dia hanya pura-pura?" tanya nyonya Sumari sambil menautkan kedua alisnya karena heran. Ia bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh putra sulungnya itu.
"Sebenarnya itu karena perjanjian diantara kami berdua. Kami saling menyembunyikan satu sama lain."
"Eh?" heran nyonya Sumari, semakin tidak mengerti pada jawaban menantunya.
"Ken memintaku menyembunyikan kemampuanku memakai senjata tajam. Sebagai balasannya, aku juga meminta Ken berpura-pura belum sembuh dari kecelakaan itu. Ada pihak-pihak yang tampaknya menginginkan kami terluka. Jika mereka tahu Ken sudah sembuh, kemungkinan besar mereka tidak akan segan-segan menyerangnya. Begitu juga dengan pemikiran Ken, dia ingin aku terlihat sebagai seorang gadis biasa." Aira menjelaskan duduk permasalahan ini agar ibunya tidak salah faham.
"Kalian anak muda benar-benar membuat kami, para orang tua, sakit kepala." Ibu mengurut pelipisnya, tidak tahu kenapa anak-anaknya membuat keputusan aneh seperti itu.
"Maafkan kami, Bu."
"Sudahlah. Yang penting kalian berdua baik-baik saja. Aku sungguh menantikan kehadiran mereka untuk meramaikan rumah. Tumbuhkan dengan baik, cucu kesayangan omah."
"Ibu tidak perlu khawatir, ada Kosuke dan Minami yang selalu menyertai kami. Tolong jaga kesehatan ibu, ayah dan kakek. Aku akan mengunjungi kalian nanti setelah Ken sedikit senggang. Saat ini ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan."
"Baiklah, ibu tahu. Ingat, jaga mereka baik-baik!" nyonya Sumari mengelus perut menantunya, berbagai harapan indah ia lantunkan dalam hati untuk cucunya.
"Iya, Bu. Aghh," Aira sedikit tersentak saat merasakan tendangan yang cukup kuat di dalam perutnya. Nafasnya sedikit tersengal, tangannya memegang perut dengan lebih erat.
"Ada apa?" nyonya Sumari kembali meletakkan telapak tangannya di perut buncit Aira.
"Ah, mereka menendangku," ucap wanita paruh baya itu sebelum Aira menjawab pertanyaannya barusan. Ia merasakan pergerakan dari cucunya yang masih tersimpan rapat di dalam rahim ibunya.
"Iya, Bu. Mereka sangat aktif." Aira menyeka peluh yang membasahi dahi dan pelipisnya. Ia harus ekstra sabar di trimester kedua ini. Perutnya yang semakin membesar membuat pergerakannya tak lagi bebas seperti sebelumnya.
"Hello baby boys, jangan terlalu kuat bermain di dalam sana. Kasihan ibumu, Nak," ibu mendekatkan wajahnya ke perut Aira, seolah berbicara pada cucu-cucunya. Ia menantikan kelahiran ketiga jagoan kebanggaannya ini.
Minami ikut tersenyum mendengar penuturan nyonya Sumari. Ia membawa kendaraan roda empat itu menuju salah satu pusat perbelanjaan di Tokyo. Matanya awas pada keadaan sekitarnya sambil sesekali melirik jam tangannya, sebentar lagi masuk waktu makan siang.
Keduanya berjalan beriringan memasuki salah satu toko yg menjual perlengkapan bayi. Minami mengikuti dari belakang dengan waspada. Ia mengangguk pada salah satu wanita yang berpapasan dengannya. Itu rekan kerjanya dengan pakaian bebas. Ia membaur bersama yang lain, berpura-pura sebagai sesama pengunjung. Mereka memiliki tujuan yang sama, melakukan penjagaan terhadap wanita yang tengah hamil enam bulan itu.
Minami kembali mengedarkan pandangan ke arah lain. Ada lebih dari lima orang rekannya yang tersebar di beberapa titik. Mereka menggunakan earpiece di telinganya, membuat Minami bisa sedikit bernapas lega. Kosuke yang sudah mengirim mereka, tentunya atas perintah Ken. Tapi, agar tidak mengganggu kenyamanan istrinya saat berbelanja, Ken meminta mereka tidak menunjukkan identitasnya.
"Coba lihat, apa yang cocok untuk ketiga cucuku," nyonya Sumari mendekati sebuah ranjang bayi besar yang bisa menampung cucu-cucunya setelah lahir nanti.
"Apa kamu suka ini?" tanya ibu sambil menunjuk sebuah tempat tidur bayi berwarna putih dengan motif polkadot pink coklat.
"Bu, dokter Maeda mengatakan bahwa kemungkinan besar bayiku laki-laki," jawab Aira tak enak hati. Ia tidak tega mematahkan keinginan ibu mertuanya yang tampak begitu antusias.
__ADS_1
"Ah, iya," ibu melepaskan cengkeramannya, "Padahal ibu sangat berharap bisa menimang cucu perempuan dari kalian. Ibu akan membelikannya boneka, menguncir rambut panjangnya, membelikannya gaun-gaun menggemaskan yang membuatnya semakin lucu, membawanya ke taman bermain, mengajaknya ... ah, sudahlah. Laki-laki atau perempuan sama saja, mereka tetaplah cucuku." Nyonya Sumari berucap dengan murung. Ia sedikit kecewa karena jenis kelamin cucunya nanti tidak sesuai harapannya.
"Bu, doakan kami agar senantiasa sehat. Semoga di kehamilan keduaku nanti, aku bisa melahirkan cucu perempuan seperti yang ibu inginkan." Aira menggenggam jemari perempuan yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.
"Terima kasih, Sayangku." Nyonya Sumari memeluk menantunya dengan erat. Ia sempat waswas jika menantunya ini akan menjaga jarak darinya karena kejadian tidak mengenakkan yang pernah terjadi di masa lalu. Namun kenyataannya, Aira menyambut hangat pelukannya, seolah tak pernah ada masalah diantara mereka.
"Maaf Nyonya, sudah waktunya makan siang," Minami menyela aktivitas kedua wanita di depannya, membuat pelukan mereka terurai.
"Ah, baiklah. Jadi kamu pilih yang mana?"
Aira menatap sekeliling toko dan menemukan sesuatu yang sesuai pilihannya.
"Ini. Aku suka yang ini, Bu." Aira menunjuk satu tempat tidur bayi yang terbuat dari rotan. Tampak lucu.
"Itu buatan Indonesia," ucap seorang pramuniaga yang sedari tadi mengikuti mereka, mengantisipasi jikalau pelanggannya ini membutuhkan bantuannya atau mungkin sekadar penjelasan tentang produk yang ada di sana.
"Sayang, ini terlalu kecil, hanya cukup untuk satu anak saja," protes ibu.
"Aku takut yang lain akan ikut terbangun jika salah satu dari mereka ada yang menangis bu. Lebih nyaman jika mereka tidur di tempat terpisah," jelas Aira.
"Bagaimana kalau kita ambil empat sekaligus? Tiga single baby bed dan satu ranjang besar itu? Tidak akan jadi masalah jika kamu menguras sedikit uang suamimu," ibu mengerlingkan matanya. Aira hanya bisa tersenyum menanggapi ide ibunya.
"Terserah ibu saja."
"Baiklah, kami ambil yang ini."
Aira mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dalam tasnya dan memberikannya pada Minami. Itu adalah kartu kredit yang Ken berikan sejak mereka menikah, tapi baru kali ini Aira menggunakannya. Selama ini ia tidak pernah berbelanja di mall. Bukan karena Ken tidak mengizinkannya, tapi memang Aira yang tidak pernah berniat belanja hal-hal yang tidak penting. Semua kebutuhannya sudah tercukupi, ia tidak menginginkan hal lain lagi.
"Apa kamu lapar?" tanya ibu sembari menggandeng lengan Aira.
"Umm, mereka sudah menggeliat sejak tadi minta makan," Aira mengelus perutnya sambil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.
"Ada. Mari saya tunjukkan."
Ketiga orang itu berjalan menuju sebuah restoran yang terletak satu lantai di atas tempat mereka berada sebelumnya.
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Langit terlihat gelap seluruhnya menandakan sudah waktunya manusia untuk istirahat dari pekerjaan mereka. Ken masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya yang terasa lelah. Ia membelai pipi chubby Aira dan menciumnya sekilas. Ia masih ingat penjelasan Kaori sebelumnya tentang kehamilan kembar tiga atau triplets. Ken merasa banyak hal yang belum ia pahami tentang istrinya.
"Saat hamil, seorang wanita membutuhkan banyak asupan makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. Ibu hamil kembar tiga juga mungkin perlu mengonsumsi suplemen zat besi. Dalam kehamilan triplets, dari tiga janin yang dikandung, semuanya bisa kembar identik, tidak identik, atau bahkan kombinasi keduanya.
"Ibu hamil triplets biasanya mengalami pertambahan berat badan yang cepat pada trimester pertama. Selain itu, ukuran perut mereka lebih besar dibandingkan kehamilan tunggal. Tolong perhatikan aktivitasnya, ia bisa merasakan kelelahan berlebih karena pergerakan janin yang tidak biasa.
Membawa tiga janin dalam kandungan juga membuat seorang ibu hamil berisiko mengalami sakit punggung. Jadi, sarankan padanya untuk memperhatikan postur tubuh saat beraktivitas. Misalnya, tekuk lutut ketika sedang mengangkat suatu barang, miringkan pinggul ke depan ketika duduk, berdiri dan berbaring."
Ken mengurut pelipisnya, ia tidak tahu ada begitu banyak kesulitan yang dialami oleh istrinya demi menjaga buah cinta mereka. Kata-kata Kaori sungguh membekas di hati Ken, membuatnya merasa bersalah karena tidak pernah memberikan perhatian lebih pada istrinya.
"Hamil kembar tiga diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya Aira mengikuti kelas antenatal yang diperuntukkan khusus ibu hamil kembar tiga. Berdasarkan penelitian, enam dari sepuluh kehamilan kembar akan melalui proses persalinan secara caesar. Ini dilakukan demi keselamatan dan kesehatan ibu serta bayinya, sebab melahirkan bayi kembar punya banyak risiko, terutama pada kehamilan kembar identik. Kelahiran prematur pada bayi kembar juga sering terjadi. Semakin banyak jumlah bayi kembar dalam kandungan, semakin tinggi risiko melahirkan prematur. Umumnya, bayi kembar dua akan lahir pada minggu ke 34 atau minggu ke 36 usia kehamilan, sedangkan kembar tiga lahir pada minggu ke 32-36."
Ken memilih bangun dari tidurnya dan memijat kaki Aira perlahan. Ia tahu istrinya itu pasti kelelahan setelah menghabiskan waktu bersama ibunya untuk berbelanja kebutuhan bayi siang tadi.
"Ken ... " panggil Aira setelah membuka kelopak matanya. Ia menatap pria yang berjarak setengah meter darinya, tengah sibuk menggerakkan tangannya kesana kemari dengan hati-hati.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Ken tak enak hati.
Aira hanya menggeleng. Ia bangun dari tidurnya dibantu oleh Ken dan menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Apa kamu lelah?" tanya Ken, menatap istrinya intens.
__ADS_1
"Sedikit," jawab Aira singkat. Sejujurnya ia mulai merasa kewalahan akan kehamilannya ini, tapi ia tidak boleh mengeluh. Semua yang terjadi padanya adalah nikmat yang harus ia syukuri.
Ken kembali memijat kaki Aira pelan-pelan sambil sesekali melirik wanita yang tengah memperhatikannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken canggung.
"Terima kasih," ucap Aira.
"Untuk?"
"Aku dan ibu sudah menguras uang tabunganmu."
Ken menautkan keningnya, "Uang? Ah, hahaha. Bahkan jika kamu menghabiskan semua uangku, aku tidak akan keberatan. Aku bisa mencari yang lebih banyak lagi jika kamu mau."
Aira ikut tersenyum, tapi kemudian wajahnya berubah sedih. Berbicara tentang uang membuatnya mengingat seseorang yang ia kenal.
"Ada apa?" tanya Ken penasaran melihat perubahan raut wajah istrinya yang begitu kentara.
"Masih ingat Rin? Temanku saat di Thailand waktu itu? Dia gadis yang menyapaku saat menemanimu bermain ski."
"Umm, ada apa?" tanya Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua kaki yang terulur di depannya.
"Dia bekerja di Diamond, agensi model di bawah naungan Circle K."
Deg!
Ken menatap Aira, tiba-tiba merasa tidak tenang mendengar nama perusahaan itu, "Kamu bertemu dengannya?"
Aira menggeleng dan menyerahkan ponselnya, "Dia mengirim pesan padaku. Katanya dia mendapat uang yang banyak dan ingin mentraktirku makan."
Ken menerima ponsel milik Aira dan mendapati pesan dari gadis Thai yang dimaksud istrinya. Disana tertera penolakan Aira pada ajakan yang disampaikan oleh Rin beberapa hari yang lalu.
"Kamu menolaknya? Kenapa tidak mengatakannya padaku?"
"Aku takut bertemu dengannya," jawab Aira sambil menggigit bibir bawahnya, menandakan bahwa ia tengah mengkhawatirkan sesuatu.
"Kenapa takut? Aku bisa menemanimu jika kamu ingin menemuinya," Ken menawarkan diri demi keamanan istrinya.
"Aku meminta Minami menyelidikinya. Dia sekarang bekerja sebagai model di agensi Diamond, tapi ternyata dia pecandu obat-obatan terlarang. Dia akan melukai dirinya sendiri saat sakau, itulah sebabnya aku melihat tangannya terluka waktu itu. Dia menyayat tangannya sendiri. Dan apa kamu tahu siapa yang membuatnya mengonsumsi barang haram itu?"
"Siapa?" tanya Ken penasaran.
"Manager Jun, dia salah satu orang yang bersumpah setia pada Mr. G atau Kwon Ji Yong, pemilik Circle K.
Mata Ken membulat. Ia tidak menyangka akan mendengar hal itu.
"Dia sungguh orang yang berbahaya. Ada fakta lain tentang orang itu yang belum kamu ketahui,"
"Apa itu?"
"Sebenarnya ... "
...****************...
Dag dig dug aku bikin episode ini 😥
Niatnya mau bikin adegan sweet Ken-Aira, tapi ngga jadi. Simpen buat nanti aja lah biar kalian merana 😆😂😂 *jangan author mulu yang merana sendirian, ehehehehee
See you next day,
With love...
__ADS_1
Hanazawa Easzy 😘