
Suara tawa terdengar memenuhi ruangan yang sepenuhnya berwarna biru ini, membuat siapa saja tahu bahwa penghuninya tengah berbahagia.
"Ini samponya, Nyonya," ucap Mao sambil memberikan sampo khusus bayi yang Aira minta sebelumnya.
"Ah, iya. Terima kasih." Aira segera menyapukan cairan berwarna oranye itu ke atas kepala Aya, membuat aroma jeruk segera menyapa indera penciumannya.
"Waa... waa," cetus Sang Bayi cantik ini, menggapai telapak tangan Aira yang tengah bergerak-gerak di atas kepalanya. Malaikat tak bersayap ini mengira bahwa ibunya tengah bermain-main dengannya.
"Sabar sebentar, Sayang." Mao meraih jemari mungil itu, menggenggamnya dengan lembut.
Aira tersenyum, menyaksikan putrinya yang bergerak aktif di dalam bak mandi. Ketiga buah hatinya semakin besar, maka kemampuan respon mereka juga semakin bertambah. Di dalam buku panduan juga dijelaskan bahwa mereka mulai bisa menggulingkan badannya saat berbaring. Kemampuan motorik mereka lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
"Ai-chaaaannn!!!" Suara teriakan Ken terdengar menggema, menyapa indera pendengaran Aira bersama satu pengasuh bayinya. "Azami tidak mau memakai bajunya."
Aira dan Mao saling pandang sebelum tertawa bersama. Ini pertama kalinya Ken mengurus dua jagoannya sekaligus. Dia mengusir Mao yang tengah mengurus Akari dan Azami, berlagak bahwa dia bisa membantu kedua putranya berpakaian.
"Ai-chaannn!!!" Suara itu kembali terdengar, membuat Aira buru-buru mengangkat Aya dari dalam bak mandi.
"Biar saya yang mengurus sisanya. Anda bisa melihat apa yang terjadi dengan Tuan."
Aira mengangguk. Dia menyetujui ide wanita yang membersamainya ini. "Baiklah. Aku pergi dulu."
Dan pemandangan luar biasa segera terlihat di atas ranjang. Ken menarik kaki Azami yang berusaha menjauh dari jangkauan ayahnya dengan segala cara. Kedua kakinya bergerak aktif, menendang diapers yang siap dipakaikan oleh Ken sejak beberapa menit yang lalu.
Dan pemandangan lain membuat jantung Aira seolah berhenti berdetak. Akari, dia sudah ada di ujung ranjang, dua jengkal sebelum tubuhnya sukses terjerembap ke lantai. Belum lagi kotak perlengkapan bayi yang kini tergeletak di lantai, membuat beberapa botol minyak telon berceceran di sekitarnya. Satu ada di tangan bayi berkulit putih ini, tengah ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Aira berlari, segera menghampiri Akari dan mengamankan posisinya. Dengan cepat, Aira mengambil alih keadaan. Dia meletakkan Si Sulung di tengah ranjang dan kemudian membawa Azami ke sebelah kakaknya.
Ken menyapu peluh di keningnya. Dia benar-benar putus asa, gagal mengurus dua orang bayi tiga bulan di hadapannya. Dia pikir mudah saja, makanya dia mengusir Mao untuk menyusul Aira dan Sakura untuk menyiapkan sarapan. Namun nyatanya, dia harus meminta pertolongan pada Sang Istri sebelum sepuluh menit pertamanya berlalu.
"Masih ingin sok jagoan mau mengurus anak-anak?" sarkas Aira, menyindir suaminya ini.
__ADS_1
Ken bungkam. Kali ini memang dia yang salah. Dia tidak menyangka bahwa mengurus bayi akan serumit ini. Teorinya, hanya perlu mengoleskan minyak telon dan memakaikan baju pada mereka. Tapi nyatanya, dia angkat tangan untuk hal semudah ini.
"Lain kali, biarkan mereka saja yang mengurus anak-anak. Bagaimana jika aku datang terlambat dan Akari sudah terjun bebas ke lantai? Apa yang akan kamu lakukan, hah?" Rentetan omelan Aira masih berlanjut, membuat Ken tak bisa berkutik.
"Bukankah sudah ku katakan, aku tidak mengizinkanmu mengurus anak-anak. Kalau sekadar membantu tidak masalah. Tapi, kalau tetap kamu yang urus, semuanya kacau!" Kedua tangan Aira bergerak cepat, mengeringkan badan sepasang anak kembarnya yang terbaring dengan nyaman di atas ranjang.
Seolah mengerti bahwa emosi ibunya sedang tidak baik, Akari dan Azami berhenti bergerak. Mereka memasukkan ibu jari ke dalam mulut masing-masing, setia mendengarkan omelan Sang Ibu yang ditujukan pada ayah mereka.
"Lihat. Mereka tidak melakukan apapun, 'kan?"
Glek!
Ken terpaksa meneguk ludahnya sendiri. Kenapa dua jagoannya begitu patuh? Mereka bahkan tak bergerak sedikit pun, hanya sesekali menggerakkan jemari, menyentuh pipi, sebelum kembali masuk ke dalam mulut. Sepertinya mereka berdua benar-benar bersekongkol dengan untuk mempermalukannya di depan Sang Ibu. Sial!
"Apa kamu menyalahkan anak-anak?" tebak Aira. Tatap matanya yang tajam memaku Kenzo. Pria itu berdiri dua langkah di samping ranjang, menyaksikan tangan wanitanya tengah bergerak kesana kemari mengurus dua putra mereka.
"Kemampuan motorik mereka semakin baik. Jemarinya sudah bisa menggenggam, seharusnya kamu bisa memberikan mainan atau boneka berbulu itu!" Aira menunjuk satu boneka berbentuk kuda yang ada di ujung ranjang.
"Tapi apa yang kamu lakukan? Justru memberikan botol dengan permukaan kasar seperti ini." Nada bicara Aira masih tetap ketus. Jemarinya bergerak perlahan, menarik botol minyak telon di tangan Akari dengan lembut.
Ken tergeragap. Dia segera memberikan boneka kuda mungil itu pada kedua putranya, membuat mereka memeluknya di saat yang bersamaan.
'Astaga! Mereka benar-benar bersekongkol.' Batin Ken semakin yakin dengan dugaannya. Dua putranya ini pasti sengaja.
Dalam hitungan detik, dua bayi menggemaskan itu telah rapi. Pakaian lucu melekat di tubuh keduanya, tentu saja tanpa drama menghebohkan seperti yang terjadi sebelumnya.
Aira meletakkan Akari dan Azami ke dalam box, sebelum mengambil Aya dari penguasaan Mao.
"Urus Aya seperti yang aku lakukan pada Akari dan Azami tadi!" Aira menyodorkan bayi perempuannya ke depan Sang Suami, membuat pria ini terhenyak.
"Heih?"
__ADS_1
"Ayo!" Aira semakin mendesaknya, membuat Ken mau tak mau mengambil Aya dalam dekapannya.
"Aku akan melihatnya. Apa kamu bisa diandalkan menjadi seorang ayah?" Aira berkacak pinggang, siap menyaksikan kepanikan pria di hadapannya ini. Aira tahu, Aya cukup dekat dengan Sang Ayah, jadi sepertinya dia tidak akan melawan seperti dua saudaranya yang lain.
"Seperti ini?" tanya Ken ragu-ragu. Dia mulai mengeringkan tubuh Aya dengan handuk.
"Ajak dia bicara."
Ken menoleh, menatap Aya dan Aira bergantian.
"Ayame-chan, ayo pakai bajumu." Suara Ken yang terdengar sedikit gemetar membuat Aira menundukkan kepalanya sejenak. Ingin sekali dia tertawa, tapi ditahannya. Seorang penguasa sekaligus pewaris utama keluarga Yamazaki yang disegani di seluruh Jepang, justru bertekuk lutut tak berdaya saat berhadapan dengan seorang bayi berusia tiga bulan. Benar-benar menggelikan.
Aira diam, memperhatikan setiap gerak-gerik Sang Suami yang selalu saja disertai sikap gugup dan canggung. Dia benar-benar belum terlatih untuk mengurus anak-anak.
"Diam di sana sebentar saja ya," pinta Ken, mengoleskan minyak ke sekujur tubuh bayinya.
"Aoo... haa." Suara Aya terdengar, seolah tengah mengajak ayahnya untuk berbincang. Hal itu membuat ketegangan Ken sedikit mereda, berganti dengan senyum hangat yang terpancar di wajahnya.
"Dia mengajakku berbicara!" Ken terlihat begitu antusias, mengatakan pada Aira bahwa bayi mereka mulai bersuara.
Aira tersenyum. Dia tahu itu. Di usianya sekarang, memang normal jika anak-anaknya mulai bisa diajak berinteraksi. Bahkan, tak jarang mata mereka menatap langsung pada orang yang mengajaknya bicara. Satu dua bahasa surga mulai terdengar, membuat siapa saja merasa bahagia, termasuk pasangan muda ini : Ken dan Aira.
Menurut penelitian medis, bayi yang sering diajak berbicara, nantinya akan memiliki kosakata lebih banyak dan IQ yang lebih tinggi dibandingkan degnan bayi yang jarang diajak bicara oleh kedua orangtuanya. Meski mereka belum memahami bahasa ayah atau ibunya, tapi kata-kata itu akan terekam dalam ingatan bayi-bayi mungil nan menggemaskan ini.
Dan benar sesuai perkiraan Aira, Aya memang bersikap kooperatif. Dia tidak banyak bertingkah. Selain itu, karena dia seorang wanita, bayi ini juga seolah tahu diri untuk tidak menyusahkan Sang Ayah.
"Sudah selesai." Ken meletakkan Aya di dalam box, bergabung dengan dua saudaranya.
"Jadi, apa aku boleh meminta imbalannya sekarang?"
* * *
__ADS_1
Waaahh imbalan apa yaa kira-kira Ken pinta pada istrinya? See you next day.
Hanazawa Easzy