Gangster Boy

Gangster Boy
The Gangster is Back


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam saat mobil yang Ken kendarai memasuki tempat parkir bawah tanah apartemen. Aira tertidur lelap di kursinya dan membuat Ken tidak tega membangunkannya. Ia menggendong Aira masuk ke apartemen mereka di lantai 7.


Ken meletakkan Aira di ranjang perlahan dan berlalu ke dapur untuk mengambil minum. Ia tampak ragu saat melihat bungkusan kertas di tangannya yang ia dapatkan dari Yoshiro kemarin.


"Obat ini tidak berbahaya, hanya akan membuatnya lebih tenang dan tidak memberontak. Lakukan tugasmu dengan baik. Kita tidak tahu seberapa banyak kesempatanmu. Mungkin saja itu kesempatan pertama dan terakhirmu sebelum kalian berpisah." jelas Yoshiro.


Ken mengoleskan obat berbentuk bubuk berwarna putih itu di bibir gelas dan mengisinya dengan air putih. Ia minum menggunakan gelas itu dan tidak terjadi apapun, artinya Aira juga akan baik-baik saja.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Aira saat Ken kembali ke kamar. Aira terbangun beberapa menit yang lalu & mendapati dirinya terbaring di atas ranjang mereka.


"Ah, kamu bangun?" Ken mendekat dan memberikan segelas air putih pada istrinya. Itu adalah gelas yang ia gunakan untuk minum barusan. Ken sengaja melakukannya untuk menjamin keselamatam istrinya. Aira menerimanya dan meneguknya sampai tersisa setengah bagian. Ia meletakkannya di atas nakas.


"Apa kakimu masih sakit?" Ken duduk di depan Aira dan meraih kaki mungil di depannya. Ken melepaskan sneakers berwarna putih hadiah dari Yu.


"Aku bisa sendiri," Aira menarik kakinya karena merasa tak enak diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Biarkan aku melihatnya," Ken menahan kaki Aira tetap dalam jangkauannya. Ia membuka kaos kaki yang Aira kenakan dan mulai memijatnya perlahan.


"Jangan memaksakan diri. Aku akan menyuruh Minami membawakan kursi roda untukmu besok."


Aira menggeleng, "Aku tidak mau pakai kursi roda. Kakiku baik-baik saja." elaknya.


"Besok mau kemana lagi?"


"Besok? Kamu harus bekerja Ken,"


Ken menggeleng, "Aku akan bersamamu sepanjang hari. Tidak boleh menolak." jawab Ken yang lebih terdengar sebagai perintah di telinga Aira.


"Terserah," jawab Aira acuh. Toh ia tidak akan bisa menolaknya jika itu sudah menjadi titah Yang Mulia yang berstatus sebagai suaminya.


"Tidurlah," pinta Ken. Tangannya masih setia memijat kedua kaki istrinya bergantian.


Aira merebahkan diri dan mengamati wajah Ken yang masih tersenyum. Senyum yang sangat jarang ia lihat.


"Ken.." panggil Aira lirih.


"Hmm..." Ken hanya bergumam tak jelas.


"Setelah aku pergi, berjanjilah kamu akan baik-baik saja."


Glek


Gerakan tangan Ken terhenti. Ia meneguk salivanya dengan paksa. Hatinya seperti tersayat saat mendengar penuturan Aira.


"Kamu sungguh ingin meninggalkanku?" tanya Ken dengan suara serak. Tenggorokannya terasa kering dan tak bisa berpikir jernih sekarang. Bayangan rencana yang ia bicarakan dengan Yoshiro kembali melintas, meskipun dalam hati kecilnya ia merasa keberatan. Dia tidak ingin mengkhianati kepercayaan Aira tapi juga tidak ingin kehilangan wanita yang sangat berharga untuknya. Disadari atau tidak, dia benar-benar jatuh cinta pada Aira.

__ADS_1


Aira menarik kedua kakinya dari pangkuan Ken. Ia memalingkan badan tak ingin menatap wajah suaminya yang terlihat menyedihkan. Aira tidak tahu apa yang ia inginkan. Keduanya diam cukup lama sampai akhirnya Ken beranjak mengambil sesuatu dari laci dan memberikannya pada Aira.


"Kamu bisa menandatanganinya sekarang." ucapnya lemah.


Aira bangun dari tidurnya dan tertegun saat melihat stopmap berwarna biru di depannya. Ia membukanya dengan ragu.


Surat Pengajuan Perceraian.


Deg


*******


"Ada batu besar di depanmu. Itu akan jadi pertaruhan hidup dan matimu, cepat pergi dari pria terkutuk itu. Pergilah nona. Pergi sejauh mungkin."


Aira terbangun dari tidurnya dengan peluh yang membanjiri wajahnya. Nafasnya terasa sesak tak beraturan. Entah kenapa bayangan pertemuannya dengan wanita aneh kemarin lusa menghantuinya sampai ke alam mimpi. Hatinya benar-benar resah dan tak tenang. Ia menoleh ke samping dan mendapati Ken tengah terlelap dalam tidurnya.


'Jika wanita itu benar, mungkinkah pria terkutuk itu adalah Ken?' berbagai pikiran berkecamuk dalam hati Aira. Ia mengingat dengan jelas saat wanita itu menggenggam tangannya dengan erat.


"Tinggalkan dia dalam waktu 2 hari. Jika tidak, selamanya kamu tidak akan bisa pergi."


Ini hari ke 3 setelah ia bertemu dengan cenayang itu. Artinya dia sudah melanggar saran yang diberikan. Ia sudah melewati batasnya, dan kenyataannya ia menghabiskan malam dengan Ken. Tangannya gemetar, ia benar-benar ketakutan sekarang.


Prang...


Aira tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ia ambil dari atas nakas membuat Ken terbangun. Tatapannya tertuju pada Aira yang tertegun dengan tangan gemetar.


"Ai-chan, kamu mimpi buruk?" Ken melihat serpihan kaca yang berserakan di lantai dan dengan cekatan segera membersihkannya. Ken duduk di depan Aira dan meraih tangan istrinya yang sedari tadi tergantung bebas di udara.


"Tenanglah. Jangan takut, ada aku disini," Ken menggenggam jemari Aira yang terasa dingin dengan kedua tangannya. Entah itu karena udara musim dingin yang tak biasa Aira rasakan, atau karena ketakutan? Yang pasti, kondisi Aira tidak baik-baik saja sekarang.


"Aira..." lirih Ken sembari mengelus kepala istrinya saat ia lihat wanitanya masih diam dengan pandangan kosong. Dengan sigap Ken menarik Aira ke dalam pelukannya.


2 menit berlalu, nafas Aira sudah mulai teratur. Ken mengurai pelukannya dan memandang wajah istrinya dengan penuh perhatian, "Mimpi buruk, hmm?"


Aira tak menjawab dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya setelah menerima kimono yang Ken ulurkan.


"Ayo kita bicara." Aira mendahului Ken keluar kamar. Langkahnya terhenti di dapur dan duduk diam disana tanpa ekspresi. Ken mengambilkannya air putih namun Aira tak mempedulikannya sama sekali.


"Minami-san, berikan obatnya." perintah Ken pada wanita yang berdiri di ruang tengah. Pengawal kepercayaan Aira itu terbangun saat mendengar suara gaduh beberapa saat yang lalu. Ia menunggu di depan pintu dan terkejut saat kedua tuannya tiba-tiba keluar hanya memakai kimono tidur. Barulah ia tahu alasan perintah Ken kemarin.


"Simpan itu dan berikan saat aku memintanya."


Minami mendekat dan meletakkan selembar obat berisi 10 butir tablet berukuran kecil. Aira memandangnya tak mengerti.


"Itu kontrasepsi darurat jika anda tidak ingin hamil." ucap Minami dengan sedikit gemetar. Bagaimanapun juga ia tidak tega memberikannya. Ia berharap kebahagiaan untuk kedua tuannya, tapi nampaknya itu hanya ada dalam angan-angannya.

__ADS_1


Aira mengambil obat itu dan bersiap membukanya. Ia bimbang apa ia tidak akan menyesali keputusannya nanti? Ia menatap Ken yang duduk dengan tenang di depannya. Aura devilnya menyeruak keluar walaupun ia tidak melakukan apapun saat ini.


"Itu memiliki efek samping yang cukup mengganggu, seperti mual, muntah, sakit perut, kelelahan, sakit kepala, nyeri payudara, hingga menstruasi tak teratur. Pada dasarnya cara kerja kontrasepsi darurat adalah mengacaukan sistem hormon reproduksi. Jadi mungkin ada risiko pendarahan tak terduga." jelas Minami saat melihat keraguan menyelimuti Aira.


"Seberapa efektif obat ini bekerja?" tanya Aira dengan wajah datarnya.


"Itu dapat mengurangi risiko kehamilan hingga 95 persen, sedangkan jika dikonsumsi dalam jangka waktu 72 jam mengurangi risiko hampir 90 persen. Semakin jauh jangka waktu anda meminumnya, efekivitasnya juga semakin berkurang." jawab Minami.


Wanita berambut pendek itu undur diri, menjauh dari keduanya karena tak ingin mengganggu privasi mereka. Sejujurnya ia berharap Aira tidak memakan obatnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Ken lakukan jika Aira benar-benar menolak untuk hamil anaknya.


Prang...


Ken meninju cermin yang ada di belakangnya setelah melihat Aira menelan obat yang Minami berikan tanpa ragu lagi. Amarahnya memuncak dan menendang apa saja benda di sekitarnya. Ia menatap Aira tajam dan mencengkeram leher Aira dengan tangannya yang berlumuran darah. Ken mendorongnya hingga terdesak ke tembok dan terus menekannya membuat Aira kesulitan bernafas.


"Tuan, tolong hentikan. Itu akan menyakiti nona Aira. Tolong kendalikan dirimu." pinta Minami yang berada dua langkah dari mereka. Ia tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan nyawa Aira. The Gangster is back.


Ken tak peduli dengan nasehat pengawalnya, ia benar-benar marah sekarang. Sisi monster yang selama ini berhasil ia kendalikan akhirnya muncul kembali ke permukaan. Jika sudah seperti ini, tak ada yang bisa mencegah kebrutalan Ken. Ia akan menghancurkan semua yang ada di depannya.


Minami memberanikan diri menyerang Ken untuk memecah perhatiannya. Minami takut nyawa Aira tak tertolong jika Ken terus menekan leher Aira ke tembok seperti sekarang.


Bugh


Tangan kiri Ken dengan sigap menahan Minami yang hendak meninjunya, sedangkan tangan kanannya masih menekan leher Aira. Darah yang keluar dari punggung Ken menetes ke kimono Aira dan meninggalkan bercak berwarna kemerahan bercampur dengan keringat yang membasahi leher Aira.


Detik itu juga ia memelintir tangan wanita itu dan dalam sekali hentakan mendorongnya sampai terjatuh di lantai. Minami memegangi tangannya yang sakit tak tertahankan. Kemungkinan terburuknya adalah ruas jarinya ada yang patah, atau minimal sendinya bergeser.


Dengan kemarahan seperti itu, Ken tidak peduli siapa lawannya. Entah pria atau wanita, melawannya berarti siap kehilangan nyawa.


Aira tak tega melihat Minami yang kesakitan di lantai. Ia mengisyaratkan dengan tangannya agar Minami menjauh dan tak melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri. Bagaimanapun dia masih punya keluarga yang menantikan kepulangannya. Wajah Aira mulai memucat, nafasnya semakin lemah. Dengan sisa tenaganya, ia meraih wajah Ken.


"Watashi o aishite kurete, arigatou.." ucapnya sambil tersenyum.


(Terima kasih telah mencintaiku)


Brukk...


*******


Hwaaaa....


Ga tau harus ngomong apa liat pasutri ini 😣😢😢 Sampai jumpa next episode. Arigatou buat readers semua yang bersedia membaca coretan author amatiran ini. Gomen kalo masih ada typo atau alur yang ngga sejalan, author baper asli 😣😣


Btw jempol kalian sangat berarti untuk menjaga semangat author yang moodyan ini 😋 See you,


With love,

__ADS_1


Hanazawaeaszy 😘😘


__ADS_2