Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Ayo kembali ke Jepang." ajak Shun.


Ken mengerutkan kening, heran dengan seniornya yang terlihat putus asa. Ini pertama kalinya Shun terlihat lemah. Tatapan matanya menyiratkan seolah ia tengah menyesali sesuatu.


"Ada apa denganmu?" Yoshiro akhirnya membuka suara. Ia juga heran dengan pernyataan sahabatnya itu.


Shun berdiri dan mengambil tas kecil yang ia bawa dari Jepang. Ia menyerahkannya pada Ken, "Bukankah ini yang kamu inginkan?"


Ken menerima tas berwarna hitam itu dan segera membukanya. Terdapat 4 botol kecil berisi antivenom yang menjadi penyebab mereka pergi ke Rusia. Penawar racun yang akan membuat kesehatan Aira membaik dan tidak akan membahayakan buah hatinya lagi.


"Berdasarkan kesepakatan awal sebulan yang lalu, aku akan memberikan antivenom ini asalkan kamu bisa menemukan keberadaan adikku. Dan kita sudah menemukannya." ucapnya lirih. Wajah putihnya tampak layu, tak ada obsesi seperti sebelumnya. Ia bahkan tidak menatap Aira sama sekali, padahal Ken ingat betul betapa ia ingin melempar Shun dari pesawat saat pria itu terang-terangan menggoda istrinya.


Shun pergi keluar dari hunian mewah itu meninggalkan semua orang dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol paling atas. Ia ingin menghirup udara segar, semilir angin di atap setidaknya bisa membuatnya sedikit lega.


"Yu, lanjutkan saja. Aku akan bicara dengan Shun." pamit Yoshiro sebelum berlari menyusul sahabatnya.


Aira menatap kepergian Yoshiro sampai menghilang ditelan pintu. Ia merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Shun yang tiba-tiba menyerah. Sejak awal, pria itu begitu ingin menemui Mone. Tapi sekarang kenapa dia menyerah begitu tahu ada Takeshi Kaneshiro yang berdiri di belakang adiknya?


"Yu, lanjutkan!" perintah Ken membuat Yu kembali fokus dengan informasi yang telah ia dapatkan sebelumnya. Ia dan Yoshiro menyelidiki pria berusia 47 tahun itu secara diam-diam.


"Sesuai dugaan, seseorang akan muncul untuk mengintaimu saat memasang kamera pengawas di studio foto yang akan digunakan besok. Dan Takeshi Kaneshiro benar-benar mengamati pergerakanmu dari gedung sebelah. Dia tidak ingin menyingkirkan kamera itu, membuatku curiga jangan-jangan dia merencanakan sesuatu padamu."


"Ada yang lain?" tanya Ken seolah tidak puas.


"Dia mendirikan perusahaan asuransi mobil mewah, tapi itu hanya kedok untuk menutupi pekerjaannya yang sebenarnya. Dia merajai jual beli senjata api ilegal, tapi aku tidak bisa mengakses situs mereka. Mungkin Rara bisa mencobanya nanti. Tidak ada informasi lain yang bisa ku dapatkan."


"Bagaimana dengan data keluarganya?" tanya Kaori penasaran.


"Dia menikahi seorang wanita Rusia bernama Anna, 20 tahun yang lalu, tapi sampai sekarang keduanya belum dikaruniai keturunan. Dan informasi tentang Anna lagi-lagi terkunci rapat, tidak ada yang bisa ku dapatkan. Sepertinya tuan Takeshi benar-benar melindungi wanitanya agar tidak terendus oleh para musuhnya. Anna dan Mone adalah dua wanita yang paling berharga untuknya." terang Yu.


"Hanya itu saja?" tanya Ken yang dijawab dengan anggukan oleh Yu.


"Baiklah, kita lanjutkan rencana seperti sebelumnya." ucap Ken.


"Aku akan mencobanya. Berikan laptopmu padaku." pinta Aira. Yu mendekat guna memberikan benda yang diminta oleh sahabatnya itu. Ia duduk dengan tenang di sisi kanan Aira, sedangkan Ken di sisi kirinya.

__ADS_1


Tak tak tak


Aira mulai menunjukkan kemampuan khususnya, meretas sistem keamanan perusahaan asuransi milik Takeshi Kaneshiro. Mungkin saja dari sana ada info yang bisa ia dapatkan. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard laptop berwarna hitam itu.


"Kamu yakin akan tetap menggunakan Aira sebagai umpan?" tanya Kaori meragu.


Tarian jemari Aira terhenti, ia melirik suaminya yang masih terdiam. Tampaknya terlalu sulit untuk pria itu mengucapkan "Ya", begitu besar resiko yang harus ditanggung. Ia tidak siap kehilangan istri dan calon buah hatinya.


"Kenapa tidak? Aku akan pergi." ucap Aira tanpa keraguan sedikitpun. Ken memilih diam, tak ingin melarang keinginan istrinya padahal di dalam hatinya memberontak. Ia tidak ingin Aira membahayakan nyawanya sendiri. Tak terbayangkan apa yang akan ia lakukan jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada wanita kesayangannya ini.


"Aira, ingatlah kondisi kesehatanmu. Bagaimana jika..." Kaori coba mengingatkan wanita di depannya, namun kata-katanya terhenti saat melihat Aira mengangkat tangannya. Isyarat bahwa Kaori tidak perlu melanjutkan ucapannya lagi.


"Ken akan melindungiku." ucapnya sambil tersenyum. Ia kembali fokus pada layar pipih di depannya, memasukkan kombinasi berbagai huruf dan simbol untuk masuk ke dalam sistem keamanan yang Takeshi rancang.


BIP


Terdengar suara sebelum komputer jinjing di depannya menampilkan layar gelap sepenuhnya. Perlahan monitor itu menunjukkan ikon kursor yang bergerak secara acak, menampilkan berbagai data yang dimiliki perusahaan asuransi fiktif itu.


"Aku sedang meng-copy file mereka, mungkin butuh waktu beberapa menit sampai terbuka seluruhnya." jelas Aira.


Sementara itu di atap gedung pencakar langit ini, Shun tengah menikmati rintik salju yang mendarat dengan cantik di bahu kekar miliknya. Ia memandang jalanan di bawah sana, terlihat seperti sulur benang yang dipenuhi titik kecil yang bergerak perlahan. Mobil-mobil itu tak ubahnya seperti noktah yang tak bisa dilihat dengan jelas.


"Ada apa denganmu?" tanya Yoshiro setelah berdiri sejajar dengan sahabatnya. Mereka hanya berjarak beberapa jengkal, membuat Yoshiro bisa melihat ekspresi Shun dengan sangat jelas. Pria 28 tahun itu sedang menahan amarah, terlihat dari tangannya yang menggenggam besi pembatas dengan sangat erat. Baru kali ini Yoshiro melihat Shun dengan ekspresi seperti itu. Sebelumnya, ia pasti selalu melampiaskan emosinya pada apapun atau siapapun di depannya.


"Ada apa?" tanyanya lagi karena Shun benar-benar menutup mulutnya dengan rapat meski beberapa menit sudah berlalu. Yoshiro yakin pasti ada alasan kenapa Shun menyerah mencari Mone.


"Dia bukan tandingan kita." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari angkasa.


"Takeshi Kaneshiro?" tebak Yoshiro.


"Sebelum semuanya semakin buruk, lebih baik kita semua kembali. Aku tidak ingin membahayakan wanita hamil itu." ucapnya lirih.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" tanya Yoshiro penasaran.


Shun diam cukup lama. Ia menyalakan pemantik api yang ia ambil dari saku jaket dan mulai membakar gulungan tembakau di tangannya yang lain. Hembusan asap berwarna putih dari mulutnya perlahan hilang di udara. Sudah menjadi kebiasaan Shun, ia akan merokok saat merasa kalut dengan beban pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Dia yang sudah membunuh ayah angkat." ucap Shun dengan gemeletuk gigi yang terdengar sampai di telinga Yoshiro.


"Kamu yakin?"


"Hmm.." gumam Shun sambil melirik sahabatnya, "Dia menargetkanku tapi justru ayah yang terkena tembakan itu dan meninggal di tempat. Alih-alih membunuhku, ternyata dia lebih memilih menyembunyikan Mone di bawah telapak tangannya. Mengontrolnya dan menyembunyikan keberadaannya dariku."


"Omong kosong apa yang ingin dia mainkan? Menggelikan." komentar Yoshiro sambil mengangkat sebelah bibirnya, tak habis pikir dengan jalan pikiran target pengamatannya beberapa saat yang lalu.


"Dia tahu Mone hanya seorang diri, tak ada sanak saudara yang ia miliki selain kakak angkat mengerikan sepertiku ini. Jika Mone tetap bersamaku, maka tamatlah riwayat Takeshi. Dia tahu aku akan menghabisinya. Itulah sebabnya ia menyembunyikan Mone, menjadikannya tameng yang kokoh agar aku tidak membantainya meski aku berhasil menemukannya. Fakta bahwa ia yang sudah membunuh ayah tersimpan dengan baik. Dia pasti berpikir aku tidak akan mengusiknya karena hal itu juga akan melukai Mone. Kenyataan pahit itu pasti akan menghancurkan hatinya yang lembut." jelas Shun.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku mendengarnya langsung dari mulut pelaku penembakan itu sendiri. Takeshi tidak menyukaiku karena ayah begitu memanjakanku. Meskipun ia tersenyum di depan, tapi ia menikamku dari belakang. Sayang sekali ayah harus berkorban untuk melindungiku." ucap Shun sambil menundukkan kepala, menunjukkan rasa dukanya yang mendalam.


Puk puk


Yoshiro menepuk punggung sahabatnya, mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"Minta Ken untuk membawa istrinya pulang. Urusan ini, aku yang akan menyelesaikannya." cetus Shun.


Yoshiro hanya mengangguk mengiyakan. Ia tidak yakin Ken maupun Aira akan setuju dengan permintaan Shun. Lagi pula mereka sudah merancang rencana sedemikian rupa, kenapa tiba-tiba berhenti di tengah jalan? Tidak akan mudah meyakinkan mereka.


Keduanya kembali ke dalam rumah setelah Shun berbaikan dengan dirinya sendiri. Ia akan menyingkirkan Takeshi dengan caranya sendiri, tidak ingin melibatkan Aira ataupun Ken.


Shun masuk ke dalam ruangan dengan warna dominan hitam dan putih itu namun tak mendapati siapapun. Yoshiro melihat ponselnya dan membaca pesan dari Yu yang membuat matanya membola sempurna.


"Kita terlambat." ucap Yoshiro panik. Ia menghubungi Yu namun tak dijawab.


*******


Ohayou minasan... Genki desu?


(Selamat pagi teman-teman... Kalian sehat?)


Maaf slow update & ngga bisa panjang lebar bikin cerita di beberapa episode ini, kerjaan di dunia nyata bener-bener ngga bisa ditinggal 😥😣😣

__ADS_1


See you next day,


Hanazawa easzy


__ADS_2